
Kekakuan dan kecanggungan terjadi antara Aku dan Vina bahkan untuk saling memandang saja rasanya tak kuasa, mengingat semua cerita Ayumi tadi.
Tak lama,
Mama dan seluruh keluargaku yang lain mendekati kami berdua, disusul kedua orang tua Vina.
"Vina... ini tante Ruri dan yang lain mau pamit pulang"
Ujar Tante Yuni begitu sampai di dekat kami.
Vina tersenyum,
"Ehm... Iya Tante,, kenapa gak sore aja? santai-santai aja dulu disini..."
"Ah,, maunya sih gitu,, tapi ini si Mbak mau langsung terbang lagi ke Samarinda,, jadi mau gak mau pulang ini langsung packing lagi."
Jawab Mama sambil menunjuk Mbak Echa,
"Ohh,, gitu...."
Vina mengangguk.
"Agung,, mau ikut pulang atau mau disini dulu?"
Tanya Mama padaku.
"Ikut pulang juga Ma..."
Vina seperti tersentak, kemudian segera menatapku.
Aku menghindari tatapan Vina.
Aku butuh waktu untuk sendiri dan menenangkan hati serta pikiranku yang sedang kacau sekacau kacaunya.
"Yuk, kita jalan sekarang aja...Tante,, Om .. Agung dan keluarga pamit ya..."
Pamitku pada kedua orang tua Vina kemudian berjalan lebih dulu menuju mobil.
Dimobil, Mama menatapku.
"Gung, kamu kenapa?"
Tanya Mama.
"Kenapa apanya Ma?"
Aku berpura-pura tak mengerti arah pembicaraan Mama.
"Sikap kamu,, kenapa sedingin itu tadi? ada masalah? lagi berantem?"
Sambung Mama.
"Hemm... Apaan sih Ma,, berantem? kayak bocah aja"
Jawabku tersenyum.
"Lantas?"
"Ga ada apa-apa Ma... Agung capek aja,, pengen cepet-cepet rebahan"
Jawabku.
Mama mengangguk.
Sampai dirumah,
Tanpa banyak bicara Aku berlalu masuk kedalam kamar, merenungi apa yang baru saja terjadi.
"Tuhan,, apa langkahku untuk melanjutkan pertunangan ini tepat? Apa Vina bahagia menjalani hubungan ini bersamaku?Apa ini takdir yang benar? atau ini sebuah kesalahan Tuhan?
Tolong Aku berikan Aku jalan yang terbaik bagaimana Aku harus menyikapi ini?
Apa Aku tak lebih dari sekedar penghalang dari cinta sejati mereka berdua?
__ADS_1
Apa Aku harus mundur, setelah semua ini terjadi?"
Ujarku lirih.
......................
Sudah dua hari berlalu, Aku sengaja tak menghubungi Vina, baik telepon maupun pesan, begitupun sebaliknya tak ada usaha dari Vina untuk lebih dulu menghubungi Aku, itu artinya ada Aku ataupun tidak, itu tak ada pengaruhnya bagi Vina, jika benar Dia mencintaiku meski secuil, pastinya Dia akan mencoba meneleponku bertanya tentang perubahanku.
Semua ini semakin membuatku berkecil hati.
Rindu ini menyiksa,, namun Aku harus belajar perlahan-lahan terbiasa.
Hari ini, cuti Vina berakhir, itu artinya Vina Akan kembali masuk kantor.
Setelah berpikir agak lama, Kuputuskan untuk menjemput dan mengantarnya pagi ini.
Tiba di depan rumah Vina, Tante Yuni menyambutku, setelah mempersilahkan duduk, Tante Yuni meninggalkanku untuk memberitahu Vina.
Tak berapa lama,
"Hai... "
sapa Vina, lalu duduk di sampingku.
"Hai... selamat pagi sayang...., waww... kamu cantik banget,, imut pake pink-pink gini"
Aku bersikap seperti Agung yang bisanya, mencoba seperti tak ada apa-apa dan biasa saja.
Vina memandangku canggung.
"Kamu datang kesini buat...."
Tanyanya.
"Jemput kamu lah.... Tunangan tersayang"
Sambungku cepat.
"Kita masuk dulu yuk,, sarapan..."
"Oke,,"
Jawabku lalu beranjak dan mengikuti langkah Vina masuk kedalam rumah menuju ruang makan.
Selepas sarapan, Aku dan Vina bersiap berangkat menuju kantor Vina setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya,
Mobil melaju meninggalkan garasi rumah Vina.
Ditengah perjalanan,
"Sayang... Aku boleh nanya?"
Aku menoleh sesaat kemudian kembali berkonsentrasi dengan jalanan didepan.
"Apa?"
