Sicantik Ternyata Seorang Sikopat

Sicantik Ternyata Seorang Sikopat
Kendalikan emosimu!


__ADS_3

Langkah kaki dua orang itu kini memasuki sebuah ruangan yang di penuhi dengan suara para jendral yang tengah berdiskusi mengenai strategi perang yang akan mereka gunakan dalam menghadapi situasi di medan perang nanti.


Melihat kedatangan seseorang yang telah mereka tunggu sedari tadi, para jendral pun membungkukkan badannya dan memberi salam.


Namun, saat pandangan mereka menangkap keberadaan sosok lain yang berjalan tepat di samping sang kaisar, ekspresi bingung pun langsung bermunculan di wajah-wajah tegas mereka.


“Yang mulia permaisuri?! ” Ucap spontan dari salah seorang jenderal. “Yang mulia, mengapa kau membawa permaisuri kemari?....” tanyanya kepada kaisar Zhuang. “.... Apa yang akan kita bahas nanti, mungkin kurang pantas untuk di dengar oleh seseorang seperti permaisuri! ” Ucapnya lagi dengan hati-hati.


Mendengar hal itu, kaisar Zhuang pun melirik nya sekilas dan berkata. “Permaisuri ku tidak selemah yang kau pikirkan! ” Tegasnya, kemudian ia menambahkan. “Apalagi ia adalah putri dari seorang jendral!.... tentunya ia memiliki banyak pengetahuan mengenai medan perang. ” Ucapnya, yang membuat para jendral itu tersadar akan suatu hal.


An Xia yang melihat perubahan ekspresi di wajah mereka semua pun kini tersenyum tipis. Mengetahui keraguan dalam hati para jendral, wanita itupun membuka mulutnya dan berkata. “Mungkin aku tidak akan banyak membantu, namun setidaknya kalian bisa mendengar beberapa saran kecil dariku! ” Ucapnya, yang membuat mereka semua kembali menatap kearahnya. “Aku rasa itu akan sedikit berguna dan menyenangkan untuk di praktekan! ” Ucapnya lagi.


Entah hanya sebuah firasat tak mendasar atau bagaimana, namun hati nurani mereka sakan-akan sedang memperingatkan mereka akan suatu hal yang berbahaya.


Apalagi dengan beberapa kata-kata ganjil yang permaisuri itu gunakan!.... membuat mereka semua merasa sedikit bingung dan resah.


...»»————>❀<————««...


Di tempat lain saat ini, dengan keringat yang membasahi tubuh serta wajahnya, An chen kini melampiaskan setiap emosi dalam dirinya dengan mengayunkan pedang di tangannya kearah tuan Eiji secara bertubi-tubi dan tanpa ampun.


Adapun tuan Eiji yang sedari tadi menangkis dan menghindari serangan An chen dengan tenang sembari memperhatikan setiap pergerakan yang bocah itu ambil.


“Haaaa!!!!.... pak tua, kenapa kau hanya menghindar?!!! ” Tanya An chen dengan kesal sembari terus-menerus mengayunkan pedangnya tanpa henti.


Tringgg!!!!.....

__ADS_1


Tringgg!!!!!.....


Suara keras yang berasal dari dua benda tajam yang saling menyapa itu kembali terdengar untuk yang kesekian kalinya, namun mulut tuan Eiji pun tak kunjung terbuka dan memberikan jawaban atas pertanyaan yang An chen lontarkan tadi.


Pandangan pria tua itu terus memperhatikan setiap ekspresi yang tergambar di wajah bocah itu, ekspresi yang jelas tidak seharusnya ada dalam diri bocah yang masih sangat muda sepertinya!


Tringgg!!!!.....


“Mengapa kau tidak menjawab?!!.... sudah tuli?!!! ” Tanya An chen sekali lagi dengan suara yang lebih keras.


Merasa kalau bocah yang dia lawan saat ini emosinya sedang tidak stabil, tuan Eiji pun memutuskan untuk mengakhiri pertarungan ini dengan menangkis pedang An chen hingga membuat pedang itu terlempar jauh.


“Hei bocah busuk, kau datang untuk berlatih atau untuk membunuhku?! ” Tanyanya, dengan ekspresi curiga di wajahnya.


