Sicantik Ternyata Seorang Sikopat

Sicantik Ternyata Seorang Sikopat
ini semua harus segera selesai!!


__ADS_3

Sosok itu terus melangkahkan kakinya dengan cepat hingga ia berhenti di dekat sebuah kereta kuda. Namun, ia terlebih dahulu menoleh ke arah seorang pria dengan postur tubuh kurus yang berdiri tidak jauh dari posisinya saat ini. “Apakah semuanya baik baik saja selama aku pergi seharian ini? ” Ia bertanya dengan tatapan serius.


Sedangkan orang yang di tanyai itu pun segera membuka mulut dengan cepat. “Se... semua baik baik saja, mereka merasa takut padamu dan tidak berani berbuat macam-macam! ” Jawabnya, dengan ekspresi wajahnya yang penuh akan ketegangan.


Puas dengan jawaban yang di dengar, ia pun segera masuk kedalam kereta kuda dan berkata pada orang tadi. “Kalau begitu cepat berangkat, jangan membuang banyak waktu di tempat ini!! ” Perintahnya dengan dingin.


“Baik, tuan! ”


...»»————>❀<————««...


Rui yang berada di dalam kereta kuda tersebut pun kini memejamkan matanya untuk sejenak, kemudian ia menghela nafas dengan berat sembari berkata. “Andai saja permaisuri mengizinkan ku untuk membunuhnya langsung, maka masalah ini akan berakhir dengan cepat!...” Ia menyenderkan tubuhnya, mencari posisi yang nyaman untuk menenangkan diri. “.... Namun kemenangan ini harus terlihat adil, raja itu hanya boleh mati di medan perang!” Gumamnya lagi.


Sesampainya di tempat tujuan, sang kusir pun segera menghentikan langkah kaki kuda yang mendorong kereta. Rui yang ada di dalamnya pun segera turun, dan melangkahkan kakinya masuk kedalam sebuah kediaman yang kini ia tinggali.


Namun sebelum itu, kedua matanya melirik sejenak ke arah dua penjaga yang berdiri di sisi kiri dan kanan pintu. “Tidak ku sangka mereka begitu patuh! ” Gumamnya saat melihat para penjaga itu membungkuk hormat kepadanya dengan rasa takut. “Tapi itu bukanlah hal yang mengherankan, mengingat keselamatan keluarga mereka yang ku ancam itu! ” Gumamnya lagi dengan senyum sinis.


Rui terus berjalan menuju ke suatu tempat, sebuah tempat yang letaknya berada di bawah tanah yang gelap. Bahkan, cahaya api dari beberapa obor yang menyala tak cukup untuk menerangi seluruh ruangan tersebut.


Dan saat langkah kakinya berhenti tepat di depan sebuah jeruji besi yang pintu masuknya di kunci dengan kuat, barulah ia melihat sesosok pria berpenampilan kumuh yang sedang memandangi lilin kecil dengan tatapan kosong.

__ADS_1


“Kenapa kau kemari?! ”


Tiba-tiba pria itu membuka mulutnya dan bertanya dengan nada yang begitu dingin. Tatapan matanya yang semula terlihat kosong pun kini mulai menajam dikala pandangannya menangkap sosok yang ia benci.


“Kenapa? apakah setelah mengurungku kini kau akan membunuh ku ha?!!! ” Tanyanya lagi dengan suara yang sedikit meninggi.


Rui yang mendengar pertanyaan dari pria itupun kini hanya tersenyum, dan berkata. “Mana mungkin aku akan membunuhmu! ” salah satu tangannya menyentuh jeruji besi yang kotor, kemudian ia terkekeh dan kembali berkata. “Kau masih berguna, jika aku membunuhmu maka aku akan sedikit kesulitan mencari orang lain untuk ku manfaatkan!” Ucapnya lagi.


Sosok pria itu mendengus, dan menunjukkan senyum sinis nya di dalam kegelapan. “Apakah kau pikir, dengan trik murahan mu ini kau akan dapat membodohi raja kami?!.... ckckck, tentu saja tidak!!.... cepat atau lambat ia akan tau, dan pada saat itu jangan harap kepalamu bisa lolos dari pedangnya!!! ” Ancamnya, dengan penekanan di setiap kata kata yang ia keluarkan.


