
Hari demi hari pun berlalu. sudah satu minggu lamanya An Xia menempuh perjalanan menuju kuil bersama dengan Fai.
Sesekali jika dirinya merasa lelah, maka ia akan berhenti dan beristirahat sejenak untuk mengisi perut atau hanya sekedar mengistirahatkan kudanya.
Dan kini setelah menempuh perjalanan yang sangat jauh itu, An Xia akhirnya sampai pada tujuan.
An Xia turun dari kudanya, begitu juga dengan Fai. Untuk menuju kuil itu, sepertinya mereka harus melewati puluhan anak tangga terlebih dahulu.
Fai berjalan mendekat kearah An xia, kemudian ia berkata. “Nona An, kita telah sampai! ” Ujarnya kepada An Xia.
An Xia hanya mengangguk. “Aku tau!! ” Jawabnya singkat lalu melangkah dan menaiki satu persatu anak tangga di sana.
Melihat hal itu, Fai pun mengikutinya dari belakang.
Dan di saat An Xia memasuki wilayah kuil, gadis itu dapat melihat keberadaan sosok Rui yang sepertinya telah menanti kedatangannya.
“Rui!!! ” Panggil An Xia kepada pengawal pribadinya itu.
Rui yang merasa namanya di panggil oleh seseorang pun menoleh. Dan saat itulah sebuah sinar bahagia terbit di wajah Rui dikala pandangannya menangkap keberadaan sosok yang begitu familiar dan berjalan menuju ke arahnya dengan gaya yang elegan.
Dengan senyum lebar dan wajah berseri seri, Rui mengambil langkah besar untuk berjalan mendekat ke arah nona nya itu. “Nona pertama An, akhirnya anda kembali!! ” Ucapnya dengan penuh rasa syukur.
An Xia tersenyum tipis di saat melihat keantusiasan Rui dalam menyambut kedatangannya. “Rui, dimana Annchi? ” An Xia bertanya.
“Annchi, dia selalu menghabiskan waktunya duduk diam di dalam kuil dan berdoa untuk anda! ” Jawab Rui.
An Xia terkekeh, ternyata pelayannya itu benar benar berdoa untuknya. “Baiklah, kau siapkan kereta kuda!..... kita akan langsung kembali ke kediaman An sekarang juga!! ” Perintahnya dengan lemah lembut.
Rui pun mengangguk dengan antusias layaknya seorang anak kecil yang di ajak jalan jalan oleh ibunya. “Baiklah nona, pengawal mu ini akan melaksanakan perintah anda dengan senang hati!” Ucapnya patuh dan masih dengan senyum bahagia di wajah.
Setelah Rui pergi, An Xia pun melangkahkan kakinya memasuki kuil. Dan saat ia ada di dalam sana, ia bisa melihat sosok Annchi dengan cadar yang menutupi separuh wajah dan sedang berdoa dengan penuh hikmat.
Melihat hal itu, An Xia tersenyum hangat. Kemudian ia pun membuka suara. “Doa apa yang kau panjatkan untukku Annchi? ” Tanyanya yang membuat Annchi segera menoleh ke arahnya.
Dan saat Annchi menatap sosok An xia di hadapannya, kedua matanya pun mulai berkaca kaca. “No... Nona, kau... akhirnya datang juga!! ” Ucapnya haru lalu segera berlari dan memeluk An Xia.
Dengan air mata kebahagian, Annchi pun berkata kepada An Xia.“Hiks!.... hiks!.... nona, kenapa kau lama sekali?!!..... tidaklah kau memikirkan kami yang ada di sini?!!” Pelayan itu melepaskan pelukannya, kemudian menyeka air mata di wajahnya. “Pelayan ini selalu mengkhawatirkan keadaan anda!..... lihatlah!! punggungku sampai sakit karena terus duduk diam di dalam kuil!” Keluh nya dengan manja kepada An Xia.
