
Sampai dirumah Elza,
Tawaku tak bisa kutahan ketika melihat Elza turun dari motor dan melepas helm dari kepalanya.
wajah kacaunya dengan rambut berantakan dan muka masam membuat ku tertawa geli.
"Puas!!! Puas kamu!!!"
Ujarnya sembari menyodorkan helm dengan kasar padaku.
Aku menerimanya dengan senyam senyum.
"Gak usah senyum-senyum gitu jelekk!!!"
Sambung Elza lagi dengan wajah menekuk.
"Maaf.... Maaf za... Hey... dimaafin gak??"
Tanyaku ketika permintaan maafku hanya dibalas lengosan muka masam Elza.
"Enggak!! Aku kesal sama kamu!!! udah... udah... pulang sana!!"
Hardiknya padaku.
"Yakin... gak mau maafin Aku?? trus besok berangkat sekolah gimana??"
Terlihat Elza berpikir sejenak, kemudian menarik nafas,
"Iya... iya Aku maafin,, "
Ia mengangguk sembari merapikan rambutnya yang menggimbal.
Aku tersenyum, dan berlalu meninggalkan rumah Elza untuk pulang kerumahku.
......................
Gawat!!! Kesiangan!!!!
Aku tersentak membuka mata ketika mendengar gedoran kasar dari balik pintu.
Siapa lagi kalau bukan Ibuku yang tengah membangunkan Aku.
Sepertinya ini sudah yang kesekian kalinya Ibu mengetuk, terdengar dari kerasnya bunyi suara.
Aku bergegas membuka pintu sebelum, pintu ini jebol karna dobrakan ibuku yang maha sakti.
"Oke Buk... Aku sudah bangun..."
Ujarku begitu pintu kubuka dengan senyum semanis mungkin berharap Ibu luluh dan urung menceramahiku.
Ternyata gagal!
Sepertinya Ibuku sudah sangat kesal terlihat dari sorot matanya yang melotot seperti pemeran-pemeran antagonis di sinetron yang sering ditontonnya.
" Bagus!! Begadang terus!!! Main game terus... dan ini hasilnya, susah bangun pagi!!!"
ceramah pagi yang selalu Aku dengar ketika Aku telat bangun.
Ehm... Andai saja Aku berani jujur Buk, bukanlah Game yang membuatku begadang dan kesiangan, tapi hati yang patah dan gelisahlah yang membuatku sulit tidur semalam hingga baru bisa terpejam dini hari, alhasil baru bangun sekarang, dan itupun karena ketukan super dahsyat dari Ibuk.
Hatiku membatin.
Secepat kilat Aku mandi jika tak ingin lebih kesiangan dengan bonus omelan syahdu dari Ibuku yang paling Aku cintai ini.
Selepas sarapan alakadarnya, Aku berangkat tak lupa mencium Ibuku agar marahnya sedikit mencair.
Aku mendengus kesal karena harus menjemput si bawel Elza terlebih dahulu, bukan apa-apa telingaku pasti akan kenyang mendengar omelannya karena kesiangan.
Benar saja, Elza sudah menunggu diluar pagar dengan sorot mata tajam dan mulut siap mengomel.
"Danielll......"
"Sstttt..... udah, nanti aja ngomelnya, buruan naik!!"
Ujarku meletakkan telunjuk didepan bibir manyun Elza sebelum sempat Omelan itu panjang lebar.
Satu menit menjelang Bel masuk, motor sampai tepat didepan gerbang.
Bukan cuma Aku dan Elza yang telat, Tari juga nampak baru sampai.
selesai memarkir motor, dengan berlarian tanpa bicara kami masuk ke halaman sekolah.
__ADS_1
Nampak dari kejauhan, Vina tengah berdiri di depan pintu kelas menatap kearah kami bertiga tangannya melambai membuat hatiku melupakan kesalku kemarin.
Sampai di kelas,
"Kok siang banget??
Tanya Vina,
"Iya, tadi ban motorku pecah jadi tambal ban dulu deh"
Jawab Tari.
"Kalian kenapa ikut-ikutan telat?"
Giliran Tari bertanya padaku dan Elza.
"Ini nungguin si Elza lama, mau sekolah udah kayak mau Show!!"
"Ahh... mana ada gitu!! Gak gitu ya!! jangan percaya Tar..., Vin... Orang Dianya aja yang jemput Akunya kesiangan!!"
Elza membela diri.
Aku tertawa dan berjalan menuju bangku.
Selama pelajaran Aku memperhatikan Vina yang nampak gelisah, beberapa kali pula kulihat Dia berbisik-bisik pada Tari.
Tak sabar ingin sekali Aku bertanya padanya tentang apa yang terjadi
Jam istirahat tiba, Aku yang bingung dengan sikap Vina sejak tadi pagi bertambah bingung dengan sikapnya yang buru-buru meninggalkan kelas tanpa bicara.
Tari, Elza, Nina dan Aku yang masih berada dikelas terperangah dan saling pandang.
