Sicantik Ternyata Seorang Sikopat

Sicantik Ternyata Seorang Sikopat
Gadis yang mengerikkan


__ADS_3

Kini An xia dan An zhuting saat ini sedang berhadapan dengan ayah mereka yaitu An changyi.


Sedangkan saat ini An changyi sedang menatap putra dan putrinya itu dengan tatapan yang berbeda beda.


Ia menatap An zhuting, putranya itu begitu mengecewakan, bisa bisanya putranya itu begitu bodoh sampai sampai ia hampir saja terkena masalah yang begitu memalukan, tidak hanya An zhuting saja yang akan menanggung malunya, namu seluruh keluarga jukan akan merasakan rasa malu itu.


Hampir saja keluarga itu tertimpa kesialan dari kecerobohan dan kebodohan An zhuting.


Pandangan An changyi kemudian berahli untuk menatap putrinya. An xia saat ini memasang wajah datar dan dingin, bahkan sikapnya itu begitu tenang layaknya air yang membeku.


Pakaian pria yang putrinya itu kenakan.... semakin memperkuat pesona seorang kesatria dalam diri putri kesayangannya itu.


Tatapan An changyi berubah dari tatapan kecewa terhadap An zhuting menjadi sebuah tatapan bangga terhadap putrinya yang tidak lain adalah An xia.


Namun An changyi juga merasakan ada sebuah rasa takut dan kengeria saat menatap putrinya itu.


Putrinya itu layaknya seorang kesaktria yang senangtiasa menyelamatkan seseorang yang membutuhkan pertolongan, namun.... di sisi lain ia juga terlihat seperti seorang iblis yang haus akan darah, seorang iblis yang tidak akan segan segan membunuh seorang wanita hamil hanya untuk menghilangkan rasa haus darahnya.


Walaupun wanita itu adalah musuh, namun hanya orang yang tidak memiliki hati sajalah yang bisa dengan tega membunuh seorang wanita hamil.


An changyi semakin di buat ngeri saat melihat wajah putrinya yang terlihat begitu polos dengan hati yang murni, wajah itu sama sekali bukan wajah milik seorang pendusta dengan hati kejam.


Namun sifat seseorang memang tidak bisa di tentukan dari tampilan luarnya saja. Kenyataannya adalah, Putrinya itu merupakan seorang iblis kejam dengan paras malaikat.


An changyi memang sudah mendengar semua penjelasan dari putra dan putrinya itu, ia begitu terkejut dan sangat marah saat mendengarnya.


Namun putrinya itu berkata dengan lembut kepadanya. “Amarah tidak akan menyelesaikan masalah, lebih baik jika kita bersikap tenang dan berpikir jernih, karena itu akan lebih baik dan lebih berguna.” Itulah yang An xia ucapkan untuk menenangkan amarah An changyi.


Saat mengingat perkataan putrinya, An changyi sedikit merasa malu, bagaimana bisa dirinya mendapat nasehat seperti itu dari seorang gadis muda seperti putrinya.

__ADS_1


“Jadi, apa yang akan ayah lakukan?” Tiba tiba An xia bertanya dan membangunkan An changyi dari lamunannya.


“Aku harap ayah akan memikirkan semuanya dengan matang sebelum melakukan sesuatu...” Ucap An xia lagi dengan masih memasang wajah datar dan dinginnya itu.


An changyi menghelah nafas, ternyata berhadapan dengan putrinya ini lebih menegangkan daripada berhadapan dengan seorang seperti kaisar.


“Untuk saat ini ayah masih belum memikirkan apapun, lebih baik untuk kita tidak terburu buru dalam bertindak, masalah ini masih ringan...” Ucap An Changyi.


An xia mengerutkan dahinya. “Memang kita tidak boleh terburu buru, namun kita juga tidak boleh mengabaikan masalah seperti apapun!” An xia berkata dengan penuh ketegasan.


Kini tatapan dingin An xia telah berubah menjadi tatapan yang mengerikkan. “Menurutku, semua masalah harus secepatnya di singkirkan sebelum masalah itu menjadi semakin besar dan akan mempersulit keadaan!!” Ucap An xia lagi.


