
Usai sampai di Asrama Felix dan Chloe pergi meletakkan belanjaan yang baru mereka beli ke dapur. Chloe dan Felix langsung merapikan barang bawaan mereka setelahnya.
Setelah selesai Felix pergi lebih dulu ke kamarnya. Chloe berniat nyusul usai meletakkan barang terakhir di kulkas, Namun Devian tiba-tiba saja datang dengan tergesa-gesa. Dia mengambil sebotol minuman dingin dalam kulkas dan langsung meminumnya.
"Hei, Ada apa? Kau kayak habis dikejar setan aja," Kata Chloe heran sambil menutup pintu kulkas.
Devian menggeleng pelan bersamaan menutup botol mineralnya. "Gak apa-apa, Cuma lelah aja,"
Sejenak Chloe terdiam. Kalau dipikir-pikir dia jarang berinteraksi hanya berdua dengan Devian. Pemuda itu jarang berada di Asrama selain untuk misi. Kemudian Chloe teringat dulu Devian pernah ingin membunuhnya menggunakan racun, Dia ingin tahu alasan sang pemuda ingin membunuhnya dulu.
"Devian, Kenapa dulu kau ingin membunuhku, Sampai memasukkan racun ke minuman yang kau pesan?" Tanya Chloe serius. Netranya terus menatap Devian yang memasang ekspresi tenang.
"Seseorang yang menyuruhku, Lagipula aku melakukannya juga karna terpaksa. Dia mengancamku, Aku tidak punya pilihan lain selain menuruti perintahnya," Jelas Devian datar, Ekpresinya tak bisa ditebak.
"Apakah orang itu Pak Justin?" Tanya Chloe was-was.
"Bukan,"
"Tapi pada akhirnya kau gagal juga kan?"
"Mungkin, Aku tidak tahu. Waktu yang akan menjawabnya,"
Devian berbalik berjalan keluar dapur sambil melambaikan tangan tanpa menoleh. "Dah!"
TAP! TAP! TAP!
Setelah kepergian Devian Sesaat Chloe mendudukkan dirinya di kursi, Memijit keningnya sebentar.
"Huh, Devian tidak memberi tahu alasannya. Apa yang mereka inginkan dariku? Gak mungkin mereka berniat membunuhku kalau gak ada yang mereka inginkan," Gumam Chloe lesu, Mulai pusing karna banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang mengelilingi benaknya.
Gadis bersurai biru itu menopang dagunya dengan tangan, merenung sesaat.
TAP! TAP! TAP!
Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat, Sosok itu menarik kursi yang berhadapan dengan Chloe lalu duduk disana dengan ekspresi datar.
"Nona Chloe belum tidur? Mau saya buatkan makanan?"
Mendengar suara familiar di depannya membuat Chloe mendongak, Menatap Netra ungu tua milik Aiden.
"Tidak perlu, Aku masih kenyang. Bagaimana luka mu, Sudah lebih baik sekarang?"
"Sudah, Istirahat seharian membuat luka saya cepat pulih,"
"Baguslah, Aiden...," Chloe menautkan jari-jari tangannya gugup. "Soal raga asliku itu, Bisakah kau menjaga rahasia ini sampai aku sendiri yang memberitahu mereka?"
Aiden memilih diam sesaat, Teringat pertarungannya dengan Chloe saat di dimensi lain itu. Dan perubahan raga sang gadis.
"Tentu, Tapi ingatlah Nona Chloe. Cepat atau lambat mereka akan tahu rahasia Nona yang sebenarnya. Jadi saya rasa memberitahu mereka secepatnya lebih baik," Jelas Aiden menyandarkan tubuhnya.
"Yah, Kuharap bisa memberitahu mereka secepatnya tapi tidak dalam waktu dekat. Lalu kenapa kau marah saat tahu aku bukan Chloe Amberly yang asli?"
"Saya tidak marah, Hanya pura-pura marah untuk menguji kekuatan anda. Saya kira anda setengah manusia tapi ternyata hanya kebetulan mendapat kekuatan dari seseorang,"
Sang gadis Speecheless sejenak, Jadi saat itu Aiden tidak benar-benar marah padanya?! Aiden menyerang hanya untuk menguji kekuatannya? Yang benar saja?!
"Kau membuat tenagaku terbuang sia-sia Aiden," Chloe menghela napas lelah. "Ya sudah, Aku pergi dulu,"
"Tunggu!"
Chloe yang berniat pergi mengurungkan niatnya setelah mendengar suara Aiden, Sang gadis menoleh menatap Aiden yang tampak Mengambil sesuatu dalam saku bajunya. Menunjukkan sebuah tanaman kecil masih berbentuk tunas.
