
Mata hari mulai tenggelam, menandakan hari mulai malam, orang orangpun mulai menyalahkan lentera untuk menerangi rumah rumah mereka.
Kini An xia berada di Yin lianhua, tepatnya rumah hiburan miliknya yang saat ini baru saja selesai diperbaiki setelah kerusakan akibat pertarungan kemarin malam.
An xia langsung membuka Yin lianhua setelah selesai di perbaiki, ia tidak ingin berlama lama untuk menunda keuntungan yang akan hadir dari rumah hiburan ini.
Haripun mulai semakin malam, dan tempat itu sudah resmi dibuka kembali. Di lantai satu, terdapat sebuah panggung pertunjukan yang akan digunakan oleh para penghibur untuk menunjukkan bakat dan kemampuan mereka.
Tak hanya menyediakan hiburan semata, Yin lianhua juga menyediakan beberapa aneka makanan dan minuman sebagai teman pendamping saat menikmati pertunjukkan.
Sedangkan di lantai dua dan tiga adalah tempat khusus untuk orang orang kalangan atas atau bangsawan, karena di lantai dua dan tiga itu tersedia ruangan ruangan khusus atau pribadi.
Jika di dunia moderen biasa disebut ruang VIP.
Sedangkan di lantai empat saat ini, An xia tengah fokus dengan beberapa buku yang berisi perhitungan pengeluaran dan pemasukkan pendapatan Yin lianhua, juga masih ada buku buku yang lain lagi.
Setelah membaca buku yang berisi perhitungan pengeluaran dan pendapatan itu, kini An xia berahli ke buku buku yang lain.
Di banding buku sebelumnya, buku buku ini jauh lebih penting dan memiliki rahasianya tersendiri. Sebenarnya An xia tidak menjadikan Yin lianhua sebagai sekedar rumah hiburan dan tempat baginya mendapatkan uang, melainkan fungsi lain Yin lianhua adalah tempat An xia untuk mencari informasi informasi penting dari para tamu yang datang.
Tentunya dengan bantuan para pegawai yang bertugas untuk melayani dan sekaligus menjadi telinga dan mata lain bagi An xia.
Di saat An xia sedang di sibukkan dengan buku bukunya, di sudut ruangan saat ini Fai tengah duduk sembari terus mengawasi An xia dengan setia.
Mirip seekor anjing yang dengan setia menjaga dan mengawasi majikannya.
An xia melirik Fai sekilas dan kembali menatap bukunya, lalu kemudian ia berkata. “Apakah kau bosan kucing kecil?” Tanya An xia.
Fai menggelengkan kepalanya, wajahnya kini nampak masam. “Yang mulia, bisakah anda mengubah julukan itu? bawahan ini merasa malu!!” Protesnya kepada An xia.
Masih dengan menatap bukunya dan tanpa menoleh, An xia berkata. “Oh?.... jadi kau tidak menyukai panggilan sayang dariku?!” Tanya An xia dengan santai.
Setelah An xia mengatakan itu, tiba tiba ia merasakan ada sebuah hawa dingin yang mencekam..... hawa ini benar benar hawa pembunuh.
Di tambah dengan sebuah tatapan mematikan dari sepasang mata tajam dan dingin milik seorang pria.
Dan tatapan itu bukan untuk An xia, melainkan tatapan tajam itu kini terarah kepada sosok Fai yang kini mengigil ketakutan di sudut ruangan dengan keringat dingin yang membasahi wajah dan punggungnya.
An xia menoleh kearah jendela tempat dimana asal tatapan tajam itu.
An xia menatap orang itu, kemudian berkata. “Yang mulia kaisar Han, ada gerangan apakah yang membuat sang pria agung sepertimu datang ke rumah hiburanku ini?” An xia bertanya.
Ya, pemilik tatapan tajam itu adalah sang kaisar Han.
__ADS_1
Dan tanpa permisi terlebih dulu, Kaisar itu langsung saja masuk keruangan An xia melalui jendela.
Kaisar itu memberi tatapan tajam kepada Fai, mengisyaratkan untuk bawahan itu segera pergi agar dirinya bisa leluasa berbicara dengan An xia tanpa ada gangguan dari orang ketiga.
Fai yang mengerti tatapan itupun langsung pergi keluar melalui pintu, pria malang itu berdiri di depan pintu untuk berjaga jaga siapa tau ada orang yang secara tidak sengaja datang dan menguping pembicaraan kedua manusia berlawanan jenis di dalam sana.
An xia menutup buku yang ia baca, mata gadis itu melirik sebuah bantalan tempat duduk sambil berkata. “Duduklah yang mulia, aku yakin ada maksud tertentu dari kedatanganmu kali ini!!” Ucap An xia dengan wajah tenangnya.
Kaisar itu tidak benjawab, bahkan pria itu sama sekali tidak bergeming dari tempatnya berdiri saat ini.
Pandangan kaisar itu terus terpaku kepada sosok cantik bak seorang dewi di hadapannya, jantungnya berdebar dengan kencang selagi matanya menatap wajah An xia yang terlihat tenang bagai air kolam yang beku.
