
Aku terdiam,, benar-benar tak bisa berkata apa-apa, semua yang dikatakan Nina benar bahkan masalah itu sudah nyata dan ada di depan mata, bagai bom waktu yang siap meledak dan menghancurkan semuanya bukan saja hatiku, hati agung bahkan hati kedua orang tua kami.
Tanpa kusadari, air mataku jatuh membuat Nina menjadi panik.
"Astaga!!! Vina kamu nangis??! Sebenarnya ada apa sayang, apa yang sudah terjadi? cerita semuanya sama Aku.
"Nin,, Aku... Aku... sama Agung sudah selesai!"
Tangisku pecah, Nina mengusap pundakku.
"Selesai?! selesai gimana??"
Alif yang berada disebelah Nina menoleh kami, wajahnya bingung dengan yang terjadi padaku.
"Agung tau semuanya,, dan Dia membebaskan Aku, melepaskan Aku untuk bersama Dirga.. "
"Ya Tuhan.... tapi, apa Dirga sudah tau semua ini?"
Aku menggeleng menanggapi pertanyaan Nina.
"Belum ada yang tau, termasuk kedua keluarga kami,, hanya antara Aku dan Agung saja, sekarang Aku bingung Nin, bagaimana bilangnya ke Mama dan Papa,, "
"Kamu sabar dulu ya,, tunggu dulu bagaimana Agung berbicara pada keluarganya, dan menurutku bicarakan saja apa yang sebenarnya terjadi antara kalian,, "
"Aku takut mereka kecewa dengan sikapku Nin, dalam masalah ini, Aku lah orang yang paling bersalah, Aku yang memulai permainan ini, dan Aku takut mereka menganggap Aku mempermainkan perasaan mereka, dan mereka akan membenciku"
Aku kembali terisak.
"Semua sudah terlanjur Vina,, mau bagaimanpun waktu tak bisa diputar,, percuma kamu terus-terusan menyalahkan diri kamu,, semua sudah terjadi.. yang bisa kamu lakukan saat ini hanyalah bersabar dan mau mengakui kesalahan, mereka semua menyayangi kamu,, tak mungkin sampai hati mereka untuk memojokkan kamu dalam masalah ini, kalau kecewa ya.. itu sudah pasti, dan itu menurutku wajar... tapi Aku yakin, mereka tak kan sampai membenci kamu"
Kata-kata Nina semuanya benar, tak ada yang salah.. hanya saja,, Aku masih belum berani, mentalku belum siap untuk itu.
Acara selesai berakhir dengan salam-salaman dan foto bersama.
Tiba di giliran kami,
Aku, Nina, Alif, dan Diki naik keatas panggung pelaminan untuk foto bersama pengantin, dari atas dapat kulihat jelas wajah teduh dengan tatapan sendu dari Dirga yang memandang kami. Saat sang fotografer tengah mengarahkan gaya, terlihat Daniel memanggil pemandu acara dan membisikkan sesuatu, tak lama sang pemandu acara berbicara menggunakan mikrofonnya dengan suara lantang membuatku kaget dan benar-benar terbelalak,
"Panggilan kepada Saudara Dirgantara,, sekali lagi kepada saudara Dirgantara,, diminta untuk naik keatas untuk sesi foto bersama, Bagaimana? ada? Iya... ada ya... ?? silahkan Mas Dirga... naik kesini bergabung dengan yang lain"
Tak hanya Aku yang kaget, terlihat juga wajah Dirga melukiskan rasa yang sama, sedikit ragu-ragu, Dirga berdiri dan berjalan santai menuju pelaminan, tiba didepan pengantin, Dirga terlebih dahulu memberi selamat kepada Daniel dan Elza, terlihat Daniel merangkul Dirga sembari mengusap pundaknya, setelah itu tiba saatnya Dirga masuk dalam barisan foto, ia memilih berdiri disebelah Diki, namun baru saja sang fotografer mengarahkan kameranya, tiba-tiba ia mengurungkan untuk mengambil Foto, dan kembali memandang posisi barisan yang kami buat, dengan menggeleng pelan, sang fotografer kembali merombak posisi kami, dengan merubah posisi dirga menjadi disampingku, dan Diki disebelah Elza.
Dengan posisi, Alif, Nina, Daniel, Elza, Diki, Aku dan Dirga, sang fotografer tersenyum puas kemudian segera menjepret beberapa kali.
Hal itu tentu saja membuat suasana terasa canggung antara Aku dan Dirga, sementara Nina menatapku tersenyum, begitupun Daniel melirik penuh makna terhadap kami.
Setelah saling berpamitan, kami semua berpisah di parkiran, kini tinggal Dirga yang masih berdiri bersamaku, Papa dan Mama di depan mobilku.
"Kami duluan ya Dir.."
__ADS_1
Ucap Papa begitu pintu mobil dibuka dan Papa segera naik, disusul Mama.
