
Mendengar ucapan pria tua itu, An chen pun kini terdiam untuk beberapa saat. Mulutnya kini sedikit terbuka dan tertutup, pandangan matanya yang sedari tadi penuh akan emosi yang bergejolak pun seketika berubah dan digantikan dengan tatapan tertegun.
Jika di pikir-pikir lagi, seharusnya ada seseorang yang tidak akan bisa ikut dalam medan perang seperti dirinya. “Apakah kakakku akan tetap tinggal di sini? ” Tanyanya pada tuan Eiji untuk memastikan.
“Tentu saja! ” Jawabnya, sambil menganggukkan kepalanya pelan. “Mengingat kondisinya yang saat ini sedang berbadan dua, sudah pasti yang mulia kaisar akan melarangnya untuk ikut dalam medan perang! ” Ucapnya lagi.
Kemudian, ia sedikit membungkuk guna mensejajarkan tinggi badannya dengan tinggi badan bocah itu. “Selama kami berada di medan perang, tugasmu di sini adalah menjaga kakakmu! ” Ucapannya dengan suara pelan namun terdengar begitu tegas. “Walaupun istana memiliki penjagaan yang cukup ketat, namun ia adalah orang yang sedang di incar oleh pihak musuh!.... jadi berhati-hatilah dan tetap waspada saat menjaga kakak dan calon keponakan mu yang akan lahir itu, mengerti?!! ” Tanyanya, yang hanya di balas dengan anggukkan singkat dari An chen.
Tak apa jika ia tidak bisa ikut berperang, setidaknya ia akan menjadi kesatria pribadi sang kakak!.... walaupun itu tidak sekeren saat bertarung dalam medan tempur yang keras dan berbahaya.
...»»————>❀<————««...
Kembali pada An xia yang saat ini sedang terkekeh kecil sembari melirik para jenderal itu satu persatu.
Lihatlah bagaimana cara mereka menatap dirinya saat ini!.... Ekspresi yang terlukis di wajah-wajah para jenderal itu sangatlah menggemaskan, membuat An xia tak kuasa dalam menahan tawanya.
“Kenapa kalian menatapku seperti itu?.... tidakkah saran yang aku berikan cukup bagus untuk di coba? ” Tanyanya, dengan masih terkekeh kecil.
Sedangkan para jenderal yang mendengar pertanyaan itu pun kini saling melirik satu sama lain. Pada awalnya, mereka semua menganggap An xia hanyalah seorang wanita biasa, wanita dengan paras cantik dan hati yang lembut.
Namun setelah mendengar semua ide-ide yang terlontar dari bibir wanita itu, mereka semua seolah-olah merasa sedang di beri racun....
Racun yang sangat berbahaya, namun juga sangat berguna pada saat yang bersamaan!
Setelah beberapa lama terdiam dalam pikiran yang campur aduk, salah satu dari mereka pun mulai berkata. “Ha ha ha, Saran-saran yang diberikan oleh permaisuri memang sangatlah bagus dan cemerlang! ” Pujinya dengan tawa yang jelas di paksakan. “Tetapi, aku sama sekali tidak pernah menduga bahwa isi pikiran permaisuri begitu berani!! ” Ucapnya lagi.
Berani?.....
__ADS_1
Kata kata terakhir yang jendral itu ucapkan sepertinya masih kurang tepat untuk menggambarkan pola pikir An xia yang begitu unik itu!..... Ketimbang berani, mungkin kalimat Gila dan keji akan lebih cocok.
Walaupun begitu, saran-sarannya memang cukup bagus, sangat teliti dan sepertinya telah difikirkan matang-matang oleh An xia.
Sedangkan An xia yang dikatai seperti itupun kini menunjukkan senyum malu-malu yang jelas sedang dibuat-buat. Kemudian, dengan santainya ia berkata. “Jendral yang satu ini sangatlah memuji, mulutmu begitu manis hingga aku tidak berhenti tersenyum seperti ini! ” Ucapnya, sembari menahan tawa.
Lalu, ia kembali berkata. “Bukan maksud ku berlaku kejam, aku hanya ingin agar kalian bisa bersenang-senang nantinya!..... Melihat musuh yang mati mengenaskan dengan cara bodoh, tidakkah itu akan sangat menyenangkan?!”
“Peperangan bukan untuk bersenang-senang, permaisuri ku! ” Sahut kaisar Zhuang tepat setelah An xia menyelesaikan ucapannya.
Mendengar hal itu, An xia pun sedikit mendengus kesal dan memalingkan wajahnya kearah lain.
Apakah suaminya itu tidak bisa melihatnya senang sedikit?!.... mengacaukan suasana saja!!
