
Beberapa saat saling diam, Aku tak dapat memalingkan sebentar saja tatapanku dari Dirga.
"Maaf ya... Aku jadi melow gini..."
Ujarnya setelah beberapa kali ia mengatur nafasnya.
"Gak papa Dir, itu wajar... Aku turut berduka cita ya... Maaf, Aku tidak tau berita itu,, dan sepertinya begitu juga dengan teman-teman yang lain."
Jelasku.
Dirga kembali menunduk.
"Ehm.... Dir,, kamu sibuk apa sekarang?"
Sengaja kualihkan obrolan, Aku tak ingin Dirga sedih berlarut-larut.
"Aku hanya buruh pabrik Vin,, Tak seperti teman-teman kita yang lain, yang sudah sukses"
ujar Dirga.
"Ah, gak boleh gitu,,, Buruh pabrik pun adalah sebuah pekerjaan bagus, yang penting halal dan kita bersungguh-sungguh pasti kesuksesan akan datang, semangatt ya..."
Pungkasku.
"Ehm.. kamu mau ikut Aku gak??"
Tanyanya membuat Aku terperangah.
"Hah?? Ikut?? Ikut kemana?"
Aku bertanya bingung.
"Ntar juga kamu tau,, yuk...!"
Dirga beranjak dari kursinya, sebelumnya ia sempat menaruh selembar uang di bawah gelas kopinya.
Setelah berdiri, dengan cepat ia menangkap lenganku lalu menariknya.
Aku yang masih dalam keadaan bingung, hanya bisa pasrah mengikuti kemana Dirga Akan membawaku.
Rasanya seperti mimpi, sore ini.. Aku bisa merasakan kembali kebiasaan buruk Dirga waktu SMP, yaitu menarik lenganku.
Sebuah kebiasaan buruk yang membuatku berbunga-bunga.
Sampai di depan Kafe,
Terlihat Dirga menatap lurus kearah mobilku,
"Vin, kamu kesini naik apa?"
Tanyanya tanpa melepaskan pegangan tangannya.
"Ehmm... Naik... naik... ehm..."
Aku ragu untuk menjawab.
"Naik itu.. !"
sambungnya cepat sembari menunjuk mobil putih yang sedang terparkir.
Aku mengangguk pelan.
Dirga terlihat menarik nafas, kemudian menunduk dengan wajah memerah.
"Dir, kamu kenapa??"
Tanyaku.
"Vin, Kamu yakin mau ikut Aku?"
Dirga kembali mengulang pertanyaannya seolah tak yakin.
"Emangnya kenapa nanya gitu Dir??
Aku sedikit menunduk untuk melihat wajahnya yang ia coba sembunyikan.
"Sini... ikut!!"
Dirga menarik Aku kearah parkiran motor,
"Kita naik ini!"
Tunjuk nya pada salah satu motor jenis matik berwarna biru.
Aku masih terdiam, memandang wajahnya kemudian beralih memandang motor matic tersebut.
"Dir, sebenarnya kita mau kemana sih...? Ehm.. gimana kalau kita perginya naik mobil Aku aja"
__ADS_1
Tawarku, bukan tanpa alasan Aku memilih mengajak Dirga naik mobil agar lebih aman Aku takut, akan ada yang melihat kebersamaan kami dan ini Akan menjadi masalah untuk Aku dengan Agung dan keluarganya, walau bagaimanapun juga dalam hitungan hari, Aku akan segera bertunangan dengan Agung.
"Kalau kamu keberatan, gak apa-apa kita batal aja gak masalah!!"
Dirga melepas gandengan tangannya, dan bersiap naik ke atas motornya.
"Loh... Gak gitu Dir,, ,maksud Aku...."
Belum selesai ucapanku, dirga mengangkat tangannya dan mengisyaratkan Aku berhenti bicara.
"Udah...!! gak apa-apa, Aku ngerti.. ngerti banget, Maaf Aku memang tidak tau diri!!"
"Loh... kok ngomong gitu? Kamu salah paham Dir...Aku gak maksud....."
"Lagian mana mungkin seorang Nona mau diboncengin motor panas-panas,, Kamu juga pasti malu kan??"
"Dirga!!! stop!!!"
bentakku dengan meletakkan telunjuk ku tepat didepan bibirnya, membuat Dirga tersentak dan terdiam, matanya menatapku tajam.
"Nih... kamu dengar baik-baik ya!!! Aku sama sekali gak malu!! trus Aku juga bukan seorang Nona!!! dan satu lagi!! Aku masih Vina yang dulu!!"
Tegasku,
Dirga membisu,
Aku pun demikian.
Setelah beberapa saat,
"Maaf..."
Ucapnya singkat, Aku mengangguk.
"Yuk naik....!"
Ajaknya.
Aku segera duduk dibelakangnya, dengan hati berdebar-debar.
"Dir, kita mau kemana??"
"Udah tenang aja, nanti juga kamu tau."
Di tengah perjalanan, Aku menyadari jika jalan ini adalah jalan menuju SMP kami dulu.
Hatiku semakin deg-degan, mengingat disana sejuta kenangan pernah terlewati,, sejuta cerita pernah tertulis dalam kisah cinta pertama bukan cuma tentang Aku dan Dirga, tapi Agung juga.
Dan benar saja,
Sepeda motor Dirga memasuki gerbang sekolah,
"Kita sudah sampe,, kamu masih ingat tempat ini??"
Dirga bertanya sembari membuka helmnya dan menolehku.
