
Di sisi lain, seorang gadis pelayan dengan rambut pendek hampir sebahu kini terlihat sedang berjalan menuju ke suatu tempat dengan sesuatu di tangannya pada malam hari.
Ada sebuah kerutan tipis yang timbul di antara kedua alisnya, memperlihatkan keresahan yang gadis pelayan itu rasakan.
Dan saat langkah kakinya telah sampai pada suatu tempat, ia berhenti sesaat dan menoleh ke arah pelayan lain sembari berkata. “Apakah tabib istana sudah datang?” Tanyanya, dengan masih menunjukkan ekspresi resah di wajahnya.
Sedangkan sang pelayan yang di tanyai tadi itupun kini menganggukkan kepalanya dengan cepat, lalu ia berkata. “Tabib sudah datang, kini ia sedang memeriksa keadaan permaisuri! ” ia sedikit melirik ke belakang, menatap sebuah pintu ruangan yang terbuka dengan perasaan cemas. “Sebaiknya kau cepat ke sana!.... permaisuri menanyakan keberadaan mu berkali-kali sedari tadi. ” Ucapnya lagi.
Mendengar hal itu, Annchi segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam suatu ruangan tanpa memperdulikan sosok pelayan yang ia tanyai tadi.
“Uhngk!!.... ”
Baru saja ia melangkahkan kakinya masuk, suara seseorang yang sedang menahan rasa mual itu langsung terdengar oleh telinganya. “Permaisuri, apakah kau baik-baik saja? ” Ia bertanya pada sosok cantik yang kini duduk di tepi ranjang dengan salah satu tangan yang menutupi mulutnya.
“Aku baik baik saja, hanya sedikit mu__uhngk!!” Sosok cantik itu menjawab, namun tiba-tiba terhenti saat rasa mual itu kembali menyerang dirinya.
Pandangan mata Annchi pun kini beralih pada seorang tabib yang berdiri tidak jauh dari sisi An xia berada, kemudian ia mengisyaratkan sebuah pertanyaan dengan menaikkan salah satu alisnya.
Melihat hal itu, sang tabib pun sedikit mengerutkan alisnya. Jujur ia sedikit bingung dengan bahasa gaib yang Annchi gunakan padanya saat ini. “Kenapa dia menatapku seperti itu?” Ia bertanya pada dirinya sendiri dalam hati, kemudian matanya melirik ke arah An xia untuk sesaat dan.....
“Ah! begitu? ” kini ia mulai paham, dan segera menjawab pertanyaan pertanyaan yang tampak pada raut wajah pelayan itu. “Tidak ada masalah, permaisuri baik baik saja! ” Jawabnya singkat.
__ADS_1
Namun rasa cemas dalam diri Annchi masih belum hilang, alhasil ia pun kembali berkata. “Tapi ia terus muntah, nafsu makannya pun sedikit menurun, bahkan wajahnya kini sedikit pucat! ” Ucapnya, pada tabib itu.
Sang tabib yang mendengarnya pun menghela nafas, kemudian ia kembali melirik ke arah An xia untuk yang kedua kalinya dan berkata. “Hal-hal seperti itu memang wajar jika di alami oleh wanita hamil, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan! ” Jawabnya lagi.
“Tapi sebelumnya ia tidak pernah__”
“Annchi, aku baik-baik saja! ” An xia tiba-tiba menyela, memotong kata kata Annchi dan membuat gadis pelayan itu berhenti bertanya.
Setelah beberapa saat terdiam dan membersihkan mulutnya yang sedikit kotor dengan saputangan, kemudian An xia pun kembali berkata. “Aku sudah bilang tidak perlu repot repot memanggilnya, aku sendiri pun tau betul bagaimana kondisi ku! ” Ujarnya sembari melirik ke arah tabib tadi.
Annchi yang mendengar hal itupun kini memasang wajah cemberut dan bergumam dalam hati. “Mau bagaimana lagi? jika sesuatu terjadi padamu maka kaisar tidak akan menaruh belas kasihan padaku!! ” ia sedikit mendesah, setiap kali mengingat bagaimana kaisar Zhuang memperingatkan dirinya tentang menjaga An xia dengan sedikit ancaman kecil, semenjak itu ia sama sekali tidak bisa tidur tenang baik malam maupun siang. “Aku hanya sedikit khawatir!” Ucapnya, kemudian matanya kembali melirik ke arah tabib tadi.
apalagi dengan postur tubuh yang tegak dan sedikit tinggi, serta wajahnya yang lumayan itu membuat Annchi bertambah curiga. “Ia ‘Sedikit’ terlalu menawan untuk seorang tabib!.... hemp!! hanya ‘sedikit’!! ” Gumamnya lagi, setelah ia memperhatikan tabib itu dengan lebih teliti.