Tak lama tunas kecil itu perlahan berubah menjadi mawar biru bercahaya. Cahaya nya agak terang yang membuat Chloe sesaat menyipitkan matanya. Aiden menyodorkan mawar biru tersebut pada Chloe.
"Tolong jaga mawar ini, Karna mawar ini terhubung dengan jiwa saya," Pinta Aiden datar, Tangannya masih terulur dihadapan sang gadis.
Netra biru gadis bersurai biru itu membulat kaget, Tak menyangka Aiden memberikan benda sepenting itu padanya.
"Aiden! Jangan bercanda. Jika mawar ini terhubung dengan jiwamu. Seharusnya kau jangan memberikannya ke sembarangan orang! Kau yang tahu tentang mawar ini, Jadi kau harus menjaganya dengan baik," Balas Chloe agak membentak, Dia tidak bisa menerima mawar itu kalau bunganya sangat penting bagi Aiden.
"Saya tidak bercanda, Anda menjaga mawar ini sama seperti saya menjaga rahasia anda. Anggap saja kita impas. Mawar ini ibarat jantung saya, Saya harap anda mau melakukannya,"
"Aku tidak bisa Aiden, Kau tidak bisa mempercayaiku. Bagaimana kalau aku tidak bisa menjaganya dengan baik?" Tanya Chloe cemas plus khawatir.
Aiden menggeleng pelan, Dia meraih tangan sang gadis. Meletakkan mawar itu di genggaman tangan Chloe.
"Saya mempercayai anda, Saya tahu anda adalah orang yang jujur dan baik,"
Chloe tersentak sesaat. "Kenapa kau begitu yakin padaku?"
Pemuda dengan netra ungu itu menunjuk dengan jari telunjuknya pada Chloe. "Sikap, Masa lalu, Dan mimik wajah anda Nona Chloe. Saya bisa membaca dan melihat masa lalu anda hanya lewat tatapan,"
Chloe bungkam menatap mawar biru yang kini berada dalam genggamannya, Sesaat dia mendekatkan telinga pada mawar itu seolah mendengar suara samar-samar dari sana.
DEG! DEG! DEG!
"Mawar ini berdetak?! Aku gak salah dengar kan? Kedengarannya seperti suara detak jantung," Pikir Chloe terkejut, Dia semakin mendekatkan telinganya pada mawar itu agar mendengarnya lebih jelas.
__ADS_1
DEG! DEG! DEG!
Mawar itu nyatanya benar-benar berdetak bahkan lebih jelas di telinga sang gadis. Sontak Chloe menjauhkan wajahnya, Dia menatap Aiden dan mawar itu bergantian.
"Ma-Mawar ini benar-benar ibarat jantungmu?!" Kata Chloe tergagap, Masih menatap Aiden.
"Ya, Anda mendengarnya sendiri kan tadi? Jika cahaya nya hilang dan mawar itu layu, Artinya saya sudah mati. Jadi saya percayakan mawar itu pada anda," Jelas Aiden menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi.
Sejenak Chloe diam, Dia ngambil vas bunga kosong yang terletak di lemari lalu mengisi vas bunga tersebut dengan air. Setelahnya dia memasukkan mawar itu dalam vas.
"Dengan begini mawarnya akan terus hidup, Aku akan menjaganya Aiden. Kalau begitu aku pergi," Kata Chloe sambil membawa vas bunga tersebut.
Aiden hanya diam tanpa menjawab perkataan Chloe. Pemuda bersurai ungu itu kembali membuka suaranya. "Nama Asli?"
"Hah?! Maksud?"
"Nama raga aslimu Nona Chloe,"
"Oh, Chloe Watson. Panggil sesukamu saja Aiden,"
Usai Menyebutkan nama aslinya Chloe melangkah pergi meninggalkan Aiden di dapur, Tubuhnya sudah mulai lelah karna seharian ini beraktivitas.
Sedangkan Aiden menatap punggung Chloe dalam diam, Netra ungu nya beralih memandang luka di lengannya yang mulai menutup akibat pertarungan itu.
"Aku penasaran siapa yang sudah memberikan kekuatan dan pedang itu pada Nona Chloe?" Gumam Aiden mengingat bunga mawar biru yang tiba-tiba berubah menjadi pedang saat Chloe memegangnya.
"Untuk sementara aku lebih baik fokus dengan pekerjaanku," Pikir Aiden dengan tenang meranjak dari duduknya, Menuju wastafel untuk cuci piring.
*************
[Keesokan harinya]
Chloe bersantai di kamarnya, Membaca sebuah novel sekedar menghilangkan rasa bosan. Hari ini kampusnya libur karna para dosennya sedang rapat besar-besaran entah rapat apa Chloe juga gak tahu.
