
Pagi ini,
"Tumben sekali, jam segini sudah siap sarapan?"
Lirikan Ibu yang terlihat curiga meneliti detail diriku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Lah, Ibuk gimana sih, Aku telat bangun diomelin, giliran bangun pagi malah dicurigai."
"Ya aneh soalnya, kalau saja ada rekor siapa yang paling sering terlambat bangun, kamu sudah pasti Ibuk daftarkan lumayan dapat hadiah panci"
"Ibuk sungguh terlalu,!!"
Lebih sering tinggal berdua saja dengan Ibu, membuat kedekatan antara Aku dan Ibu tak hanya seperti Ibu dan Anak pada umumnya, Kami bisa menjadi layaknya sahabat, tempat bersenda gurau, bercerita bahkan juga bisa menjadi partner ribut setiap hari.
Maklum, Aku anak satu-satunya sementara Ayahku bekerja di pelayaran, yang biasanya akan pulang 8 bulan hingga setahun sekali, itupun tak begitu lama Akan kembali berlayar.
Mungkin alasan itu juga mengapa Aku tidak memiliki saudara.
Selesai sarapan,
Menyalakan motor dan bersiap meluncur, namun sesaat aku tertegun,
Apa aku yakin, untuk tidak menjemput Elza pagi ini?
Tapi ah.. sudahlah, bukankah ceritanya Aku lagi kesal, marah dan diam.
Aku memacu motor dan menuju sekolah.
Tiba disekolah,
Selesai memarkirkan sepeda motorku, Aku berniat segera masuk kelas, dan tak sabar melihat bagaimana reaksi Vina, Elza, Tari dan Nina tentang sikapku yang diam sejak kemarin,
mungkinkah mereka mendatangiku untuk membujuk,
Hemm.... Aku tersenyum geli sendiri.
Ditengah koridor, Aku mengurungkan niat segera ke kelas ketika tiba-tiba Aku kebelet buang air kecil,
Berbalik arah dan berjalan cepat menuju Toilet sekolah.
"Ahh... leganya..."
Ujarku lirih kemudian berjalan menuju kelas.
Brukk!!!
Seseorang menabrakku, dan Itu Vina.
Tabrakan yang cukup keras membuat Aku dan Vina sama-sama jatuh terduduk.
Wajahnya menunduk, dan setelah kuperhatikan dengan seksama matanya basah.
"Kamu kenapa?"
Tanyaku, membuat Vina mendongakkan kepalanya.
Aku mengulurkan tangan, untuk menyambutnya dan membantunya berdiri dihadapanku.
"Kenapa menangis?"
Tanyaku lagi, Vina hanya menggeleng dan berlalu meninggalkanku menuju toilet.
Merasa penasaran, Aku membuntutinya dan menunggu di depan Toilet.
10 menit berada di dalam, Vina Akhirnya keluar.
Melihatku, wajah Vina nampak terkejut.
__ADS_1
"Daniel?"
Gumamnya pelan.
Aku menoleh.
"Sedang apa?"
Tanyanya.
"Berhenti bertanya, seharusnya kamu yang menjawab, kamu kenapa? ada apa? mengapa menangis??"
Pertanyaan beruntun dariku membuatku Vina tertunduk, dan hening sesaat sebelum akhirnya,
"Vina....."
Sapaku lagi.
"Aku tidak apa-apa!"
Jawabnya sembari melangkah mencoba menghindariku.
"Vin!! Tunggu!!!"
Aku mencegah langkahnya, menarik bahunya hingga tubuhnya berputar menghadapku.
"Kamu tak bisa bohong! kamu ada apa??"
Ucapku kali ini disertai tekanan.
Terlihat Bina menatapku.
"Aku cuma sedang kecewa...."
Ujarnya pendek.
Merasa Vina mulai terbuka, Aku menggiring Vina untuk duduk di bangku tak jauh dari koridor toilet.
Tanyaku lagi.
"Dulu waktu di SMP, Aku punya teman dekat bahkan sangat dekat.."
