Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 32 Rindu datang


__ADS_3

Secepat kilat Aku beranjak dari tempat duduk dan berlari kedalam kelas, meninggalkan Daniel, Nina, Elza dan Tari yang bingung dengan sikapku yang tergesa-gesa meninggalkan mereka.


Sesampainya di dalam kelas, Segera kusiapkan kertas yang kucabut dari pertengahan buku, dan mulai menulis.


*Hai Dir....


Kamu apa kabarnya?


gimana disana? semoga Kamu baik-baik saja.


Disini Aku masih selalu mengingat masa dulu, Dir... Apa kamu masih ingat Aku?


Oh ya, Aku sempat cari kontak kamu, tapi gak pernah berhasil, kamu gak main medsos ya??


Dir, Aku boleh minta no hp kamu gak?


cuma rindu pengen ngobrol itu aja..


Aku tunggu balasannya ya...


semoga kamu gak sibuk.


^^^Vina*^^^


Segera kulipat kertas surat itu dan kubawa kembali berlari ke kantin menemui Tari dan yang lain.


"Nah,, ni Dia...Nih... "


Celetuk Elza.


"Dari mana sih, tiba-tiba pergi ngilang gak ngomong!"


Gerutu Nina,


"Tau nich, ngapain sih? itu apaan?"


Tanya Daniel penasaran melihat kertas di tanganku.


" Ada dech... kepo!!"


Aku berbalik badan menghadap Tari Yang hanya senyum-senyum kecil.


"Tar.. Nich, Aku titip ya...."


Aku menyelipkan lipatan kertas ke dalam saku baju Tari.

__ADS_1


Tak banyak komentar, Tari hanya mengangguk tersenyum.


Daniel mendelik kearahku, lalu kembali melengos jengkel.


Aku tertawa ngakak melihat ketiga temanku yang terlihat kesal dengan sikapku.


"Udah donk, gak boleh ngambek gitu, yuk makan!!"


Ajakku yang mulai menyendok mi rebus yang sudah tak panas lagi.


"Apanya yang mau dimakan?! orang semua udah pada selesai gini kok!!"


Nina masih saja sewot.


"Oh... Emang Aku selama itu ya ninggalin kalian?!"


Pertanyaan ku memancing mata melotot dari mereka bertiga.


"Hahahh... Maaf... Maaf bercanda!!!"


Aku terkekeh.


Selepas dari kantin, dan menuju kelas berbareng dengan bunyi bel tanda masuk, Daniel mendekatiku.


Tanyanya sedikit berbisik.


"Ehm.. surat"


Jawabku singkat.


"Hah... Surat?! Surat apaan?"


Tanya nya heran sembari mengerutkan dahi.


"Iya... surat! Surat Cinta!!!"


Jawabku lagi dengan penekanan diujung kalimat.


"Wkwkkwk... Hari gini?! Emangnya masih jaman pake surat? si Doi tinggal di pedalaman, sampe-sampe gak kenal teknologi?"


Daniel tertawa lepas.


Hap..!!!!


Aku menutup mulut Daniel dengan cepat.

__ADS_1


"Berisik!!!!"


Ujarku ketus.


"Ya Maaf, lagian kamu jaman udah modern gini masih kirim surat!"


Daniel mendengus berjalan cepat meninggalkanku.


Melanjutkan pelajaran di jam terakhir adalah hal yang membosankan bagi semua siswa, termasuk Aku, rasa mengantuk selalu saja menyertai, akan tetapi hari ini terasa berbeda, entahlah mungkin semua ini ada hubungannya dengan Dirga.


Aku merasakan semangat yang sama saat masih satu kelas dengannya ketika di smp dulu.


Merasakan getaran hati kala mata kami saling pandang, merasakan lagi debaran yang sama saat senyum nya menyapaku dalam diam.


Mendadak Aku merasakan Ada sosok Dirga dikelas ini.


Tiba-tiba Rindu yang terpendam lama kembali mencuat kepermukaan hati yang sempat beku.


Tak sabar menerima balasan surat darinya.


Hingga tak sadar bahwa Daniel dan Tari tengah memperhatikan Aku yang tersenyum dengan mata menerawang.


"Vin.... Kamu gak lagi sakitkan? Atau kamu lagi kesurupan??"


Nina mengusap mukaku, hingga membuat Aku kaget.


"Apa?! Vina kesurupan?!!"


Elza beranjak dari kursinya mendekatiku, suaranya yang nyaring membuat semua mata memandang kearahku dan berkerumun di mejaku.


Aku memicingkan mata lalu menutup muka.


"Ya ampun..... kalian ih,, berisik Ssttt!!! Aku gak papa! udah... Bubarrrr!!!"


Seruku hingga membuat mereka kembali ketempat duduk masing-masing.


"Huhh!! Untung saja gak ada guru!"


gerutuku.


"Lagian kamu bengong sambil senyum-senyum gitu! kan aneh kayak orang stres tau!!"


Daniel menendang kaki kursiku dengan jengkel.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2