Sedangkan sang tabib yang mendapat pertanyaan dan tatapan penuh curiga dari gadis pelayan itupun kini menghela nafas berat. “Jika kau curiga padaku, lalu mengapa kau mengganggu tidur ku di tengah malam dan menyuruh para penjaga untuk menyeret paksa diriku yang tidak berdaya ini?!!! ” Gumamnya, dengan perasaan geram dalam hati.
Ia ingat betul bagaimana teganya para penjaga yang secara tiba-tiba mendobrak pintu saat ia sedang menikmati waktu tidurnya yang nyaman dengan selimutnya yang hangat. “Aku tau gaji yang ku dapatkan memang cukup banyak, namun cara kalian membangunkan seseorang begitu tidak manusiawi!! ”Gumamnya, yang menggerutu dalam hati lantaran tak terima dengan perilaku kasar gadis pelayan itu.
“Wahai nona, kepalaku sudah pasti menghilang sedari awal jika memang aku adalah seorang penjahat seperti yang ada di pikiranmu!!” Ia membela diri, kemudian melipat kedua tangannya di depan dada dan kembali berkata. “Lagipula aku berani bersumpah tidak akan bertindak yang macam macam, aku selalu memegang prinsip hidup tenang dan damai! ” Ujarnya lagi.
Disisi lain, An xia yang sedari tadi menahan mual pun kini semakin di buat mual dengan keributan yang dua orang itu lakukan.
__ADS_1
Kerutan di dahinya pun semakin mendalam, menunjukkan bahwa ia sekarang merasa begitu tidak nyaman. “Diamlah!!” Ia membuka suaranya yang sedikit lantang, namun tidak pula terdengar seperti berteriak. “Annchi, jika terus berdebat maka aku akan mengikat tanganmu dengan tangannya seperti apa yang aku lakukan dulu terhadapmu!” Ucapnya lagi.
Mendengar hal itu, Annchi pun segera membungkam mulutnya. Masih teringat jelas di kepalanya saat saat yang sangat memalukan itu!..... seharian penuh tangannya terikat dengan tangan Fai, dan bagian yang paling tidak ia suka adalah saat ‘kencing’.
Annchi Buru buru menggelengkan kepalanya dengan cepat, menutup mulutnya rapat rapat demi menghindari ‘musibah’ itu terulang kembali.
Kemudian, An xia kini beralih menatap kearah tabib muda tadi. lalu ia melambaikan salah satu tangannya dan berkata. “Kau boleh pergi! ” Ucapnya singkat, yang dibalas dengan anggukkan kecil oleh tabib itu.
Saat tabib muda itu melangkahkan kakinya keluar, samar samar ia masih dapat mendengar suara An xia yang memerintahkan Annchi untuk melakukan sesuatu.
Namun ia tidak terlalu perduli dan sama sekali tidak ingin tau, karena yang tabib itu pikirkan saat ini hanyalah tidurnya.
Memang betul jika ia memiliki kemampuan yang hebat sebagai tabib, dan di sisi lain ia juga mempunyai penampilan yang cukup menawan pula sebagai seorang pria.
Akan tetapi, ia memiliki satu kekurangan.... yang itu sifatnya yang sangat pemalas!!.... bahkan ia lebih mencintai kasur serta selimutnya ketimbang wanita wanita cantik di luar sana.
“Hemm, kini itu tidak benar!..... wanita seperti permaisuri cukup menawan, bahkan saat ia muntah di hadapan ku sekalipun. ” Gumamnya, namun ia masih memiliki akal sehat untuk tidak menaruh hati pada sembarang orang.
Apalagi jika itu adalah wanita milik kaisar, bisa bisa impiannya untuk tidur tenang terkabulkan. namun dengan tanda kutip ‘tidak akan pernah bangun lagi’.
“Yah, selezat apapun racun itu dan sehaus apapun dahaga mu kau tetap tidak boleh meminumnya bukan?” Gumamnya lagi pada diri sendiri, dan memilih untuk lebih fokus dalam menjalani kehidupan yang tenang dan damai.
__ADS_1