Dengan langkah cepat kususul Vina, Aku tau Dia pasti menuju perpustakaan, sebab baginya perpustakaan adalah pelarian jika Dia tengah gelisah.
Sampai di depan pintu perpustakaan, kulihat Vina duduk dipojok ruangan, dengan sebuah buku ditangan.
wajahnya redup seperti sedang menahan air mata.
Aku melangkah mendekatinya.
"Vin..."
Vina mengangkat kepalanya dan Aku tersenyum.
"Hai..."
Vina membalas sapaku dengan mengulaskan senyum tipis.
kemudian Aku duduk di depannya.
"Hei... kenapa murung? Ada apa?"
Tanyaku.
"Gak kenapa-napa Niel... cuma males aja"
"Gak lah... Aku tau, ada yang kamu pikirkan"
Sejenak Vina terdiam lalu menunduk.
"Vin...."
Ulang ku membuat Vina buru-buru tersenyum menatapku.
"Kenapa? cerita sama Aku, apa Dia nyakitin kamu?"
Aku menatap dalam matanya, mencoba menerka.
Vina seperti tersentak, namun tetap memilih diam seribu bahasa.
"Hei.... ditanya malah bengong!"
Aku menjentikkan jari dikeningnya.
"Hah, Dia siapa maksudnya?"
Tanya Vina cepat sembari mengusap keningnya.
"Ya... Dia, pemuda yang beberapa hari ini menjadi bodyguard mu itu!"
kali ini Aku yang terperangah, melihat senyum di bibir Vina.
__ADS_1
"Hahhaha... Bodyguard, kayak apa aja,, Agung maksudnya?"
Vina menyebut nama laki-laki itu, yang ternyata bukanlah Dirga.
"Ya... mungkin, mau Agung kek, Akbar, Udin atau siapa, Aku gak mau tau siapa namanya!"
"Kok jutek??"
Vina mendekatkan wajahnya padaku.
Astaga, ada apa ini?? kenapa jantungku berdebar hebat, menatap wajah Vina sedekat ini.. membuatku salah tingkah, membuatku melengos menghindari tatapan itu
"Emang Dia siapanya kamu sih, Atau Dia Pacar kamu ya?? "
Pertanyaan itu akhirnya meluncur, membuat Vina kembali terdiam beberapa saat.
"Pacar?! ya bukanlah, Agung itu dah kayak saudara sama Aku, dia itu anaknya Tante Ruri sahabat Mamaku"
"Wah... bahaya.... nich!!"
Aku menarik nafas dalam-dalam, belum habis soal Dirga, dah muncul Agung.
Ahh... nasibb.....!
Aku mengelus dada memikirkan sainganku yang bertambah satu.
Membuat Vina menatapku heran.
"Bahaya? Bahaya kenapa, jelas-jelas donk kalau ngasih info!"
Vina menatap ku serius.
"Ya itu tadi, bahaya.. udah kayak serial FTV, awalnya Anak teman Mama, abis itu dekat, akrab, terus dijodohin deh! Ckckckck"
Aku menggelengkan kepalanya sambil mendecak decakan mulut.
"Ahh.. sembarangan kalo ngomong!"
Vina menempelkan buku tepat diwajahku.
"Udah Ah, mau balik kelas"
Vina meninggalkan ku yang masih termangu.
"Vin... Vin... tunggu dulu, Aku belum selesai nanya, kamu juga belum jawab!"
Aku mengejarnya dan menarik tangannya.
"Apa sih Niel, Aku gak kenapa-napa kok"
Kini Aku berjalan disampingnya, menjajari langkah Vina yang cepat.
"Vin, Kalau ada apa-apa tolong kamu jangan sungkan ya untuk cerita sama Aku, Aku 24 jam siap mendengarkan semua keluh kesahmu"
Vina menatap ku dengan senyum.
"Makasih ya, tapi beneran Aku gak apa-apa"
Vina berhenti melangkah dan meyakinkanku.
"Aku gak mau ada yang nyakitin Kamu Vin, Aku gak mau kamu murung, apalagi sampai menangis, Aku ingin kamu selalu bahagia itu saja!"
Ku kumpulkan segenap keberanianku untuk meraih tangannya, lalu menggenggam, meski hati berdebar-debar.
Vina terperangah dan kaget dengan tindakanku, yang Aku sadar mungkin setelah ini ia akan menjauhiku.
Sedikit menyesal, tapi sudah terlanjur.
Untuk pertama kalinya Aku berani menyentuh Vina.
Dengan cepat dan keras, vina menarik tangannya dari genggamanku, sontak hal itu membuatku kaget dan salah tingkah.
"Ehm... Niel, Aku baik-baik saja, makasih ya.. kamu memang sahabat terbaik!"
Ujarnya kikuk, lalu berlari meninggalkanku yang larut dalam penyesalan.
"Ahh.. bodoh sekali Aku, niat ingin romantis, malah berujung tragis!!"
tak hentinya Aku merutuki diriku sendiri
Bersambung***
__ADS_1