
Gerombolan orang orang bersenjata berjalan memyusuri jalanan yang sepi, di tengah malam ini mereka nampak seperti sebuah kelompok pembunuh.
Para warga mengintip dari sela sela jendela rumah mereka, walaupun taku tapi rasa penasaran di hati mereka mendorong mereka untuk melakukannya.
Di bawah sinar rembulan itu, nampak seorang pemuda yang berjalan di barisan paling depan bersama dua orang pria dewasa yang salah satunya perpakaian seperti perajurit istanah, dan satunya lagi berpakaian bak seorang samurai.
Pemuda itu memiliki paras yang cantik bagai sebuah lukisan yang sempurna, namun dari dalam pancaran mata pemuda itu seperti menyimpan sejuta rahasia, begitu misterius.
Pada akhirnya, gerombolan orang orang itu berhenti di sebuah kediaman seorang saudagar kaya yang terkenal akan ketamakkannya dan sifat yang sombong.
Kediaman itu di jaga oleh beberapa orang bersenjata. Melihat itu, pemuda berparas cantik yang tadi menunjuk kearah pintu gerbang kediaman seraya berkata.
“Hancurkan pintu itu!!!” Ucapnya dengan lantang.
Para perajurit istanah beserta samurai samurai yang mengikutinya tadi langsung bergerak maju mengikuti printah pemuda itu.
Nampak para samurai yang tanpa belas kasihan langsung menebas para penjaga yang menjaga pintu gerbang kediaman itu, dan sedangkan para perajurit istanah dengan kompak mendorak pintu gerbang kediaman dengan satu kali hentakkan.
BRAAAAK!!!!
Pintu gerbang kediaman itu roboh seketika, mereka semua masuk kedalam kediaman itu, sang pemuda yang tadi berjalan memasuki kediaman itu dengan santainya melangkah masuk kedalam dengan sebuah katana yang bersender di bahunya.
Penuda itu tidak lain adalah An xia, gadis berpakaian pria itu berjalan layaknya seorang mafia kejam yang akan melakukan pembantaian.
Ya, An xia serasa kembali kepada masa masa kejayaannya sebagai seorang pemimpin mafia, bedanya dulu di tangannya adalah pistol, namun sekarang pistol itu digantikan dengan sebuah katana.
Tiba tiba dari arah samping, An xia bisa mendengar suara siulan dari benda tajam yang melesat membelah angin dan tertuju kearahnya.
Sebelum anak panah itu mengenai tubuhnya, dengan cepat An xia menangkis anak panah itu menggunakan katana miliknya, tak hanya satu anak panah, melainkan puluhan anak panah yang melesat kearahnya, namun dengan gesitnya An xia menghindar dan menepis semua anak panah itu.
Dan tiba tiba pula dari dalam rumah itu, keluarlah puluhan orang berpakaian serba hitam, di tangan mereka terdapat berbagai macam jenis senjata.
Tak hanya dari dalam rumah, dari atas atap dan pohon juga turun beberapa orang dengan pakaian hitam dan busur di tangan mereka.
Kelombok An xia terkepung, namun bukannya takut ataupun gentar, api semangat dalam diri mereka semakin berkobar, tangan mereka mencengkram senjata yang mereka pegang erat erat, bersiap untuk menerima perintah dari sang pemuda cantik yang memimpin kelompok mereka.
Kelombok An xia masih diam di tempat, musuh musuh menodongkan senjata mereka kearah kelompok An xia itu.
Dari dalam rumah, keluarlah seorang pria bertubuh gempal yang sedang tertawa terbahak bahak, pira bertubuh gempal itu memandang remeh kelompok An xia.
Mata pria itu menangkap satu sosok yang tubuhnya paling mungil di antara mereka, sosok pemuda berparas cantik itulah orang yang sudah berani menyentuh apa yang telah menjadi miliknya.
Pria bertubuh gempal itu menatap An xia dengan tatapan permusuhan, ia melambaikan tangannya seraya berkata. “Tunggu apa lagi, cepat serang mereka dan penggal kepala bocah busuk itu!!!!” Printahnya kepada puluhan orang orang berpakaian hitam.
__ADS_1
Mendengar perintah dari pria itu, orang orang berpakian hitam itu langsung menyerang. Namun sayangnya kelompok An xia terlalu keras kepala untuk mengaku kalah sebelum bertarung.
Terrrriiiingg!!!!....
Terrrrriiiingg!!!!....
Suara dentingan benda tajam yang saling beradu kembali terdengar di malam itu, pertarungan berdarah kembali terjadi.
An xia dengan gerakkan yang begitu cepat menebas satu persatu kepala musuh dengan ganasnya, para pemanah terus melesatkan anak panahnya ke arah gadis itu.
Namun apalah daya, gadis itu begitu tangguh, puluhan anak panah itu dengan mudahnya ia tepis dan hindari. Bahkan tak jarang ada anak panah yang justru malah membunuh kawan mereka sendiri dan bukannya musuh.
Suara teriakan itu terdengar begitu nyaring dan memekahkan telinga bagai sura hantu di malam hari, angin yang berhembus kencang membawa serta bau amis darah.
An xia dan kelompoknya tanpa rasa lelah mengayunkan benda tajam di tangan mereka, menghasilkan robekan luka di kulit lawan.
Kelompok An xia memang kalah jumblah, namun kemampuan kelompok itu lebih tangguh dari seratus prajurit sekalipun.
Kemampuan bertarung mereka tidak bisa untuk di remehkan, apalagi sosok An xia yang bagai mesin pembunuh tak berperasaan yang dengan sadisnya menebas kepala kepala musuh tanpa ampun.
