
Rasanya aneh,, ketika Vina mendadak mendiamkan Aku seperti ini, disaat semua siswa terlihat sibuk dengan kegiatan masing-masing, mengobrol adalah kegiatan yang paling banyak di lakoni Mereka, Hanya Aku yang malah jadi canggung ketika berada didepan Vina.
Meski rasanya ingin sekali membalik tubuhku menghadap ke belakang untuk nimbrung kepada Nina yang sedang antusias bercerita tentang liburannya bersama keluarga pada Vina,, tapi Aku takut jika wajah cemberut Vina akan membuatku jadi tak enak hati.
"Vin,,kamu gak dengerin aku cerita ya??"
Terdengar protes Nina pada Vina membuatku mengerutkan dahi,
"Eh...denger kok, hehhehe"
Sahut Vina.
"Bohong!!! Kamu ngelamun"
Tukas Nina.
"Nina cantik,, jangan ngambek donk"
Bujuk Vina.
Beberapa detik kemudian, canda tawa mereka kembali terdengar.
Membuatku menoleh sesaat kemudian membalik badan ke belakang menghadap Vina dan Nina.
"Ngobrolin apaan sich,,seru banget"
Ujarku basa basi.
"Ehm...tentang 2 minggu libur, kamu ngapain aja Dir??"
jawab Nina, sementara Vina tak mengubris pertanyaanku, malah terlihat sok sibuk dengan buku dihadapnnya.
"Oh... Aku gak kemana-mana, cuma baring dikamar dan memikirkan sebuah nama,"
Jawabku dengan mata memandang ke arah Vina.
Berharap Vina merasa bahwa sebuah nama itu adalah dirinya.
Sekilas Vina menatapku namun dengan cepat membuang tatapannya kearah yang lain.
"Cieee..... Mikirin siapa Dir??"
"Ada dechhh"
"Ichhh...Dirga..."
"Kalo Vina, ngapain selama liburan..?"
Tanyaku pada Vina yang sejak Aku berbalik tadi hanya diam.
"Ehmm... Aku juga dirumah aja, merindukan seseorang, tapi sayang... seseorang itu tak merasakan hal yang sama."
Jawaban ambigu dari Vina membuatku benar-benar bingung,, apa maksud dari kalimat itu,, mungkinkah Aku orang yang dirindukannya? tapi... Ahh,, Vina benar-benar membuatku gagal paham.
Aku menghela nafas lalu kembali berbalik ke posisi semula.
Tak lama setelah itu, seorang Guru memasuki kelas, membuat seisi kelas mendadak hening.
Hari ini belajar belum normal, hanya perkenalan wali kelas dan pembagian perangkat kelas.
Didalam kelas tak ada kegiatan hingga Bell istirahat yang nyaring membuat sorak sorai seisi kelas kemudian berhamburan keluar menuju kantin.
Dalam hitungan detik, ruang kelas sudah sepi hanya tinggal Aku, Vina dan beberapa anak lain.
Tak lama Kulihat Vina beranjak meninggalkan kelas berjalan menuju taman dan duduk sendirian disana.
Sejenak Aku berpikir, apa kutemui saja Vina mumpung dia sedang sendiri, dan menanyakan siapa orang yang dia rindukan?
tanpa menunggu lama, Aku bergegas menghampiri Vina yang tengah asyik membaca komik favoritnya.
Ku tarik dengan cepat komik dari tangan Vina, membuat ia tersentak kaget dan buru-buru mencari tau siapa yang tengah mengagetkannya.
Sesaat bertentang mata dengannya,
"Kamu kenapa?"
cetusku pada Vina yang masih bingung.
"Lagi baca!"
Jawabnya jutek.
"Aku nanya, kamu kenapa? bukan lagi apa?"
__ADS_1
Tegasku ketika mendengar jawaban yang tidak tepat darinya.
Membuat rona merah jelas terlihat diraut muka canggung Vina.
"Ehm...gak papa,"
jawabnya salah tingkah.
"Kamu jutek dari pagi tadi, kamu juga cuek"
sambungku.
"Biasa aja"
kilah Vina.
"Kamu lagi gak biasa!"
cecarku lagi membuat Vina tertunduk.
Kuberanikan diri menyentuh dagu manisnya lalu menarik perlahan hingga wajah itu kini terangkat menatapku.
"Coba lihat Aku!"
Ujarku pelan.
Vina menatapku ragu, sementara Aku menyoroti matanya tajam meminta penjelasan.
"Apa Aku yang kamu maksud, orang yang kamu rindukan selama libur?"
segera kuutarakan tanda tanya dihatiku.
