
Pagi datang,
Baru saja mata ini terbuka...
"Abiiiii.....!! Abiiiii!!!... Bangunnnn!!!!"
Tok..!! Tok..!!! Tok..!!!
Teriakan diluar kamar yang berasal dari suara Bella yang menggedor pintu kamar.
Dengan langkah malas kupaksakan berdiri berjalan menuju pintu dan membukanya.
"Selamaaattt pagi... Pangerannnn ganteng..."
Seru Bella.
"Pagi juga"
Jawabku singkat.
"Kata Ayah,, buruan mandi kita mau shoping!! alias kepasar.. hahhaha... beli keperluan sekolah!! ditunggu di ruang makan dalam waktu 10 menit!! No tawar menawar!! Okeyy!! bye!!"
Bella berbalik meninggalkan Aku yang masih termangu.
Menarik nafas panjang, dan menghembuskannya berlahan sembari berjalan untuk bersiap-siap.
Ayah... Ibuk,, Aku janji... mulai hari ini Aku akan menjadi Abi yang kuat,, Abi yang semangat dan Insya Allah Abi yang sukses suatu saat nanti.
"Paman,, Abi sudah siap!"
Tuturku begitu tiba di dekat meja makan, serentak semua kepala menoleh kearahku.
"Abiiii....... nahhhh gitu donkk,, "
Seru Bella yang beranjak menghampiriku.
"Ayok!!.. Ayok!! duduk sini...."
__ADS_1
Bella lalu menarik lenganku menuntunku menuju kursi untuk sarapan, sementara Cia bergegas mengisi piringku dengan mi goreng hangat dan telur ceplok.
"Sekarang kamu makan!! kalo perlu nambah yang banyak ya... liat dehhh kamu udah kurus banget! jelek tau!! nanti mana ada cewek yang mau pas di SMA!!"
Celoteh Bella panjang lebar.
Paman Usman, Bik Umi dan Cia hanya senyum-senyum melihat sikap Bella.
...****************...
Hari-hari berjalan begitu cepat,
selepas subuh,
Duduk di tepi tempat tidur dengan memandangi seragam putih abu-abu yang sudah tergantung rapi, ada rasa pedih yang tiba-tiba berderit di dinding hati,, betapa tidak... seragam yang pernah dijanjikan kedua orang tuaku ternyata tidak kesampaian mereka belikan untukku, bahkan sekarang, untuk sekedar melihatku dengan seragam itupun mereka tak bisa lagi.
Tapi, segera kuusap sudut mataku yang kembali basah, mengingat mereka membuat ruang rindu dihati ini terbuka lagi.
Menarik nafas panjang dan meyakinkan diri bahwa Aku harus kuat.
Ervina Delia,, tiba-tiba saja Aku mengingatnya.. Apa kabar Dia? bagaimana perasaannya saat ini? Apakah sedang memandangi seragam baru seperti yang sedang kulakukan?
Ahh... rindu sekali rasanya,,,
Andai kamu tau,, betapa campur aduknya perasaanku saat ini Vin...
Dan andai saja pagi ini, kita menuju sekolah yang sama,, mungkin rasa sedih dan sepi ini akan sedikit terobati.
Hari-hari kulalui dengan kesibukan tak ada waktu yang terbuang sia-sia, bahkan di sekolah ini semua waktu yang ada kuhabiskan dengan berbagai macam kegiatan, hingga Aku lupa akan kesedihan dan kesendirianku, beruntung Aku memiliki Cia dan Bella yang selalu ada untukku.
Disekolah, Aku tak memiliki banyak teman, hanya beberapa saja,, itupun laki-laki, tak ada perempuan. Aku juga tak sepopuler Anak-anak laki-laki lain.
Bukan karena tak ada perempuan disekolahku melainkan karena Aku lebih menjaga hatiku.
Aku berusaha menutup hatiku untuk cinta,, karena dihatiku masih saja Vina yang memegang tahtanya.
Disisi lain,
__ADS_1
Aku juga cukup tahu diri, dan selalu merasa tak enak hati dengan kebaikan keluarga Paman Usman, karena hal itu akhirnya kuputuskan untuk mencari pekerjaan setelah pulang sekolah hingga malam.
kerja apa saja,, yang penting dapat uang.
Hari libur, kuisi dengan bergabung di komunitas olah raga bola Voli di lingkungan tempat tinggalku.
Di komunitas inilah pertama kalinya Aku berteman dengan seorang perempuan.
Aku bertemu sahabat yang super baik, namanya Tari..
yang belakangan baru Aku ketahui bahwa Dia bersekolah di sekolah yang sama dengan Vina,
Tanpa membuang kesempatan segera kutanyakan tentang Vina.
Namun sayang, harapan tinggi yang sempat kuimpikan tiba-tiba hancur berkeping-keping setelah mendengar penuturan Tari bahwasanya gadis yang selalu kurindukan ternyata telah melupakan Aku, bahkan kini sudah memiliki kekasih.
Hatiku nyeri seketika terlebih saat Tari memperlihatkan bukti foto kebersamaan Vina dengan kekasihnya yang begitu ku kenal.
Ya... Kekasihnya ternyata adalah Agung, si ketua osis yang menjadi rivalku dulu semasa SMP.
Ohh Tuhan,, inikah rasanya kecewa??
Beginikah rasanya patah hati?
Begitu nyeri,,
Tak hanya Agung, Tari juga menunjukkan foto kedekatan Vina dengan laki-laki lain di sekolah.
Berusaha melupakan,, mungkin itu langkah yang paling tepat untuk ku ambil saat ini.
Tapi sayangnya,, melupakan Cinta pertama tak semudah yang Aku bayangkan,, semakin kucoba,, maka Aku semakin rindu.
Apa sebaiknya kutemui saja Vina, dan menanyakan hal ini?
Tapi... Apa Aku punya nyali?
Ahhh.... Aku tak peduli!!! kubulatkan tekat untuk mendatangi Vina kesekolahnya besok!
__ADS_1
Bersambung***