
Medan pertempuran masih panas dengan darah mengalir sepanjang jalan kenangan. Tidak ada yang bisa mengakhiri perang tanpa ada kematian dari salah satu pihak.
Di atas tanah darah, para Panatua berdiri dengan luka parah di sekujur tubuhnya, putra maupun putri mereka ikut terluka dalam hal ini. Melihat sekitarnya, bahwa pasukan musuh lebih unggul di bandingkan mereka, kini Zu Turi memikirkan cara agar menang menghadapi musuh yang kuat.
Panatua kedua masih dalam kondisi prima, dimana ia hanya mendapatkan sedikit luka di tubuhnya, akibat serangan dari dua Tetua dari Sekte Immortal Song.
"Panatua kedua, kau cukup hebat bisa menahan serangan kami berdua, dan hanya mendapatkan sedikit luka di tubuh ... " Ucap sinis Tetua Sekte Immortal Song.
"Seharusnya aku yang bertanya, Tetua sekalian, kenapa sangat lemah hingga tidak bisa membuatku terluka parah!" Panatua kedua membalasnya dengan suara tinggi, dan sombong kepada mereka berdua.
"Kurang ajar! Beraninya bersikap sombong di hadapanku!"
Kedua Tetua tersebut terpancing emosi oleh perkataan Panatua kedua, dimana ia merendahkan kedua Tetua ye dengan kata-katanya yang membangkitkan emosional mereka.
Pada saat itu, Panatua kedua mengeluarkan satu pedang panjang dengan bilah tipis setipis kertas. Pedang itu sangatlah lentur, dan fleksibel untuk digunakan menyerang musuh.
Dalam posisi ini, kedua Tetua mengeluarkan senjata andalan mereka berdua, satunya memegang sebuah tameng, dan satunya memegang sebuah palu besi dengan ukuran yang cukup besar.
Panatua kedua, ia terbang dengan kecepatan tinggi untuk menyerang balik mereka berdua dengan kekuatan yang ia miliki sekarang ini, meskipun ia berbeda jauh dari mereka berdua, tapi pengetahuannya jauh di atas mereka berdua.
Saat telah mendekati mereka, Panatua mengayunkan tangan kanannya mengarahkan ke arah tameng tersebut dengan sangat keras, hingga ketajaman pedang saling beradu oleh pertahanan cangkang kura-kura.
Bang!
Dentuman, dan gesekan dua energi besar membuat hembusan angin kencang di sekitarnya. Saat Panatua menyerang Tetua tersebut, Tetua satunya berada di sampingnya dengan mengayunkan palu besi miliknya ke arah tubuhnya dengan keras.
Menahan!
Serangan yang di berikan oleh Tetua Sekte, disana ditahan oleh tangan kirinya dengan genggaman tangan yang kuat. Tangannya sudah melebihi kapasitas penyimpanan yang digunakan oleh Panatua kedua.
Krakk!
__ADS_1
Perlahan jari-jarinya mulai merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa, lukanya memang tidak seberapa. Namun, sakitnya sangatlah luar biasa di rasakan.
Tidak bisa menahan lagi, Panatua kedua lalu berputar dengan kaki menghajar mereka bertiga untuk mengubah dirimu agar tidak menggangu dirinya sekarang ini.
Saat kakinya berputar di langit, kedua kepala saling menghantam satu-persatu dengan tendangan Panatua kedua. Mereka terhempas kebelakang dengan benturan gundukkan membuat mereka terjatuh ke tanah dengan kerasnya.
"Huekk!" Kedua Tetua merasakan rasa sakit yang mengakibatkan mereka berdua kehilangan seteguk darahnya.
Mereka berdua yang terhempas, kini mulai berdiri menggunakan energi yang masih ada di dalam dirinya, saat mereka berdiri di hadapannya. Kedua Tetua tersebut merasakan rasa takut yang mengalir ke bawah tanah.
"Ku- kurang hajar! Kau ... Kau beraninya merendahkanku! Akan ku pastikan kau mati di tanganku!" Teriak tetua Sekte.
Sekali lagi, mereka berdua datang ke hadapan Panatua kedua dengan kekuatan yang mereka miliki sekarang ini, menyerang dari sisi berlawanan dengan kerasnya ke arah Panatua kedua.
