
Hampir satu jam, Dirga membawaku diatas sepeda motornya, tanpa Aku tau kemana Dia akan mengajakku pergi.
Meski tak tau kemana arah dan tujuan, anehnya Aku sama sekali tidak takut Dirga akan berbuat jahat kepadaku, bahkan hatiku sama sekali tak ada kekhawatiran, yang ada hanya perasaan bahagia yang luar biasa.
Sepertinya, Aku benar-benar sudah dibutakan cinta.
"Dir... masih lama yaaaa??"
Aku menepuk punggung Dirga sembari sedikit berteriak di belakang telinganya.
"Bentar lagiii..."
Teriaknya.
"kenapaaa??? capek yaaa??"
Sambungnya dengan sekilas menoleh kebelakang.
"Enggak kok, tapi Aku kebelet"
Jawabku yang tengah menahan hasrat ingin buang air kecil.
"Ohh... sabar yaa... ni kita dah mau nyampeee"
Dirga menepikan sepeda motornya dan berbelok masuk ke sebuah gerbang besar.
Disana motor berhenti sesaat,
terlihat Dirga membayar sejumlah uang, kemudian motor kembali melaju menuju tempat parkir.
Kami berdua turun, Dirga melepaskan helmku dan merapikan rambutku yang berantakan.
"Yuk Vin, Aku antar.. disana toiletnya"
Dirga menggandeng tanganku dan menunjuk arah toilet.
Aku mengangguk.
5 menit berlalu,
Aku keluar toilet dengan perasaan lega, didalam sana juga Aku sempat merapikan rambut dan riasan wajahku, agar kembali fress.
"Udah lega??"
Tanya Dirga begitu Aku berjalan mendekatinya.
"He.. ehm..."
Anggukku.
Mataku berkeliling mengamati pemandangan sekitar,
Aku lahir dan besar di Kota ini, baru sekali ini Aku datang kesini,
Sebuah Area wisata Hutan lindung yang katanya terbesar di indonesia.
Bukan tidak tahu, tapi memang baru sekali ini berkunjung masuk kedalam.
Selama ini, Aku hanya tau nama dan lokasinya saja, tapi tak pernah ada waktu dan momen untuk main kesini.
Dan hari ini, Dirga orang pertama yang bersamaku datang ketempat ini.
"Kenapa Vin?? Kamu udah pernah kesini?"
Tanya Dirga yang memperhatikan Aku sejak tadi.
Aku menggeleng,
"Baru pertama kali.."
__ADS_1
Dirga meraih jemariku dan kembali menggandeng tanganku melangkah disisinya.
"Aku suka tempat ini,, sejuk.. tenang.. damai... jauh dari hiruk pikuk keramaian kota"
Dirga memilih duduk pada sebuah kursi kayu dibawah pohon pinus.
Sedang Aku memilih duduk di sebuah Ayunan tali yang tepat berada disampingnya, sambil berayun pelan Aku menyimak semua cerita dari mulutnya.
"Ehm... Dir,, Aku penasaran sama perempuan yang pernah Aku tanyakan"
"Ohh,, iya... yang di toko perlengkapan Bayi dan di mall waktu itu ya??"
Aku mengangguk.
"Itu Syintia... Anak perempuan pertama pamanku, Dia menikah dengan seorang Tentara, dan suaminya sedang bertugas di luar kota.
Dirumah Paman, cuma Aku lah laki-laki satu-satunya yang bisa mereka harapkan untuk melindungi mereka selain Paman yang memang saat ini kondisi kesehatannya sedang tidak bagus karena mungkin faktor usia.,
Jadi terkadang, Aku membantu mengantar, dan menemani mereka saat mereka sedang membutuhkan bantuan"
Aku kembali mengingat wajah perempuan itu,
"Pantas saja mirip, ternyata sepupunya"
batinku.
"Aku tau,, waktu kita ketemu di mall, kamu cemburu kan??"
Aku tersentak kaget mendapat tudingan seperti itu dari dirga yang terlihat mesem-mesem.
"Iihh.. pede banget!! Enggak ya....!! yang ada kamu tu,, cemburu ngeliat Aku!!"
Balasku.
"Iya,, Aku cemburu sekali... hatiku panas... betul-betul Aku cemburu!"
Aku terdiam beberapa saat kemudian,
"Terus, kenapa cuma Diam?? kenapa kamu gak menghampiri Aku, nanya atau apalah!!"
seruku geram, mengingat setelah kejadian itu Aku mengambil keputusan yang saat ini sedang kusesali.
