
Indahnya percikan darah yang keluar dari luka luka akibat tebasan pedang di leher yang mengakibatkan terpisahnya kepala dari tubuh para bandit itu, menghasilkan pemandangan yang mengerikan.
Kematian para bandit yang hanya sekejap mata itu sontak membuat orang orang yang bertarung di sana menghentikan aksinya.
Dengan mata yang terbelalak, mereka menyaksikan beberapa kepala yang menggelinding di tanah yang telah kotor oleh darah.
Para bandit yang melawan orang orang dari kerajaan Barat pun kini memutar haluan dan berganti menyerang para penjaga bayangan An Xia.
Namun, belum sempat mereka berada di jarak yang dekat untuk mengayunkan senjata. sebuah hujan panah yang turun entah dari mana asalnya pun menusuk tepat di tubuh para bandit itu.
Dan seketika pula, tubuh mereka ambruk di tanah dan mati dengan keadaan yang mengenaskan. Bahkan mata mereka masih terbuka dengan lebar, namun dalam mata itu sama sekali tidak ada pancaran kehidupan.
Melihat semua bandit telah tewas, para penjaga bayangan pun segera kembali bersembunyi di kegelapan tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
Sedangkan, para perajurit dari kerajaan Barat yang melihat itu semua hanya bisa bergidik ngeri.
Namun, di sisi lain mereka juga merasa berhutang budi kepada mereka yang ada di kereta kuda itu.
Jika bukan karena para penjaga bayangan tadi, mungkin saat ini yang ada di posisi para bandit adalah mereka.
Mati konyol dengan keadaan yang mengenaskan!!!
Kereta kuda An Xia pun kembali berjalan dengan menginjak tubuh dan kepala para bandit yang terkapar di tanah itu.
Hal itu membuat siapapun yang melihatnya akan merinding, bahkan sang penulis cerita sekalipun!
Di saat kereta kuda An Xia yang mulai berjalan pergi. Mereka yang dari kerajaan Barat pun segera tersadar dari lamunannya.
“Kalian yang di sana tolong berhenti!!! ” Teriak seorang pangeran kelima dari kerajaan Barat.
Namun, sayangnya teriakan itu sama sekali tidak mendapatkan respon. Nyatanya, kereta kuda milik An Xia masih terus berjalan.
Melihat teriakan sangat pangeran yang di abaikan, beberapa orang perajurit pun mengejar dan memberhentikan kereta kuda An Xia.
Kereta kuda An Xia pun berhenti.
Rui yang merasa kesal pun mulai membuka suara. “Apa yang kalian inginkan?!! ” Ia bertanya dengan nada tidak suka.
Melihat kereta itu yang telah berhenti, sang pangeran pun segera berjalan mendekat sambil berkata. “Maaf atas kelancaran kami, karena kalian telah membantu kami untuk melawan para bandit itu. izinkanlah kami untuk mengucapkan terimakasih!” Ucapnya sambil menyatukan kedua telapak tangan di depan dada.
Rui dan Fai pun saling memandang, kemudian mereka menganggukkan kepala dan akan melanjutkan perjalanan.
Namun....
__ADS_1
Sang pangeran itu kembali menghentikan kereta kuda.“Tunggu!!..... kalian akan kemana?” Ia bertanya.
Kini Fai pun menjawab. “Kami akan pergi menuju kerajaan Timur!!”
“Kebetulan sekali, tujuan kami juga kerajaan Timur...... dan sebentar lagi kami akan membangun tenda untuk beristirahat...”Ucap pangeran itu, kemudian ia melirik ke arah tirai di kereta kuda. “Jika kalian mau, bergabunglah dengan kami dan besok kita akan melanjutkan perjalanan bersama.” Ucapnya lagi.
Fai dan Rui nampak berfikir, kemudian mereka memutuskan untuk bertanya kepada An Xia.
“Nona An, haruskah kita bergabung bersama rombongan mereka? ” Fai bertanya.
Mendengar itu, Annchi pun membuka tirai jendela dan berkata. “Sebaiknya kita bergabung bersama mereka, karena nona An Xia saat ini sedang tidur! ” Ucapnya kepada Fai dan juga Rui.
...»»————>❀<————««...
Tiga buah tenda kini di dirikan, dan sebuah api unggun pun menyala untuk menghangatkan malam yang dingin ini.
kereta kuda An Xia terparkir tidak jauh dari tiga tenda itu. dan di luar kereta kuda, Rui bersama dengan Fai sedang duduk dan saling berbicara bersama dengan para perajurit dari kerajaan Barat.
Sedangkan Annchi kini duduk di dekat api unggun untuk menghangatkan badannya yang terasa dingin.
Dan dari dalam tenda, keluarlah seorang wanita dengan paras cantik. Namun itu bukan An Xia, melainkan putri dari kerajaan Barat bernama Li Yue Xi.
Saat keluar dari tenda, secara tidak sengaja pandan Li Yue Xi menangkap sosok Annchi yang sedang duduk di dekat api unggun.
Putri Li Yue Xi pun mengira kalau Annchi adalah nona An. karena itulah ia berjalan mendekat dan duduk di sebelah Annchi.
