Sicantik Ternyata Seorang Sikopat

Sicantik Ternyata Seorang Sikopat
Apa tujuan mereka?


__ADS_3

Sedari pertama kali bertemu dengan putri dari Kerajaan Barat itu. Pangeran ketiga Zhang Li Kun sudah memiliki firasat tidak enak tentangnya.


Kejadian di awal pertemuan waktu itu masih teringat jelas di pikirannya. Saat itu, saat pertama kali putri Li yue xi berada di hadapannya..... yang pertama dilihatnya adalah sebuah tatapan penuh kagum. Tatapan itu bukan tertuju kepadanya, namun kepada pangeran kedua Zhang Liang.


Bahkan saat pangeran ketiga mengenalkan dirinya kepada putri itu. Ia sama sekali tidak di anggap bagaikan debu jalanan!..... sedangkan jika dengan pangeran kedua, putri Li yue xi itu bahkan tidak henti hentinya menunjukkan senyum manisnya.


Tidakkah itu mengesalkan?!!


Masih belum cukup sampai di sana!..... pangeran ketiga juga masih mengingat bagaimana buruknya ekspresi putri Li yue xi ketika perjodohan antara mereka berdua di umumkan.


Ekspresi tidak senang di wajah putri itu masih terasa segar di ingatan pangeran ketiga. Tentunya hal itu sudah lebih dari cukup untuk memberitahukan kepada pangeran ketiga kalau putri dari Kerajaan Barat itu tidak menyukainya, namun justru menyukai kakak keduanya, pangeran kedua Zhang Liang.


Tersinggung?


Sakit hati?


Tentu saja!!.... memang pria mana yang tidak akan tersinggung dan sakit hati jika mengetahui kalau sang wanita yang di jodohkan dengannya–ternyata menyukai pria lain selain dirinya.


Walaupun wajah pangeran ketiga saat ini terlihat cerah dan sumringah bagai sinar matahari pagi, namun siapa yang menyangka kalau pangeran itu saat ini menyimpan rasa tidak suka terhadap putri Li yue xi?


Dengan pancaran mata yang menunjukkan kilatan tidak suka, pangeran ketiga Zhang Li Kun bergumam dalam hati. “Jika kau menyukai kakak kedua ku, kenapa tidak menikahinya saja?!!..... kau pikir aku mau apa menikah dengan wanita sepertimu?!!” Kemudian, ia melirik ke arah Li Guang Fu, sang pangeran dari Kerajaan Barat itu. “Yang satu ini juga tidak kalah mencurigakan!!..... aku yakin kedatangannya kesini pasti dengan maksud lain!!” Gumamnya lagi dengan helahan nafas kasar.


Di saat pangeran ketiga tengah sibuk dalam pikirannya sendiri. Di sisi lain, pangeran kedua Zhang Liang kembali melemparkan pertanyaan kepada An Changyi. “Jenderal besar An, apakah kau mendengarkan ku? ” Tanyanya karena merasa tidak sabar.

__ADS_1


Mendengar pertanyaan dari pangeran kedua itu, An Changyi pun segera tersadar dan buru buru menjawab. “Pu... Putriku saat ini berada di paviliunnya!” Ucapnya dengan gugup. Kemudian ia melirik ke arah pelayan tadi. “Kau, antar kan pangeran kedua ke__” Sebelum An Changyi menyelesaikan ucapannya, pangeran kedua Zhang Liang terlebih dahulu menyela.


“Jenderal Besar An, itu tidak perlu!.... aku akan pergi sendiri ke sana, kalau begitu aku permisi.” Setelah mengucapkan itu, pangeran itupun langsung melangkahkan kakinya pergi menuju tempat dimana An Xia berada.


Di susul oleh yang lain.


Sedangkan An Changyi yang melihat kepergian mereka yang akan menemui An Xia pun semakin di buat terbangun bingung. “Apakah.... em, sebenarnya apa tujuan mereka datang kemari?..... untuk berduka atas kematian selir ku atau untuk menemui putriku?” Gumamnya dalam hati..


Baru saja An Changyi mengalihkan pandangannya dari kepergian mereka semua. Tiba tiba, dari arah lain ia bisa mendengar suara seseorang. “Ayah! ” Panggil suara itu.


An Changyi pun segera menoleh untuk menatap sang pemilik suara. “An Fengying, An Shilin! ” Panggilnya lalu segera melangkahkan kakinya untuk mendekat. “Kalian juga datang kemari?! ” Tanyanya.


