
Sang prajurit yang melihat hal itupun hanya bisa berdiri dengan kaku di tempatnya. Bahkan ia sedikit kesulitan hanya untuk sekedar bernafas. “Mau bagaimana lagi?... ” ia bergumam dalam hati.
Berharap, kaisar itu tidak melihat keberadaannya karena teralihkan oleh surat kecil itu!
“Kalian yang ada di sana!!....” Kaisar itu menunjuk beberapa prajurit, lalu berkata dengan lantang. “.... Bereskan semua sampah yang ada di sini, dan yang lain ikut denganku!!! ” Perintahnya, kemudian segera melangkahkan kakinya dengan cepat tanpa mendengar balasan dari mereka terlebih dahulu.
...»»————>❀<————««...
Sedangkan di tempat lain, di sebuah tempat yang begitu gelap dengan hanya mengandalkan cahaya obor sebagai penerang. Seorang pria kini terlihat sedang melangkahkan kakinya menuju ke suatu tempat.
Kedua matanya secara diam-diam melirik ke sana ke mari, memperhatikan beberapa orang yang terlihat kurus dengan rantai besi dan jeruji yang mengurung mereka dalam kegelapan. “Apakah keluarga permaisuri juga di perlakukan seperti itu?!!.... jika memang benar, maka itu akan sangat keterlaluan!!! ” Gumamnya dalam hati, sembari mengepalkan kedua tangan untuk menahan kekesalan.
Langkah kakinya yang lebar masih berlanjut, hingga ia berhenti di sebuah ruangan khusus yang di tutup dengan pintu kayu yang kokoh. “Cepat buka pintu ini!! ” Perintahnya dengan tegas pada orang-orang yang berjalan mengikutinya sedari tadi.
Tak butuh waktu lama untuk seseorang membuka gembok besar yang mengunci pintu itu. Dan setelah pintu yang menghalangi mereka terbuka dengan lebar, kedua mata merekapun segera berpapasan dengan beberapa sosok yang ada di dalam.
“Kami datang atas perintah permaisuri, beliau memerintahkan kami untuk segera menyelamatkan anda sekalian! ” Ucap pria tadi, namun setelah terdiam beberapa saat, secara tidak sengaja pandangannya bertemu dengan sosok yang begitu mencolok. “I... Ini, kenapa anda juga__”
Ia menghentikan kata-kata nya, sama sekali tidak berniat untuk melanjutkan ucapannya yang dirasa hanya akan membuang- buang banyak waktu. “Sudahlah, itu bisa di pikirkan lagi nanti! ” ia menghela nafas secara diam-diam, kemudian melirik orang-orang penting di hadapannya itu. “Untuk sekarang aku harus mengamankan mereka dulu!! ” Gumamnya lagi.
“Mari, kami akan mengantarkan kalian! ” Ucapnya, kepada Jendral besar An dan seorang nyonya yang tidak lain adalah ibu kandung dari permaisuri mereka.
Namun, baru saja ia membalikkan badannya dan akan mengambil satu langkah untuk pergi. Tiba-tiba suara seseorang terdengar dan menghentikannya. “Tunggu, bagaimana dengan kakak kedua ku?!” Tanyanya, yang membuat ekspresi semua orang berubah menjadi lebih dingin.
Pria tadi yang mendengar pertanyaan itu kini hanya terdiam, kemudian setelah termenung beberapa saat ia menoleh kebelakang dan berkata dengan dingin. “Apakah anda kini mengkhawatirkan seorang penyusup yang masuk ke wilayah kami dan berusaha untuk membuat kekacauan besar?! ” Ia balik bertanya dengan kata-kata yang sangat menusuk. “Jika anda merasa khawatir, maka kami akan mengirim pangeran itu kembali ke sini.... tentu saja untuk di makamkan!! ” Ucapnya lagi, dengan sebuah seringai licik di bibirnya.
Mendengar hal itu, pangeran ketiga hanya bisa menghela nafas berat dalam hati. Kedua matanya pun kini terpejam untuk saat, membayangkan wajah kakak keduanya yang begitu bodoh hingga menjadi gila hanya karena cinta. “Aku sudah mengatakan kepadanya untuk jangan melakukan hal konyol, kini aku bahkan tidak berniat untuk menangisi kematiannya yang bodoh itu! ” Gumamnya dalam hati.
__ADS_1
...»»————>❀<————««...
Kaisar Zhuang kini tengah memacu kudanya dengan sangat kencang, memaksa hewan malang itu untuk terus berlari lebih cepat demi agar segera sampai di tempat tujuan.
Beberapa prajurit yang semula ada di belakangnya kini tertinggal jauh, tampaknya kuda yang mereka tunggangi tidak mampu untuk berlari lebih cepat daripada kuda kesayangan kaisar itu.
Mereka hanya bisa berusaha, berusaha untuk tetap melajukan kudanya mengikuti arah kaisar itu pergi. Dan dengan segala keringat yang mengalir dari dahi dan pelipis mereka, mereka pun berharap bahwa kaisar itu nantinya dapat mengendalikan diri saat sudah tiba di tempat tujuan nanti.
Namun apakah itu bisa?
Sosok kaisar Zhuang kini telah berada jauh di depan mereka. Walaupun begitu, mereka samar-samar masih dapat melihat betapa mengerikannya aura yang kaisar itu pancarkan.
