
Sebuah kerutan pun tiba tiba terbentuknya di antara kedua alis An chen, ekspresi yang bocah itu tunjukkan pun terlihat begitu kesal setelah mengetahui apa penyebab kakaknya itu tidak bisa mengunjungi dirinya.
Masih dengan dahi yang berkerut dan wajah yang cemberut, An chen pun membuka mulutnya dan berkata. “Tidakkah itu sangat menyebalkan?..... aku sudah menunggu mu selama berhari-hari, namun kau tak kunjung datang hanya karena kaisar itu!! ” Ucapnya dengan nada yang terkesan marah.
Melihat kekesalan dalam diri sang adik, An xia pun kembali terkekeh dan berkata. “Tapi setidaknya kau masih bisa mengunjungi ku kan? ” Ia tersenyum, kemudian mengulurkan tangannya dan membelai rambut adiknya itu dengan lembut. “Belakangan ini sering terjadi masalah, apalagi dengan pihak musuh yang sudah mulai menunjukkan pergerakkan!...... Yang mulia tidak ingin mengambil resiko jika sewaktu waktu kakakmu ini berada dalam bahaya, terutama dengan bayi yang aku kandung saat ini. ” Ucapnya dengan tutur kata yang begitu lembut.
Annchi yang sedari tadi mendengar perbincangan antara dua saudara itupun kini mulai membuka suara. “Permaisuri, kau bisa menyelinap keluar istana secara diam diam!” Ia melirik kanan dan kiri, berusaha untuk memastikan bahwa tidak akan ada orang lain yang akan mendengar ucapannya nanti. “Yang mulia kaisar kini tengah sibuk dengan beberapa urusan, ini adalah kesempatan yang tepat.... menurutku! ” Bisiknya, namun ada sedikit keraguan pada kalimat terakhir yang ia ucapkan.
Menyadari keraguan itu, salah satu alis An xia pun terangkat selagi mulutnya berkata. “Kenapa?..... Apakah kau sudah lupa?” Ia mendengus, kemudian melirik sekitarnya yang tampak sepi itu dengan ekspresi malas. “ Apakah kau bisa menghitung seberapa banyak penjaga gelap yang suamiku itu tempatkan di sekitarku saat ini?!” Ucapnya dengan nada bicara yang sedikit meninggi.
Sengaja ia lakukan untuk menyinggung para penjaga yang kini tengah menahan nafasnya dengan keringat dingin di balik kegelapan yang tersembunyi.
Mendengar itu, Annchi pun serasa ingin sekali memukul keningnya dengan keras. Bagaimana ia bisa lupa dengan sifat posesif kaisar itu terhadap majikannya ini?!!
An chen yang juga mengerti hal itu pun hanya bisa menghela nafasnya dengan berat. Walau bagaimana pun, keselamatan kakaknya itu adalah hal yang utama.
Dirasa berbicara sembari berdiri tidaklah nyaman, Annchi pun segera menyarankan kedua saudara itu untuk berbicara dan mengobrol di tempat lain. “Permaisuri, tuan muda kelima!” Panggilnya yang membuat kedua orang itu menoleh secara bersamaan. “Akan lebih baik jika kalian berbicara di tempat yang lebih nyaman, apalagi dengan kondisi permaisuri saat ini! ” Ucapnya lagi.
...»»————>❀<————««...
Suasana pagi itu masih terasa sejuk di kulit, di tampah lagi dengan kolam dan bunga bunga teratai yang memanjakan mata bagi siapapun yang melihatnya.
Dengan hati hati, An xia mendudukkan dirinya di sebuah gazebo yang terletak di antara taman dan kolam yang berisikan bunga bunga teratai.
Sedangkan An chen yang memang gemar di manja orang sang kakak pun memilih untuk duduk di samping An xia dengan senyuman nya yang polos itu. “Kakak kedua, kapan kaisar memiliki waktu senggang untuk mengajariku berpedang?! ” Tanyanya, yang bertujuan untuk memulai perbincangan.
An xia yang mendengar pertanyaan itu pun terdiam untuk sesaat sebelum ia menjawab. “Aku tidak tau! ” salam satu tangannya meraih sebuah kue kering yang Annchi bawakan untuknya. “Tunggu saja sampai kepala raja itu terpenggal dari lehernya! ” Ucapnya lagi dengan santai, kemudian melahap kue di tangannya tadi.
__ADS_1
An chen pun mengangguk anggukkan kepalanya, mengerti dengan apa yang kakaknya itu bicarakan. “Aku dengar kau saat ini berteman dekat dengan kedua nona muda dari keluarga Shen? ” Ucapnya dengan curiga. “ Jika itu orang lain mereka pasti akan percaya, tapi tidak denganku!..... muslihat apa lagi yang kakak siapkan untuk bermain main dengan mereka berdua? ” Ucapnya lagi, jujur ia sedikit merasa penasaran dengan apa yang akan kakaknya itu perbuat.
Sedangkan An xia yang mendengar itupun hanya diam sembari mengunyah makanan di mulutnya dengan santai. Membuat An chen yang melihat nya itupun mendengus kesal akibat merasa tak dihiraukan.
