Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 196 The Last day


__ADS_3

Aku masih terpaku menatap punggungnya berjalan menjauh dariku.


Perlahan Akupun melangkah menuju aula,


sejujurnya hati ini terasa pedih ketika melihat semua siswa datang bersama orang tua mereka untuk menyambut dan menerima hasil belajar selama 3 tahun ini, sementara Aku hanya sendiri.


Aku tak bisa meminta tolong Bik Umi, sebab Bik Umi harus kesekolah Cia, sementara Paman Usman ada pekerjaan lain.


Aku hanya bisa menelan sedih ini sendiri,, Aku tak boleh lemah.. Aku harus berdamai dengan keadaan yang terus memaksa Aku dewasa dan terbiasa.


Sampai di depan pintu aula, rasanya berat sekali langkah kaki ini untuk masuk, setelah melihat deretan siswa yang didampingi orang tua masing-masing.


Kusandarkan tubuhku di dinding tepat disamping pintu aula, memejamkan mata demi menguatkan hatiku sendiri.


"Abi..."


Sentuhan di bahuku serta sapaan lembut dari suara yang begitu sangat Aku kenal membuatku membuka mata.


"Bik Umi...."


Balasku kaget.


Senyum hangat Bik umi menyambut tatapan heranku.


"Kok... Bik Umi disini?"


Tanyaku masih tak percaya.


"Kan untuk mengambil kelulusan Abi.."


Jawab Bik umi mengusap pipiku.


"Maksud Aku.. kok Bisa? bukannya Bik Umi disekolah Cia?"


Bik Umi tersenyum mengelus kepalaku,


"Tadi Pamanmu tidak jadi pergi.., jadi Paman yang kesekolah Cia, dan Paman suruh Bibik kesini..Udah,, jangan sedih lagi ya.. yuk masuk.."


Bik Umi menggandeng tanganku masuk.


Setelah berada di dalam, dan memilih tempat duduk tak sengaja mataku dan mata Vina bertemu pandang, senyum manis dan anggukan kecil mengalirkan sengatan kecil dihatiku.


Satu persatu rangkaian acara dilalui sampailah di acara inti pengumuman dari Kepala sekolah jika tahun ini semua siswa dinyatakan lulus 100 persen.


Bahagia tergambar jelas diraut muka semua yang ada di ruangan, terlebih Aku dan Vina ketika namaku dan nama Vina dipanggil untuk naik ke atas, untuk menerima penghargaan lulusan dengan nilai terbaik.


Vina dengan percaya diri melangkah naik keatas panggung, begitupun dangan Aku yang tak bisa menyembunyikan rasa deg-degan bercampur bahagia yang tak terkira bahwa hari ini Aku bisa berdiri berdampingan dengan gadis impianku dengan menyandang status Siswa berprestasi dengan Nilai tertinggi, membuat kami menjadi sorotan semua mata yang berada di ruangan.


Tak hanya itu, beberapa kali terlihat kamera menyorot kearah kami, bersamaan dengan Blitz yang menyilaukan mata.


Seketika ide dikepalaku muncul, kuperhatikan dan kuingat wajah orang-orang yang memotret kami,


Aku ingin menemui mereka setelah ini dan akan meminta hasil cetak fotonya sebagai kenangan.


Selempang predikat dan buket bunga kami terima dengan wajah bahagia campur haru.


"Ciee... Best couple.."


Ledekan Nina pada Vina yang tak sengaja kudengar ketika melintasi kursi Vina setelah turun dari panggung.


Kedatanganku disambut peluk hangat dan kecupan lembut dari Bik Umi, sungguh perlakuan yang membuat hatiku luluh dan air mataku luruh.


Bertahun-tahun sudah tak kurasakan lagi perlakuan lembut dan penuh kasih sayang ini dari orang tuaku sendiri karena kesibukan mereka, dan Bik Umi hadir untuk menggantikan, meski tak sama,, namun cukup untuk pelipur lara dan menghangatkan hati yang hampir beku ini.

__ADS_1


"Selamat Abi... kamu benar-benar Anak baik, soleh, cerdas... Bibik bangga, dan orang tuamu pun pasti bangga"


Ucap Bik Umi membuatku menunduk.


Selepas acara kelulusan, Semua berlalu meninggalkan ruangan termasuk Aku dan Bik Umi, didepanku Aku melihat Vina dan ibunya bersiap meninggalkan Kursi Aula,


Aku sengaja melintas disampingnya, melirik Vina berharap ia tak lupa dengan janji yang kami buat tadi pagi di perpustakaan.


"Ehm...Bik, Bibik pulang duluan gak papa kan? Aku masih mau disini bentar sama teman-teman"


Ujarku pada Bik Umi begitu keluar dari gedung aula.


