
Suara menggelegar dari sebuah cambuk berduri yang di ayunkan dengan cukup keras hingga membentuk luka di punggung seseorang pun kini dapat terdengar bersamaan dengan sebuah teriakan pilu.
Beberapa orang pelayan kini berlutut dengan kepala yang tertunduk takut. Bagaimana tidak?.... mereka saat ini tengah di hadapkan dengan pemandangan yang cukup mengerikkan.
Seorang pelayan yang tengah menjalankan hukuman dari sang permaisuri kini hanya bisa pasrah ketika cambuk dengan duri tajam itu mengenai punggungnya hingga mengoyak kulitnya yang lembut.
Dan dari punggung itu, setetes demi setetes darah pun mengalir dengan cukup deras. Menandakan bahwa luka yang di torehkan di punggungnya itu cukup dalam dan sangat menyakitkan.
Ctaaarrrrrrr!!!!......
Entah sudah berapa kali suara cambukan itu terdengar bagaikan petir yang menggelegar di telinga beberapa orang.
Sedangkan di sisi lain, An xia yang juga melihat pemandangan itupun justru tersenyum dengan sangat puas. Alih alih merasa kasihan ataupun takut, ia justru menikmati semua pertunjukkan yang tersaji didepan mata nya saat ini.
Kedua mata An xia kini melirik kesamping, menatap para pelayannya yang tengah berlutut menghadap dirinya dengan tubuh yang bergetar ketakutan.
Sesekali salah satu dari beberapa pelayan itu melirik dirinya dengan ekspresi ketakutan. Namun saat iya menyadari bahwa dirinya kini tengah di awasi, pelayan itu pun segera menundukkan kepalanya kembali.
Dengan suasana mencekam itu, An xia kini menghirup udara dalam dalam. Merasakan kesegaran pagi yang menurutnya benar benar lengkap saat ini.
“Yang mulia___ahh!!!!...... tolong.... tolong maafkan aku!!! ”
Suara permohonan yang begitu memilukan itu terdengar, membuat perhatian sang permaisuri teralihkan kepada pemilik suara tersebut.
Melihat keadaan orang yang baru saja bersuara itu, An xia pun tersenyum dan berkata. “maaf?... ” Ia mendengus kemudian melanjutkan. “.... kau pikir siapa dirimu?!.... hanya seorang pelayan rendahan, namun memiliki seribu keberanian untuk berbicara sembarangan!! ” Ucapnya dengan setengah membentak.
Membuat para pelayan yang lain pun juga merasa takut dengan suara bentakan dari sosok cantik bak dewi itu.
“Hukuman yang aku berikan kepadamu saat ini adalah sebuah pelajaran bagi yang lain!! ” Ia terdiam untuk sesaat, kemudian melirik parah pelayan yang saat ini tengah berlutut di sampingnya. “Jangan karena selama ini aku bersikap lembut kalian sampai berani berbuat seenaknya!!..... kalian adalah pelayan, hanya seorang pelayan!!..... Maka ketahuilah batasan kalian!!! ” Ucapnya dengan begitu tegas.
Mendengar hal itu, para pelayan itu pun mengangguk dan berkata. “Kami mengerti!!! ” Ucap mereka secara serempak.
__ADS_1
Ctaaaarrrrr!!!!!........
Suara cambukan terakhir itu terdengar lebih keras dari suara suara cambukan yang sebelumnya. Membuat semua orang yang mendengar kan nya pun secara otomatis menoleh dengan ekspresi terkejut.
Kedua mata mereka pun seketika terbelalak lebar di saat menyaksikan sebuah tubuh yang tak lagi bernyawa tergeletak dengan punggung yang penuh akan luka dan darah.
An xia yang juga melihat hal itu pun melangkah kan kakinya mendekati, dan pada akhirnya ia melakukan kebiasaannya yang paling ia sukai....
Iya itu menaruh salah satu kakinya di atas kepala sang korban sebagai pijakan kaki.
“Lihatlah pelayan ini!!.... jadikan sebagai contoh untuk kalian agar tau diri dan tau akan batasan!!! ” Ucapnya dengan tegas, kemudian menendang kepala itu dengan cukup keras hingga leher mayat itu patah.
Merasa puas dengan semua hukuman dan pelajaran yang ia buat ini, An xia pun melangkahkan kakinya pergi dengan perasaan puas dan tanpa ada sedikit pun penyesalan dalam dirinya.
Annchi yang melihat kepergian majikan nya itupun segera menyusul, namun sebelum itu ia terlebih dahulu menoleh kearah para pelayan yang berlutut. “Hemp!!..... dengarkan itu baik baik!! ” Ucapnya, lalu melangkah pergi dengan wajah tanpa dosa.
Sedangkan para pelayan itu hanya bisa terdiam, mulut mereka pun kini seakan akan bisu. Mereka bahkan tidak dapat mendengar suara Annchi barusan.
Salah seorang pelayan yang merasa bahwa tubuhnya melemas pun kini terduduk. Dengan tubuh yang bergetar ketakutan, pelayan itu pun menangis dengan suara yang tertahan. “Hiks!.... dia telah tiada, permaisuri telah membunuhnya! ” Ucapnya yang membuat para pelayan yang lain tersadar dari lamunannya.
