
Rombongan itu kini telah memasuki hutan yang berada di dekat perbatasan kerajaan Han. Hutan dengan banyaknya pohon pohon yang rindang itu terasa begitu menyejukkan.
Suasananya pun terasa sunyi dan hening, membuat suara ketukan sepatu kuda kini terdengar begitu jelas.
Walaupun hutan ini sama sekali tidak berbahaya, namun para prajurit kini tetap bersikap waspada.
Lantaran orang yang harus mereka jaga adalah seseorang yang penting bagi kerajaan Han, maka kelalaian sedikitpun tidak akan pernah di maafkan.
Sepanjang perjalanan, semua orang hanya terdiam. Sama sekali tidak ada yang berniat untuk berbicara apalagi mengobrol.
Benar benar suasana yang begitu sunyi dan hening!
Dua orang prajurit yang berada di barisan paling depan dengan tombak besi di tangan mereka kini nampak melirik kearah sekitar.
Dua orang prajurit itu adalah orang dengan kemampuan lebih!.... mereka memiliki insting dan pendengaran yang begitu tajam, karena itulah mereka berdua diletakkan di barisan yang paling depan.
Jika sewaktu waktu ada bahaya yang akan datang, kedua prajurit itu dapat dengan cepat memperingatkan yang lain untuk bersiap siap.
Tiga jam rombongan itu berjalan menyusuri hutan, hanya tinggal sedikit lagi maka mereka akan tiba di pintu gerbang.
Namun, kedua prajurit di barisan yang paling depan tadi tiba tiba menghentikan langkahnya dan mengangkat salah satu tangan sebagai isyarat untuk berhenti.
Rombongan di belakangnya yang melihat itupun segera menghentikan langkahnya. Tidak ada yang bicara, semua orang diam dan mempertajam indera pendengarannya.
Mata semua orang melirik sekitar, kewaspadaan mereka kini meningkat selagi tangan mereka bersiap siap untuk menarik pedang dari sarungnya.
Salah satu dari dua prajurit yang berada di barisan paling depan tadi berniat untuk memeriksa keadaan sekitar.
Namun, baru beberapa langkah ia menginjakkan kakinya. Tiba tiba sebuah anak panah melesat dan menembus dadanya hingga ia terjatuh dan tewas seketika.
Tidak hanya prajurit itu, beberapa anak panah yang melesat kini juga mengenai jantung para prajurit lain yang berada di barisan depan.
__ADS_1
Dan hal itupun sontak membuat para prajurit beserta sang Jendral besar An Changyi langsung menarik pedangnya dan turun dari atas kuda.
Beberapa tembakkan anak panah kembali terjadi, dan para prajurit yang telah siap pun menepis anak panah itu dengan pedangnya.
An Changyi segera berlari ke arah kereta kuda yang dinaiki oleh An Xia dan menepis semua anak panah yang melesat ke arah kereta kuda itu.
Tidak berselang lama, beberapa orang tak di kenal yang menutup setengah wajahnya pun turun secara tiba tiba dari atas pohon.
Di tangan masing masing dari mereka semua terdapat sebuah pedang panjang yang terlihat begitu tajam dan berbahaya.
Di lihat dari pakaian mereka yang terlihat sama seperti sebuah seragam, sudah sangat jelas kalau mereka adalah sebuah kelompok pembunuhan bayaran.
Beberapa dari kelompok itu menyerang para prajurit dengan begitu brutal, sedangkan sebagian besar yang lain bergerak menyerang kearah kereta kuda yang An Xia tumpangi.
Namun, untuk menyerang seorang ‘Calon permaisuri dari Kerajaan Han’ itu bukanlah hal yang mudah. Nyatanya dari sisi lain, beberapa orang berpakaian serba hitam muncul dan menyerang sekelompok pembunuh bayaran itu dengan tidak kalah brutal.
Beberapa dari penjaga bayangan kini mengelilingi kereta kuda An Xia. Di tangan mereka kini terdapat sebuah pedang yang telah siap untuk menebas kepala siapapun musuh yang akan mendekat.
Baik pihak kawan maupun lawan merupakan saingan yang sebanding!..... sangat sulit rasanya untuk menebak siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah.