Jawabnya singkat.
Dengan hati deg-degan,
"Kamu belum bisa melupakan Dirga?"
Tanyaku langsung.
Vina terkesiap dengan pertanyaanku.
"Kok nanya gitu?"
"Ya gak papa.. Aku cuma ingin tahu,,"
"Kita bahas yang lain ya..."
Kilahnya.
__ADS_1
Aku menarik nafas, mendapati sikap Vina yang terkesan menghindar.
"Sayang... melihat dari kejadian kemarin,, Aku tau,, kamu belum bisa sepenuhnya melupakan Dirga.. tapi kamu harus ingat sayang,, Dirga sudah lebih dulu move on dari kamu,, Dirga sudah mempunyai dunianya sendiri,, Dia sudah berkeluarga... dan kita,, akan membangun bahagia kita sendiri.."
Ujarku yang berpura-pura tidak tau kebenaran tentang Dirgantara, Aku ingin melihat reaksi Vina, dan menunggu kejujuran dari mulutnya.
Kuraih tangannya dan kugenggam erat, sembari kembali menoleh sesaat ke wajah Vina.
Vina menghela nafas pelan, membuatku kembali menolehnya sesaat.
"Aku tau,, mungkin sulit sekali buat kamu untuk tidak memikirkan Dirga lagi, tapi... setidaknya kamu berpikir.. ada seorang perempuan dan bayi yang harus dijaga perasaannya oleh Dirga"
Kembali Aku memancing kejujuran Vina.
Vina menoleh dan mengangguk,
"Iya... Aku tau itu, Aku tidak akan merusak itu semua,, hanya saja Aku mohon pada kamu,, Beri Aku waktu untuk mematikan perasaan yang pernah tumbuh subur ini secara perlahan-lahan,,"
Jawabnya, membuat hatiku ngilu, sesubur itukah cinta Vina pada Dirga,, dan kini Dia mengakuinya sendiri... lalu, bagaimana denganku?
Adakah cinta itu tumbuh meski tak subur?
"Maksud kamu?"
Tanyaku pelan.
"Aku belum siap jika setelah ini kita buru-buru menikah,, Aku masih belum berpikir kearah sana dalam waktu dekat.. biarkan semua berjalan pelan,, tanpa harus memaksakan keinginan"
Secara terang-terangan Vina menolak menikah denganku.
"Kamu gak mau kita segera menikah?"
Ujarku pelan.
"Bukan, bukan itu maksud Aku Gung,, Bukan gak mau menikah,, cuma jangan dalam waktu dekat,, beri Aku waktu untuk menyelesaikan semua problema hati yang masih berantakan ini"
Vina Begitu mencintai Dirga, seketika Aku merasa bersalah sudah memaksa masuk diantara mereka,, dan kini Aku membuat Vina bingung dan tak bahagia bersamaku.
"Oke,, kalau itu memang kemauan kamu,, Aku akan bicarakan lagi sama Mama,, padahal... Niatku cuma ingin agar kamu lebih cepat melupakan masa lalu"
Aku melepas tangan Vina yang tengah berada di genggamanku.
Cintaku hancur, dan rasa bersalah kini menghantuiku, dan Aku menyesali sebuah pertunangan yang seharusnya tak pernah terjadi.
Apa kusudahi saja hubungan ini?
Lalu bagaimana dengan hatiku?
Apa Aku sanggup?
Apa Aku cukup kuat untuk ini semua?
Bertahun-tahun Aku selalu menjaga hati dan perasaan, bertahun-tahun pula Aku selalu berharap sebuah takdir yang indah mempertemukan kami dalam sebuah ikatan,,
menguntai doa dan hasrat kebersamaan bersama Vina selamanya,
Mungkinkah Aku bisa melupakan Vina ketika tak lagi bersamanya,, mungkinkah Aku bisa tersenyum melihat ketika Dirgantara dan Vina merajut kembali kisah mereka yang begitu indah.
Ya Tuhan... tolong Aku...
Batinku.
Mengingat kembali masa-masa saat Aku dan Vina di SMP dulu, hatiku terasa berderit..
secepat inikah bahagia itu harus berakhir demi melihat orang yang kucintai bisa tersenyum lepas tanpa kepura-puraan seperti saat bersamaku.
Haruskah kukorbankan hatiku sendiri demi hati mereka berdua..?
Seketika rasa sakit ini menyerang hati dan dengan cepat menjalar keseluruh bagian tubuhku yang lain.
Kenapa Aku harus terjebak dalam cinta yang tak bisa Aku miliki Tuhan...?
Kenapa Aku harus memulai perasaan pada seorang yang tak pernah menaruh perasaannya padaku.
__ADS_1
Bersambung***