
Di sisi lain, An xia yang kini sedang bersama dengan suaminya pun merasakan perasaan tidak enak yang secara tiba-tiba mengganggu hati serta pikirannya.
Entah apa penyebab utamanya, namun yang jelas itu bukanlah sesuatu yang baik!
Raut wajahnya pun perlahan-lahan memburuk, kaisar Zhuang yang secara kebetulan menatap kearahnya pun menyadari hal itu dan mengerutkan keningnya dengan bingung. “Permaisuri ku, ada apa? ” Tanyanya, yang membuat An xia sedikit tersentak dan menoleh kearahnya.
“Apakah kau merasa tidak nyaman dengan tubuhmu? ” Tanyanya lagi, sembari meraih tangan istrinya itu dan menggenggam nya dengan lembut.
An xia menggelengkan kepalanya dengan ragu, walaupun perasaan tidak nyaman itu masih melekat di hatinya, namun ia tetap berkata. “Aku baik-baik saja, mungkin karena terlalu lelah suasana hatiku jadi sering berubah-ubah! ” Ucapnya, yang berusaha untuk mengabaikan perasaan tidak mendasar yang ia alami.
Mendengar jawaban yang An xia berikan, kaisar Zhuang pun sedikit merasa lega. “Baguslah kalau begitu, aku pernah mendengar kalau seorang ibu hamil akan memiliki sifat yang sensitif terhadap suatu hal! ” Ucapnya, lalu mengecup tangan An xia yang ia genggam.
“Seperti itu kah? Kau rupanya tau banyak tentang kehamilan! ” Ucap An xia, yang bertujuan untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Mendengar itu, kaisar Zhuang pun terkekeh kecil dan berkata. “Setidaknya aku harus sedikit belajar tentang ini untuk berjaga-jaga!” ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan. “Jika kau merasakan sakit atau kurang nyaman, langsung katakan saja!.... Aku tidak akan senang jika terjadi sesuatu kepadamu.” Lanjutnya.
An xia pun menganggukkan kepalanya pelan, kemudian menaruh salah satu tangannya pada perut sembari berkata. “Aku akan menjaga diriku dan anak ini dengan baik, kau tidak perlu khawatir! ” ia menghela nafas dengan berat, kemudian melanjutkan. “Dari pada aku, lebih baik kaulah yang harus menjaga dirimu dengan baik di medan perang nanti!.... Cepatlah kembali dan jangan biarkan istri mu ini menjadi seorang janda di usia muda!! ” Ucapnya lagi, yang seolah-olah sedang memberi perintah kepada seorang kaisar dengan nada angkuh.
Namun dibalik semua itu, kaisar Zhuang masih dapat merasakan rasa perhatian yang istrinya itu sembunyikan!
“Hem, mulutmu itu benar-benar perlu dihukum!!.... Tidak pernah mengatakan hal baik jika tidak ada maunya!!! ” Ucapnya, sembari mencubit hidung An xia dengan gemas.
Bagaimana bisa wanita itu mengatakan hal yang begitu menjengkelkan untuk di dengar?..... Setelah peperangan ini, sepertinya ia harus lebih memfokuskan diri untuk menjinakkan wanitanya.
Sedangkan An Xia kini hanya tertawa kecil lantaran merasa terhibur dengan ekspresi kesal yang suaminya itu tunjukkan. “Yang aku katakan tadi bukanlah hal buruk, anggap saja itu sebagai bentuk rasa perduli ku terhadapmu! ” Ucapnya masih dengan tawa kecil dan senyum lebar yang menghiasi wajahnya.
...»»————>❀<————««...
Kini tibalah saat dimana sang kaisar beserta pasukannya harus pergi meninggalkan istana demi memenangkan pertempuran di medan perang nanti.
Mereka terlebih dahulu melewati jalanan kota sebelum keluar melalui gerbang utama. Ada begitu banyak orang yang menyaksikan kepergian mereka, bersorak-sorak dengan keras dan memberikan semangat.
__ADS_1
“Aku tau, cepat atau lambat perang ini memang akan terjadi! ” Ucap seseorang.
Sedangkan orang lain yang berada di sampingnya dan secara tidak sengaja mendengar Kata-kata itupun menyahut. “Kau benar, ketegangan di antara dua kubu memang sudah terjadi dalam waktu yang cukup lama... ” Ia menghela nafas berat, kemudian melanjutkan. “...Dan sepertinya, hal itu hanya bisa di selesaikan dengan cara keras seperti ini!” Ucapnya lagi dengan raut wajah lesu.
Ada sedikit rasa khawatir dan takut dalam dirinya. Walaupun kaisar adalah orang yang kuat, namun keberhasilan dalam peperangan adalah sesuatu yang tidak pasti.
Entah bagaimana nasib mereka nanti, mungkin hanya takdir yang tau!
Di sisi lain, An Xia yang tidak diperbolehkan keluar dari istana pun hanya bisa memandangi kepergian sang suami dari jauh.
Wajahnya yang datar serta tatapan matanya yang kelam itu sama sekali tidak menggambarkan ekspresi apapun.
Bahkan tidak ada sedikit pun kegelisahan dalam dirinya di saat menyaksikan kepergian sang suami.
“Tidakkah kau takut? ” Tanya seseorang yang berdiri di belakang An Xia secara tiba-tiba.
Mendengar hal itu, An Xia pun sedikit melirik ke belakang. Kemudian, ia membuka mulutnya dan berkata. “Takut? Untuk alasan apakah rasa takut itu? ” Tanyanya, dengan santai.
Datar.....
