
Mendengar hal itu, mereka semua pada akhirnya bungkam. Beberapa mata kini saling lirik melirik, berdiskusi secara diam-diam melalui kontak mata antara satu dengan yang lain.
Entah apa yang sedang mereka pikirkan. Beberapa orang memang memiliki pemikiran yang berbeda-beda, ada pula yang memiliki sejumlah pendapat namun merasa engan untuk mengutarakannya.
Sang permaisuri, wanita yang sering mereka sebut sebagai permaisuri An adalah satu satunya orang yang paling penting di hati kaisar mereka!....di sisi lain, para rakyat pun juga sangat mengaguminya dan menganggapnya sebagai titisan seorang dewi.
Layaknya sebuah permata, wanita itu kini menjadi sebuah barang yang diperebutkan. Tidak main-main, bahkan seorang raja pun rela menyatakan perang demi mendapatkannya!....
Merasa tidak pantas jika suatu peperangan terjadi hanya karena memperebutkan seorang wanita, salah satu pejabat yang ada di sana pun berkata. “Yang mulia, lebih baik kita turuti saja apa yang raja itu mau!” Ucapnya dengan berani. “Mengapa kita harus berperang hanya karena seorang wanita?.... di luar sana masih banyak, kehilangan satu tak akan membawa rugi! ” Ucapnya lagi.
“Lancang!!!....” Bentak Fai sebelum kaisar Zhuang sempat membuka mulutnya. “.... Apakah kau sadar apa yang baru saja kau ucapkan?!!..... Menyerahkannya kepada musuh sebagai alat perdamaian?.... dasar konyol!!!” Bentaknya lagi.
Mendengar hal itu, pejabat yang tadi pun kini mendengus dan berkata. “Lebih konyol lagi jika kita berperang hanya karena seorang wanita!!... ” Ia terdiam, kemudian melirik kearah kaisar Zhuang. “.... Yang mulia, tidak masalah jika kau mengorbankan seorang wanita demi menjaga perdamaian!..... lagipula ia masih bisa hidup dengan nyaman di tangan raja itu. ” Ucapnya, dengan begitu yakin.
Kaisar Zhuang yang mendengar hal itupun kini tersenyum dan tertawa keras secara tiba-tiba, menimbulkan rasa was-was bagi sebagian orang yang melihatnya.
“Kau bilang apa tadi? ” Kaisar itu bertanya selagi tertawa lepas, kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri pejabat tadi. “Hemm? kenapa tidak menjawab?.... kau hanya perlu mengulangi kata katamu barusan, apakah sulit? ”Tanyanya, dengan tatapan penuh arti.
Jelas menyimpan maksud tertentu didalamnya.
“Yang mulia, a... aku... ”
“Kau apa?! ” Ia menyela, kemudian berkata. “kau berkata kepadaku untuk menyerahkan istriku kepada pria lain?” Ia bertanya, mengangkat salah satu alisnya keatas. “lalu mengapa kau tidak menyerahkan istrimu ke rumah hiburan?.... di sana akan ada banyak pria yang memperlakukannya dengan penuh cinta, dan kau pun bisa menikmati keuntungan darinya bukan?! ”Tanyanya lagi.
Merasa tidak terima jika nama sang istri di bawa bawa bahkan sampai direndahkan seperti itu, pejabat itu pun berkata. “Yang mulia, sebagai seorang pria mana mungkin aku melakukan hal itu?.... jika itu sampai terjadi, maka aku akan menerima makian dari masyarakat! ” Ucapnya dengan kepala yang tertunduk.
__ADS_1
Tidak berselang lama setelah ia mengatakan hal itu, pikirannya pun kini mulai menyadari suatu hal. “Apakah aku___” Ia membekalkan matanya, dengan cepat mendongakkan kepalanya keatas dan menatap kaisar Zhuang dengan wajah yang mulai memucat. “Yang mulia, Aku bersalah!.... mohon yang mulia berbaik hati memaafkan ku!!! ” Ucapnya, sembari bersujud dan membenturkan dahinya kelantai berkali-kali.
Melihat hal itu, kaisar Zhuang pun kini tersenyum sinis. Kemudian, ia mendaratkan sebuah tendangan pada wajah bodoh itu. “Maaf?.....Setelah melakukan kesalahan, kau dengan mudahnya meminta maaf?! ” Tanyanya dengan tidak percaya. “Kau pikir perang dan perselisihan ini akan berhenti setelah aku menyerahkan istriku kepadanya?!.... Benar benar bodoh!!! ” Ucapnya lagi, sambil melayangkan tendangan untuk yang kedua kalinya.
“Tau kalau harga diri seorang pria terletak pada wanitanya, tapi kau masih berani mengatakan hal itu di hadapanku?!!! ”Tanya kaisar Zhuang dengan nada penuh emosi.
Mendapatkan tendangan mematikan dari kaisar itu, pejabat yang tadi pun kini mulai mengeluarkan darah dari mulutnya dan lubang hidungnya. “A... Ampun... Yang mulia!” Ucapnya dengan suara lemah.
Terdengar sangat memilukan namun sama sekali tidak berpengaruh pada kaisar Zhuang.
“Ampun?.... cih, Lebih baik kau mati saja!!! ” Ucapnya, lalu menarik sebuah pedang dan menusukkannya tepat pada jantung pejabat itu.
Melihat hal itu, seisi aula pun hanya bisa terdiam dan menonton dengan tidak berdaya. Mau berteriak tapi sungkan, mau berlari tapi percuma. Yang bisa mereka lakukan saat ini hanya diam dan mengamati situasi!