Saat palu mengenai tubuhnya, ia menahan palu tersebut yang mengenai pundaknya, dan kedua tangannya menahan serangan tameng dari belakangnya.
Kedua serangan tersebut membuat luka parah di sekujur tubuhnya, melihat hal tersebut, para Panatua yang masih memiliki kekuatan terbang dengan kecepatan tinggi membantunya.
Dari arah timur, Panatua kelima terbang dengan kecepatan tinggi sambil mengeluarkan senjata kapak miliknya, dari atas langit, ia terjun kebawah menghantam tameng tersebut dengan kerasnya.
Bang!
Palu terlempar jauh kebelakang dengan menghantam tanah, melihat ada peluang menang, ia dengan cepat menarik kembali pedang miliknya yang fleksibel dengan gaya Seni andalan miliknya.
Tebasan fatal di berikan oleh kedua orang tersebut dengan sekali ayunan pedang yang memotong mereka menjadi bagian terkecil.
Srash! Srash!
Dua Tetua telah tewas menghadapi satu Panatua, kematian Tetua tersebut dilihat oleh murid-murid dari Sekte Immortal Song. Dimana mereka semakin marah menjadi-jadi untuk membantai keluarga Zu.
"Bunuh! Bunuh! Bunuh!"
__ADS_1
Suara gabungan murid-murid membuat semua orang di tanah darah mendengarnya, satu mengeluarkan seruling, dan di ikuti oleh murid-murid lainnya.
Murid-murid Sekte Immortal Song mengeluarkan Seni milik Sekte Immortal Song, dimana membuat sebuah suara dengan frekuensi tinggi yang bisa menghancurkan pikiran lawannya. Suara itu akan membuat kemenangan mutlak bagi mereka.
Tangga nada terdengar berirama di sana, Qin Chen mendengar itu, ia memberikan lapisan lagi untuk mengindari akan kejanggalan yang akan terjadi selanjutnya.
Monster Tua, Tranformasi Neraka yang mulai sempurna tanpa ada gangguan sedikitpun dari orang-orang disana. Mereka belum bisa menyerang monster tersebut, akibat banyaknya murid-murid menghalangi.
Zu Turi, ia melihat pasukan yang ia bawa sudah setengah menghilang, dengan para Panatua sudah terluka parah, dan putra-putri mereka sama halnya semuanya.
Dalam pikirannya, ia hanya bisa menggunakan satu Seni rahasianya yang bisa membantu membalikkan situasi, dimana ia akan mengorbankan nyawanya sebagai balasan akan kekuatan yang diberikan.
'Apa aku harus menggunakan Seni itu!'
Saat berpikir di sana, satu serangan mengarah ke tempatnya dengan kecepatan tinggi, pada saat itu, putrinya melihat hal tersebut dengan cepat menarik Ibunya menjauh dari sana.
Serangan tersebut mengenai batu di tanah, hingga menghasilkan ledakan cukup besar untuk membunuhnya dalam sekali serangan yang diberikan.
Boom!
Ia lalu melihat ke arah putrinya, dimana ia diselamatkan oleh dirinya dari kematian konyol. Saat melihat orang yang menyerangnya, ia menarik pedangnya ke atas langit dengan sebuah ayunan tangannya yang pelan.
"Langit cerah menjadi mendung, pedangku bisa membelah gunung!" Suaranya menggema di atas langit dengan cepat melepaskan serangan besar kepada satu tetua dari Sekte Immortal Song.
Swoosh!
Serangan Zu Turi melesat dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Tetua tersebut, pengelihatanya terhenti ketika serangan tersebut hampir mengenainya. Dari sudut lainnya, serangan Zu Turi di balas oleh wujud besar yang sangat mengerikan.
Pada saat itu, ledakan tersebut membuat Tetua yang dibantu oleh ketua ikut mati dalam ledakan tersebut. Melihat hal tersebut, Zu Turi tersenyum tipis melihatnya.
Sekarang, musuh sebenarnya telah muncul dengan wujud iblis neraka, dimana salah satu dari iblis neraka yang keluar dari Alam Roh. Dalam perang tersebut, orang-orang disana melihat wujud asli ketua Sekte, mereka menjadi sangat ketakutan.
__ADS_1
...
*Thanks You For Reading*