
Dilain tempat saat ini, Raja Bai Zhen berserta para pasukannya mulai mempersiapkan diri untuk berangkat menuju ke medan perang.
Baju besi kini telah terpasang apik di badannya sebagai tameng dari berbagai hunusan pedang yang akan menerjang nya nanti.
Kakinya kini berjalan mendekat ke arah sebuah kuda, kemudian menaikinya dan menatap ke seorang prajurit sembari berkata. “Kita harus segera berangkat, tanganku sudah tidak sabar untuk memenggal kepala pria itu! ” Ucapnya, dengan tatapan mata yang berkobar-kobar.
Sang prajurit pun menganggukkan kepalanya, kemudian berlari ke arah sekumpulan pasukan dan memerintahkan mereka semua untuk memulai keberangkatan.
Jumlah pasukan yang bergerak menuju medan perang itu tidaklah sedikit, sangat sulit rasanya jika harus menghitung mereka yang seperti gerombolan semut itu satu persatu.
Barisan pertama itu di isi oleh prajurit prajurit pemanah, sedangkan barisan di belakangnya adalah pasukan berkuda dengan Raja Bai Zhen yang berada di tengah tengah mereka.
Lalu di mana Rui? .....
Posisinya saat ini tepat berada di belakang Raja Bai Zhen!..... Benar-benar posisi yang sangat tepat dan pas untuk menikam raja itu dengan pedangnya dari belakang.
Namun sayang ia tak akan melakukannya, setidaknya untuk saat ini!..... tunggu saja bagaimana ia akan melancarkan aksinya di medan perang nanti, bisa di pastikan bahwa mangsa besar yang satu ini tidak akan ia biarkan lolos dari jebakannya.
“Kau akan segera musnah, dan dengan cara yang paling menyakitkan!!! ” Gumamnya diam-diam dalam hati, sembari menatap tajam kearah Raja Bai Zhen yang berada di depannya itu.
Tiba-tiba, Raja Bai Zhen yang merasa di tatap oleh seseorang yang berada di belakangnya itupun segera menoleh. “Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?” Tanyanya, pada Rui sembari menaikkan salah satu alisnya.
Sedangkan Rui yang di tanyai itupun menggelengkan kepalanya, tatapan matanya yang tajam tadi kini mulai kembali normal. “Tidak ada, aku tidak memiliki suatu apapun untuk dikatakan!...” Jawabnya, lalu kemudian. “...Setidaknya untuk saat ini! ” lanjutnya dalam hati.
Raja Bai Zhen menganggukkan kepalanya, memilih untuk tidak mempermasalahkan hal kecil itu dan mulai kembali fokus pada peperangan yang akan ia lalui nanti.
...»»————>❀<————««...
Di tempat lain, tempatnya di sebuah hamparan tanah yang sangat luas, ratusan prajurit kaisar Zhuang kini telah berjejer rapih menunggu datangnya musuh yang akan mereka habisi.
__ADS_1
Tak ada rasa gentar dalam diri mereka, bahkan dalam diri mereka tidak ada sedikit pun rasa takut akan kematian!..... karena yang akan mereka tuju sedari awal adalah kemenangan, bukan kekalahan.
Dan mereka semua merasa sangat yakin dan percaya diri akan kemenangan itu!
Begitu pula dengan kaisar Zhuang sendiri. Di atas kuda perangnya, ia duduk dengan tegak. Matanya menatap lurus ke depan, tepat dimana ada secercah cahaya matahari yang akan segera terbit....
Menggeser waktu malam yang telah habis dengan waktu siang yang panjang.
Dan bersamaan dengan sinar matahari yang perlahan mulai menyebar, dari kejauhan mereka juga dapat melihat segerombolan besar pasukan yang bergerak cepat menuju ke arah mereka.
Suara telapak kaki kuda yang berlari kencang pun dapat terdengar walau hanya samar samar.
Anging yang bertiup kencang itu membawa serta debu-debu kotor, menerpa wajah sang kaisar dan seakan akan sedang memberitahukan sesuatu kepadanya.
“Peperangan sebentar lagi akan dimulai, persiapkan diri kalian untuk memulai pertempuran!!” Ucapnya, pada para pasukan yang sedari tadi sudah terlihat begitu tidak sabar untuk mulai bertarung.
