Sicantik Ternyata Seorang Sikopat

Sicantik Ternyata Seorang Sikopat
Sandiwaramu tak sehebat diriku!


__ADS_3

Sudah satu minggu berlalu. An xia seminggu ini sering kali keluar kediaman secara diam diam. An xia kali ini selalu memakai baju laki laki saat keluar kediaman semenjak bertemu pria misterius itu saat di hutan.


An xia selalu menyuruh para pelayannya untuk tidak masuk ke kamarnya dan menyuruh mereka untuk tidak boleh ada yang mengganggunya agar tidak ada yang tahu kalau ia sering keluar secara diam diam...... sedangkan para pelayannya mengira kalau An xia sedang mengurung diri.


Saat keluar kediaman An xia sering berkeliling ibu kota. kadang ia mampir ke rumah makan yang waktu itu, kadang ke pasar gelap, bahkan ia pernah ke rumah bordir...bukan untuk yang macam macam. Rumah bordir itu kadang mengadakan pertunjukan yang cukup menarik....karena itulah An xia pergi ke sana.


Sedangkan hari ini adalah hari di mana ayah dan kakak An Xia pulang dari perbatasan. Sebenarnya An xia sangat merindukan mereka. walaupun mereka bukan keluarga asli tapi An xia menganggap mereka sebagai keluarga, An xia juga menyayangi mereka semua.....kecuali kedua selir dan anak anak nya itu.


•••


An xia duduk di samping jendela dan sedang menatap langit yang cerah sambil menopang kepalanya dengan kedua tangan.


"Aku yakin kedua anak selir itu akan mencari gara gara denganku saat ayah kembali." gumamnya sambil tersenyum licik.


Tiba tiba ada seorang pelayan yang mengetuk pintu kamar An xia." Permisi, Maafkan pelayan ini mengganggu nona.....pelayan ini hanya ingin menyampaikan bahwa jendral besar An dan tuan muda pertama akan segera tiba di kediaman." Ucap pelayan itu dari balik pintu.


An xia berjalan, dan membuka pintu. " Baiklah, aku akan pergi untuk menyambut kepulangan mereka." Setelah mengucapkan itu An xia melangkah meninggalkan paviliun miliknya dengan di ikuti para pelayan di belakangnya.


Sesampainya An xia di luar kediaman..... ternyata ayah dan kakak laki lakinya itu sudah sampai dan disambut oleh ibu, kedua selir, dan adik adik An xia.


An xia berjalan mendekati mereka semua.. "Ayah, kakak pertama!!!" An xia memanggil mereka dan mendekati mereka, lalu An xia memberi salam kepada mereka semua.


Setelah itu mereka semua masuk ke dalam kediaman. mereka semua duduk di ruang keluarga, mereka juga berbincang bincang dan bercerita untuk melepas rindu karena tidak bertemu selama seminggu.

__ADS_1


Setelah lama berbincang bincang akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kediaman masing masing. tapi saat semua sudah pergi....kedua anak selir itu An fengying dan An shilin mengajak An changyi ayah An xia untuk berbicara sesuatu.


An xia sudah menduga hal itu, ia juga tahu apa yang akan mereka katakan kepada ayahnya nanti. Tapi An xia tidak takut dan tidak Kahwatir sama sekali. An xia memilih meninggalkan ruangan itu dan menunggu di taman yang dekat dengan ruang keluarga. An xia yakin bahwa sebentar lagi dirinya akan di panggil untuk menghadap ayahnya.


Benar saja. sudah sepuluh menit An xia duduk menikmati keindahan taman dan ada seorang pelayan datang menghampirinya.


"Salam nona. maafkan pelayan ini mengganggu, pelayan ini hanya ingin menyampaikan bahwa nona di panggil untuk menghadap tuan besar di ruang kerjanya." kata pelayan itu dengan sopan dengan wajah yang tertunduk.


Memang semenjak An xia menampar kedua anak selir itu. para pelayan semakin merasa takut kepada An xia, bahkan melihat matanya saja para pelayan sudah sangat ketakutan.


An xia melirik pelayan itu sekilas. kemudian ia berkata." Baiklah, aku akan kesana!.." setelah mengucapkan itu An xia langsung pergi meninggalkan pelayan itu menuju ruang kerja ayahnya.


Saat An xia masuk kedalam ruang kerja ayahnya. An xia melihat ayahnya dan kedua anak selir itu An fengying dan An shilin.


An xia dapat melihat sang ayah sedang menatap dengan sedikit marah terhadapnya, sedangkan An fengying sedang berpura pura menyeka air matanya dan An shilin yang sedang menundukkan kepalanya berpura pura terlihat seolah dirinya telah di sakiti.


