
Senyum tipis di wajah rupawan itu perlahan lahan berubah menjadi seringai keji. Lihatlah ekspresi di wajah para pelayan pelayan itu!!.... terlihat penuh akan ketakutan, kesedihan, dan permohonan untuk segera di lepaskan.
Sungguh menunjukkan wajah tidak berdaya di hadapan An xia adalah sebuah hal yang salah. Bukannya memunculkan rasa iba, hal itu justru malah membuat kepuasan tersendiri di hatinya.
“Yang mulia! aku mohon, aku mohon tolong lepaskan kami!! ” Ucap salah seorang pelayan yang lain.
“iya”
Satu kata itu keluar dari mulut An xia. Suara yang digunakan tidak terlalu besar, bahkan terdengar seperti bisikan. Namun, satu kata yang keluar dari mulut An xia itu seperti angin segar bagi para pelayan pelayan itu.
Sontak, raut wajah memelas mereka kini telah tergantikan dengan raut wajah cerah. Senyum di wajah mereka pun mengembang dengan sempurna sampai pada saat An xia kembali berlatih...
“Iya, teruslah memohon seperti itu!.... aku sangat suka mendengarkannya!! ” Ucapnya lagi dengan di sertai suara tawa yang begitu keras.
Mendengar itu, sinar harapan di hati mereka pun perlahan meredup dan pada akhirnya sirna begitu saja.
Harapan palsu?.... jadi itu tadi hanya sebuah harapan palsu dari kata kata yang belum selesai terucap?!!
Entah mengapa, situasi saat ini membuat mereka serasa ingin sekali menangis. Harapan untuk terbesar ternyata memang hanyalah sekedar harapan kosong.
Teringat dengan seorang pelayan wanita yang saat ini tidak bersama dengan mereka. Salah seorang di antara pelayan itu pun berkata. “Lalu... lalu bagaimana dengan teman kami?!.... apa yang kau lakukan kepadanya?!” Tanyanya dengan sedikit berteriak.
Pertanyaan pelayan itu barusan pun membuat An xia menghentikan tawa jahatnya, kemudian ia berkata. “Oh? kalian ingin bertemu dengannya?” Tanyanya dengan perasaan tertarik. “kalau begitu kalian akan bertemu dengannya saat ini juga!! ” Ucapnya lagi.
An xia menoleh kebelakang, kemudian berkata. “Bawa kemari!! ” perintahnya kepada seseorang.
Mendengar perintah dari An xia, seseorang yang tidak lain adalah Annchi pun melangkahkan kakinya masuk dengan membawa sebuah nampan lebar berisikan bulatan yang terbungkus oleh kain hitam.
Melihat kedatangan Annchi, para pelayan itupun mengerutkan dahinya dengan heran. Namun saat penglihatan mereka menangkap benda di tangan Annchi, rasa waswas pun melanda perasaan mereka.
__ADS_1
Kilatan iblis kini begitu terlihat jelas di pancaran kedua mata sang permaisuri itu. Dengan perlahan, tangannya yang putih ramping dengan jari jari lentik itu terangkat dan menarik kain hitam yang menutupi bulatan misterius tadi.
Begitu kain hitam terlepas dan di buang begitu saja ke sembarangan arah, sebuah kepala tanpa tubuh pun terpampang jelas di hadapan para pelayan pelayan itu.
Dan hal itu pun sontak membuat dua pelayan wanita berteriak histeris selagi dua pelayan pria memalingkan wajahnya demi menghindari pemandangan memilukan itu.
Tanpa perintah, Annchi menjatuhkan kepala itu dan menendangnya hingga menggelinding di bawah kaki para pelayan pelayan tadi.
An xia yang melihat tindakan Annchi yang seperti itu pun terkekeh kecil dan berkata. “Annchi, siapa yang menyuruh mu melakukan itu?..... dasar lancang!! ” Tegur nya dengan nada guyonan.
Mendengar teguran itu, Annchi pun menundukkan kepalanya dan memasang wajah bersalah dan menyesal. “Yang mulia, aku tidak sengaja!.... tanganku licin, itu semua hanya kecelakaan!! ” Ucapnya yang beralasan.
Namun orang bodoh sekalipun tau bahwa ucapan Annchi barusan itu hanyalah sekedar kebohongan belaka yang di jadikan bahan guyonan bagi sang permaisuri An.
Melihat interaksi tuan dan bawahan itu, manusia mana yang tidak akan merasa aneh?...... apakah hati mereka tidak gentar setelah melakukan hal keji?.... sebenarnya mereka itu manusia atau iblis?!
Nafas mereka tiba tiba tercekat dikala menyadari bahwa kepala yang di tendang dan menggelinding tadi kini telah berada tepat di bawah kaki mereka.
Ngeri dan takut!.... dua hal itulah yang kini mereka rasakan.
Merasakan ketakutan yang begitu luar biasa di raut wajah mereka. An xia dan Annchi yang melihatnya pun tersenyum sinis. “Sungguh menarik, bukannya kalian adalah mata mata?.... bagaimana bisa seorang mata sepengecut ini?!” Ucap An xia dengan nada ejek kan.