Pagi yang cerah namun kakinya terlalu mager untuk jalan-jalan pagi keliling Asrama, Paling tidak Chloe bisa berada di kamar seharian. Tapi tiba-tiba dia teringat dengan pohon besar yang Aiden tunjukkan beberapa hari yang lalu.
"Hm...Saat itu kan aku gak sengaja nyentuh kelopak bunga pohon itu dan tiba-tiba saja aku berada di taman bunga. Mungkin jika kuajak Ian kesana, Kami bisa kembali ke raga masing-masing lagi sekalian Piknik mungkin,"
"Benar juga, Piknik bareng Ian aja. Mungkin pohon itu bisa memindahkan kami ke dimensi lain sekedar jalan-jalan," Celetuk Chloe semangat, Lagipula dia bosan di kamar sendirian.
Dengan antusias Chloe meranjak dari kasurnya lalu segera berlari kecil menuju keluar kamar menemui Ian.
TOK! TOK! TOK!
Sesampainya di depan kamar Ian, Sang gadis mengetuk pintu bersemangat.
Tak lama suara langkah kaki terdengar dari dalam kamar. Pintu tersebut di buka secara pelan oleh sang pemilik kamar. Menampakkan Ian dengan ekspresi datarnya dan sebuah light novel berada di tangan sang pemuda.
CKLEK!
"Apa?"
"Piknik yok,"
"Dimana?"
"Itu di bawah pohon kehidupan atau kejujuran atau apalah itu. Aiden bilang pohon itu salah satu rahasia Asrama ini," Jelas Chloe apa adanya.
"Hm...Pohon itu ya, Mau Piknik di dimensi lain nih?"
"Yup betul, Mau ikut gak?"
"Berdua aja?"
"Iya, Mumpung libur sehari. Bosen di kamar nih, Apa mau ngajak yang lain juga?"
"Gak! Siap-siap sana! Nanti aku nyusul,"
"Lha, Aku yang ngajakin kok situ yang nyuruh-nyuruh?"
"Jadi gak?! Kalau enggak aku lanjut baca novel,"
"Iya, Iya. Buruan ya,"
Setelah ngobrol sebentar dengan Ian, Chloe langsung ngacir menuju kamarnya kembali. Bersiap-siap untuk piknik kecil mereka.
**************
[Dimensi lain]
"Wow, Tempat piknik kita indah sekali. Bahkan mungkin kita bisa bermain sepuasnya disini," Kata Chloe dengan netra yang berbinar senang, Menatap sebuah pohon sakura di tengah-tengah padang rumput yang luas.
"Tentu saja, Tempat ini bisa berubah-ubah sesuai keinginan orang yang memasuki dimensi ini," Jelas Ian tenang sambil menenteng sekeranjang makanan piknik mereka.
"Hebat, Rasanya seperti masuk ke dunia fantasy,"
Ian noleh menatap pakaian Chloe, Gadis itu sudah kembali ke raga aslinya namun hanya di dimensi ini saja. Surai hitam dengan netra merah.
__ADS_1
"Tapi cara berpakaian tomboynya itu masih tidak berubah," Pikir Ian yang masih memandangi Chloe.
Sesaat dia menoleh ke arah lain dan menemukan semak-semak belukar yang dipenuhi bunga, Pemuda bersurai hitam itu mendekati bunga-bunga tersebut lalu memetik salah satunya.
"Ian, Ayo ke–"
Chloe menoleh menyadari Ian tak berada tak berada disampingnya, Sang gadis noleh kanan kiri mencari keberadaan Ian dengan bingung. Dia melangkah mencari sang pemuda.
"Ian! Kau dimana?" Seru sang gadis.
Sadar karna sudah meninggalkan sahabatnya terlalu lama, Ian menoleh masih tak meranjak dari tempat. Dia hanya memanggil Chloe.
"Chloe, Sini!"
Chloe segera bergegas menuju asal suara, Dan menemukan Ian yang sedang memetik bunga di semak-semak. Sejenak dia diam mematung menyadari pakaian Ian yang tampak berbeda dan dia baru sadar sekarang karna tadi dia hanya fokus dengan piknik mereka.
"Ian, Kau...," Chloe tak bisa berkomentar apa-apa karna kagum sekaligus heran.
"Apa?" Sang pemuda hanya menaikkan satu alisnya heran, Menatap ekspresi kagum campur heran dari sahabatnya. "Apa ada yang aneh dengan wajahku?"
"Tidak! Hanya saja jika kau berpakaian seperti itu. Kau lebih mirip pangeran nyasar," Kata Chloe kagum, Dia tersenyum ceria. "Jangan-jangan kau berasal dari Kerajaan?"
Sontak pipi Ian merona tipis, Dia menutup mulut dengan punggung tangannya malu. "K-Kau bicara apa sih? Jangan ngawur! Itu muji atau ngeledek?!"