Ayahnya itu kembali duduk. kemudian berkata. "Mereka bilang kau telah menampar wajahnya. apa itu benar An xia?" Ayahnya itu bertanya dengan sangat tegas.


Sedangkan An xia sudah menduga dari tadi ini akan terjadi. karena itu An xia sudah memiliki rencana yang licik.


Dengan sangat ahli An xia memasang wajah sedih dan tidak berdayanya, kemudian dengan mudahnya An xia mengeluarkan air mata buayanya.


"Ma...maaf, Saat itu diriku ini sungguh kehilangan kendali...hiks..hiks." Dengan suara yang dibuat buat gemetar dan air mata palsu yang mengalir dari matanya berhasil membuat sang jendral atau ayahnya itu luluh.

__ADS_1


Kemudian An xia menatap kedua anak selir itu." Adik. kakakmu ini sungguh minta maaf hiks..hiks... kakakmu saat itu tidak bisa menahan emosinya. saat itu... aku merasa sangat sedih, marah, dan kecewa disaat kedua adik perempuanku...." An xia menghentikan ucapannya sejenak, berpura pura bahwa ia begitu tersakiti.


".......kedua...kedua adik perempuanku memanggilku dengan sebutan Jalang." An xia mengucapkan kata kata terakhir itu dengan suara lirih tapi masih bisa di dengar oleh ayahnya dengan jelas.


Sang jenderal besar sangat marah saat mendengar penuturan An xia. Matanya melirik tajam kedua anak selir itu membuat An fengying dan An shilin menegang ketakutan.


"Memang pantas jika Xia' er menampar kalian!!!!.... kalian dengan lancang menghina kakak kalian sediri!!!..." Jenderal besar An changyi berkata dengan nada yang ditinggikan.


"Sudah aku putuskan. Kalian berdua tidak boleh keluar dari kediaman kalian selama sebulan, dan kalian harus menyalin buku tatakrama seorang wanita.!!!!" Jenderal itu berkata dengan tegas.


An fengying dan An shilin membulatkan matanya. mereka tak menyangka kalau niat mereka untuk membuat An xia dihukum malah berbalik kepada mereka.( senjata makan tuan).


"Ayah, kami mengaku salah. mohon jangan hukum kami." An fengying memohon kepada ayahnya namun tak di gubris sedikitpun.


"Kakak kedua, kami mengaku salah mohon maafkan kami." Kini An shilin memohon maaf kepada An xia...berharap akan ada keringanan.


An xia rasanya ingin tertawa dan mengejek kedua anak selir itu. An xia kemudian melanjutkan drama nya." Ayah, tolong maafkan kedua adik ini.....mungkin mereka memang salah.....tapi aku juga salah karena telah menampar mereka...." An xia mengatakan itu karan ingin berpura pura menjadi kakak yang baik dan penyayang di depan ayahnya.


Kemudian An xia menjulurkan tangannya yang di gunakan untuk menampar anak selir itu. Dan dengan sangat ahlinya An xia membuat tangannya gemetar dan matanya berkaca kaca....ia berpura pura membuat dirinya terlihat merasa bersalah dan menyesal karena telah melakukan dosa.


"Tangan ini....tangan ini lah yang telah menampar kedua adik...hiks...hiks..tangan ini pantas mendapat cambukan karana telah melakukan dosa...hiks..hiks." Dengan Air mata buaya, muka yang memelas dan sedih, dan kepandaiannya dalam bersandi wara membuat sang jenderal merasa sangat kasian kepada An xia.


Jenderal itu bangkit dari duduknya, kemudian ia memeluk An xia dengan sayang, membelai rambutnya dengan lembut, dan mengusap air mata An xia." Tidak....kau tidak salah Xia'er. kedua adik perempuanmu lah yang salah!!...mereka dengan begitu lancang menghina kakak perempuannya tanpa sadar dimana posisi mereka di kediaman ini." Ayahnya itu berkata dengan lembut kepada An xia, dan berusaha menenangkan putrinya itu.

__ADS_1


Lalu ayahnya itu melirik kedua anak selir itu dengan tatapan marah." utuk kalian berdua. kembali ke kediaman masing masing, dan jalankan hukuman kalian, Cepat!!!..." Jenderal itu berucap dengan lantang sehingga membuat An fengying dan An shilin tersentak kaget dan segera pergi dari ruangan.


Sedangkan An Xia?.......Jangan tanya. An xia bahkan tersenyum penuh licik kepada kedua anak selir itu."Heh...sandiwara mu tak sehebat diriku, Adik!."


__ADS_2