Mendengar hal itu, mereka pun sontak menoleh dan menatap mayat pelayan yang keadaannya sangat memperihatinkan itu.
Melihat leher mayat itu yang patah, merekapun langsung bergidik ngeri dan bertanya tanya. Seberapa kuat tenaga yang permaisuri itu keluarkan ketika menenangkan kakinya?...... jika saja ia menendang lebih keras lagi, maka sudah dipastikan bahwa kepala itu akan terlepas dari badannya.
“Aku tidak menyangka bahwa wanita itu bisa bertindak begitu kejam seperti ini!” Gumam salah seorang pelayan.
Mendengar ucapan pelayan itu, salah seorang pelayan yang lain pun segera membekap mulutnya dan berkata. “Tutup mulutmu!!!..... tidakkah kejadian ini sudah lebih dari cukup?!!.... apakah kau ingin bernasib sama seperti nya?!!! ” Ucapnya dengan nada panik.
Bahkan keringat keringat dingin pun saat ini masih terlihat dengan jelas di wajah wajah para pelayan yang terlihat sangat ketakutan.
Untuk beberapa lama, mereka semua hanya bisa terdiam di tempat akibat tubuh yang masih bergetar ketakutan. Sampai pada saat salah satu dari mereka menyadari satu hal. “Tunggu dulu!!.... apakah permaisuri lupa untuk memotong lidahnya? ” Ucapnya yang menanyakan hal konyol.
__ADS_1
Belum sempat para pelayan yang lain mengeluarkan suaranya untuk menegur pelayan itu, sebuah suara lain yang terdengar begitu kekanak kanakan pun berkata. “Setelah melihat itu semua, kalian masih menginginkan lidah yang di potong? ” Tanyanya dengan tidak percaya.
Mendengar itu, merekapun segera menoleh kebelakang dan mendapati sosok kecil An chen yang menatap mereka dengan salah satu alis yang terangkat.
Melihat para pelayan yang terdiam sembari menatapnya, An chen pun kembali berkata. “Lihatlah keadaan pelayan itu!..... punggungnya penuh dengan luka dan darah, tulang di lehernya pun patah, bahkan pakaiannya hampir terlucuti!!” Ia melirik para pelayan yang masih berlutut itu, kemudian melanjutkan. “Dia sudah mati, namun kalian masih hidup!..... jika kalian masih menginginkan pertunjukan, maka aku bisa meminta kakak kedua untuk memotong lidah kalian satu persatu!! ” Ucapnya dengan dingin.
Entah bagaimana bisa wajah polos itu memiliki sisi yang begitu kejam hinga setiap kata yang ia keluarkan terdengar begitu mengerikan.
Mendengar kata ‘kakak kedua’..... Para pelayan itupun akhirnya tau bahwa sosok bocah yang berdiri di hadapan mereka saat ini adalah adik dari sang permaisuri, sang tuan muda kelima An.
Sadar akan kata kata yang baru saja An chen ucapkan, merekapun segera menggelengkan kepalanya dan berkata. “Kami tidak berani lagi!!! ”
Melihat hal itu, An chen mendengus. Kemudian, ia dengan santai berjalan melewati para pelayan tadi untuk menyusul sang kakak kedua.
Walaupun para pelayan itu kini bungkam, namun di pikiran mereka kini bertanya tanya. “Apakah setiap anggota keluarga An memiliki sisi lain yang tersembunyi?! ”
...»»————>❀<————««...
An chen melangkahkan kakinya semakin cepat, mengejar langkah kaki sang kakak yang berjarak beberapa meter darinya.
Merasa lelah karena terus mengejar, An chen pun berseru. “Kakak!!..... Kakak kedua!!! ” Panggilannya yang membuat langkah kaki An xia terhenti.
Mendengar suara yang begitu familiar di telinganya, An xia pun menoleh kebelakang. Mengetahui siapa pemilik dari suara itu, ia pun berkata. “An chen?..... akhirnya kau mengingat kakakmu ini! ” Ucapnya dengan nada guyonan.
Sedangkan An chen yang telah berada di hadapan An xia pun berkata. “Apa yang kakak kedua katakan?.... aku selalu mengingat kakak, hanya saja aku terlalu sibuk belakangan ini. ” Ucapnya yang beralasan.
An chen menundukkan kepalanya untuk beberapa saat, kemudian ia melirik sang kakak dan kembali berkata. “Kakak, kau bilang akan mengunjungi ku di kediaman?..... tapi kau tidak pernah datang, karena itulah aku kemari.” Ucapnya dengan manja.
Sungguh sebuah hal yang berbeda jika di bandingkan dengan kata kata sarkas nya kepada para pelayan tadi.
Melihat sang adik yang bersikap manja kepadanya, An xia pun terkekeh kecil. Kemudian salah satu tangannya mencubit pipi An chen dengan gemas. “Kau tanyakan saja kepada kaisar!.... dialah yang melarang ku untuk keluar dari istana. ”
__ADS_1