Sicantik Ternyata Seorang Sikopat

Sicantik Ternyata Seorang Sikopat
Kematiannya


__ADS_3

Angin dingin berhembus dengan kencang, menerbangkan debu serta abu dari kayu-kayu bangunan yang terbakar. Dan di bawah cahaya kobaran api yang menyala-nyala itu, sebuah kepala pun terjatuh dari tempatnya dan menggelinding di antara genangan darah yang mengalir dari sela-sela luka.


Beberapa orang kini memalingkan wajahnya, entah kenapa kepala mereka kini terasa pening. Mungkin pemandangan seperti itu adalah sebuah hal yang lumrah bagi para prajurit yang sudah terbiasa dan berpengalaman di medan perang, namun tidak bagi para pelayan yang sebagian besar dari mereka adalah wanita.


“Sangat mengerikan, aku tak sanggup melihat darahnya! ” Ucap salah seorang pelayan yang menutupi kedua matanya.


Sedangkan An xia kini hanya menatap pemandangan di hadapannya itu dengan ekspresi datar. Baginya, pangeran kedua hanyalah manusia b*doh yang menyia-nyiakan nyawa hanya demi sebuah perasaan tak berguna. “Pangeran, jangan terlalu membenciku!..... kau sendirilah yang menggiring nyawamu ke tempat ini!! ” Ucapnya, kemudian memalingkan wajahnya dengan dingin tanpa ada rasa bersalah sedikitpun.


Tiba-tiba, salah seorang prajurit pun datang dan berjalan menuju ke arahnya. “Yang mulia permaisuri! ” panggilnya, sembari membungkukkan badan. “Kami telah membereskan yang lain, sekarang bagaimana dengan mayat-mayat itu? ” Ucapnya lagi yang mengajukan pertanyaan.


Mendengar hal itu, pandangan An xia pun menyapu sekitarnya. Kedua matanya kini dapat dengan jelas melihat bagaimana sekumpulan mayat itu tergeletak di tanah yang berlumuran darah.


Hal itupun membuat An xia mendesah pelan, salah satu tangannya pun terangkan dan memijat-mijat dahinya yang berkerut. “Terserah, aku tidak perduli!!.... lakukan semau kalian!... ” ia berhenti untuk sesaat, kemudian melanjutkan. “....Ah! tapi biarkan saja mayat pangeran itu, aku sendirilah yang akan mengurusnya saat yang mulia Kaisar kembali!! ” Ucapnya lagi.


Kemudian, ia menoleh ke samping. Menatap seorang pelayan dan berkata. “Apakah kau sudah mengirimkannya? ” tanyanya.


Sang pelayan yang di tanyai itupun segera membuka mulutnya dan berkata. “Sudah, yang mulia! ” Jawabnya dengan jelas.


“Lalu bagaimana dengan keluargaku? ” An xia bertanya sekali lagi.

__ADS_1


Dan pelayan itupun menjawab dengan sabar. “Seseorang telah di kirim sebagai perwakilan untuk menolong mereka, sebentar lagi semuanya akan baik-baik saja.... ” ia berhenti untuk sesaat ketika merasakan ada sebuah kejanggalan dari kata-katanya. “.... mungkin? ” Lanjutnya, dengan nada ragu yang lebih terkesan seperti sedang bertanya.


Mengetahui apa yang pelayannya itu pikirkan, An xia pun sedikit terkekeh kecil. “Yang mulia kaisar pasti akan membuat sedikit kekacauan saat ia kembali, itu adalah sebuah hal yang sudah pasti! ” ia sedikit bergurau, dan tertawa kecil.


Namun, tawa itu tiba-tiba hilang di saat ia merasakan ada sebuah benda cair yang membasahi alas kakinya. “Hem?... ” ia menaikkan salah satu alisnya dengan heran, kemudian menoleh kebawah dan menatap genangan darah yang menyebar hingga kebawah kakinya. “... Cek! ini terasa tidak nyaman!! ” Gumamnya, yang menggerutu dengan kesal.


Menyadari hal itu, para pelayan pun segera mengambil tindakan. “Yang mulia permaisuri, sebaiknya anda kembali dan membersihkan diri!.... mungkin anda akan merasa tidak nyaman jika tetap berada disini, bau darah sudah menyebar kemana-mana! ” Ucapnya, yang sama sekali tidak ingin membuat kesalahan dalam melayani wanita itu.


