
Sebuah kereta kuda sederhana itu kini telah sampai di Kekaisaran Han. Dan saat ini, kereta kuda itu sedang melewati jalanan ibu kota menuju gerbang istana.
Di dalam kereta kuda itu, Kaisar masih terus memeluk tubuh mungil An Xia yang kini tengah tertidur pulas. Sudut bibir Kaisar itu melengkung dengan sempurna dan membentuk sebuah senyuman yang begitu indah.
Salah satu tangannya memeluk tubuh An Xia dengan erat selagi tangan satunya membelai perut rata gadis kesayangannya itu dengan begitu lembut.
Tatapan Kaisar itu begitu lembut saat menatap wajah damai An Xia yang tertidur dengan pulsanya. Seraya membelai perut rata gadis itu, Kaisar pun berdoa kepada tuhan untuk memberikan seorang keturunan yang tumbuh dan lahir di dalam rahim gadisnya itu.
Kaisar itu menundukkan kepalanya dan mencium kening gadis itu. “Sayang, jadilah ibu dari anak anakku! ” Gumamnya pelan dengan suara selembut kapas.
Walaupun dirinya saat ini masih dalam keadaan tertidur, An Xia masih dapat menjawab perkataan Kaisar itu dengan hanya gumaman singkat.
“Hemm!! ” gumam An Xia seraya menggeliat dalam pelukan Kaisar itu untuk mencari posisi ternyaman.
Hanya dengan jawaban singkat dari gadis itu sudah mampu membuat hati Kaisar berdebar kencang karena rasa bahagia.
Setelah melakukan penyatuan dengan gadis itu semalam, Kaisar itu terus menerus memikirkan tentang adanya seorang keturunan yang lahir dari rahim An Xia.
Sebagai seorang Kaisar, sudah hal yang wajar kalau dirinya begitu menginginkan seorang pewaris. Apalagi jika yang memberinya pewaris adalah seseorang yang sangat ia cintai.
...»»————>❀<————««...
Dua orang penjaga gerbang istana kini berdiri dengan tampang garang dan tegasnya di depan gerbang istana yang tertutup. Di tangan kedua penjaga gerbang itu terdapat sebuah tombak yang terbuat dari besi sebagai senjata.
Dari kerumunan rakyat rakyat yang sedang melakukan aktifitasnya, kedua penjaga gerbang itu dapat melihat adanya sebuah kereta kuda yang mendekat ke arah mereka.
Jika di perhatikan, kereta kuda itu hanyalah kereta kuda biasa. Kereta kuda yang terbuat dari kayu dan tanpa adanya warna atau hiasan apapun itu sangatlah sederhana dan tidak ada istimewanya.
Namun, saat mata mereka melihat satu sosok yang duduk di tempat kusir. Merekapun langsung berteriak kepada penjaga gerbang yang ada di dalam.
...“BUKA GERBANGNYA!!!!! ” Teriak salah satu penjaga itu....
Pintu gerbang pun perlahan terbuka. Dan saat kereta kuda itu mendekat, mereka semua pun berlutut untuk menunjukkan sebuah rasa hormat kepada seseorang yang berada di dalam kereta kuda itu.
Siapa lagi kalau bukan Kaisar mereka.
Saat kereta kuda telah memasuki istana. Dari dalam kereta Kaisar itu berkata. “Fai, suruh seseorang untuk membawakan tirai atau kain berukuran besar!! ” Perintah Kaisar itu.
Walaupun merasa bingung dengan perintah Kaisar kali ini, Fai hanya mengangguk dan mematuhinya lalu pergi untuk melaksanakan perintah.
Tak berselang lama, Fai pun kembali bersama beberapa pelayan yang membawakan beberapa kain berukuran besar.
__ADS_1
Fai berjalan mendekati tirai kereta. “Yang mulia, hamba telah menyediakannya!! ” Ucapnya kepada Kaisar itu.
“Jangan biarkan siapapun melihat gadisku saat kami keluar!!.... suruh pelayan pelayan itu untuk menutupi dengan kain!!” Perintah Kaisar itu dari dalam kereta.
Kini Fai pun mengerti. Hari ini adalah hari penting dimana akan ada banyaknya tamu tamu dari berbagai daerah yang datang untuk sebuah acara penting di malam hari.
Mungkin Kaisar itu tidak ingin kalau gadisnya di pandang oleh orang lain.
Saat Kaisar itu turun dengan An Xia yang masih tertidur di dalam gendongan Kaisar, para pelayan pun dengan segera menutupi sekeliling Kaisar itu dengan kain yang mereka bawa.
Para pelayan itu ingin mengintip siapakah sosok gadis yang Kaisar mereka bawa. Namun, belum sempat mereka menengok..... sebuah tatapan tajam yang begitu menusuk dari Fai sebagai peringatan untuk mereka, membuat para pelayan itu mengurungkan niatnya.
Kaisar itu berjalan dengan An Xia di gendongannya dan para pelayan yang menutupinya dengan kain. Walaupun jalan tertutup oleh kain, namun Kaisar itu samar samar bisa melihat tembus pandang dari kain yang menutupi dirinya itu.
An Xia perlahan membuka matanya saat merasakan adanya guncangan dari langkah kaki Kaisar itu. “A-Zhu!! ” Panggilnya kepada Kaisar itu.
Dan panggilan itu sukses membuat para pelayan yang tidak sengaja mendengarnya merinding dan hampir berteriak karena rasa terkejut.