Mendengar itu, Vina terdiam membuatku tak sabar mendengar jawabannya.
Beberapa detik saling diam, dan Aku menyadari Gadis dihadapanku tengah melamun.
"Hei...haloooo"
Aku melambai-lambaikan tangan menyadarkan lamunannya,
"Eh.. itu,, ehm... Nina.. Iya... Aku selalu merindukan tingkah Nina"
Seketika hatiku terasa ngilu, jawaban Vina tak sesuai harapanku.
Harusnya Aku tau diri,, bahwa Aku dan Vina hanya teman, agar Aku tak berharap lebih.
"Oh....Maaf Aku terlalu percaya diri"
Dengan lemas, kukembalikan komik yang tadi Aku rampas, lalu duduk di sisi Vina.
"Ehm...Dir,, tadi kamu bilang, kamu selalu memikirkan seseorang selama libur, siapa?"
Mendengar pertanyaan itu, Aku hanya bisa menghela nafas lalu melipat tangan didada.
ingin rasanya Aku jujur bahwa yang selalu ada dipikiranku hanya Dia,, tapi untuk apa?
Toh, hanya akan membuat suasana semakin canggung.
"Iya, Aku selalu memikirkannya... Bahkan saat ini pun Aku tengah memikirkannya, dia selalu merajai fikiran dan hati ku."
Ujarku tanpa menolehnya.
"Ehm... Pasti seseorang itu sangat spesial ya?"
Tanya Vina lagi.
Hem... Andai saja kamu tau, kamu bukan saja sekedar spesial, tapi lebih dari pada itu...
Batinku.
"Tapi sayang...Dia malah tak pernah faham"
Sambungku.
"Pacar mu ??"
tanya Vina lagi.
"Ehm....Bukan"
Aku menggeleng.
"Lalu??"
__ADS_1
"Seseorang yang mungkin tak pernah memikirkan Aku"
Kulirik Vina yang terdiam mendengar jawabanku,
"Dir,, Salsa kok gak kelihatan?"
Vina mengalihkan pembicaraan.
"Oh....itu, Dia pindah, Ayah nya di pindah tugas ke bandung."
"Ehm...."
Vina menganggukkan kepala beberapa kali.
Sampai pada akhir nya istirahat selesai.
"Yuk masuk!"
Aku bangkit lebih dulu, lalu mengulurkan tangan di depan wajahnya.
Vina menyambut, lalu berjalan beriringan menuju kelas.
Sepanjang koridor, kami saling diam,,sesekali mata kami saling tatap, lalu tersenyum tipis.
Di dalam kelas, seperti tak terjadi apa-apa,hingga waktu pulang tiba.
Aku sengaja berlama-lama menunggu saat kelas sepi baru akan melangkah keluar.
Aku melihat, Vina juga melakukan hal yang sama denganku.
Saat ia melangkah melewatiku,
"Ervina...!"
Panggilku, membuat Vina terkesiap lalu menghentikan langkahnya.
Vina membalik tubuhnya menghadapku yang masih duduk di bangku.
"Iya.. Dirgantara..."
Aku tersenyum mendengar balasan dari Vina, kemudian beranjak menghampirinya.
"Bareng..."
"Boleh"
"Tumben, memanggil lengkap namaku"
"Pingin aja"
Vina tersipu malu.
Sesampai nya di depan gerbang, bis sekolah yang kuharapkan datang terlambat malah sudah tiba,
"Dir, Aku naik ya..."
Pamitnya sebelum melangkah meninggalkanku.
"Tunggu....Vin.."
Cegat ku dengan menarik lengannya.
"Ada apa??"
Tanya Vina kaget.
"Nich..."
Aku yang sudah menyiapkan permen kopi beserta secarik pesan yang kutulis beberapa saat sebelum bell pulang berbunyi.
đź’“pengaruh mu padaku bagai permen kopi,
kecaplah..maka kau akan tau,
manis...saat kita berada dalam ruang canda dan cerita,lalu pahit...ketika kesalahpahaman sedang menyertai kitađź’“
segera menarik tangan Vina dan menaruhnya di telapak tangan lalu menutup telapak tangan Vina kembali.
Vina menerimanya dengan raut wajah bingung lalu melambaikan tangan padaku, ketika telah duduk di kursi bis.
Aku berharap, setelah membaca itu.. hati Vina sedikit terbuka untuk menyadari adanya rasa yang berbeda yang mungkin tak pernah kami sadari.
Bersambung**
__ADS_1