"Laki-laki?"
Potong ku disela ceritanya, yang sebenarnya Aku sudah menebak siapa yang akan diceritakan Vina.
dan benar saja, Vina mengangguk.
Glek!!
Aku menelan ludah.
"Sampai pada akhirnya kita lulus dan masuk di SMA yang berbeda, tak pernah lagi ada kontak, terakhir kabar yang kudapat bahwa Dia adalah tetangga Tari, Aku bahagia... bahkan sangat bahagia membayangkan sebuah pertemuan didepan mata, tapi ternyata Aku salah... Dia tak seperti Aku!"
Vina melanjutkan ceritanya.
"Dia kenapa?"
"Dia sudah tak mengingat Aku, Dia sudah punya pacar!!"
"Hahahahhhhh......!!!"
Jujur saja, Aku sebenarnya tak ingin tertawa, hanya saja Aku tak ingin Vina tau bahwa sesungguhnya Hatiku sedang terasa iri dengan perasaan Vina terhadap Dirga.
Vina terbelalak,Aku, mendengar tawaku.
"Kamu kenapa?? Kenapa ketawa seperti itu?! Aku lagi sedih!!!"
__ADS_1
Vina melengos jengkel.
"Sorry.... Sorry.... Aku kelepasan, lagian kamu, dari mana tau Dia sudah punya pacar? emangnya Dia sudah bilang begitu??"
"Tari bilang Dia selalu bersama perempuan itu!!"
"Lah, itukan Tari yang bilang, bukan Dia? Bisa ajakan itu saudaranya, sahabatnya, Contohnya kamu!! beberapa hari ini dekat banget kan sama Agung? Aku menduga itu pacar kamu, tapi kenyataannya kamu bilang Dia cuma sahabat yang udah kayak saudara! iyakan??"
Vina terdiam, nampak tengah mencerna ucapanku.
"Ya.. itu beda lagi!!! kan emang bukan pacar, tapi kalu Dia!!"
Vina melipat tangan didada.
"Beda apanya??? sama Vin, kita belum boleh percaya sampai kita ada bukti yang nyata, kalau gini jadinya kamu menduga-duga kan??"
"Oke, kalau memang Perempuan itu bukan pacarnya, kenapa surat Aku gak Dia bales?"
"Apa??! surat?? wkwkwkkwkw"
Sekali lagi Aku tertawa.
"Sstttt... gak usah ngeledek!! dan jangan nanya kenapa Aku kirim surat!!"
"Kenapa emangnya?"
"Intinya akses yang bisa dijangkau sekarang cuma surat!"
"Ya bisa aja dia malu, malu untuk membalas surat kamu, malu dengan kondisinya Dia, atau juga malu karena faktor lain"
Vina kembali menatap mataku, kali ini tatapan itu mengisyaratkan sesuatu yang entah itu apa, Aku tak mau ge-er.
"Udah.... jangan ngambek lagi, jangan nangis lagi, yakin aja.. jodoh gak akan kemana, "
Aku menepuk pundaknya beberapa kali sebelum akhirnya mengajaknya kembali ke kelas.
"Ehm... Nil, boleh nanya?"
Deg!!
Jantungku berdetak, hatiku bertanya-tanya tentang pertanyaan apa yang akan dilontarkan Vina.
"Apa??"
Tanyaku gemetar.
"Kemarin kamu kok ngambek??"
Astaga.... hanya itu??
Bisa-bisanya Aku berharap lebih.
"Enggaklah, mana ada Aku ngambek, cuma be-te aja dikit"
Jawabku sembari tersenyum
"Be-te kenapa?? sampe pura-pura pulang padahal ngumpet diem-diem monitoring"
"Hahaha.. ketahuan deh...!!"
Aku mencoba bersikap biasa.
"Ayo jawab??"
Desaknya
"Aku Be-te, Kamu cuekin hahahaha, becandaaa!"
__ADS_1
Jawabku tertawa.
Bersambung***