An Fengying berlari dan memeluk ayahnya itu dengan sangat erat seraya menangis tersedu sedu. “Ayah!!.... ibu, ibuku telah tiada ayah!” Ucapnya dengan sedikit berteriak.


Melihat itu semua, An Changyi hanya bisa menghela nafas berat dan berkata. “Maaf!.... ayah.... ayah tidak bisa menjaga kedua ibu kalian dengan baik, ayah minta maaf!!” Ucapnya dengan penuh perasaan bersalah.


...»»————>❀<————««...


Di sisi lain, An Xia kini tengah menikmati suasana sambil sesekali berbincang bincang dengan An chen, adik kecil kesayangannya itu.


“Kakak kedua, dimana kakak Kaisar?” Tanya An chen kepada An Xia dengan wajah bosannya.


Alis kanan An Xia terangkat saat mendengar pertanyaan dari adiknya barusan. “Kenapa kau menanyakannya?..... baru sekali bertemu dan kalian sudah terlihat akrab!” Ucapnya sambil memutar bola matanya malas.

__ADS_1


Melihat respon dari kakaknya yang seperti itu, An chen pun hanya bisa menghela nafas dan berkata. “Bukan begitu!.... ” bocah itu berhenti sejenak, kemudian ia melanjutkan. “Aku hanya ingin menanyakan soal kediaman yang akan menjadi milikku itu!” Ucapnya lagi tapi dalam hati.


Namun, tiba tiba An chen teringat akan sesuatu. “Kakak kedua, jika kau bersama dengan kakak kaisar.... lalu bagaimana dengan pangeran kedua? ” Tanyanya dengan sedikit berbisik agar tidak sampai terdengar oleh orang lain.


Sedangkan An Xia yang mendengar pertanyaan dari adiknya itupun segera menoleh dan terdiam untuk beberapa saat. Kemudian ia tertawa kecil. “Hahaha!.... kenapa kau harus memikirkannya?.... ‘Itu’ Hanya sekedar batu sandungan saja, hanya tinggal di singkirkan dan masalah akan beres bukan?” Ucapnya lalu menundukkan kepalanya dan membelai perutnya. “Benar begitu kan, anakku?” Ucapnya lagi yang bertanya kepada sang anak dalam kandungannya itu.


Dan ucapan An Xia barusan itupun berhasil membuat An chen tersedak dengan air liurnya sendiri. “Uhuk!!.... ka.... kakak kedua, apakah maksud ucapan mu barusan itu.... kau sedang___” Belum sempat bocah itu menyelesaikan ucapannya, tiba tiba suara seseorang membuatnya langsung terdiam.


“Apa yang sedang kalian bicarakan?” Tanya seseorang yang baru saja melangkah masuk kedalam halaman paviliun An Xia.


Mendengar pertanyaan orang itu. An Xia dan An chen pun segera menoleh, begitu juga dengan ketiga bawahan An Xia yang sedari tadi berada di dekat majikannya.


Kedua mata An chen terbelalak lebar ketika melihat siapa orang itu. “Pangeran kedua?!! ” Ucapnya dengan sedikit berseru karena perasaan terkejut. “Apa..... apakah dia mendengarnya? ” Tanya An chen dengan panik.


Sedangkan, An Xia masih tetap diam dalam ketenangannya. Gadis itu sama sekali tidak terkejut dan merasa panik seperti yang An chen lakukan.


Lagipula, tadi malam pangeran itu telah mengatakan akan mengunjunginya bukan?..... Namun soal mendengar pembicaraan yang tadi...


An Xia berdiri dari duduk nya dan tersenyum tipis ke arah pangeran kedua. “Memang apa yang akan kami bicarakan?” Tanya An Xia balik dengan begitu santainya.


Seolah olah ia begitu yakin kalau sang pangeran kedua sama sekali tidak mendengar inti pembicaraan antara dirinya dan adiknya barusan.


Dan hal itupun membuat adiknya, An chen sedikit mengerutkan dahinya. “Dilihat dari sikap kakak kedua yang masih begitu tenang.... ” Kemudian ia melirik kearah pangeran kedua Zhang Liang yang sedang tersenyum lembut. “Ah! syukurlah!!..... sepertinya semua rahasia masih tetap aman.” Gumamnya dalam hati dengan sebuah senyum lebar, sebagai bentuk kelegaan.

__ADS_1


__ADS_2