Apakah Rui merasa takut?..... cih! tentu saja tidak!!.... baginya itu semua tidak lebih hanya sekedar omongan kosong di telinganya.


Tiba-tiba ia tertawa sendiri, dan berkata. “Tidakkah aku sangat cocok memainkan peran sebagai anak tunggal mu?.... walaupun awalnya sedikit sulit, tapi itu bukanlah halangan besar bagiku!” Ia menjauhkan tangannya yang menyentuh jeruji besi tadi, kemudian menepuk-nepuknya untuk menghilangkan debu yang menempel. “Kedudukan mu sebagai tangan kanan raja kini telah beralih kepadaku, kehancuran kalian hanya tinggal menunggu waktu saja!..... maka sebelum itu terjadi, nikmatilah sisa hidup mu di sini... di ruangan yang ‘sempit’ dan ‘gelap’ ini!! ” Ucapnya lagi, kemudian melangkah pergi meninggalkan sosok pria yang kini menatapnya dengan tatapan kesal.


Sosok pria yang berbicara dengan Rui tadi tak lain adalah sang tangan kanan Raja Bai Zhen sendiri. Lantas apa yang sebenarnya terjadi?.... Bagaimana bisa ia berakhir di dalam sana?... Dan bagaimana bisa Rui menggantikan posisinya?


Apakah ini semua adalah salah satu dari rencana yang An xia buat?


...»»————>❀<————««...

__ADS_1


Di sisi lain, kaisar Zhuang yang berada di dalam tenda perang kini tengah fokus memperhatikan setiap dena lokasi peperangan untuk menyusun strategi lebih lanjut.


Di sampingnya berdiri seorang jenderal, dengan baju besi yang menyelimuti tubuhnya sebagai benteng pertahanan. Walau hari sudah begitu larut, kedua matanya sama sekali tidak menunjukkan rasa kantuk sedikit pun.


Sebaliknya, tatapan matanya yang tajam itu memancarkan api semangat yang membara. “Yang mulia, apakah sekarang aku sudah boleh memerintahkan prajurit ku untuk mulai bergerak?!” Tanyanya, yang sedari tadi bersabar untuk mendengar keputusan.


Kaisar Zhuang yang mendengar pertanyaan itupun segera mengalihkan pandangannya, ia terdiam sejenak, kemudian membuka mulutnya dan berkata. “Baiklah, bawalah beberapa pasukan secukupnya dan jalankan sesuai rencana! ” Ucapnya.


Kemudian, jendral itu pun kembali bertanya untuk yang kedua kalinya. “Lalu, apakah kami harus kembali lagi setelah menyelesaikannya?” Ia bertanya sembari mengerutkan dahi.


Kaisar Zhuang sedikit menggelengkan kepalanya, salah satu tangannya terangkat dan melambai-lambai sebagai isyarat ‘tidak’.


“Setelah kau menyelesaikannya, maka perintahkan pasukan mu untuk tetap di tempat itu!” Jawabnya lagi dengan singkat dan tegas.


Sang Jendral yang telah mendengar perintah dan arahan itupun menganggukkan kepalanya, kemudian segera meninggalkan tenda dan bergegas untuk menjalankan misi sesuai rencana.


Kini di dalam tenda tersebut hanya menyisakan Kaisar Zhuang seorang. Salah satu tangan Kaisar itu terangkat dan mengusap lehernya yang terasa kaku, kemudian ia mendudukkan tubuhnya di atas sebuah kursi sembari bergumam. “Baru berpisah beberapa lama saja, namun aku sudah sangat merindukannya! ” Ia kini menyentuh dadanya, merasakan detakan jantung yang kuat di saat pikirannya membayangkan suara lembut dan wajah menawan sang istri.


Setelah beberapa lama ia pun mulai memejamkan matanya, mencoba untuk menghayati setiap fantasi yang ada di dalam pikirannya sendiri.

__ADS_1


Namun sesaat kemudian, ia secara tiba-tiba membuka matanya dan menggelengkan kepalanya dengan cepat sembari berkata. “Ini semua harus diselesai dengan cepat, bisa gila aku jika terus seperti ini!! ” Gumamnya lagi, setelah menyadari bahwa fantasinya semakin lama semakin diluar batas kendali.


__ADS_2