Aku mengangguk dengan mata terus menatap kearah bangunan saksi bisu itu.
"Yuk masuk!!"
Ajaknya, lagi-lagi dengan menarik lenganku.
"Eiitt.... Dir, tunggu..tunggu, Ini kan udah sore banget, emang kita bisa masuk?? bukannya udah di gembok ya...?"
"Kamu tenang aja, satpamnya tetangga Aku... tadi pagi Aku dah ngomong ke Dia kok..."
Aku mengangkat kedua alis mataku mendengar jawaban dari dirga dan melanjutkan langkahku mengikutinya.
"Sore Pak Min...."
"Eh Abi, Sore... baru nyampe?? Saya kira gak jadi,, sebentar saya buka gemboknya dulu ya..."
"Makasih Pak Min..."
"Cantik benerrrr Bi,, jangan lepas lagi"
Kalimat bisik-bisik dari Satpam sekolah yang masih bisa kedengaran di telingaku.
Sementara Dirga menanggapinya hanya dengan senyum.
Yang membuat Aku bertambah bingung adalah kalimat Satpam tersebut,
Jangan lepas??
maksudnya apa coba??
Kata Dirga Dia tetangganya, itu artinya Dia tau kan Dirga sudah punya anak 3, ngapain bilang gitu??
__ADS_1
Ahh,, tambah pusing!!
"Vin... Yuk...!!"
Seru Dirga sembari berlari masuk pagar sekolah yang telah terbuka,
Aku menyusulnya dengan berjalan pelan, ingin sekali Aku berlari mengejar Dirga, tapi sepatu lancip dengan hak 7cm yang tengah Aku gunakan membuat Aku tidak leluasa,
"Hem... harusnya Aku tadi ganti sepatu"
Batinku yang tiba-tiba mengingat sepatu teplek yang ada di loker kantor.
Dirga duduk di bangku batu di pinggir lapangan Basket.
Melihat itu, ingatanku melayang pada kenangan yang sudah lebih kurang 10 tahun berlalu,
Pada saat hari pertama Aku masuk SMP, dimana untuk pertama kalinya Aku melihat Dirga dengan getaran hati yang berbeda.
"Vin, kamu rindu kelas gak?? yuk naik!!"
Ajak Dirga menunjuk lantai dua, yang merupakan kelas kami.
Aku mengangguk tersenyum,
Menaiki anak tangga yang dulu menjadi saksi betapa langkahku begitu semangat setiap hari, karena Dirga.
Sampai diatas, Aku tak lantas masuk ke kelas, Aku menuju balkon dimana dulu Aku selalu berdiri memandang kebawah, memperhatikan Dirga, ketika Aku cemburu buta.
Aku menarik nafas panjang lalu menatap kelas, berjalan masuk pelan-pelan.. semua kenangan terbayang, seperti tengah menonton film yang sedang diputar.
"Vin, ada satu lagi tempat yang tak boleh kita lupakan,,"
Ujar Dirga,
Aku menatapnya kemudian,
"Iya, Aku tau...."
Jawabku yang bisa menebak tempat yang dimaksud Dirga.
Kami kembali turun kebawah berputar menyusuri koridor menuju perpustakaan.
Tiba dibelokan, Tiba-tiba saja Aku teringat Agung dimana ditempat inilah Aku pernah bertabrakan dengannya.
"Agung!!"
Gumamku dalam hati,
Aku takut Agung menghubungiku, Aku merogoh Tas dan mengeluarkan ponsel, benar saja, ada 2 pesan yang isinya sama, yaitu menanyakan kabar, Aku meng silent ponselku dan kembali menyimpannya didalam Tas.
"Maafkan Aku Gung, Aku tak bermaksud menyakitimu, hanya saja Aku tak ingin melewatkan waktu dan kesempatan ini seperti dulu, dan menyesali seumur hidupku. Bukankah kita minggu depan Akan bertunangan, sementara dengan Dirga, mungkin setelah hari ini tak kan pernah ada lagi waktu untuk bersama."
Ratapku dalam hati yamg perih.
"Vin, kamu kenapa??"
"Ehm... gak papa.."
Jawabku dengan sedikit menggeleng.
"Vin, kamu tau... disini, diperpustakaan ini, adalah tempat yamg paling sulit untuk Aku lupakan, kamu tau kenapa??"
Tanya Dirga,
Aku menatapnya serius.
"Kenapa?"
Tanyaku tak sabar menunggu ucapan selanjutnya dari Dirga.
"Karena disini, kita terakhir kali bertemu.. dan Aku menyesali satu hal sampai detik ini"
Deg!!
Jantungku berdetak,
"Menyesali?? apa??"
Desak ku.
"Menyesali sesuatu yang tak berani kuungkapkan, dan rasa penyesalan itu masih ada sampai saat ini, kamu tau Vin, saat terakhir kali kita bertemu... Ingin sekali Aku katakan bahwa Aku takut kehilangan kamu, Aku takut jauh dari kamu, sebab Aku sayang sama Kamu"
Ungkap Dirga lugas.
Sontak hal itu membuat Aku teperangah tak percaya dengan apa yang baru saja Aku dengar, benarkah ucapan dirga?? benarkah selama ini cintaku tak bertepuk sebelah tangan??
Mataku terasa panas, dan bulir bening itu tak dapat ku kendalikan lagi meluncur bebas dari kelopak mataku yang masih memandang Dirga tak percaya.
__ADS_1
Bersambung***