Semua orang orang berpakaian serba hitam itu telah mereka kalahkan, dan kini hanya tinggal seorang pria bertubuh gempal yang sedang berlutut dengan kepala yang menunduk dihadapan sosok An xia.
Terdapat sebuah benda tajam yang berjarak satu inci dengan lehernya, tubuh pria itu bergetar ketakutan, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.
An xia menatap pria bertubuh gempal itu dengan tatapan dinginnya, wajah cantik itu hanya menunjukkan ekspresi datar.
“Apakah ada kata kata terakhir untuk kau sampaikan sebelum aku membunuhmu?” An xia bertanya kepada pria itu.
Sebelum pria itu mengatakan sesuatu, tiba tiba terdengar suara beberapa wanita yang sedang berteriak ketakutan.
Mereka semua menoleh kesumber suara, dan yang mereka lihat adalah delapan orang wanita dengan pakaian terbuka dan riasan wajah tebal yang saat ini berlari mendekati pria bertubuh gempal itu.
Para wanita itu berlutut di hadapan An xia, salah satu wanita berkata kepada An xia. “Tuan!! tolong ampuni suami kami, tolong kasihani kami, biarkan kami hidup!!!” Ucap wanita itu dengan tubuh gemetar ketakutan saat mematap An xia.
An xia menaikkan salah satu alisnya, kemidian gadis itu berkata. “Oh, jadi kalian semua adalah wanitanya?” An xia bertanya dengan sinisnya.
Setelah mengatakan itu, An xia kemudian melirik tuan Eiji dan juga Fai. “Bunuh wanita wanita ja**ng ini!!!” Perintah An xia dengan tegasnya, bahkan tidak ada sedikitpun keraguan saat mengatakan itu.
Tiuan Eiji dan Fai maju mendekati wanita wanita yang kini sedang berteriak histeris dengan tubuh gemetaran.
Serrrreeeet!!!!...
Serrrreeeeet!!!!....
__ADS_1
Cerrraaaaassss!!!....
Delapan orang wanita itu akhinya mati dengan luka gores di leher mereka, tubuh mereka amburk dengan darah yang mengalir deras dari luka robekkan di leker mereka.
Mata mereka masih terbuka dan menatap lutus kedepan, seolah sedang mengutuk seseorang yang telah merenggut nyawa mereka.
Mata pria bertubuh gempal itu terbelelak saat menyaksikan delapan istrinya itu mati menggenaskan di depan matanya sendiri.
Dengan kaku, kepala pria itu menoleh untuk menatap An xia, namun detik berikutnya..... pria itu merasakan benda tipis yang tajam dan dingin menembus dan mengoyak daging dilehernya sampai memutus leher itu dan memisahkan kepalanya dari tubuhnya.
Bruuuk!!!...
Tubuh pria itu ambruk dengan diiringi sebuah kepala yang menggelinding di lantai. Dan pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah An xia.
Setelah membunuh pria itu, An xia kemudian menoleh untuk menatap tuan Eiji. “Tuan Eiji, mari kita ambil semua harta benda milik mayat ini!!” Ucapnya dengan begitu entengnya seolah olah itu bukanlah sebuah dosa.
Tiuan Eiji yang sama sama biadapnya seperti An xia, hanya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka semua kemudian masuk dan menelusuri setiap ruangan di kediaman itu.
Setiap ada emas uang atau benda yang menurut mereka berharga, pasti akan langsung masuk kedalam kantong kain berukuran besar yang mereka bawa.
Di saat An xia dan kelompok tuan Eiji itu merampok, diluar Fai beserta perajurit yang lain hanya bisa menunggu mereka semua melakukan kegiatan bejatnya itu.
Jika boleh jujur, saat ini mereka merasa aneh dengan diri sendiri. Sebagai seorang perajurit terkuat di istanah, mereka sama sekali tidak bisa menghalangi orang orang itu saat merampok harta musuh mereka setelah membunuhnya.
Tiba tiba dari atas atap turun seorang pria berbadan kekar dan tinggi, kali ini tidak ada cadar yang menutup wajah pria itu, sebenarnya ia datang kemari untuk melihat keadaan seorang gadis.
Pria itu berdiri di hadapan Fai, sedangkan Fai dan para perajurit yang lain langsung berlutut saat melihat siapa pria itu.
“Bawahan yang rendah ini memberi salam kepada yang mulia kaisar!!” Ucap Fai dan perajurit yang lain dengan serempak.
Kaisar itu hanya menganggukkan kepalanya, ia menengok kanan kiri lalu berkata. “Dimana gadis aneh itu?” Kaisar itu bertanya.
Para perajurit yang mendengar pertanyaan dari kaisar itu langsung mengerutkan dahi. Gadis aneh? setau mereka diantara mereka semua hanya ada pria, dan tidak ada satupun gadis.
Sedangkan Fai yang mengerti pertanyaan kaisar itu langsung saja menjawab. “Dia ada di dalam yang mulia!”
Kaisar itu menganggukkan kepalanya tanda mengerti, tidak berselang lama beberapa orang keluar dari rumah itu dengan membawa sebuah kantong besar di masing masing tangan mereka.
An xia berjalan di depan, dan langkah kakinya terhenti saat matanya melihat ada sorang pria tampan yang kini sedang menatap kearahnya.
Kemudian An xia melirik Fai dan para perajurit yang saat ini sedang berlutut di depan pria itu. Dengan kecerdasan yang An xia miliki, ia bisa langsung tau kalau pria itu adalah kaisar Han.
An xia masang senyum tipis di wajahnya, ia sedikit membungkukkan badanya untuk memberi salam. “An xia memberi salam kepada kaisar Han!!” Ucap An xia dengan penuh hormat.
__ADS_1