“Emm.... apakah anda yang bernama nona An? ” Tanya Li Yue Xi.
Mendengar pertanyaan dari putri itu, Annchi pun segera menoleh dan menggelengkan kepalanya. “Bukan! aku hanyalah seorang pelayanan pribadi dari nona An.” Ucapnya sambil melambaikan kedua tangannya sebagai tanda ‘Tidak’.
Kemudian Annchi kembali berkata. “Jika kau ingin bertemu nona An, dia sedang tidur di dalam kereta kudanya! ” Ucapnya sambil menunjuk ke arah kereta kuda.
Putri Li Yue Xi pun menganggukkan kepalanya, “Hanya seorang pelayanan rupanya! ” Kemudian ia melihat pakaian dan jepit rambut yang Annchi kenakan. “Tapi kenapa dia begitu mewah? ” Gumamnya dalam hati.
Putri Li Yue Xi pun menghela nafas dengan kecewa, padahal ia ingin bertemu dengan An Xia tadi. Namun, saat mengetahui kalau An Xia sedang tidur, ia pun mengurungkan niatnya.
“Tidak apa apa!... aku bisa bertemu dengannya setelah dia bangun besok. ” Gumamnya lagi dalam hati.
Di sisi lain, pangeran kelima dari kerajaan Barat kini tengah duduk bersama seorang wakil jendral.
“Aku sepertinya tidak asing dengan marga An. ” Ucap Li Guang Fu, sang pangeran kelima dari kerajaan Barat.
“Kalau tidak salah, marga An adalah marga dari jendral besar An changyi. Jenderal terkuat dari kerajaan Timur! ” Jawab sang wakil Jenderal kerajaan Barat. “Dan mungkin nona An yang mereka maksud adalah salah satu putri dari sang jenderal. ” Lanjutnya.
__ADS_1
Rui yang tidak sengaja mendengar itupun menyahut. “Itu benar, dia putri dari jendral besar An Changyi!..... nona pertama An!”
Li Guang Fu menganggukkan kepalanya. ia sedikit tau tentang keluarga An, termasuk An Xia.
“Seorang nona muda yang dimanja oleh sang jenderal. ” gumam Li Guang Xi dalam hati.
Teringat ada banyaknya penjaga bayangan yang melindungi sang nona pertama An, pangeran itupun yakin kalau gadis itu adalah sebuah permata yang harus di jaga bagi keluarga An.
...»»————>❀<————««...
Hari menjelang pagi, namun matahari nampaknya masih bersembunyi dan belum menampakkan sinarnya.
Saat ini Fai masih tertidur di bawah pohon dengan pulsanya. Namun, tiba tiba tidur itu terganggu di saat ada seseorang yang menyenggol kakinya.
“Hei!!...Fai, bangun!!! ” Ucap seseorang.
Karena merasa terganggu, Fai pun dengan terpaksa membuka matanya. Dan di pagi yang masih gelap ini, hal pertama yang ia lihat adalah sosok gadis berambut pendek yang menendang kakinya dengan pelan.
Dengan kesal, Fai bangun dan duduk. “Ada apa?!!.... ini masih sangat pagi dan kau membangunkan ku?” Ucapnya yang merasa kesal dengan Annchi.
“Maafkan aku, tapi nona menyuruhmu untuk melakukan sesuatu!! ” Ucap Annchi kepada Fai.
“Apa?!! ” Tanya Fai ketus.
“Nona menyuruhmu untuk memetik buah mangga yang ada di sana! ” Ucapnya sambil menunjuk ke arah sebuah pohon mangga yang terletak tidak jauh dari posisi mereka saat ini.
Fai mendengus sebal, kemudian ia melirik Rui yang tertidur nyenyak di sampingnya. “Kenapa bukan Rui saja?!! ”
Annchi menggelengkan kepalanya, kemudian ia berkata. “Tidak boleh! nona hanya ingin mangga yang kau petik. ” Ucapnya kepada Fai.
Fai pun berdecak kesal. “Baiklah!! ” Ucapnya yang mengiyakan, namun dalam hati ia berkata. “Sungguh tidak adil!!..... dia begitu tega kepadaku, dan sedangkan kepada Rui?... huh!! ”
Kemudian dengan malas, Fai pun berjalan menghampiri pohon mangga yang di tunjuk tadi.
Sebelum Fai memanjat pohon mangga itu, Annchi tiba tiba berteriak kepadanya. “Nona ingin mangga yang masih muda!!.... jadi jangan salah ambil!! ”
Fai hanya memutar bola matanya malas. “Dasar wanita!!.... maunya yang aneh aneh.” Ia bergumam dalam hati.
Setelah memetik beberapa mangga muda, Fai pun segera berjalan menuju kereta kuda dimana An Xia berada.
Namun, tiba tiba ia menyadari sesuatu.
Fai menundukkan kepalanya dan menatap mangga mangga muda yang berada di tangannya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
__ADS_1
Dengan perasaan antara ragu dan yakin, fai kembali bergumam dalam hati. “Apakah dia...... Tidak mungkin!!! ya Tuhan!!!!!!”