Di dalam kereta kuda saat ini, An Xia masih nampak begitu santai dengan kedua mata yang tertutup.
Sedangkan An chen, bocah laki laki itu sama sekali tidak merasa takut dengan keadaan di luar kereta saat ini.
Walaupun pada awalnya ia merasa terkejut, namun saat melihat sang kakak yang nampak begitu tenang. An chen pun juga melakukan hal yang sama.
“Jika kakak kedua tidak khawatir, lalu kenapa aku harus khawatir? ” Mungkin itulah yang terlintas di benak An chen saat melihat sikap kakak keduanya itu.
Entah apakah kedua kakak beradik itu memang terlalu santai atau akal sehatnya yang sudah sakit, namun apapun itu ketenangan mereka patut di akui jempol.
Walau suara teriakkan dan dentingan pedang terus menggema, serta bau bau amis darah dari para korban yang berguguran menyengat hidung.... An Xia sama sekali tidak memiliki niatan untuk keluar dan membantu.
__ADS_1
“Tidak perlu bagiku untuk turun tangan jika menghadapi maslah sekecil ini!” Kemudian An Xia tersenyum sinis, “Entah orang bodoh mana yang berusaha menyerang diriku. ” Gumamnya dalam hati.
Di luar kereta kuda saat ini, pihak musuh semakin bertambah!.... An Changyi dan yang lain sedari tadi berjuang untuk menebas kepala musuh sampai habis.
Namun, bukannya habis.... jumlah mereka semakin bertambah. Tebas satu turun seribu, mungkin itulah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan situasi saat ini.
Walaupun pihaknya kini kalah jumlah, namun dengan perpaduan dari kemampuan prajurit An Changyi dan Kerajaan Han.
Itu masih bisa di tangani!!
Pertarungan masih terus berlanjut. walaupun sulit, namun pihak musuh sedikit demi sedikit telah berhasil mengurangi jumlah prajurit yang menjaga kereta kuda An Xia.
Sedangkan di sisi lain, An chen kini tengah mengintip kejadian di luar dari dalam kereta dengan begitu tenang. Seolah olah yang ia tonton saat ini adalah pagelaran hiburan.
Melihat tingkah adiknya itu, An Xia pun terkekeh pelan. “An chen, kau tidak takut mati? ” Tanyanya dengan sebuah nada gurauan.
Mendengar itu, An chen pun melirik ke arah An Xia sekilas lalu berkata. “Mengapa harus takut?... ” Kemudian, pandangannya kembali untuk melihat pertarungan sengit di luar sana. “.... mati ya mati saja!... bukankah itu yang kakak katakan dulu?! ”Ucapnya sambil masih fokus menonton pertunjukkan di luar.
An Xia yang mendengar ucapan adiknya itupun tertawa kecil. Rupa rupanya An chen telah mengingat seluruh ajarannya!.... namun hanya perlu mempraktekkannya saja.
Kembali kepada situasi tegang di luar sana. Pasukan yang bertugas untuk melindungi kereta kuda An Xia kini semakin lama semakin berkurang.
Telah banyak di antara mereka yang gugur di tangan pihak lawan!
Dan saat pihak lawan telah berhasil mengepung kereta kuda An Xia yang hanya di jaga oleh empat pengawal bayangan yang tersisa.
An Changyi pun dengan gesit nya menyerang siapapun yang berani mendekat. “Jangan pernah kalian berfikir untuk menyentuh putriku selagi ayahnya masih hidup dan bernafas!!! ” Ucapnya dengan begitu lantang kepada pihak lawan.
Aura yang begitu mendominasi khas seorang jenderal besar kini dapat di rasakan oleh para musuh.
Dalam hati, mereka sempat merasa takut, gentar dan ingin menyerah. Namun mengingat kalau misi kali ini adalah sebuah hal yang penting, merekapun mengurungkan niatnya untuk menyerah.
__ADS_1
An Changyi menatap sengit ke arah lawannya, walaupun mereka adalah lawan. Namun An Changyi harus mengakui kemampuan mereka. “Kuat dan pantang menyerah, sungguh hal yang bagus!.... namun sayangnya mereka adalah musuh yang harus di bunuh!!.” Gumamnya dalam hati.