Chloe tertawa kecil melihat reaksi malu Ian, Sesaat semilir angin kecil menerbangkan jubah hitam Ian dan surai hitam Chloe.
Sang gadis mendekat dan mengambil alih keranjang di tangan Ian. "Sini, Keranjangnya biar aku yang bawa,"
Ian hanya membiarkan saja, Beberapa kelopak bunga dari semak-semak beterbangan terkena angin. Dengan senyum tipis Ian menyisipkan bunga yang dipetiknya tadi ke samping rambut sang gadis.
"Begini lebih...umm segar dipandang," Ian terlalu malu untuk bilang yang sebenarnya, Jadi dia hanya mengatakan apa adanya.
"Segar?" Chloe memiringkan sedikit kepalanya bingung, Tak paham maksud Ian.
"Lupakan saja!" Elak Ian memalingkan wajahnya ke arah lain agar Chloe tak melihat pipinya yang merona tipis. "Ayo kita piknik sekarang,"
"Hm...Ayo," Kata Chloe semangat, Dia dengan antusias menggenggam salah satu tangan Ian, Menarik sang pemuda agar mengikutinya menuju pohon sakura itu.
Sesaat netra merah Ian melirik tangan mereka yang bergandengan, Menggenggam balik tangan Chloe.
Setelah berjalan beberapa menit, Mereka sampai di bawah naungan pohon sakura. Ian segera menggelar kain yang dibawanya setelah Ian barulah Chloe menata barang bawaan mereka.
Keduanya duduk dalam diam sambil menikmati suasana alam serta semilir angin yang menerpa. Dan juga menikmati makanan masing-masing.
"Sudah lama kita gak piknik bersama, Terakhir kali saat SMP kan?" Kata Chloe memulai obrolan sambil minum jus nya.
"Hm...Itu juga harus bawa bekal sendiri-sendiri pas piknik di gunung,"
"Nanti kapan-kapan kita ajakin yang lain juga, Biar sama-sama menikmati keindahan kayak gini juga,"
"Kalau mereka gak sibuk,"
"iya deh, Btw Kau dapat pakaian itu dari mana?"
"Saat pertama kali masuk ke dimensi ini, Aku kembali ke raga asliku dan tiba-tiba saja pakaianku sudah berubah begini," Jelas Ian mengambil sandwich nya.
"Keren juga nih tempat, Mirip dunia fantasy,"
"emang,"
Setelah menghabiskan makanannya, Sang gadis kembali menatap alam sekitar mereka. Hanya suara hewan-hewan hutan yang memenuhi keheningan mereka. Tak lama Chloe merasakan pundak kirinya agak berat, kepalanya menoleh ke samping dan menemukan Ian yang menyandarkan kepalanya pada pundak Chloe.
Pemuda bernetra merah itu menutup kelopak matanya, Membiarkan dirinya hanyut dalam keheningan mereka. Tangannya menggenggam tangan Chloe, Sesaat kelopak matanya terbuka.
"Kuharap waktu berhenti sebentar, Aku ingin menikmati keadaan kita yang seperti ini dulu," Kata Ian lirih, Dan tentunya sang gadis bisa mendengarnya. Kepala Ian masih menyandar pada pundak Chloe dan tak melepaskan genggamannya pada tangan sang gadis.
Chloe diam membiarkan Ian menyandar pada pundaknya, Perasaannya saat ini tengah dilanda kegalauan.
"Ian, Aku–"
"Kau tidak perlu menjawabnya Chloe, Piknik berdua seperti ini saja sudah membuatku bahagia," Potong Ian cepat, Tersenyum tipis sesaat. "Walau status kita hanya sebatas sahabat aku tidak masalah, Suatu saat nanti kau pasti akan menemukan orang yang bisa membuatmu bahagia dan selalu mendampingimu,"
Ian menutup kelopak matanya, Terbuai semilir angin yang menerbangkan helai-helai rambutnya. Tidur sambil bersandar pada pundak Chloe adalah hal yang dia suka. Refleks sang gadis langsung mendekap tubuh Ian yang hampir merosot turun.
Chloe masih diam memikirkan perkataan sahabatnya itu, Sejujurnya Chloe tidak terlalu memikirkan masalah percintaan sejak misinya di ganti oleh Program. Karna Chloe lebih fokus untuk menyelesaikan misinya saja dan menemukan keluarga asli Chloe Amberly. Namun kalau sudah begini jadinya, Dia juga bakalan bimbang sendiri.
"Masalah percintaan memang rumit dan bikin dilema," Gumam Chloe pelan sesaat menghembuskan napas pelan lalu menyandarkan kepalanya di atas kepala Ian.
Ikut terbuai oleh semilir angin dan akhirnya mereka tertidur di bawah naungan pohon sakura.
TBC
__ADS_1