Tau bahwa sang tuan muda kini kembali menunjukkan wajah cemberut yang begitu menggemaskan, Annchi pun berkata. “Tuan muda, kau cukup pintar untuk anak anak seusia mu! ” Ia tersenyum dan melirik kearah An xia dengan pandangan penuh arti. “Tapi kau masih belum cukup pantas jika harus mengetahui masalah seperti ini! ” Ucapnya lagi dengan nada guyonan.
Bukannya merasa puas dengan jawaban yang Annchi berikan, kekesalan dalam diri An chen pun semakin menambah. “Hemp!!..... kalian selalu menganggap ku anak kecil!!.... tidakkah kalian melihat seberapa tingginya badanku ini?!! ” Ucapnya yang mengundang gelak tawa bagi siapapun yang mendengarnya.
Di saat An chen kini tengah tersipu malu akibat di tertawa kan, An xia kini justru larut dalam pikirannya sendiri.
Kedua tangan wanita itu menyentuh perutnya yang rata, guratan kekhawatiran pun mulai nampak di wajahnya. Entah bagaimana, ia tiba tiba membayangkan sesuatu yang mengerikan.
Sesuatu yang membuat hatinya merasa cemas dan sesak!
“Perasaan macam apa ini?... ” Ia menyentuh dadanya dan sedikit menekannya untuk mengurangi rasa gelisah. “...Sebenarnya apa yang akan terjadi?! ” Gumamnya lagi dalam hati.
Perlahan wanita itu mendongakkan kepalanya, menatap langit biru yang nampak begitu cerah di pagi hari yang sejuk. “Lagipula aku sudah pernah menaklukkan kematian!..... apalagi yang perlu aku takutkan?! ” Gumamnya lagi yang disertai dengan helahan nafas lega.
“Kakak kedua, apa yang sedang kau pikirkan?! ”
Tiba tiba suara itu mengagetkannya dari lamunan, membuat kepalanya secara otomatis menoleh ke sumber suara dengan tatapan terkejut. “Iya?... a... apa yang kau katakan barusan? ” Tanyanya dengan linglung.
Sadar bahwa sang kakak baru saja melamun kan sesuatu, An chen melipat kedua tangannya di depan dada seraya berkata. “Apa yang sedang kakak kedua pikirkan?..... Tidakkah kau lihat mereka kini tengah menertawakan diriku?!! ”Ucapnya sambil menunjuk kearah Annchi dan para pelayan lain yang tengah menahan tawa.
Melihat hal itu, An xia pun tersenyum dan menggelengkan kepalanya. “Jika mereka berani menertawai mu, maka mereka harus meminum air kolam hingga habis tak tersisa!! ” Ucapnya dengan ekspresi terhibur.
Namun Annchi dan para pelayan yang mendengarkan nya pun seketika membeku dengan wajah pucat!..... Manusia mana yang akan mampu meminum air kolam hingga habis?.... Tidakkah itu merupakan hukuman yang begitu kejam?!
__ADS_1
...»»————>❀<————««...
Disisi lain saat ini, Shen min yue tampak sedang merencanakan sesuatu secara diam diam.
Bahkan gadis itu kini tengah membungkam mulut para pelayan yang bertugas menyajikan makanan dengan beberapa koin dan perhiasan yang ia miliki.
Shen min yue kini tersenyum licik, menandakan bahwa akan terjadi sesuatu kepada seseorang yang cukup dekat baginya. “Semuanya telah lancar, tinggal menunggu hasilnya saja! ” Ia melangkahkan kakinya pergi, namun senyum licik diwajahnya masih terpampang dengan begitu jelas. “Pertunjukkan ini pasti akan sangat manis..... adikku! ” Gumamnya lagi dalam hati.
Di saat Shen min yue terus melangkahkan kakinya untuk pergi, para pelayan yang masih berada di tempat itupun kini saling berbisik bisik.
“Apakah kita akan tetap aman? ” Tanya seorang pelayan dengan wajah khawatir.
Mendengar pertanyaan itu, seorang pelayan pria pun berkata. “Selama mulut kita terkunci rapat, maka raga dan nyawa tidak akan terpisah! ” Ucapnya sambil berbisik.
Beberapa pelayan pun menganggukkan kepalanya, mereka tentu sependapat dengan pelayan pria yang satu itu. Tugas mereka saat ini hanyalah menutup mulut rapat rapat, dan berpura pura buta dengan apa yang akan terjadi nanti.
...»»————>❀<————««...
Tak terasa warna cerah di langit kini telah tergantikan dengan warna gelapnya malam. Membuat beberapa orang mulai sibuk untuk menyalakan api api kecil sebagai penerangan.
Tiga orang pelayan kecil kini tengah berjalan menuju ke suatu tempat dengan keranjang berisikan pakaian pakaian kotor di tangan mereka.
Sesekali ketiga pelayan itu saling mengobrol sembari terus melangkahkan kakinya.
Di kediaman Shen ini, para pelayan memang telah di didik dengan begitu tegas. Namun jika ada kesempatan, mereka akan sangat senang untuk saling mengobrol dan tertawa bahagia dengan pelayan yang lain.
Namun di saat mereka melewati sebuah bangunan terpencil di kediaman itu, langkah kaki merekapun tiba tiba berhenti!....
__ADS_1