Seabadi Edelwais..

Seabadi Edelwais..
Bab 70 Ingin waktu berhenti


__ADS_3

Hujan masih sangat deras, disertai angin yang begitu dingin menembus sampai ketulang, namun hati ini terasa begitu hangat, Senyaman inikah duduk di samping Vina dengan tangan yang bertaut erat, sungguh Aku tak ingin waktu cepat berlalu.


Vina masih terdiam dengan membiarkan jemariku menggenggam tangannya yang dingin.


Andai Vina tau, betapa bahagianya Aku detik ini,


Kulirik Vina dari ujung mataku, Air matanya masih saja mengalir, entah apa yang ia tangisi.


"Vin, sudah lah.. berhenti menangis!! simpan air mata kamu, cukup sudah kamu menangisi hal yang mungkin tak pernah memikirkan kamu! Bahkan, saat ini pun Dia tak menepati janjinya!!"


Ujarku dengan perasaan kesal.


"Tak ada yang berjanji sama sekali disini Niel!!"


Jawabnya dengan suara bergetar.


Aku terperangah tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar dari mulut Vina.


Apa maksud Vina dengan kalimat tak ada yang berjanji?


Aku sama sekali tak mengerti,


"Lantas?? untuk apa dan untuk siapa kamu duduk menunggu dan menangis di sini??"


Tanyaku bingung.


"Sudahlah, Aku tak bisa menjelaskannya,, kamu tak mungkin mengerti!"


Vina menarik lengannya, kemudian merapikan rambutnya yang berantakan tertiup oleh angin.


Ada perasaan tak rela ketika jemari Vina terlepas dari genggamanku, namun harus bagaimana lagi, tak mungkin Aku menahannya.


"Ya... Aku memang tak mengerti dan selamanya tak akan mengerti!!"


Aku mengusap wajahku sendiri dengan kesal.


Terlihat Vina menarik nafas panjang kemudian berdiri, berjalan maju ke tepi Halte.


Tangannya menadah rintik hujan yang tidak lagi deras.


Aku terus memperhatikan Vina.


"Hujannya sudah mulai berhenti, Aku mau pulang!"


Ujarnya mantap.


"Jangan sekarang!! masih gerimis!! Tunggu sebentar lagi, biar reda dulu"


Aku mencoba mencegah langkah Vina untuk pulang, berharap Ia mau bertahan sebentar lagi disini bersamaku.

__ADS_1


Aku masih ingin berdua, meski bukan sebagai siapa-siapa.


Vina mendongakkan kepalanya kembali menatap langit yang masih mendung, kemudian terdiam,


lalu memutuskan untuk kembali duduk dibangku halte.


Suasana yang masih dalam keadaan gerimis membuat jalanan masih sangat lengang.


Aku kembali duduk disamping Vina yang kembali terdiam menunduk mencoba menyembunyikan luka yang mungkin sedang ia rasakan.


"Vin, Aku kenal kamu dari kita kecil.. kita berteman dan bersahabat bukan baru hitungan bulan, Aku mohon.. beri Aku kesempatan untuk peduli dengan apa yang sedang terjadi sama kamu"


Aku memberanikan diri untuk berbicara dari hati ke hati, tak peduli bagaimana nanti tanggapan Vina.


Aku tau Vina menolehku, namun sengaja tak kurespon, mataku tetap saja memandang lurus kedepan.


"Aku tidak bermaksud ikut campur, tapi setidaknya biarkan Aku jadi pendengar setia untuk ceritamu, izinkan Aku menjadi tempat untuk kamu berbagi keluh kesahmu, saat kamu sendiri tak kuat dengan masalahmu"


Sambungku lagi tanpa menoleh.


"Itu juga jika kamu masih menganggapku Daniel yang dulu!"


Aku menunduk, antara lega, malu dan takut bercampur baur.


Hatiku bergetar kala Vina menggeser tubuhnya untuk lebih rapat padaku, terlebih ketika ia kemudian menyandarkan kepalanya pada bahuku.


Darahku berdesir, jantungku berdegup sangat kencang, hati ku bergetar hebat.


Ingin sekali rasanya membelai rambutnya, merangkul bahunya, membelai pipi demi mengusap air matanya.


Akan tetapi semua tak bisa Aku lakukan, lagi-lagi dengan alasan Aku bukan siapa-siapa.


Andai Aku bisa meminta dan merayu sang waktu, Aku ingin waktu berhenti, Aku tak ingin detik ini berlalu, Aku ingin lebih lama bisa merasakan hangat dan damainya hatiku saat ini.


Beberapa detik berlalu, seolah tersadar dari mimpi Aku memejamkan mata sesaat dan membuang nafas pelan-pelan.


Aku tak ingin tenggelam kedalam impian yang lebih dalam lagi,


"Hujan sudah reda, ayo pulang Aku antar!"


Ucapku sembari menyentuh kepala Vina dan mengusapnya pelan.


Vina lalu beranjak dari sisiku,


"Tunggu disini!!"


Perintahku, sebelum Aku berlari menerobos gerimis kecil sisa-sisa air hujan, untuk mengambil motor yang kuparkir tak jauh dari halte.


Tak lama kemudian, Aku kembali lalu memberi kode agar Vina segera naik.

__ADS_1


"Ehm... Kamu kesini, lalu Elza??"


Tanyanya, sebelum naik keatas motor.


"Dia kupesankan ojek online, udah buruan naik, takut hujannya deras lagi!"


Vina mengangguk dan segera duduk dibelakangku.


Ini adalah pengalaman pertama...


Ya, untuk pertama kalinya Aku membonceng Vina selama Aku diizinkan membawa motor, hampir 3 tahun ini, Elza lah yang selalu menjadi penghuni jok belakang motorku pulang dan pergi sekolah, begitupun saat pergi-pergi kemana pun, selalu saja Elza yang bersamaku.


Motor melaju menggilas jalanan aspal basah menuju perumahan Vina.


Motor berhenti tepat didepan pagar rumah Vina,


Setelah hari ini, sepertinya Aku harus segera chek up kerumah sakit, sebab sejak di halte tadi, jantungku terus-terusan berdetak kencang, berkeringat meski cuaca sedang dalam keadaan dingin, bahkan beberapa kali tubuhku gemetaran,


Apa mungkin ini gejala penyakit jantung.


Huffth....


Vina turun dari motor, dan bersiap meninggalkanku.


"Aku masuk ya... makasih untuk hari ini"


"Vin, tunggu...!"


Cegahku, yang tak rela ditinggalkan.


Vina kembali menatapku.


"Sebentar...., Maaf..."


Aku yang masih berada diatas motor, menarik lengan Vina agar lebih mendekat padaku.


Kutatap matanya yang masih basah dan sedikit sembab, belum lagi basah disekitar wajahnya akibat percikan air hujan.


Aku sapukan saputanganku diwajahnya dengan lembut.


lalu Aku menyelipkan rambutnya pada telinga.


"Cukup hati dan pikiran kamu saja yang berantakan, tapi penampilan jangan!"


Tukasku, kemudian memberi kode untuk menyuruhnya segera masuk rumah begitu penampilannya sudah rapi.


Tanpa menjawab apa-apa, Vina berlalu meninggalkanku yang masih menatapnya lekat.


Bersambung***

__ADS_1


__ADS_2