
Seorang gadis cantik sedang berjalan dengan wajah yang terlihat sangat marah, bahkan aurah yang di keluarkan gadis itu begitu tidak bersahabat, bibir mungilnya yang semerah ceri itu terus berkomat kamit untuk memaki seseorang.
“ Putera mahkota sialan!!!.... dasar manusia buaya, sudah punya banyak selir masih saja mencari wanita yang lain!!! ” Gerutu gadis itu yang tidak lain adalah An xia.
An xia terus menggerutu di sepanjang perjalanannya, beruntung jalan yang sedari tadi An xia lewati sangat sepi.
“ Jika aku memiliki kesempatan untuk membunuh putra mahkota sialan itu, aku akan melakukanya!!!!!” Tangnnya terkepal erat saat mengingat bagaimana cara putra mahkota itu memperlakukan dirinya tadi.
“ Sialan!!!....hampir saja ‘anjing gila’ itu merebut ciuman pertamaku di kehidupan ini!!!” Lagi lagi An xia menggerutu dalam hati sambil menggunakan julukan ‘anjing gila’ untuk putra mahkota.
Karena terlalu sibuk dengan pemikirannya, An xia tidak menyadari keberadaan seseorang di hadapanya.
" Berrruuk!!..."
Tubuh mugil An xia tidak sengaja menabarak tubuh kekar pangeran ke dua, sedangkan pageran kedua memang sudah memprediksikan kalau An xia akan menaberak dirinya, namun bukanya menghindar... pangeran ke dua itu malah dengan senag hati di taberak oleh An xia.
Saat An xia akan terjatuh, dengan sigap pangeran ke dua itu menagkap tubuh An xia dan merangkul pinggang ramping An xia, manik mata mereka bertemu dan saling memandang untuk waktu yang cukup lama.
Mereka terus hanyut dalam pemikiran masing masing, sampai pada akhirnya An xia tersadar dari lamunannya dan mendorong tubuh pangeran ke dua itu pelan.
Kemudian An xia membungkuk." Salam kepada pangeran ke dua!!....tolong yang mulia memaafkan kecerobohan gadis ini..." An xia meminta maaf denan memasang wajah bersalah, namun berbeda dengan hatinya yang malah memaki pangeran ke dua.
“Daras payah!!!...apakah kau seorang idiot?!!..ada orang yang sedang melamun kau malah tidak menghindar, dasar bodoh!!!” An xia memaki pangeran ke dua itu, sedangkan pangeran ke dua yang tidak tahu isi pikiran An xia hanya tersenyum lembut.
“Tidak masalah!!...tadi aku juga sedang memikirkan sesuatu, karena itulah aku tidak menyadari kedatanganmu” Pangeran ke dua itu berbohong di hadapan An xia, dan bodohnya An xia percaya begitu saja.
“ Kalau boleh tahu...sedang apa nona pertama An sendirian di sini?...” Pangeran ke dua itu bertanya dengan lembut kepada An xia.
Sedangkan An xia ingin sekali mebutar bola matanya malas di hadapan pangeran yang satu ini untuk menunjukan kalau dirinya sangat malas berbicara dengan ‘orang asing’ seperti pangeran ke dua.
“Gadis ini hanya sedang berjalan jalan saja dan tidak sengaja tersesat di istana yang luas ini...” Ucap An xia sambil menundukan kepalanya berpura pura merasa malu dengan kecerobohan yang sudah ia perbuat.
Sedangkan pangeran ke dua tahu betul kalau saat ini An xia sedang berpura, namun pangeran ke dua itu lebih memilih tidak mempermasalahkannya.
“ Kalau begitu aku akan mengantar nona pertama An untuk kembali menuju taman dekat aula...” Senyum lembut masih setia terpasang di wajah tampan pangeran itu, walaupun niat sebenarnya adalah untuk berdekatan dengan An xia.
“Apa lagi ini?...kenapa semua pangeran begitu menyebalkan!!!” Uacap An xia dalam hati. “Tapi aku sudah terlenjur bilang ‘tersesat’ mau tidak mau aku turuti saja...” Gumamnya lagi.
“ Jikalau itu tidak merepotkan, maka baiklah...” Ucap An xia dengan sopan.
Pangeran ke dua itu menggelangkan kepalanya.“ Tentu itu sama sekali tidak merepotkan...” Setelah itu mereka berjalan berdampingan menuju taman dekat aula istana.