Ekspresi datar itu masih tetap awet terpasang di wajah cantiknya, namun beberapa detik kemudian, sebuah senyuman tipis pun perlahan mulai terbentuk. “Soal kapan ia akan kembali lagi, memang tidak ada yang bisa menebaknya... ” ia terdiam sesaat, menatap lurus ke depan dan melanjutkan. “.... Namun, setidaknya aku telah menjamin keselamatannya! ” Ucapannya dengan yakin dan tanpa ragu.
Tuan Eiji yang mendengarnya pun mengerutkan keningnya lantaran merasa bingung dan tidak paham. “Telah menjamin keselamatannya?....” Ia bertanya dalam hati.“....Sebenarnya apa saja yang telah kau lakukan secara diam-diam? ” Tanyanya lagi.
Jika itu orang lain, mungkin tuan Eiji akan dapat mengetahuinya dengan sangat mudah.
Namun tidak jika orang tersebut adalah An Xia!..... Ada begitu banyak teka teki dalam pancaran matanya yang dingin.
Dan pada akhirnya, tuan Eiji memilih untuk berhenti menebak-nebak. Lagipula, cepat atau lambat ia akan tau dengan sendirinya bukan?
“Hemm, orang yang lebih suka bergerak secara diam-diam dan menyerang musuhnya dari arah belakang memang sangat sulit untuk di tebak!!” Ucapnya dengan sebuah senyuman mengejek di wajahnya.
__ADS_1
Kemudian, An xia pun menjawab. “Yah, setidaknya itu membuatku cukup pantas untuk menjadi seorang permaisuri bukan?” Tanyanya, dengan ekspresi penuh percaya diri.
Setelah mengatakan itu, ia pun segera pergi dan tidak lagi perduli dengan pria tua yang menatap nya dengan tatapan aneh itu.
Walaupun dirinya hanya di perbolehkan tinggal di dalam istana, namun bukan berarti ia tidak mempunyai kesibukan lain sehingga harus membuang buang waktu hanya untuk mengobrol dengan seorang pria tua bukan?
......»»————>❀<————««......
Sedangkan di tempat lain, Raja Bai Zhen kini tengah menatap serius ke arah bawahannya yang sedang menyampaikan sebuah informasi.Dan sembari mendengarkan dengan serius, raja itupun sedikit bergumam dalam hati. “Kaisar itu sudah mulai bergerak, namun hanya membawa pasukan dengan jumlah kecil untuk bertempur di medan perang?!... ” Ia bertanya, dan sedikit menggertak kan giginya dengan kesal. “.... Ba**ngan!!!dia jelas telah memandang remeh kemampuanku!!! ”gumamnya lagi, dengan kedua tangan yang mengepal erat.
“Yang mulia, ada apa?.... apakah kau mendengarkan ku? ” Tiba tiba suara dari seseorang itu membuyarkan pikiran Raja Bai Zhen.
Tatapannya pun kini teralihkan dan memandang ke arah bawahannya yang sedari tadi menyampaikan informasi. “Hemm?... ” ia menaikkan salah satu alisnya, kemudian membuka suara. “.... Aku mendengarkan mu, apa masih ada lagi? ” Tanyanya.
Sang bawahan yang mendengar pertanyaan itupun menggelengkan kepalanya, kemudian berkata. “Untuk saat ini hanya itu saja!” Jawabnya dengan singkat.
Raja Bai Zhen pun menganggukkan kepalanya, dan sebelum membiarkan bawahannya itu pergi, ia pun kembali bertanya. “Lalu, bagaimana keadaan ayahmu saat ini?..... sudah beberapa hari kau menggantikan posisinya sebagai tangan kanan raja karena kondisinya yang kurang baik, itu membuatku sedikit khawatir! ” Ucapnya, sembari menatap wajah bawahannya itu lekat-lekat.
Sedangkan sang bawahan yang mendengar pertanyaan tersebut pun kini terdiam untuk sejenak dengan kerutan tipis di antara kedua alisnya, kemudian ia menghela nafas dan berkata. “Hingga saat ini ia masih terbaring lemah di atas ranjangnya!... ”Ia menjawab, kemudian kembali berkata dengan nada sedih. “.... Apakah yang mulia menanyakan hal itu karena kurang puas dengan kemampuan hamba? apakah kemampuan hamba masih belum cukup untuk menggantikan posisi ayah sebagai tangan kanan yang mulia?” Tanyanya balik.
Dan pertanyaan itupun berhasil mengecoh Raja Bai Zhen hingga ia berkata. “Bukan begitu, kau salah paham, aku sama sekali tidak berfikir seperti itu!.... ” Ucapnya yang berusaha untuk membenarkan diri. “.... Jika kemampuan mu tidak cukup bagus, lalu bagaimana mungkin aku membiarkanmu berada di sisiku saat ini? ” Ucapnya lagi.
Sang bawahan yang mendengar perkataan Raja Bai Zhen pun tersenyum puas dalam hati.
Dan setelah terdiam untuk sesaat, Raja Bai Zhen pun kembali berkata. “Walaupun sebelumnya ayahmu sama sekali tidak pernah bercerita tentang dirimu, namun kemampuanmu itu jelas adalah warisan darinya!” Ucapnya.
Kemudian Sang bawahan pun menjawab. “Anda terlalu memuji, namun hamba merasa lega saat mendengarnya! ”
“Baiklah, kau boleh pergi jika sudah tidak ada urusan lagi!! ” Ucap Raja Bai Zhen yang memberikan izin kepada bawahannya itu untuk mengundurkan diri.
Dan pada akhirnya, Sang bawahan itupun segera melangkahkan kakinya pergi. Namun di balik wajahnya yang tertunduk patuh bagaikan anjing yang setia itu, diam diam sebuah senyuman sinis pun terukir tanpa sepengetahuan siapapun. “Sungguh orang yang sangat b*d*h!! ” Gumamnya, yang melontarkan kalimat ejekan dalam hati.
__ADS_1