Mendengar ucapan pelayan itu, An xia pun menganggukkan kepalanya. Kedua tangannya kini sedikit mengangkat kain pakaiannya yang menjuntai hingga ketanah, kemudian ia kembali mengernyit kesal saat mengetahui bahwa pakaiannya telah kotor dengan darah. “Baiklah, setelah membersihkan diri aku akan beristirahat hingga yang mulia kaisar kembali! ” Ucapnya, kemudian melangkahkan kakinya pergi.


...»»————>❀<————««...


Di tempat lain saat ini, seorang prajurit dengan sepucuk surat yang ada di dalam genggaman tangannya kini terlihat sedang berlari ke suatu tempat dengan tergesa-gesa.


Walaupun ia begitu enggan untuk menyampaikan berita yang baru saja sampai ini, namun ia juga tidak bisa mengabaikan tugas begitu saja!..... Jika hal sepenting ini tidak segera di sampaikan, maka kaisar itu pasti akan memenggal kepalanya dengan rekan-rekannya sekalian.


Dan setelah bersusah payah untuk berlari secepat mungkin, akhirnya ia kini tiba di tempat kaisar Zhuang berada. “Ah! itu dia yang mulia ka__”


Tiba-tiba, ia menghentikan langkahnya dan membeku di tempat. Tatapan matanya yang semula terlihat panik pun kini berubah menjadi ketakutan. Pemandangan yang ada di hadapannya saat ini sungguh menyulitkan nya, kakinya bahkan terasa begitu berat walau hanya untuk mengambil satu langkah sekalipun. “Apakah aku masih bisa mendoakan keselamatan ku sendiri? ” Gumamnya lagi dalam hati.

__ADS_1


Demi apapun, ia kini benar-benar merasa tertekan. Sosok kaisar Zhuang yang berdiri dengan gagah sembari menggenggam pedang di tangannya itu terlihat sangat mematikan.


“Mengagumkan, tidak ku sangka ia masih dapat bernafas! ”


Prajurit itu segera tersadar ketika suara dingin dari seseorang terdengar dan memecah lamunannya.


Mendengar apa yang kaisar Zhuang katakan, sang prajurit pun dengan penasaran menoleh ke arah sosok tak berdaya yang kaisar itu pandangi dengan tatapan merendahkan.


“Sesss, apakah itu Raja Bai Zhen? aku kira dia sudah mati! ” Prajurit itu bergumam dalam hati, sedikit mendesis pelan disaat tubuhnya merasa merinding dengan semua luka yang ia lihat di sekujur tubuh raja malang itu.


“Cepat penggal kepalanya! Aku sudah muak bermain-main di sini, setelah membakar tubuh menjijikkan itu aku akan segera kembali... ” ia terdiam untuk sesaat, kemudian menyeringai. “...Ah! aku lupa jika permaisuri ku menginginkan kepalanya, kalau begitu bakar saja tubuhnya, dan simpan kepalanya baik-baik!! ” Lanjutnya, yang memberi perintah dengan tegas dan tanpa ragu.


Bahkan tidak ada sedikit pun rasa bersalah saat ia mengatakan akan menjadikan kepala seseorang sebagai hadiah untuk istrinya!.... lagipula orang macam apa yang memberikan hadiah semacam itu?!!!


Sedangkan di sisi lain, sang prajurit yang mendengar kata ‘permaisuri’ dari kaisar Zhuang itupun segera tersadar dengan surat yang ia bawa. “Bagaimana bisa aku melamun di saat-saat seperti ini?!! ” Ia kembali melangkahkan kakinya, berjalan mendekat ke arah kaisar Zhuang yang memancarkan aura kelam di sekelilingnya.


“Ya... Yang mulia, a... ada surat dari istana! ” Ia memanggil, menyodorkan surat itu dengan tangan yang sedikit bergetar. “Tenanglah, jangan takut! ” Gumamnya dalam hati, yang berusaha menenangkan diri saat menyadari kegagapan dalam kata-kata nya.


“Surat dari istana? ” Kaisar itu mengangkat salah satu alisnya dengan heran, kemudian dengan cepat mengambil surat itu dan segera membacanya.

__ADS_1


Dan sesuai dugaan, ekspresi wajah kaisar itu kini benar-benar memburuk saat kedua matanya dengan teliti membaca setiap kalimat yang tertulis dalam goresan tinta surat tersebut.


“Sepertinya aku benar-benar tidak bisa meninggalkan wanita itu walau hanya sebentar!! ” Gumamnya, dengan ekspresi geram di wajahnya.


__ADS_2