Annchi yang juga menikmati situasi ini pun mengangguk dan ikut bersuara. “Yang mulia, raja itu memiliki mata yang bermasalah!..... lihatla orang orang macam apa yang ia kirimkan!” Ucapnya dengan senyum puas akibat rasa senang di hati.
Tiba tiba, Hentakkan langkah kaki bersamaan engan suara seorang pria pun terdengar mendekati ruangan. “Permaisuri, tidak bisakah kau menunggu ku sebentar?.... apakah rasa rindumu terhadap mata mata itu begitu besar?! ” Ucap kaisar Zhuang dengan sedikit nada kesal.
An xia yang mendengar suara suaminya itupun berbalik dan menoleh. “Aku hanya sedikit bersenang senang, tidak lebih! ” Jawabannya yang berusaha membela diri.
Bersamaan dengan itu, sosok kaisar Zhuang pun akhirnya menampakkan diri dan berjalan mendekat kearah An xia. “Apa yang harus aku lakukan kepada istri yang tidak patuh sepertimu?! ” Tanyanya dengan nada menekan, namun terselip beberapa makna makna tersendiri dalam ucapannya.
__ADS_1
Menyadari bahwa perbincangan ini akan mengarah ke lain arah yang tidak ia inginkan, An xia pun segera berkata. “Lupakan saja masalah itu!... yang terpenting sekarang adalah mereka bukan?! ” Ucapnya yang berusaha mengalihkan pembicaraan.
Kaisar Zhuang tidak menjawab namun malah menarik tangan An xia hingga terperangkap dalam pelukannya. “Beraninya kau mengalihkan pembicaraan yang belum selesai!! ” Bisik nya tepat di telinga An xia.
Merasa geli akan hembusan nafas yang menerpa nerpa telinganya bagai tiupan angin kecil, An xia pun berniat untuk lepas dari pelukan sang suami. “Kita bicarakan itu malam nanti!!.... untuk sekarang kita selesaikan dulu masalah yang lebih penting!!” Ucapnya dengan sedikit panik.
Melihat raut wajah istrinya yang begitu menggemaskan, kaisar Zhuang pun terkekeh dan mengecup pipi itu sekilas. “Apapun yang kau inginkan, permaisuri ku! ”Ucapnya.
“Yang mulia, mohon lepaskan kami!! ” Tiba tiba suara itu terdengar dan merusak pemandangan kasih penuh cinta diantara An xia dan kaisar Zhuang.
Merasa terganggu, kaisar Zhuang pun melemparkan sebuah tatapan tajam bak mata belati kearah pelayan yang berbicara tadi. “Melepaskan mu? ” Tanyanya dengan sinis. “Apa untungnya bagiku? apakah setelah melepaskan mu, kau akan menjadi orang ku?” Tanyanya lagi.
Merasakan kalau pertanyaan itu adalah satu satunya jalan keluar dari bahaya, merekapun secara kompak menganggukkan kepalanya. “Tentu!! kami... kami akan menjadi bawahan mu yang setia!! ” Ucapnya dengan sungguh sungguh.
Mendengar itu, An xia yang tadinya menatap kaisar Zhuang pun kini beralih untuk menatap para pelayan tadi. “Oh ya?.... lalu bagaimana dengan Raja Bai Zhen? apakah kalian akan menghianati nya?” Tanya An xia dengan sebuah senyum licik di bibir mungilnya.
Merasa tidak ada lagi jalan, meraka pun dengan terpaksa menganggukkan kepalanya kembali. “Tentu... Tentu saja!! kami akan menghianati nya dan menaruh kesetiaan kami di pihak kalian!! ” Ucapnya.
Kaisar Zhuang memandang kearah An xia untuk sesaat kemudian berkata. “Kalau begitu buktikan! ” Perintahnya dengan dingin.
Mendengar itu, para pelayan tadi pun mengerutkan dahinya dengan bingung. “A... Apa yang harus kami lakukan untuk membuktikannya? ” Tanya salah satu di antara mereka.
Tanpa banyak berfikir, An xia pun segera berkata. “Katakan kepadaku, apa saja yang kalian ketahui tentang orang ‘itu’?! ” Tanyanya yang memang kebetulan kaisar Zhuang juga ingin menanyakan hal itu.
Para pelayan tadi kini terdiam, mereka saat ini nampaknya sedang berfikir keras karena merasa bimbang memilih antara ‘nyawa’ dan ‘kesetiaan’.
Merasa tidak ada jawaban, kaisar Zhuang pun berkata. “Tidak mau mengatakannya? kalau begitu__”
“Kami akan mengatakan semuanya!! ” Sahut salah seorang pelayan pria.
__ADS_1
Mendengar hal itu, para pelayan yang lainpun menoleh dan menatapnya dengan tatapan terkejut. Sama sekali tidak menyangka bahwa teman mereka dapat berkhianat semudah itu.
Namun, saat mereka melihat kepala tanpa tubuh yang tergeletak bak sampah di kaki mereka. Pada akhirnya merekapun mengangguk dan menyetujui keputusan pelayan pria tadi.