Di sisi lain, kaisar Zhuang kini menatap tubuh sekarat di hadapannya itu dengan tatapan dingin. Memang orang yang ia tusuk saat ini masih belum mati, namun itu hanya akan bertahan dalam beberapa detik. “Jika raja itu menginginkan istriku, makan ia harus melewati mayat suaminya terlebih dahulu!! ” Ucapnya, dengan begitu tegas.
...»»————>❀<————««...
Adapun An xia yang sampai saat ini masih di dilanda oleh kegelisahan dalam dirinya. Jari-jarinya yang lentik itu memberi pijatan pada kepala yang terasa pening. Beberapa helahan nafas panjang pun terdengar dari mulutnya, menandakan bahwa ia kini benar benar merasa tidak nyaman dengan situasi yang ada.
Sedangkan Annchi yang sedari tadi berdiri di sampingnya pun kini berwajah murung. Sudah berkali-kali ia menawarkan secangkir teh untuk menenangkan majikannya itu, namun selalu di tolak mentah mentah hanya dengan sekali lambaian tangan saja.
Tak ingin melihat majikannya terus menerus tertekan oleh pikirannya sendiri, Annchi pun membuka mulutnya dan berkata. “Permaisuri, kau sudah mengambil tindakan awal, kedepannya pasti akan berjalan dengan lancar! ” Ucapnya, yang berusaha untuk menghibur An xia.
Mendengar hal itu, An xia pun kembali menghela nafas untuk yang sekian kalinya. Jujur ia sama sekali tidak merasa takut, namun perasaan resah dalam dirinya ini benar benar mengganggu pikirannya. “Annchi... ” Panggilnya, dengan nada rendah. “.... Apakah menurutmu aku ini sebuah beban? ” Tanyanya, yang membuat gadis pelayan di sampingnya itu merasa heran.
__ADS_1
“Jika itu memang benar, lalu untuk apa aku dilahirkan kembali? ” Ucapnya lagi, yang bergumam dalam hati.
“Permaisuri, bagaimana bisa kau berkata seperti itu?! ” Tanya Annchi dengan dahi yang berkerut. “Jelas ini semua bukan karena mu, permasalahan ini sudah ada sedari dulu!.... dan sekarang adalah saatnya untuk mengakhirinya, walaupun itu dengan sebuah peperangan. ” Ucapnya, sembari menggenggam tangan An xia layaknya seorang saudari yang memberikan dukungan.
Mendengar hal itu, An xia pun kini tersenyum lembut. kemudian, ia mengambil secangkir teh dan meminumnya dengan sekali teguk. “Sudahlah, apapun yang terjadi nanti..... aku akan menghadapinya!! ” Ucapnya, lalu meletakkan cangkir teh yang telah kosong itu dengan cukup keras.
Annchi menganggukkan kepalanya pelan, lalu berkata. “Apapun yang terjadi nanti, pelayan mu ini akan selalu berada di sisi mu, permaisuri! ” Ucapnya, dengan yakin.
...»»————>❀<————««...
Di luar kamar, kaisar Zhuang diam diam mendengarkan perbincangan antara istrinya dengan pelayan kecil itu. Tanpa sadar kedua tangannya pun kini terkepal erat, sedikit merasa bersalah dengan sikap dingin yang ia tunjukkan tadi. “Apakah dia gelisah karena ku? ” Salah satu tangannya terangkat, mendorong pintu ruangan hingga terbuka lebar. “Seharusnya aku bersikap lebih lembut tadi! ” Gumamnya, yang menyesal dalam hati.
Setelah pintu itu benar benar terbuka, dan pandangannya dapat dengan jelas menangkap keberadaan sang istri. Kaisar itupun melangkahkan kakinya masuk, kemudian dengan sebuah lambaian tangan ia memberi isyarat kepada Annchi untuk segera meninggalkan ruangan.
Mengetahui hal itu, Annchi pun segera membungkukkan badannya, memberi hormat kepada pria agung itu lalu melangkah pergi dengan cepat.
Di sisi lain, An xia kini memalingkan wajahnya, berusaha untuk menghindari kontak mata antara dirinya dengan pria yang berdiri di hadapannya itu. “Kau sudah selesai? ” Tanyanya, dengan suasana yang terasa canggung.
Bukannya menjawab, Kaisar itu justru balik bertanya. “Kenapa? apakah kau marah kepadaku? ” Ia bertanya, kemudian mendudukkan tubuhnya di lantai dan menyandarkan kepalanya pada pangkuan sang istri. “Aku hanya terlalu emosi, dan sama sekali tidak berniat untuk melukai perasaan mu! ” Ucapnya lagi.
Mendengar ucapan suaminya itu, An xia menggelengkan kepalanya pelan, kemudian berkata. “Sikap mu yang begitu dingin terhadapku tadi, aku tidak terlalu memikirkannya! ” ia terdiam, memberi belaian lembut pada rambut panjang pria itu. “Namun, perang yang akan terjadi nanti__”
“Perang itu tidak ada hubungannya denganmu!” Ucapnya, yang menyela kata kata An xia barusan. “Jangan terlalu memikirkannya, itu tidak akan baik untuk kesehatanmu! ” Ucapnya lagi.
“Berapa lama kau akan pergi berperang? ” Tanya An xia.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu, kaisar Zhuang pun menjawab. “Perang tidak bisa di tentukan oleh waktu!” Ia terdiam untuk sesaat, mencium perut istrinya itu lalu kembali berkata. “Namun aku akan berusaha untuk menyelesaikannya secepat mungkin, setidaknya sebelum anak kita lahir! ” Ucapnya lagi.
An xia kini tampak termenung, dalam hati merasa enggan jika harus berpisah dengan suaminya itu untuk waktu yang cukup lama. “Tidak bisakah kau membawa ku pergi bersamamu?..... sebisa mungkin nanti aku akan__ emm!! ”