Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 53 Terbayang


__ADS_3

Sebenarnya tak ada yang salah dengan Agung, Dia begitu baik, mengerti dan selalu ada untukku.


Dan Aku harus mengakui, kini hatiku begetar ketika berada di dekatnya, jantungku berdetak kencang ketika matanya menatapku dalam dan perasaan salah tingkah selalu terjadi disaat ia terang-terangan memujiku.


Aku tak tau, apakah salah satu dari ini semua adalah gejala jatuh cinta, atau hanya perasaan sesaat yang lambat laun akan menghilang seiring dengan jarak yang memisahkan.


Tapi jika jarak bisa membuat perasaan memudar, apa kabarnya dengan hatiku yang terus terpaut pada Dirga, bukan hanya tentang jarak namun lebih dari itu bahkan kabarnya pun Aku tak pernah tau dan anehnya perasaan ini tetap abadi.


"Ah... sudahlah, Aku sedang tak ingin pusing memikirkan mereka!! apalagi tentang cinta, yang Aku sendiri tak pernah paham cara permainannya!"


Kesalku kemudian memilih untuk memejamkan mata, berharap mimpi indah menyapaku malam ini.


......................


Masih pagi, bahkan sangat pagi, namun Aku sudah siap dengan seragam di depan cermin sembari menyisir dan menyematkan bando kecil di kepalaku.


Bayangan kejadian semalam terus terekam dan selalu tayang di pikiranku membuat bulu romaku merinding ketika merasakan kembali bibir tebal itu menempel beberapa detik di bibirku.


Hal itu membuat aku menghayalkan sebuah ketidakmungkinan.


"Andai saja yang menciumku semalam bukan Agung tapi melainkan Dirga, sudah pasti perasaanku tak sekacau saat ini, tentu saja itu akan membuatku tersenyum sepanjang hari, bahkan mengenang dan membayangkannya akan menjadi rutinitas baru yang pasti sangat menyenangkan, bisa-bisa Aku tak akan makam dan minum berhari-hari hanya karena takut bekas bibir itu akan hilang"


celotehku sendiri.


"Astaga!!! apa apaan Aku ini, bisa-bisanya Aku memikirkan pikiran bodoh dan konyol semacam itu"


Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan, malu sendiri sudah tentu.


Selesai sarapan, dengan diantar Papa Aku berangkat kesekolah.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, kejadian bagaimana Bibir Ku dan bibir Agung menempel masih saja terbayang-bayang, entahlah bagaimana caranya agar Aku bisa melupakan kejadian memalukan itu, sungguh Aku tak mau lagi mengenangnya.


Hampir tiba di sekolah ketika mobil yang kami kendarai berpapasan dengan Bis sekolah.


Hal itu membuat Aku mengingat lagi tentang Dirga yang 2 hari berturut-turut naik Bis dan duduk menunggu dihalte Bis arah masuk keperumahanku, entah apa tujuannya.


Aku tersenyum kecil, tiba-tiba saja Aku mendapatkan Ide untuk naik bis sekolah saat pulang nanti dan menunggu di halte.


Siapa tau, hari ini pun Dirga akan melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan 2 hari kemarin.


Jika itu benar terjadi, maka itu artinya Aku akan bertemu dengannya.


Dan bila itu juga terjadi, tak kan ku buang dan kusia-siakan waktu, Akan kupertanyakan semua isi kepalaku padanya, tentang perasaannya, tentang hubungan kami, tentang surat yang tak di balas, tentang perempuan yang selalu bersamanya!!!


Tapi.... Apa Aku sanggup dan berani?? sementara baru saja menatap dirinya dari kejauhan, tubuhku sudah seperti terpaku, mulut bagai terkunci bahkn mata tak sanggup berkedip,


Bukan lebay, tapi ini memang yang terjadi, entahlah..


Nina menyambut kedatanganku dikelas, dengan mulut penuh berisi nasi goreng sosis yang tengah ia lahap,


"Pagi Vin, sarapan yuk... "


Ujarnya dengan terus menyendok tepak makan di hadapannya.


"Pagi, Aku kenyang tadi udah sarapan, kamu lanjut aja sarapanya habisin semuanya biar makin gemoyyyy"


Ujarku sembari mentoel pipi kembungnya.


Mendengar itu, Nina sesaat menolehku kemudian manggut-manggut melanjutkan sarapannya.

__ADS_1


Aku duduk di kursiku tepat di depan meja Nina.


Tak lama, Tari datang disusul beberapa siswa lainnya.


"Hai Tar..."


Sapaku, yang hanya mendapat senyum tipis dari Tari sebelum akhirnya ia pamit keluar untuk sarapan di kantin.


"Ehm.... Vin, kurasa ada yang janggal dari Tari ya... tapi apa mungkin ini hanya perasaanku saja??"


Nina mengakhiri sendok terakhirnya lalu serius menatapku.


"Ah, macam-macam!! Janggal apanya??"


Aku beranjak dan berpindah duduk disampingnya.


"Aku ngerasa sepertinya Tari menjaga jarak dari kamu loh.... padahalkan kalian teman dari Sd, bahkan menurut kamu.. kamu dulu yang paling dekat sama Tari iya kan??"


"Masak sich?? kayaknya itu cuma perasaan kamu Nin, Aku merasa baik-baik saja kok."


"Ya syukur deh... kalau gitu,, tapi ya... kalau boleh Aku ngomong lagi.. hal ini terasa setelah ternyata kita tau dia tetanggaan sama Dirga, dan dia tau kalau kamu dan Dirga punya cerita!!"


jabar Nina serius.


Aku terdiam merenungkan ucapan Nina.


Nina benar juga, semenjak Aku menitipkan surat dan Nina bercerita tentang kisah Aku dan Dirga, sejak saat itu Tari berubah sedikit pendiam, tak banyak canda seperti dulu dan lebih sering menyendiri, dan hanya sibuk dengan ponselnya.


Tapi, Aku tak ingin berprasangka apa-apa, Aku tak punya bukti dan semua cerita Nina tak bisa dihubung-hubungkan dengan perubahan sikap Tari yang terkesan berubah mendadak, apalagi sampai mengaitkannya dengan Dirga.

__ADS_1


kurasa itu sangatlah berlebihan.


Bersambung***


__ADS_2