Dengan sengaja, pangeran ke dua berjalan begitu lambat agar bisa berlama lema dengan An xia, terkadang mereka juga saling berbincang bincang di tengah perjalanan.
__ADS_1
An xia sedang menahan dirinya untuk tidak membentak pria yang sedang berjalan berdampingan dengannya, sungguh mereka berjalan bukan hanya lambat namun sangat sangat lambat!!!....
“ Siallan !!!...orang ini sengaja!!!!” Lagi lagi An xia menggerutu dalam hati, ia tahu betul kalau pangeran ke dua itu sengaja berjalan dengan lambat.
Dan setelah beberapa lama akhirnya mereka sampai pada tempat tujuan, di taman itu ada beberapa orang yang sedang berbincang bincang atau hanya sekedar menikmati pemandangan indah di taman itu.
Saat pangeran ke dua dan An xia berjalan berdampingan, Banyak sekali mata yang memandang mereka dengan berbagai macam tatapan.
An xia yang memiliki paras yang cantik dan sikap yang begitu anggun beserta dengan sifatnya yang begitu tenang dan dingin berjalan berdampingan dengan pangeran ke dua yang juga memiliki wajah yang sangat tampan dan sifatnya yang begitu tenag dan senyum hangatnya.
Mereka berdua seperti pasangan dewa dan bewi yang sedang berjalan bersama sama, dan hal itu membuat beberapa orang...atau hampir semua orang merasa iri dengan keserasian mereka berdua.
Para tuan muda yang melihat An xia berjalan dengan sangat anggun bersama pangeran ke dua, membuat mereka semua merasa iri dengan keberuntungan pangeran ke dua yang bisa berjalan berdampingan dengan gadis secantik dan seanggun An xia.
Sedangkan para nona muda juga tidak jauh berbeda, mereka sangat iri dengan An xia yang bisa berdekatan tengan pangeran ke dua yang sangat tampan itu, apa lagi saat pangeran ke dua terus menerus memandang An xia dengan senyum lembut membuat mereka semua bertambah iri.
•
•
•
•
Tak terasa sudah waktunya An xia dan keluarganya untuk pulang, dan saat ini An xia sedang duduk di dalam kereta kuda dengan kedua anak selir yang selalu membuat An xia sakit mata saat melihatnya.
An xia yang sedari tadi menutup matanya untuk menghindari rasa mual karena perjalanan, kini membuka matanya dan menatap An fengying dengan dingin.
“Itu bukan urusanmu, kau sama sekali tidak memiliki hak apapu untuk bertanya soal itu denganku!...” Ucapan An xia itu terdengar begitu dingin dan mengintimidasi sampai sampai membuat An fengying menunduk karena takut.
Sedangkan An shilin yang duduk di sebelah An fengying berkata.
“ kaka ke dua, kami adalah adikmu!!....jadi wajar saja jika kami bertanya suatu hal kepadamu...” Dengan memasang wajah memelasnya An shilin berfikir bisa membuat An xia terpojok.
An xia menegakkan tubuhnya dan sedikit menaikan dagunya, dan itu terlihat seperti seorang nona muda yang arogan.
“ Sekali lagi aku ingatkan kepada kalian berdua!!...kalian di sini hanyalah anak selir, dan kalian didak punya hak untuk ikut campur dalam urusanku, mengerti?!!!...." Ucapan An xia itu begitu tegas dan dingin, dan lagi lagi An xia mengingatkan kepada An fengying dan An shilin kalau mereka berdua hanyalah anak dari seorang ‘selir’ yang di mata dunia adalah setatus yang rebdah.
Baik An fengying dan An Shilin menggigit bibir bagian bawah dan mencengkram rok mereka kuat kuat untuk menahan amarah, dan kebetualan kereta sudah sampai di kediaman An.
An xia turun dari keretanya dan berpamitan kepada semua orang untuk pergi ke kamarnya.
Saat sudah berada di kamarnya, An xia segera menyuruh para pelayan untuk menyiapkan air hangat untuknya mandi.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama bagi para pelayan yang bekerja dengan An xia untuk menyiapkan semuanya.
Memang sejak An xia berada di dunia ini, An xia bersikap sangat tegas untuk mendisiplinkan para pelayan yang bertugas melayani dirinya, sehingga tak heran jika saat ini para pelayan An xia menjadi pelayan yang paling di siplin di kediaman jenderal An.
