
Kini An changyi menggenggam tangan putrinya, ia saat ini merasa gagal menjadi seorang ayah yang baik, hatinya begitu sakit saat melihat kesedihan dan penderitaan dari putrinya itu.
“Xia’er, tenanglah!! itu semua hanya mimpi buruk!!” An changyi berusaha menenangkan An xia.
An xia menatap ayah dan ibunya itu dengan tatapan yang menyedihkan. “Ayah, ibu!... sepertinya aku harus pergi ke kuil yang ada yang ada di bagian barat untuk mendoakan mereka agar bisa tenang di alam sana!!” Ucap An xia dengan berlinang air mata.
Saat An yueyin ingin perotes, An xia lebih dulu menyahutnya. “Tolong, demi ketenanganku!! ijinkan putrimu ini untuk pergi ke kuil itu, aku mohon.... aku mohon!!!” An xia terus memohon agar keinginannya itu bisa terkabul.
Melihat putrinya yang seperti itu, tidaklah mungkin bagi An changyi maupun An yueyin untuk menolak keinginan putrinya mereka itu, apa lagi dengan tangis air mata kesedihan dan penderitaan dari putrinya.
An changyi akhirnya mengangguk dengan pasrah, ia kemudian mengusap air mata An xia. “Ayah akan mengijinkanmu pergi jika itu bisa membuatmu merasa lebih tenang!” Ucapnya yang mengijinkan An xia untuk pergi.
Dan itu membuat An xia merasa senang dan kegirangan di dalam hatinya saat ayahnya itu mengijinkannya pergi ke kuil, namun yang sebenarnya An xia sama sekali tidak berniat pergi kekuil.
Yang sebenarnya adalah An xia akan pergi ke kerajaan Han secara diam diam, kemudian yang menggantikannya untuk pergi ke kuil adalah Annchi, hal itu digunakan hanya sebagai pengahlian.
Sebentar lagi, hanya tinggal sebentar lagi An xia akan bersenang senang. ia hanya perlu menunggu hari esok, dan yang ia inginkan akan terwujut.
Ia akan menjelajahi setiap tempat menarik yang ada di kerajaan Han tanpa beban pikiran yang akan mengusiknya saat sedang berpetualang.
An xia menghapus semua air matanya, ia lalu menatap kedua orang tuanya itu dengan binar bahagia. “Terimakasih!! kalau begitu putrimu ini akan tinggal di kuil selama beberapa minggu untuk berdoa dan meminta pengampunan!!” Ucap An xia kepada ayah dan ibunya.
•
•
•
•
Malam hari...
An xia bersama dua bawahannya saat ini sedang membicarakan sesuatu yang setengah serius setengah tidak.
Annchi menatap An xia dengan tatapan tidak berdaya. “Nona!! bagaimana bisa anda begitu tega dengan pelayan kecil ini!!” Rengek Annchi dengan wajah memelas.
An xia memutar bola matanya malas. “Ayolah Annchi, kau hanya perlu menyamar menjadi diriku dan mengantikanku untuk pergi ke kuil selagi aku pergi ke kerajaan Han!!” Ucap An xia kepada Annchi.
Annchi menggelngkan kepalanya dengan cepat. “Nona, pelayan ini tidak berani!! bagai mana kalau ada seseorang yang mengetahuinya!!” Ucap Annchi yang berusaha menggoyahkan rencana gila nonanya itu.
An xia pura pura tidak mendengarnya, ia menutup kedua telinganya dengan telapak tangannya sambil berkata. “Aku tidak dengar dan aku tidak perduli!!!”
__ADS_1
Sikap An xia yang seperti itu benar benar seperti anak kecil yang keras kepala.
An xia kemudian menatap Rui yang sedari tadi menahan tawa saat melihat wajah frustasi adiknya saat menghadapi An xia.
“Rui, siapkan seekor kuda untukku!! aku akan pergi ke kerajaan Han sendiri.” Ucap An xia tegas kepada Rui.
Dan kini wajah terhibur Rui dalam sekejap berubah menjadi tegang, ia adalah seorang pengawal yang bertanggung jawab untuk melindungi nonanya itu.
“Nona, jangan pergi sendiri!! setidaknya bawalah pengawal ini untuk menemani perjalanan Nona!!” Ucap Rui yang tidak bisa membiarkan nonanya itu pergi sendiri.
An xia menaikkan salah satu alisnya. “Untuk apa aku harus mengajakmu?...... lebih baik kau menemani Annchi ke kuil dan berdoa untuk umur panjang nona ini dari pada terus mengikutinya dan mengganggu kesenangan!!” Ucap An xia kepada Rui.
“Tapi nona, tugas hamba adalah melindungi anda!!” Ucap Rui yang masih kukuh untuk mengikuti An xia.
An xia mengibas ngibaskan tangannya, entah mengapa ia saat ini merasa gerah. “Iya...iya!! kau bisa melindungiku dengan cara berdoa dan meminta keselamatanku di kuil nanti...” Ucap An xia dengan nada ejekkan.