"Oke Om... sampai jumpa lain waktu ya Om,, Tante..."
jawab Dirga seraya menutupkan pintu mobil dan melambai.
Namun setelah itu, Dirga segera berbalik dan meninggalkan mobilku menuju mobilnya, Aku terhenyak tak menyangka Dirga yang baru saja bersikap begitu ramah terhadap kedua orang tuaku, kini berlalu begitu saja tanpa menghampiriku untuk sekedar berucap selamat jalan atau hati-hati, bahkan menoleh pun tidak sama sekali, rasa kesal tiba-tiba saja merayap dihatiku, Aku mengatupkan gerahamku rapat, sembari mengepalkan jari jemariku.
"Katanya dia rindu, selalu memikirkan Aku, tapi untuk tersenyum melambai dan berucap hati-hati saja tidak sama sekali!! huhh... geram!!"
Gerutuku dalam hati.
Entah kenapa, Aku sangat berharap Dirga melakukan itu semua padaku tadi.
"Vin,, kenapa? kok belum jalan?"
Tegur Mama ketika mobil tak kunjung melaju.
"Oh.. iya Ma,, maaf... maaf... "
Aku membuang nafas dan menggeleng kemudian melaju untuk pulang menuju kerumah.
"Vin,, Itu Si Dirgantara teman kamu SMP dulu yang selalu dapat peringkat bukan sich,, Mama lupa-lupa ingat sama wajahnya.."
Tanya Mama padaku yang masih dalam keadaan hati geram dan kesal hingga keubun-ubun.
"Eh.. iya Ma... Iya, bener banget,, satu-satunya anak cowok yang selalu dapat peringkat berturut-turut selama 3 tahun di SMP"
Jawabku.
Sambung Mama.
"Anaknya sopan, ramah juga ya... kisahnya Dia juga kasian sebenarnya,, masih remaja udah ditinggal orang tuanya,, dua-duanya lagi"
terang Papa membuatku terperangah,
Bisa-bisanya obrolan Papa sama Dirga sudah sampai kesana,,
"Ehm... Dirga sampe cerita masalah keluarganya Pa?"
Tanyaku,,.
"Gak sih,, sebenarnya gak sengaja,, Papa yang awalnya nanya Orang tuanya sibuk apa,, lalu Dia bilang Orang tuanya udah lama meninggal,,"
"Ohh... gitu"
Jawabku.
Tak lama,
__ADS_1
Suara ponsel Mama yang nyaring mengalihkan perhatian Mama dari pembahasan tentang Dirga.
"Ruri.."
Ucap Mama begitu melihat nama penelpon di ponselnya.
Mendengar itu, jantungku berdetak begitu cepat, hatiku berdebar tak karuan.
Ketakutan menghantuiku didetik itu juga kurasakan suhu mobil begitu panas, hingga keringat tiba-tiba saja bermunculan dari lubang pori-pori kulitku.
"Halo... Ri...Oh,, ini Aku masih dijalan sama Vina juga Papanya,, tapi udah jalan pulang ini,, bentar lagi sampe, kenapa Ri? Oh,, mau kerumah,, iya.. iya... nanti Aku kabari kalo udah sampe,, ngomong-ngomong ada apa ya Ri,, kok kayaknya tegang dan serius banget?
Oh.. ya udah,, oke... oke... Aku tunggu dirumah ya,, iya... bye Ri..."
Mama menutup panggilan.
Nafasku terasa sangat sesak, ada apa dengan Tante Ruri? Apa Agung sudah menceritakan semuanya, sehingga tujuan Tante Ruri datang untuk membahas masalah itu,,
pikiranku berkecamuk.
"Kenapa Ma? Ruri ngomong apa?"
Tanya Papa.
"Dia nanya, kita dimana katanya mau kerumah,, kurang tau juga kenapa? dari nada suaranya terdengar seperti tegang dan cemas gitu."
jawab Mama.
Mendengar itu Aku semakin deg-degan.
Jika saja saat ini Aku punya kekuatan untuk menghilang,, detik ini juga Aku pasti akan memilih menghilang, Aku takut dan tak berani bertemu Tante Ruri.. Aku tak siap melihat raut kecewanya.
Aku merogoh ponselku yang ada di tas,
lalu mencoba mengetikkan pesan pada Agung.
"Gung, Apa Mama kamu sudah tau tetang selesainya kita?"
Segera ku tekan kirim begitu pesan singkat itu kukirimkan.
Namun, tak kunjung kuterima balasan, hingga beberapa kali Aku memeriksa ponselku untuk melihat adakah pesan masuk.
"Vin,, kamu lagi nyetir loh,, Mama perhatikan dari tadi mata kamu fokus ke ponsel terus,, bahaya loh Vin.."
Tegur Mama, membuatku kembali memasukkan ponsel kedalam tas dan kembali fokus pada kemudiku.
"Iya Ma,, Maaf..."
Ujarku.
__ADS_1
Bersambung***