“A.... hahaha, Yang dikatakan kaisar itu memang benar! peperangan tidaklah untuk main-main.... ” Ucap salah seorang jendral sembari tertawa canggung. “.... Apalagi kalau melihat musuh yang mati mengenaskan seperti yang dia rencanakan, walaupun itu menguntungkan, tapi itu bukanlah pemandangan yang lucu untuk dijadikan bahan guyonan! ” Gumamnya, yang hanya berani melanjutkan kata-kata nya dalam hati.
Sedangkan para jenderal yang melihat hal itupun kini tidak bisa berbuat apa-apa selain membungkuk dan memberi hormat. “Semoga yang mulia kaisar dan yang mulia permaisuri diberkati umur yang panjang! ”
...»»————>❀<————««...
Sembari melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan itu, kaisar Zhuang kini sedikit menoleh kebelakang dan melirik kearah An xia sambil berkata. “Hemm, pembicaraan seperti itu rupanya bisa dijadikan bahan candaan bagimu rupanya?” Ucapnya, dengan sedikit sindiran.
Sedangkan An xia yang mendengar ucapan penuh makna dari suaminya itupun kini tersenyum dan menunjukkan tatapan penuh arti. “Yah begitulah!... ” Ia memberi jeda, kemudian memeluk lengan kaisar Zhuang dengan manja sembari melanjutkan. “.... Tapi, mungkin aku akan lebih merasa senang jika melihat kematian mereka secara langsung!... dengan kedua mata kepalaku sendiri! ” Ucapannya lagi, dengan sedikit berbisik pada kalimat akhir.
Dan jika dilihat dari kata-kata yang An xia gunakan, sepertinya ia masih memiliki keinginan yang kuat untuk ikut dalam medan perang.
Namun...
__ADS_1
“Berhenti merayu ku seperti itu!! ” Ucap kaisar Zhuang dengan tegas sembari menghentikan langkahnya. “Mau seperti apapun kau merayu dan merengek di hadapan ku, keputusan ku tidak akan pernah berubah dari awal sampai akhir!! ” Ucapannya, dengan sedikit penekanan keras pada kalimat terakhir.
...»»————>❀<————««...
Kembali kepada An chen yang kini tengah terduduk di dekat pohon yang letaknya tak jauh dari tempat ia bertarung dengan tuan Eiji tadi.
Nafas bocah itu masih tidak teratur, pakaian yang ia gunakan pun basah oleh keringat-keringat yang dihasilkannya saat ia bertarung dengan sekuat tenaga tadi.
Dan sembari mengistirahatkan tubuhnya, An chen menutup matanya dan bergumam. “Bertarung dengan emosi yang meluap-luap seperti tadi memang menghabiskan banyak sekali tenaga, ya?” Tanyanya pada diri sendiri.
“Huff!... aku lelah!” Keluhannya, disaat ia merasakan pegal-pegal pada sekujur badan.
.....
“Anu, kak An chen! ” Panggil dari suara kecil yang tiba-tiba terdengar dan menarik perhatian An chen.
Mendengar suara yang familiar itu, An chen pun kembali membuka matanya dan menoleh kearah sumber suara yang memanggil namanya tadi. “Ada apa, Izayoi?! ” Tanyanya dengan dingin pada gadis cilik yang berjalan mendekat kearahnya.
Sepertinya, An chen kini mulai bersikap sok dingin dihadapan para gadis!..... mungkinkah ia tertular oleh sifat seseorang?
Entahlah, namun seperti Izayoi sama sekali tidak terganggu dengan sifat dingin An chen kepadanya saat ini.
Nyatanya, gadis cilik itu kini masih melangkahkan kakinya mendekat dan duduk tepat di sisi An chen. “A... Aku dengar kau tadi bertarung dengan ayah, jadi aku membawakan mu ini! ” Ucapnya, sembari menyodorkan sebuah gelas berisikan air putih. “Aku pikir kau akan merasa haus dan kelelahan, ja... jadi aku, i..itu! ”
Malu-malu, seperti itulah sifat Izayoi saat bersama dengan An chen. Walaupun ia tidak merasa takut, namun terkadang ia akan sedikit menunjukkan sifat ragu-garu dan malu-malunya.
Seperti saat ini, lihatlah bagaimana merahnya rona pada pipi si cilik itu!.... membuat An chen yang melihatnya merasa sedikit tidak tega jika harus terus-menerus bersikap dingin kepadanya.
__ADS_1
“Tidak-tidak! aku harus tetap terlihat tegas seperti kakak kaisar!!!” gumamnya dalam hati, yang membantah pikirannya sendiri. “Baiklah, karena kau sudah membawakannya untuk ku! ” Ucapnya, kemudian meraih gelas air itu dan meminumnya dengan rakus.