Rui tidak tau harus berbicara apa lagi kepada nonanya itu, menurutnya berdepat dengan gadis bernama An xia itu adalah sebuah hal yang percuma dan sia sia....
Karena Rui bisa dengan mudah meramal kalau dirinya akan kalah berdebat dengan nonanya.
Pasrah, itulah yang kedua bawahan itu lakukan jika An xia sudah memutuskan kehendaknya.
“Aku akan mendoakan agar nona sembuh dari ketidak warasannya!!” Gumam Rui dalam hati.
“Rui, kau bocah nakal!! apa yang kau pikirkan ha?” Tanya An xia kepada Rui dengan tatapan mengerikkan.
Tubuh Rui tiba tiba merasa kaku saat mendengar ucapan An xia, ia dengan susah payah menelan air liurnya untuk membasahi tenggorokannya yang tiba tiba terasa kering.
Rui menggelengkan kepalanya dengan cepat
“Hamba tidak memikirkan apapun nona!!” Ucap Rui yang berusaha mengelak.
An xia hanya mendecakkan lidahnya, terkadang kedua bawahannya ini cukup menyebalkan.
“Sudahlah, sebaiknya kalian berdua segera menyiapkan keperluan untuk besok!!” Perintah An xia karena tidak ingin lama lama berdebat dengan kedua kakak beradik itu.
“Baik nona!!” Ucap Rui dan Annchi bersamaan.
****
Keesokan harinya, sebuah kereta kuda mewah bersama dengan beberapa pelayan dan pengawal, saat ini berada di tengah perjalanan menuju kuil bagian barat.
__ADS_1
Para pelayan dan pengawal berjalan mengikuti kereta kuda mewah itu, di dalam kereta kuda itu terdapat seorang gadis yang harus mereka jaga dengan taruhan nyawa mereka sendiri.
Namun yang para pelayan dan pengawal itu tidak ketahui adalah, gadis yang seharusnya mereka jaga bukanlah gadis yang duduk di dalam kereta kuda itu.
Rui yang berjalan di dekat kereta kuda itu menghelah nafas berat, perjalanan menuju kuil membutuhkan waktu satu minggu lamanya....
Namun bukan masalah waktu yang menjadi beban pikiran Rui, tetapi yang ia pikirkan hanyalah adik perempuannya yang saat ini menyamar menggantikan nona mereka, sedangkan nona mereka pergi menuju kerajaan Han sendirian.
Di dalam kereta kuda itu, terdapat Annchi yang menggunakan rambut panjang palsu dan cadar untuk menutupi wajahnya, pakaian yang ia gunakan bukanlah pakaian pelayan, tetapi itu adalah pakaian milik An xia.
“Kuatkan jiwa dan ragaku tuhan!! ” Annchi terus berdoa karena merasa gugup dan takut.
*****
Sedangkan di sisi lain, terdapat seorang gadis yang berpakaian bak seorang pria yang kini memacu kudanya dengan cepat membelah jalanan hutan perbatasan Han.
Sudah beberapa jam An xia memacu kudanya itu, dan sebentar lagi ia akan tiba di gerbang masuk kerajaan Han.
An xia memperlambat laju kudanya saat sudah dekat dengan sebuah gerbang yang begitu tinggi dan tampak sangat kokoh.
Di depan gerbang itu juga terdapat beberapa pengawal, penjagaan di sana cukup ketat menurut An xia.
Beberapa penjaga itu melihat kedatangan sosok asing yang sedang mendekat kearah mereka.
“Berhenti!!!” Perintah salah satu penjaga gerbang itu.
An xia menghentikan kudanya, ia menatap penjaga itu dengan wajah datar dan dinginnya.
“Siapa dan dari mana?” Tanya penjaga gerbang itu dengan singkat dan terus terang tanpa adanya basa basi kepada An xia.
An xia merasa malas menjawab, langsung saja ia mengeluarkan token curiannya itu dan menunjukkannya ke penjaga gerbang.
Penjaga gerbang melihat token kerajaan itu dengan teliti untuk memastikan keasliannya. penjaga itu yakin kalau token itu memang asli dan bukan barang palsu, ia kemudian melirik Sosok An xia dari atas sampai bawah.
Penjaga gerbang itu melihat sosok pemuda berparas tampan dan cantik, terlihat gagah bercampur anggun dengan kuda yang ia tunggangi, pakaian yang di gunakan pemuda itu juga dari kualitas terbaik.
Sudah jelas kalau pemuda itu bukanlah orang sembarangan, apa lagi dengan token kerajaan yang tidak sembarangan orang bisa memilikinya.
“Buka gerbangnya!!!” Seru penjaga gerbang itu kepada rekannya yang lain.
Kemudian ia membungkuk untuk menunjukkan rasa hormat kepada An xia. “Selamat datang di kerajaan Han, tuan muda!!” Ucap penjaga itu yang memberi sambutan.
__ADS_1
Melihat sikap penjaga gerbang itu, An xia sedikit merasa curiga.
Namun, An xia hanya membalasnya dengan anggukkan kepala, dan akhirnya ia sudah masuk di dalam kerajaan Han.