"Oh,, iya.. gak apa-apa.. tapi jangan kesorean ya.. terus nanti kamu pulangnya kerumah Bibik aja... Nanti orang tua kamu menyusul"


"Iya Bik.. Bibik hati-hati ya..."


Jawabku mengecup tangan Bik Umi yang kemudian bergegas meninggalkan sekolah.


Tak membuang waktu, Aku segera berjalan cepat menuju tempat yang kami sepakati.


Setengah berlari menuju perpustakaan.


Berdiri tak sabar menunggu kedatangan Vina, Aku benar-benar gelisah, Aku takut Vina tak datang untuk menemuiku meski mungkin saja ini pertemuan terakhir kami.


Tapi ketakutanku terbantahkan,


Suara langkah pelan itu membuatku menoleh,


Vina berjalan pelan kearahku.


"Ehm.. sudah lama nunggu?"


Sapanya begitu tiba dihadapanku.


"Iya nih.. tadi ngobrol dulu sama Nina"


3 tahun mengenalnya, tapi tetap saja hati tak karuan ketika sedang berhadapan langsung dengannya terlebih ketika sedang berdua saja seperti saat ini.


"Duduk disitu yuk!"


Aku berusaha membuang canggungku dengan menarik lengan Vina menuju kursi didepan ruang perpustakaan.


"Ehm.. Selamat ya...."


Aku mengulurkan tangan setelah kami duduk berdampingan,


dan Vina menerima uluran tanganku.


Darahku berdesir ketika tangan lembut itu bertaut dengan jemariku.


"Makasih, selamat juga buat Kamu"


Balas Vina Malu-malu.


"Vin, Aku pasti Akan rindu sekolah ini setelah hari ini"


sebenarnya, Aku ingin berucap jika Dialah yang akan Aku rindukan, tapi entah kenapa yang keluar malah kata-kata sekolah.


Ahh... Aku tak berani untuk itu.


Vina hanya diam,


"Terlebih kepada kamu!"

__ADS_1


Yess!!


Akhirnya kata-kata ini bisa kupaksa keluar sembari Kutatap lekat mata Vina, hingga pada akhirnya Vina menghindari tatapanku.


"Vin, setelah hari ini, Aku tak tau entah kapan lagi kita bisa duduk berdua seperti ini, bahkan untuk sekedar berbincang atau saling menatap dan menyapa"


Aku menghela nafas berat, terlebih ketika mengetahui reaksi Vina yang hanya diam.


"Vin, Aku ingin kamu selalu mengingat Aku, tapi apa itu mungkin?"


Mendengar itu, Vina akhirnya mengangkat kepalanya dan menatap mataku, meski mulutnya masih terkatup rapat.


Hening beberapa saat sebelum akhirnya Aku mengeluarkan kado yang sudah kupersiapkan semalam.


"Vin, ini buat kamu"


Aku menyerahkan sebuah kotak kecil pada Vina


"Ini apa?"


Tanyanya ketika menerima kotak itu.


"Buka saja... bukan barang mewah tapi"


Vina tersenyum, lalu membuka kotak Itu.


Sebiji permen dengan bungkus bertuliskan I MISS U.


"Vin... Maaf, Aku gak bisa ngasih kamu barang kenangan, sebab Aku gak tau kamu sukanya apa, Aku bingung tapi permen itu sudah cukup mewakili Aku untuk bilang kalau setelah ini Aku pasti akan sangat merindukan kamu, bolehkan?"


Vina mengangguk.


"Vin, dari tadi perasaan Aku mulu yang ngomong, kamu gak mau ngomong?"


"Ehm... Ngomong apa ya?? Aku bingung"


Jawaban Vina membuatku lemas.


Padahal, dalam hati kecilku.. ingin sekali mendengar kalimat Dari Vina yang menyatakan bahwa Dia juga sama galaunya dengan Aku tentang perpisahan ini,, tapi sepertinya Vina biasa-biasa saja, apa itu artinya selama ini memang Vina hanya menganggapku temannya, tak lebih seperti yang kuharapkan.


"Kamu gak nyaman ya berdua sama Aku disini, kok kayaknya dari tadi gelisah banget?"


"Ehm.. enggak kok, ehm..bukan gitu.. "


"Lalu??"


Cecarku.


"Ehm... Dir, menurut Kamu.. apa mungkin setelah ini kita bisa ketemu lagi?"


"Entahlah Vin, Aku tak tau"


Mendengar jawabanku, lagi-lagi Vina terdiam.


Oh Tuhan,, apa yang sebenarnya dia pikirkan, apa yang ada dihatinya saat ini?


Sungguh Aku takut tak bisa bertemu Dia lagi setelah hari ini.


Tuhan... jika Aku boleh meminta takdirku,, Aku mohon takdirkan Aku dan Vina bertemu setelah hari ini,, takdirkan kami bersama..


hanya itu.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2