Bukannya merasa risih dengan sikap manja Annchi, An Xia justru merasa gemas. Baginya Annchi adalah sosok adik, karena itulah An Xia sering kali memanjakannya walaupun ia adalah pelayannya.
An Xia mengusap usap rambut Annchi dengan gemas seraya berkata. “Segera bersiaplah!!.... kita akan kembali sekarang.” Ucapnya dengan lembut layaknya seorang kakak.
Seperti Rui tadi, Annchi pun juga mengangguk dengan penuh antusias. “Baiklah nona!! ” ucapnya lalu pergi begitu saja.
__ADS_1
Sedangkan Fai yang sedari tadi mengamati interaksi antara nona dan kedua bawan itu hanya bisa merasa kagum.
Rupanya An Xia juga bisa bersikap layaknya manusia yang penuh dengan kasih sayang.
Tak hanya itu, Fai juga tidak menyangka kalau orang selicik dan sekotor An Xia bisa memiliki dua orang bawahan yang terlihat polos seperti anak kecil yang tak pernah mengenal dosa.
Rui dan Annchi nampak polos dan lugu, tidak seperti majikannya!!
An Xia dan Fai pun menunggu, dan tak lama merekapun kembali setelah menyelesaikan urusannya.
Annchi yang pertama datang kini tak lagi memakai cadar dan rambut palsu, alhasil wajah polosnya itu kini nampak manis dengan senyum lebar di bibirnya.
Lalu Rui pun datang. Dan dengan sebuah senyum bahagia ia berkata. “Nona, hamba telah menyiapkan kereta kuda!” Ucapnya kepada An Xia.
An Xia mengangguk mengerti, kemudian ia melirik Annchi. “Bagaimana denganmu Annchi?.... tidak ada yang ketinggalan kan?” An Xia bertanya.
Annchi menggelengkan kepalanya. “Semuanya sudah siap dan tidak ada yang tertinggal nona! ” Ucapnya dengan yakin.
“Kalau begitu kita segera pergi, perjalanan menuju kediaman An sangatlah jauh!! ” Ucap seseorang yang pastinya bukan An Xia, melainkan Fai.
Baik Rui maupun Annchi pun segera menoleh untuk melihat seseorang itu.
Pandangan mereka berdua tertuju pada sosok Fai. Dalam hati, mereka merasa heran karena sama sekali tidak menyadari keberadaan orang itu.
Rui dan Annchi yang melihat sosok tak dikenal yang berdiri di samping nona nya itu segera merubah ekspresi wajahnya.
Yang tadinya terlihat cerah seperti mentari pagi yang menghangatkan, kini bagaikan balok es...... dingin dan datar.
Aura yang mereka keluarkan pun telah berbeda. sebuah aura pembunuh yang sangat pekat!!
Fai yang melihat dan merasakannya pun tertegun. kemana wajah polos dan lugu dari dua orang itu tadi?
Rui menarik pedangnya lalu mengarahkannya kepada Fai, dan dengan tatapan tajam, Rui berkata. “Siapa kau?!!! ” Tanyanya dengan dingin.
Annchi pun tak mau kalah, gadis manis berambut pendek itu juga menatap Fai dengan tajam. “Cepat katakan siapa dirimu atau kami akan mengulitimu hidup hidup!! ” Ucap Annchi dengan sarkas nya.
Fai kini gelagapan. Bukan karena dirinya merasa takut dengan ancaman mereka, namun itu karena dirinya sama sekali tidak menyangka kalau kedua orang bermuka polos itu dapat mengatakan hal hal seperti itu.
Fai menelan air liurnya dengan susah payah.“Seseorang pernah mengatakan kepadaku. Jangan pernah menilai seseorang dari tampilan luarnya!! ” Gumamnya dalam hati.
An Xia yang melihat itupun hanya bisa terkekeh pelan. “Tenanglah!!..... dia adalah Fai, dan mulai sekarang ia akan bersama dengan kita!! ” Ucapnya kepada Rui dan Annchi sebelum mereka berdua benar benar menguliti Fai hidup hidup.