Ini adalah kali pertama kaisar itu melihat An xia dengan pakaian wanita dan hiasan rambut sederhana di kepalanya.
Cantik!
Itulah satu kata yang terus melintas di benak kaisar itu.
Selagi kaisar itu terbengong dan menatap dirinya, An xia berdehem beberapa kali untuk menyadarkan kaisar itu dari lamunannya.
“Ekhem!!!.... apakah yang mulia tidak pernah melihat gadis cantik?! atau memang aku saja yang lebih cantik dari para selir selirmu?” Goda An xia.
Kaisar itu baru tersadar dari lamunannya saat mendengar perkataan An xia barusan, jujur kaisar itu merasa malu karena ketahuan telah menatap gadis itu.
Namun rasa malu itu ia tutupi dengan wajah datar dan dinginnya itu.
“Gak laku!!!” Ejek An xia dalam hati saat memgetahui kalau kaisar itu sama sekali tidak memiliki seorangpun selir.
An xia menatap kaisar itu dan dengan santai ia berkata. “Lalu apa tujuan yang mulia datang kemari?” Tanya An xia.
Tanpa berkata apapun, kaisar itu mengeluarkan sebuah gulungan dan menarunya di hadapan An xia.
An xia mengerutkan keningnya saat menatap gulungan itu, kemudian ia kembali menatap kaisar dan berkata. “Apa ini?” Tanya An xia.
“Bacalah!!” Ucap Kaisar itu singkat.
An xiapun membuka gulungan itu dan membeca setiap kalimat kalimat yang tertulis dengan rapih di gulungan itu.
Mata An xia terus menggerayangi setiap tulisan tulisan itu, ia membacanya dengan teliti. Selagi An xia fokus membaca, kaisar itu kini sedang menatap wajah An xia, ia begitu menikmati pemandangan indah di depan matanya itu.
Kaisar itu bisa melihat sebuah kerutan yang terbentuk di dahi gadis itu saat membaca tulisan tulisan digulungan itu.
Sudut bibir kaisar itu melengkung dan membentuk sebuah senyuman tipis selagi matanya masih tetap terpaku dengan kecantikan yang An xia miliki.
__ADS_1
Kemudian pandangan kaisar itu berahli kepada bibir An xia yang merah alami yang kini sedang berkomat kamit saat membaca.
Dan hal itu nampak begitu menggemaskan di mata kaisar Han.
Tiba tiba sebuah helahan nafas kabur dari mulut mungil An xia, wajah gadis itu masih tetap tenang setelah membaca isi dari gulungan ini, sama sekali tidak menunjukkan reaksi seseorang yang terkejut.
“Kau tidak terkejut?” Kaisar itu bertanya kepada An xia.
Mendengar pertanyaan itu, An xia mengahlikan pandangannya dari gulungan itu untuk menatap sosok kaisar di hadapannya.
“Untuk apa?” An xia balik bertanya.
Kemudian gadis itu tertawa sinis dan berkata. “Kedua adik perempuanku itu begitu bodoh sampai sampai mereka berdua mau menjadi selir putra mahkota yang kedua puluh satu dan dua puluh dua!!” Ucapnya dengan nada yang terkesan merendahkan.
Ya, gulungan itu berisi informasi tentang di angkatnya An Fengying dan An shilin menjadi selir putra mahkota yang kedua puluh satu dan kedua puluh dua.
Kemudian An xia melirik kaisar yang kini sedang menatapnya itu. “Kenapa yang mulia kaisar__” sebelum ucapan An xia selesai, kaisar itu terlebih dahulu memotongnya.
“Hanya ingin!!” Ucap Kaisar itu singkat.
An xia mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan kaisar itu. “Hanya ingin?” Ucap An xia mengulangi perkataan kaisar.
“Yang mulia kaisar__” Lagi lagi ucapan An xia dipotong oleh kaisar itu.
“Liu Zhuang!!” Ucap kaisar itu singkat.
An xia menaikan salah satu alisnya, kemudian ia berkata. “Siapa itu Liu Zhuang?” Tanya An xia
“Liu Zhuang adalah namaku!!” Jawab kaisar itu singkat.
An xia mengerutkan dahinya kembali, sedikit bingung dengan tujuan kaisar itu menyebutkan namanya.
“Apakah yang mulia ingin aku memanggil dengan nama?” Tanya An xia ragu.
Kaisar itupun menganggukkan kepalanya.
“Itu terlalu panjang!!” Protes An xia.
“Kalau begitu panggil aku A–Zhu!!!” Balas kaisar itu.
“Itu terlalu intim!” Protes An xia lagi.
Mendengar perkataan An xia barusan, Kaisar itupun mengerutkan dahinya.... sedikit merasa kesal.
__ADS_1
“Terlalu intim?” Kaisar itu mendengus sebal. “Kalau begitu bagai mana dengan panggilan sayangmu kepada bawahan itu?.... tidakkah itu juga bisa disebut intim?” Ucapnya dengan nada tidak senang.
“Itu hanya julukan!!” Elak An xia.