"Aku bisa apa Vin?? saat itu Aku tidak punya hak apa-apa untuk bertanya, Aku hanya menjaga hati Agung, yang kupikir saat itu adalah suami kamu,"
Aku menelan ludah, perih mengingat kembali saat itu.
"Kamu tau Dir, gara-gara itu... Aku tiba-tiba membenci kamu dan memutuskan untuk menerima Agung dihati Aku, sebab kupikir Tak ada gunanya mengharapkan kamu yang sudah bahagia dengan anak dan istri kamu!"
suaraku bergetar, mataku buram karena air mata yang mulai menggenang di pelupuk mata.
Dirga beranjak dari kursinya, mendekatiku dan berlutut didepanku.
Tangannya menangkup kedua belah rahangku, kemudian mengusap air mata yang akhirnya jatuh dipipi.
"Maafkan Aku Vin.... Aku tak menyangka semua itu membuat kamu sesakit ini...."
Dirga mengecup kedua punggung tanganku.
Aku menarik nafas dalam-dalam mencoba menenangkan hatiku sendiri.
"Kita sama-sama salah Dir,, kita sama-sama terjebak dalam situasi kesalah pahaman,, tapi... yang paling Aku kecewakan adalah Tari!! kenapa dia jahat sama Aku!!"
"Hem... Iya,, Aku juga gak nyangka kenapa Tari seperti itu,, padahal dia Anaknya baik."
Mata Dirga nampak menerawang jauh.
"Dia sahabat terbaik Aku,, sejak SD..kenapa Dia tega,, Aku benci sama Tari!!!"
Ujarku penuh kekesalan dan amarah.
__ADS_1
"Vina,, gak boleh ngomong gitu,, mungkin Tari ada alasan kenapa dia seperti itu."
"Alasan Apa??? alasan kalau dia suka sama kamu???!!! atau jangan-jangan kamu juga suka Dia??? ngakuu!!!
Tudingku yang kesal karena Dirga lebih membela Tari.
Mendengar itu, Dirga tersenyum lebar menambah kejengkelanku.
"Aku suka lihat kamu kayak gini,, persis saat dulu kamu cemburu sama Salsa,, kamu ingat itu??"
Aku menoleh Dirga kemudian melengos membuang malu karena secara tidak sadar Aku baru saja menunjukkan kecemburuanku.
"Salsa,, apa kabar Dia??"
Tanyaku salah tingkah.
"Salsa baru saja menikah bulan lalu sekarang ikut suaminya diluar kota."
terang Dirga.
"Ehmm.. kita kesana yuk.."
Dirga menunjuk arena outbound.
"Ngapain?"
tanyaku.
"Kita uji adrenaline... mau??"
Tantang Dirga.
"Hah??? maksudnya??"
"Kita main flying fox,"
Dirga menarikku berlari kearah arena outbound.
Aku menggeleng,
"Dir.. sumpah,, aku takut!!"
Tolak ku.
"Tenang aja,, Aku tak kan membiarkanmu kenapa-kenapa.. Aku akan jagain kamu, sayang, eh maksudku Vina"
Dirga tertawa cekikikan, sementara Aku begitu berdebar mendengar panggilan sayang yang terlontar dari mulut Dirga meski buru-buru ia ralat.
Jantungku berdegup kencang, begitu berada diatas rumah pohon dan petugas memasangkan sling di beberapa bagian tubuhku, meski Dirga tepat berada dibelakangku siap melindungiku, semua tak membuat jantungku berhenti berdegup bahkan malah semakin bertambah kencang, kini Aku bingung dengan jantungku sendiri, sebenarnya ia berdegup kencang karena apa,, takut akan flying fox ataukah berdegup karena Dirga dibelakangku,,
Ahh... sungguh situasi yang benar-benar tak bisa kupahami.
Aku memejamkan mata ketika petugas bersiap mendorong kami dari atas rumah pohon untuk meluncur diatas danau menuju ujung rumah pohon yang lain.
Aarrrrrggghhhhhh!!!!!!!!!
Aku berteriak kencang ketika tubuhku meluncur diatas ketinggian, tak berani membuka mata.
"Rentangin tangan kamu Vin... tenang dan rasakan seolah kamu tengah terbang melayang dilangit"
Bisik Dirga di telingaku.
Hangat nafasnya terasa membelai tengkuk dan belakang telingaku.
Perlahan mataku terbuka, merentangkan tangan, menikmati menembus udara.. Hatiku berdebar kala tangan Dirga menyentuh dan menyatu dengan tanganku,,
Merasakan indahnya dunia, terbang bersama orang yang paling dicintai.
Bersambung***
__ADS_1