“Yang mulia kaisar bahkan tidak memiliki niat untuk menunggu ketertinggalan kita! ” Ucap seorang prajurit yang tampak begitu kewalahan.
“Sebaiknya kau jangan banyak mengeluh, suasana hatinya sedang tidak bagus!.... kepalamu bisa terpenggal kapan saja jika tidak menjaga kata-kata!! ” Ucap prajurit lain yang memberikan sebuah teguran.
...»»————>❀<————««...
Kedua matanya yang kelam itu menatap kosong pada langit-langit ruangan, seolah-olah ia kini sedang melihat bayang-bayang yang terus-menerus berputar dalam benak pikirannya. “Aku tau dia bodoh, tapi tidak ku sangka dia akan melakukan tindakan sampai sejauh ini!” Gumamnya pelan.
Kemudian, salah satu tangannya pun bergerak dan menyentuh perutnya yang masih datar. “Bagaimana pemandangan tadi?...” Ia berbicara pada janin yang ia kandung. “... apakah sekarang kau sudah mengenal ibumu dengan baik?.... jika kau lahir, nantinya pemandangan seperti itu akan sering kau lihat, jadi mulailah membiasakan diri, anakku! ” Ucapnya lagi, dengan senyum licik yang terpampang di wajahnya yang rupawan.
Walaupun kata-kata yang keluar dari mulutnya terkesan dingin dan kejam, namun sebenarnya ia berharap bahwa anak dalam kandungannya nanti akan tumbuh menjadi seseorang yang kuat!.... mau bagaimanapun juga, ia suatu saat akan menjadi seorang pemimpin yang mengantikan ayahnya.
Entah sudah berapa lama ia terlarut dalam lamunannya, hingga ia tak sadar bahwa kedua kelopak matanya perlahan lahan mulai terpejam erat dan tertidur hingga seseorang mengetuk pintu dengan cukup keras.
“Yang mulia permaisuri!! ” Panggil seseorang yang berdiri di balik pintu.
__ADS_1
Mendengar hal itu, An xia pun membuka matanya. Kedua matanya yang terlihat sayu sehabis bangun tidur itu melirik sekitar, menatap jendela ruangan yang terbuka dan memperhatikan sinar matahari yang mulai merambat masuk. “Sudah berapa lama aku tertidur? ” Ia bergumam dengan suara serak, kemudian sedikit berdehem untuk menyesuaikan tenggorokannya yang kering.
“Masuklah! ” Ucapnya singkat, yang mengizinkan para pelayan itu untuk masuk.
Seusai mendengar izin dari sang permaisuri, para pelayan itupun segera membuka pintu dan melangkahkan kakinya masuk.
Pandangan An xia kini tertuju pada seorang pelayan, kemudian ia bangkit dari tidur nya dan duduk di tepi ranjang dengan penampilan khas bangun tidur. “Annchi, apakah sekarang sudah pagi? ” Tanyanya, sembari menyisir sebagian helai rambutnya dengan tangan.
Mendengar pertanyaan dari majikan nya itu, Annchi pun segera menjawab. “Iya, yang mulia!” Ia berjalan mendekati An xia, mengulurkan tangannya dan membantu wanita itu untuk berdiri dengan hati-hati.
“Bagaimana dengan tidur anda? ” Ia balik bertanya, melihat wajah An xia yang tampak segar Annchi pun menghela nafas dalam hati. “Dia bahkan dapat tertidur dengan pulas setelah semua kekacauan itu terjadi!.... harus ku akui tingkat ketidak perduliannya sangat luar biasa!! ” Ucapnya, yang bergumam dalam hati.
Sedangkan An xia yang ditanyai itupun sama sekali tidak menjawab, ia kini lebih fokus untuk membersihkan mukanya dengan air agar terasa lebih segar. “Yang mulia kaisar... ”
“Ha? iya?! ” Annchi menatap dengan bingung.
“Bagaimana dengan yang mulia kaisar? apakah dia sudah kembali? ” Ucapnya lagi, yang bertanya dengan lebih jelas.
Mendengar pertanyaan itu, Annchi pun segera membuka mulutnya dan berkata. “Mungkin ia masih dalam perja__”
Belum sempat Annchi menyelesaikan kata-katanya, Tiba-tiba seseorang datang dengan wajah panik dan berkata. “Permaisuri, yang mulia kaisar telah tiba!!...” ia berhenti untuk sesaat, sedikit merasa ragu untuk melanjutkan kata-katanya. “... ta... tapi, dia tampak begitu marah! ” Lanjutnya.
Mendengar hal itu, An xia pun hanya menganggukkan kepalanya dengan santai. Raut wajahnya pun kini tampak begitu tenang, seolah-olah ia sudah menebak bahwa hal ini akan terjadi. “Begitukah?.... ia pasti sangat kelelahan, biarkan dia istirahat terlebih dahulu__” Ia menghentikan kata-katanya, dan memperhatikan raut wajah pelayan tadi yang tampak begitu ketakutan. “Apakah ia sedang.... ”
Ia menggantung kata-katanya, dan pelayan itupun menganggukkan kepalanya seakan-akan mengetahui apa yang An xia pikirkan saat ini. “Iya, kaisar berniat untuk membakar jasat pangeran kedua dengan tangannya sendiri!! ” Ucapnya, yang membuat sebuah kerutan tipis muncul di kening An xia.
“Dia ingin membakarnya?!! ”
__ADS_1