Tidak pernah sama sekali dalam pikiran mereka kalau suatu saat akan ada seorang gadis yang dengan berani memanggil nama Kaisar mereka dengan panggilan seperti itu.
Tanpa menoleh dan menghentikan langkahnya, Kaisar itu menjawab. “Bicaranya nanti saja!! ” Bisiknya di telinga An Xia.
Karena penasaran, An Xia pun menundukkan kepalanya.
Namun, tiba tiba mata gadis itu melotot saat melihat betapa berantahkan nya pakaian yang ia kenakan..... bahkan ada beberapa yang robek.
Kemudian, pandangan gadis itu Berahli untuk menatap Kaisar yang kini menggendongnya.
Kaisar terkekeh pelan saat melihat tatapan mengetikkan dari gadisnya itu, tatapan yang penuh dengan kecurigaan dan tuduhan. sebuah tatapan yang seolah olah mengatakan kau dirinyalah pelaku dari suatu kejahatan.
Ya, tadi saat di dalam kereta dan saat An Xia sedang terlelap dalam tidurnya. Tangan Kaisar itu tiba tiba bergerak dengan nakal menjelajah kesana kemari tanpa An Xia sadari.
Saat Kaisar itu ingin memperbaiki kekacauan yang ia perbuat, ia pun baru tersadar kalau ada beberapa bagian kain yang robek. Terlebih lagi dirinya kurang mengerti dengan pakaian seorang wanita.
Dirinya hanya bisa membongkar tanpa tau bagaimana cara memasangkannya kembali.
...»»————>❀<————««...
Di sebuah kuil saat ini, Annchi sedari beberapa hari yang lalu tidak henti hentinya berdoa kepada Tuhan agar nonanya itu cepat kembali.
Tak lupa, Annchi juga berdoa agar nonanya itu tidak melakukan hal hal aneh di Kekaisaran Han.
__ADS_1
Sebagai pelayan yang setia, Annchi begitu menghawatirkan nonanya yang satu itu. Terlebih lagi saat ini nonanya sedang berada di Kekaisaran Han yang di pimpin oleh seorang Kaisar yang terkenal kejam kepada musuh.
Mengingat hal itu, Annchi pun bergumam dalam hati. “Jika nona di sana membuat masalah dan di anggap seorang musuh...... tidak tidak!!!..... semoga itu tidak terjadi, semoga nona tidak melakukan sesuatu yang aneh, semoga nona tidak berurusan dengan Kaisar Han!! ” Itulah doa dari seorang pelayan setia kepada majikannya.
Di saat Annchi tengah fokus kepada doanya, tiba tiba sebuah tangan menepuk pundaknya dan mengejutkannya. Annchi pun segera menoleh untuk melihat siapa orang itu. “Kakak, ada apa?!..... apakah nona telah kembali? ” Annchi bertanya kepada kakaknya Rui.
Rui pun hanya menggelengkan kepalanya dengan lesu. “Tidak, nona belum kembali!.... sepertinya kita harus lebih menunggu! ” Ucapnya kepada Annchi.
Mendengar itu, Annchi pun menghilang nafas dengan berat. “Jika suatu saat nona akan pergi, aku akan mengikutinya!! ” Annchi bertekat dalam hati.
...»»————>❀<————««...
Kembali kepada An Xia yang saat ini tengah berbaring dengan santainya di ranjang seorang kaisar.
Kini, An Xia telah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang ia bawa saat berada di desa hujan.
Pakaian dengan warna merah itu sangatlah cocok dengan warna kulitnya yang putih bersih. Terlihat begitu indah dan menggoda, namun sayang Kaisar itu melarangnya untuk keluar dari kamarnya dengan alasan ‘Tidak ingin ada orang lain yang melihat dirinya selain Kaisar itu sendiri’.
(Gambar An Xia saat memakai pakaian berwarna merah)
Tadi Kaisar itu berpesan kepadanya bahwa dia akan pergi sebentar untuk menyelesaikan suatu urusan dan menyuruhnya untuk menunggu.
An Xia pun setuju, dan kini gadis itu pun menunggu Kaisar itu kembali sambil melamunkan sesuatu.
Entah mengapa, An Xia seperti melupakan sesuatu yang sangat penting. Sesuatu yang seharusnya tidak ia lupakan.
Namun apa?
Karena terlalu larut dalam lamunannya, An Xia sampai tidak menyadari kalau Kaisar saat ini telah kembali dan kini sedang duduk di samping ia berbaring dan menatap dirinya dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Tangan Kaisar itu terulur dan menyentuh bibir merah An Xia yang tampak begitu menggoda. “Apa yang sedang istriku ini pikirkan? ” Kaisar itu bertanya.
An Xia pun tersentak kaget dari lamunannya. Bagaimana bisa ia tidak menyadari keberadaan Kaisar ini?.... walaupun dirinya sedang melamun, tapi kewaspadaan nya sama sekali tidak menurun.
An Xia mendongakkan kepalanya untuk menatap Kaisar itu. “Aku.... ” sebelum ucapannya selesai, ia tiba tiba teringat akan sesuatu. “.... Aku harus kembali!!! ”Ucapnya setengah berseru.
Kaisar itu menaikkan salah satu alisnya. “Ke Yin lianhua? ” Tanya Kaisar itu.
An Xia menggeleng. “Ke rumah!!... lebih tepatnya, kembali ke kediaman jenderal besar An!! ” Jawabnya membenarkan.
__ADS_1