Setelah seorang pelayan memberitahu kepada An xia kalau air hangatnya sudah di siapkan, An xia kemudian segera mandi dan berendam air hangat dengan di temani taburan bunga mawar yang harum.
Setelah berendam, An xia kemudian keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian yang seperti kimono berwarna putih.
Tanpa bantuan pelayan, An xia menyisir rambutnya yang hitam panjang itu, ia membiarkan rambutnya tergerai indah...sangat konteras dengan kulitnya yang putih.
An xia merebahkan tubuhnya di ranjang, kemudian matanya terpejam dan berusaha untuk tidur...... pada akhirnya An xia terlelap dalam tidurnya yang nyenyak.
Dalam mimpi An xia berada di sebuah taman yang di tumbuhi berbagai bunga yang indah, namun karena itu hanyalah mimpi, An xia tidak bisa mencium harumnya bunga bunga itu.
“Raita!!..”
Tiba tiba suara seorang wanita memnggil namanya, dan lebih anehnya adalah...nama itu, nama yang disebut itu tidak lain adalah namanya di kehidupan pertamanya.
An xia begitu terkejut dengan panggilan itu, walaupun An xia menyadari kalau saat ini dia sedang bermimpi, tapi suara itu terdengar begitu tidak asing.
An xia menoleh kebelakang, dan ia mendapati seorang wanita dan seorang pria bersama dengan dua anak kecil.
Saat melihat mereka, air mata An xia menetes, tangannya menutup mulutnya karena rasa terkejut, bahkan matanya kini menatap mereka dengan penuh kerinduan.
“ Hiks...hiks....mama, papa!!.." Ucap An xia dengan suara serak dan air mata yang membasahi pipinya.
An xia berjalan dengan kaki yang terasa lemas untuk menghampiri mereka, air mata terus mengalir deras, bahkan An xia berharap ini bukanlah mimpi, An xia tidak ingin bangun saat ini.
Mereka semua yang berada di hadapan An xia adalah keluarganya di kehidupan pertama yang dibantai saat usianya 7 tahun.
Wanita yang di panggil ‘ mama ’ oleh An xia berjalan mendekat, kemudian wanita itu melepas liontin berbentuk hati yang terkalung di lehernya, kemudian wanita itu memakaikan liontin itu di lejer An xia.
Air mata wanita itu menetes, tanganya terulur untuk menyentuh pipi An xia.“ Raita sayang, kami diberikan satu kesempatan untuk bertemu denganmu di sini, kau sudah tumbuh dewasa nak!!..” Suara wanita itu sangat lembut di telinga An xia.
“ Kali ini jalani takdirmu sebagai An xia, berjanjilah kau akan melindungi orang orang yang kau sayang, Waktu kami sudah habis...ini hany pertemuan singkat.” Setelah mengatakan itu, tubuh wanita itu pelahan memudar.
“ Mama...hiks...hiks...aku mohon jangan tinggalakan aku!!” kemudian An xia menatap pria yang ada di belakang wanita itu.“ papa, jangan tinggalkan Raita....aku mohon..” Tatapan penuh harapan itu terpancar dari mata bening An xia.
Sedangkan mereka hanya menatap An xia dengan tatapan mata tak berdaya, mereka hanya mendapatkan waktu singkat untuk bertemu anak mereka untuk yang terakhir kalinya, mereka juga tidak ingin pergi, namun apalah daya....mereka sudah mati dan harus kembali ke tempat asal mereka.
An xia melihat tatapan tak berdaya mereka, hatinya sakit bahkan sangat sesak, dan ditamba saat mereka meneteskan air matanya dengan tersenyum tipis itu....semakin membuat hatinya teriris.
An xia ingin memeluk mereka, namun sebelum ia bisa melakukanya, mereka sudah terlebih dahulu menghilang.
__ADS_1
“ Tidak!!!!...tidak aku mohon jangan tinggalkan aku hiks...hiks.... tolong jangan tinggalkan aku lagi aku mohon pada kalian!!!!” Tangisan pilu dan teriakan An xia sama sekali tak membuahkan hasil.
Di sana An xia hanya sendiri, duduk di tanah sambil menangis, kedua tanganya mencengkram liontin berbentuk hati itu. Taman yang tadinya indah kini tertutup oleh kabut putih, dan bersamaan dengan itu....An xia terbangun dari mimpinya.