An changyi saat ini merasa kalau dirinya sedang berhadapan dengan ayahnya dan bukan putrinya.


Sikap An xia itu begitu mirip dengan kakeknya, sikap yang begitu tegas dan juga agung, benar benar sikap yang memcerminkan seorang pimpin.


Sekali lagi An changyi menghelah nafas berat, putrinya itu memang telah tumbuh dari gadis periang menjadi gadis yang begitu mengerikkan.


An zhuting dan An xia mengangguk, mereka kemudian berdiri dari kursinya.


“Kalau begitu kami akan pamit undur diri!” Ucap An zhuting.


Setelah berpamitan, An xia dan An zhuting akhirnya pergi meninggalkan ruang kerja ayah mereka dan berjalan menuju paviliun masing masing.


An xia saat ini sedang berjalan sendirian menuju paviliunnya, ia melihat kalau tidak ada seorangpun yang lewat, bahkan para pelayan ataupun pengawal sekalipun.


Jalan yang An xia lewati begitu sepi dan hanya ada beberapa obor yang di pasang di pinghir jalan sebagai penerang.


Saat An xia akan memasuki halaman paviliunnya, ia secara tiba tiba menghentikan langkahnya saat merasakan sebuah tatapan seseorang yang terarah kepadanya.

__ADS_1


An xia bisa merasakan kalau orang itu tidak memiliki niat jahat terhadap dirinya, itu karena An xia sama sekali tidak merasakan adanya aurah pembunuh dari dalam diri orang itu.


Sepertinya itu hanyalah seorang mata mata yang dikirimkan seseorang untuk mengawasi semua gerak geriknya.


Sudut bibir An xia melengkung dan membentuk sebuah seringgai.


Dengan santai An xia memasuki kamarnya, ia berpura pura tidak menyadari kehadiran orang itu.


Namun saat An xia masuki kamarnya, An xia kemudian kembali keluar dari kamarnya melalui jendela.


Sedangkan orang yang mengintai An xia tidak lain adalah Fai, bawahan yang di perintahkan oleh kaisar dingin itu untuk mengawasi semua gerak gerik An xia.


Fai terus mengintai kamar An xia dari atas pohon, sangking fokusnya ia menatap pintu kamar An xia.... Fai tidak menyadari kalau orang yang seharusnya ia awasi saat ini sedang duduk dengan santai di sampingnya.


Fai menghelah nafas kasar. “Cek!... kenapa yang mulia harus menyuruhku mengawasi gerak gerik gadis itu?!!!” Fai menggerutu kesal karena saat ini dirinya sedang merasa mengantuk.


An xia yang duduk di sampingnya itu menjawab. “Mungkin tuanmu itu ingin cari mati denganku!” Jawab An xia dengan begitu santainya.


Dan begiti bodohnya Fai yang masih belum sadar tentang apa yang sudah terjadi.


Fai terkekeh geli, lalu ia berkata. “Tidak mungkin!!.... Gadis itu pasti sudah menyinggung yang mulia, dan mungkin karena itulah yang mulia ingin aku mengawasinya!” Ucap Fai dengan begitu bodohnya.


An xia tersenyum misterius. “Oh ya?.... lalu siapakah tuanmu itu?” Tanya An xia yang masih ingin bermain main dengan Fai.


“Dia adalah__” Sebelum Fai menyelaisaikan ucapannya, ia lebih dahulu tersadar dengan apa yang terjadi saat ini.


Dengan ekspresi kaget, Fai menoleh ke samping untuk melihat siapa orang yang sedari tadi ia ajak bicara.


Dan mata Fai terbelalak kaget saat melihat orang itu. “Ka... kau!!!!... sejak kapan?!!” Fai berteriak karena terkejut.

__ADS_1


Dengan senyum yang mengerikkan, An xia menatap Fai dengan tatapan jahat yang selama ini menjadi andalannya saat menghadapi mangsa.


“Kau sudah ketahuan kucing kecil!!” Ucap An xia dengan mengeluarkan aurah pembunuh yang sangat pekat.


__ADS_2