Baru setelah An Xia mengatakan itu, Rui dan Annchi pun kembali bersikap normal seperti tadi.
__ADS_1
Annchi mengedipkan matanya dengan polos. “Begitukah?..... Kalau begitu aku minta maaf karena telah berbicara kasar kepadamu! ” Setalah itu, ia menarik tangan An Xia menuju kereta kuda. “Nona, mari kita berbicara di dalam kereta kuda!! aku ingin menceritakan tentang apa yang aku dan kakak lakukan kepada pelayan yang lain!! ” Ucapnya manja.
Fai di sana hanya bisa mematung. Seharusnya ia tidak perlu terkejut, jika An Xia seperti itu, maka seharusnya bawahannya juga memiliki sifat tak jauh berbeda.
Namun. disaat melihat itu semua, Fai tidak bisa untuk tidak merasa terkejut.
Rui yang melihat itupun menepuk bahu Fai pelan untuk menyadarkannya dari pamitan.
“Namamu Fai kan?.... sebaiknya kau jangan melamun, jangan sampai membuat nona menunggu!! ” Ucap Rui dengan ramahnya, dan setelah itu iapun melangkah pergi.
Fai di saja hanya bisa tertawa getir layaknya orang gila. Mungkin jika ia terus berada di dekat An Xia, dirinya akan benar benar gila!!
...»»————>❀<————««...
Di perjalanan kali ini, An Xia duduk di dalam kereta kuda bersama dengan Annchi, sedangan kan Fai dan Rui kini duduk bersama di tempat kusir.
Sedangkan kuda hitam kesayangan kaisar Zhuang?
Kuda hitam nan gagah itu kini bergabung dengan tiga kuda lainnya yang menarik kereta kuda agar bisa berjalan dengan cepat.
Di luar, Fai dan Rui terlihat sedikit akrab dengan saling mengobrol satu sama lain. Sesekali merekapun terdiam dan mendengarkan Annchi yang terus berkicau kepada An Xia di dalam kereta.
Seperti sekarang, dimana Fai mencoba mendengarkan Annchi yang bercerita kepada An Xia.
“Nona, apakah kau tau apa yang terjadi kepada pelayan dan pengawal yang lain? ” Annchi bertanya dengan mata binarnya.
An Xia menaikkan salah satu alisnya. Sejujurnya ia juga mereka penasaran dengan keberadaan para pelayan dan pengawal yang lain.
Dengan wajah tenang dan senyum lembut, An Xia pun bertanya. “Hem?.... dimana mereka sekarang Annchi? ” An Xia bertanya.
Annchi nampak Menyengir dan memamerkan deretan gigi gigi putihnya. “Hihihi!!... Nona, aku dan kakak membakar mereka sampai menjadi abu!!” Ucapnya masih dengan senyum lebar yang merekah.
Mendengar itu, An Xia pun terkekeh geli. Pantas saja ia tidak melihat mereka semua sedari tadi.
Kemudian An Xia kembali berkata. “Oh ya?.... lalu kenapa kalian melakukannya?.... dan kalian apakan abu mereka? ” Tanya An Xia dengan begitu santainya.
“Seperti kata nona yang waktu itu!....Jika ada yang mengetahui rahasia kita maka langsung lenyapkan!!...... Dan untuk menghilangkan bukti, kamipun membuang abu mereka di sungai! ” Jawab Annchi dengan penuh semangat tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.
An Xia mengangguk dengan puas saat mendengarnya. “Bagus!!.... Ternyata didik kan ku selama ini tidak sia sia!! ” Ucapnya yang benar benar merasa puas dengan kedua bawahannya itu.
Kemudian Annchi teringat akan Fai. “Emm... nona, bagaimana dengan ‘Dia’? ” Tanya Annchi sambil melirik ke suatu arah.
An Xia melambaikan tangannya dengan acuh. “Dia tidak akan berani!! ” Jawab An Xia yang selalu bersikap santai.
__ADS_1