Melihat pedang yang terhempas dari genggamannya, dan pertanyaan menjengkelkan yang tuan Eiji ajukan padanya. An chen pun tanpa sadar menggertak kan giginya dan menatap sengit kearah pria tua itu. “Bukankah sudah jelas kalau aku sedang berlatih?!! ” Jawabnya, dengan penuh nada penekanan.


“Ada apa? ” Tanya tuan Eiji setelah terdiam beberapa saat.


“Kenapa kau mengamuk secara tiba-tiba seperti itu?” Tanyanya lagi, dengan sedikit melembutkan nada bicaranya.


Mendengar pertanyaan itu, An chen pun memalingkan wajahnya kearah lain. Jujur saja ia sendiri kurang tahu mengenai perasaan yang secara tiba-tiba berubah-ubah dalam dirinya saat ini.


“Entah, aku tidak tau! ” Jawabnya jujur, dengan suara yang pelan.


Sedikit malu rasanya jika harus berkata jujur di hadapan pria tua itu.

__ADS_1


“Tidak tau?.... ” Tuan Eiji mengulangi perkataan An chen dengan nada heran.


“Entahlah!!! ” Bentak An chen secara tiba-tiba dengan nafas yang mulai naik turun. “Aku merasa gelisah secara tiba-tiba, dan itu membuatku kesal dan emosi!! ” Bentaknya lagi, yang mengutarakan unek-unek di hatinya.


Mendengar hal itu, tuan Eiji pun kini menghela nafasnya dengan berat. “Aku ini sudah tua, haruskah menghadapi bocah tidak waras sepertinya? ” Tanyanya dalam hati kepada diri sendiri.


“Cek! apakah itu karena kau mendengar berita ‘nya’?.... lalu kau gelisah tanpa sebab dan melampiaskan nya kepadaku?! ” Tanyanya dengan sedikit emosi.


An chen pun sedikit menundukkan kepalanya dan menggaruk-garuk tengkuk kan lehernya dengan salah satu tangan sembari berkata. “Sepertinya begitu! ” Ucapnya singkat, dengan perasaan canggung.


Mendengar jawaban dari bocah gila itu, tuan Eiji pun mengerutkan keningnya dengan kesal. “Bocah sepertimu tidak akan dipaksa ikut dalam medan perang, jadi kau tidak perlu khawatir dan gelisah sampai seperti tadi! ” Ucapnya, sembari membalikkan badan dan mulai mengambil langkah pergi.


“Aku tidak takut perang!!! ” Ucapnya yang membuat tuan Eiji menghentikan langkah kakinya. “ Justru aku ingin ikut serta dalam peperangan!!.... aku ingin mendapatkan pengalaman istimewa seperti para prajurit yang lain, namun bocah sepertiku memang masih belum bisa untuk terjun dalam peperangan, dan hal itulah yang membuatku kesal!!! ” Ucapnya, sembari mengepalkan kedua tangannya erat-erat.


“Aku seperti tidak berguna!!!.... apakah kemampuanku masih kurang?!!!... tidakkah aku sudah cukup hebat?!!! ” Ucapnya lagi, sembari berteriak marah.


Mendengar itu, tuan Eiji pun sedikit menoleh kebelakang, menatap wajah yang kini juga menatapnya dengan pancaran mata yang tajam. “Kau memang hebat, dan aku mengakui akan hal itu! ” ia terdiam untuk sesaat, kemudian kembali menghadap kearah An chen sembari berkata. “Namun kau masih terlalu naif, bahkan kau masih belum bisa mengendalikan emosimu! ” Ucapnya lagi


Tangannya terangkan dan jari telunjuknya terarah pada wajah An chen yang nampak kesal. “Jika kau tidak bisa mengendalikan emosi dalam dirimu, maka kau akan menjadi orang pertama yang gugur dalam medan perang dengan cara yang konyol!!” Ucapnya, dengan tegas.


Jelas itu adalah sebuah teguran.


Dan An chen yang mendengar itupun kini mulai menyadari kebodohannya, jujur kini ia merasa lebih malu lagi. Hingga ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya sembari memejamkan matanya dan berusaha untuk menenangkan diri.


“Sialan!!” Gumamnya lirih.

__ADS_1


Sedangkan tuan Eiji yang melihat bahwa An chen telah menyadari kesalahannya, ia pun menghela nafas dan berkata. “Kau mungkin tidak bisa pergi ke medan perang, namun setidaknya kau masih bisa tetap tinggal dan menjaga keamanan ‘seseorang’ bukan?”


__ADS_2