Pasukan Raja Bai Zhen kini semakin lama semakin mendekat kearah mereka dengan pedang dan tombak tombaknya yang tajam.
Jelas ini tak akan bisa selesai sebelum salah satu dari kedua pihak itu kalah!
Mengetahui hal itu, sudut bibir kaisar Zhuang pun melengkung dan membentuk sebuah seringai licik. “Sambut kedatangan mereka dengan ‘hujan’ yang deras!! ”Perintahnya, pada pasukan yang berada di garis paling depan.
Sedangkan mereka yang mendengar seruan dari sang kaisar itupun segera mengambil anak panah, mengarahkannya keatas dan dilepaskannya secara bersamaan.
Ada begitu banyak anak panah yang meluncur ke atas, sangat tinggi hingga arah luncurannya itu mulai berubah kebawah dan mengarah tepat menuju pasukan Raja Bai Zhen.
Pemandangan itupun sangat persis seperti ribuan butir air hujan yang jatuh dari langit, jadi jangan heran jika kaisar Zhuang menyebut itu sebagai ‘hujan’.....
Atau lebih tepatnya ‘hujan anak panah’.....
__ADS_1
Sedangkan di sisi lain, Raja Bai Zhen yang menyadari serangan itupun segera turun dari kudanya. Sosoknya yang semula mula terlihat gagah itu kini terlihat sedang bersembunyi di balik kuda tunggangannya dari serangan anak panah.
Para prajurit yang berada di sekitarnya pun segera membentuk payung dari tameng- tameng besi yang mereka bawa.
Berusaha melindungi nyawa raja mereka yang kini mulai terancam.
Walaupun begitu, beberapa prajurit yang tidak sempat membentengi diri merekapun kini mulai tumbang satu persatu dengan beberapa anak panah yang tertancap di tubuh mereka.
Sebagian yang terkena serangan anak panah itupun mati, dan sedikit di antara mereka masih tetap hidup walaupun harus menahan rasa sakit yang teramat sangat pedih.
Pihak mereka bahkan belum menumbangkan seorang pun dari pasukan kaisar Zhuang, namun sekarang pasukan mereka sendiri telah banyak yang tumbang?..... kecurangan macam apa ini?!!!
“Sialan!!! ”Raja Bai Zhen mengerang rendah dan menggertak kan giginya, kedua tangannya pun terkepal erat di saat telinganya mendengar suara teriakan dari pasukannya yang gugur. “Beraninya dia menyerang duluan!!! ” Gumamnya lagi.
...»»————>❀<————««...
Disaat Raja Bai Zhen dan pasukannya sibuk mempertahankan diri, pada saat yang bersamaan pasukan kaisar Zhuang bergerak maju untuk menyerang.
Terdapat pasukan yang terus menerus meluncurkan anak panah sembari menunggangi kuda di barisan paling depan, menghujani pasukan Raja Bai Zhen secara bertubi-tubi tanpa memberikan mereka cela untuk mengambil gerakkan selain mempertahankan diri.
Kaisar Zhuang memacu kudanya dengan kecepatan penuh menuju arah musuh dengan pedang tajam yang berkilau di genggaman tangannya.
Para pasukannya pun tak tinggal diam, mereka semua bergerak secara bersamaan dan membentuk lengkungan huruf “U” Untuk mengepung pasukan musuh yang perlahan mulai tumbang akibat serangan anak panah mereka.
Dan saat jarak mereka telah dekat, para prajurit pun berhenti meluncurkan anak panahnya dan mulai mencabut pedang dari sarungnya.
Tepat pada saat itu, pasukan Raja Bai Zhen yang merasa kalau hujan panah telah redah itupun kini mulai keluar dari pertahanan mereka.
Namun....
__ADS_1
Begitu pandangan mereka kembali menghadap ke depan, mereka langsung di kejutkan dengan pasukan kaisar Zhuang yang jaraknya begitu dekat dengan posisi mereka saat ini.
Mereka bahkan tak sempat untuk mengangkat pedang mereka sebelum pasukan pasukan itu menerjang mereka bagaikan badai di gurun pasir.