
[Mansion Michelle]
Kini Alice berada di kamar Chloe, Gadis bersurai coklat sepunggung itu masih setia menemani temannya itu, Perlahan dia mengobati sudut bibir Chloe yang terluka dengan kapas yang sudah diberi antibiotik sebelumnya.
Chloe hanya bisa meringis menahan sakit saat kapas itu bertemu sudut bibirnya, Melihat Chloe yang tengah menahan sakit sejujurnya membuat Alice iba. Dia tak habis pikir mengapa Revan begitu tega memukul Chloe yang jelas-jelas sudah melindungi Ivy dengan nyawanya selama Chloe tinggal di mansion Michelle.
Usai mengobati sudut bibir Chloe, Alice beralih mengompres memar si gadis dengan air dingin.
"Aaww!"
"E-Eh, Maaf maaf!" Alice refleks meminta maaf saat mendengar suara Chloe.
"Tidak apa-apa, Aku masih bisa menahannya," Chloe tersenyum tipis, Agar Alice tak khawatir padanya.
"Baiklah, Aku akan lebih hati-hati," Alice kembali fokus dengan aktivitasnya. Meski begitu tampak netra coklatnya berkaca-kaca menahan tangis. Dia merasa sedih melihat kondisi temannya yang memprihatinkan seperti ini.
Entah apa yang terjadi pada Chloe setelah mereka lulus SMA, Alice bahkan jarang bertemu Chloe saat si kampus karna gedung kampus mereka yang agak berjauhan dan tentunya berbeda jurusan.
Setetes air mata menetes dari mata indahnya, Tak kuasa menahan tangis. Alice menghentikan aktivitasnya dan menutup wajahnya dengan tangan. Chloe mengerjap bingung, Dirinya tak mengerti mengapa Alice tiba-tiba saja menangis.
"Alice, Kenapa menangis? Bukankah yang terluka itu aku bukan kau?" Chloe memegangi pundak Alice, Mencoba melihat wajah temannya itu.
"Hiks...Aku sedih melihat keadaanmu begini Chloe...hiks...," Alice menjauhkan tangannya, Memperlihatkan wajahnya yang kacau karna menangis.
"Hee? Kenapa memangnya? Ini hanya luka kecil, Tidak seberapa bagiku, Aku kan kuat," Chloe mencoba menghibur Alice, Namun bukannya berhenti tangisan Alice semakin menjadi-jadi hingga membuat Chloe agak panik.
"A-Alice...!"
"Aku tidak tahu...Selama ini kau hidup seperti apa...Setelah kita lulus SMA. Aku sedih karna tak bisa menolong temanku...hiks...," Alice masih menangis hingga Chloe merangkul gadis bersurai coklat panjang itu dalam pelukannya.
"Udah udah, Aku gak apa-apa. Setelah lulus SMA hidupku nyaman dan tenang kok. Buktinya aku masih hidup sampai sekarang, Ada orang-orang yang menyayangiku juga dan keluarga angkatku yang juga baik padaku. Aku senang banyak yang menyayangiku,"
"Benarkah?...Aku juga ikut senang kalau kau bertemu orang-orang yang baik padamu, Bahkan kau memiliki keluarga angkat yang baik. Syukurlah," Alice memeluk Chloe balik penuh haru, Dan Chloe yang hanya bisa tersenyum lembut sembari menepuk punggung Alice menenangkan.
Setelah tangisan Alice yang mulai tenang, Gadis bersurai coklat itu mengusap sudut matanya yang masih sedikit berair..
"Ah, Maafkan aku karna menangis tiba-tiba," Wajah Alice merona malu, Ia melepas pelukannya dan Mengusap sisa-sisa jejak air matanya dengan tisu.
Chloe terkekeh kecil sambil menepuk surai Alice pelan. "Tak apa,"
"Aku obati lagi memarnya," Alice buru-buru mengalihkan topik, Kembali mengompres pipi Chloe.
Chloe hanya mengangguk dan membiarkan Alice mengobatinya. Sejenak gadis bersurai biru diam merenung seperti mencoba mengingat sesuatu.
"Sepertinya ada yang terlupakan di kampus, Tapi apa ya?" Gadis itu masih terdiam hingga ia putuskan untuk mengabaikan apa yang dia lupakan tadi.
**************
[Keesokan paginya]
Cip! Cip! Cip!
Burung-burung berkicau riang melintasi sebuah mansion dengan sinar mentari yang masih malu-malu menyinari bumi.
Di sebuah ruangan bergaya abad Victoria, Seorang gadis masih tertidur pulas di balik selimutnya. Hingga sinar mentari perlahan-lahan memasuki kamarnya lewat celah-celah gorden. Menyadari sengatan panas di wajahnya sontak membuat kelopak mata itu terbuka memperlihatkan netra sebiru samudra miliknya.
Sang gadis bergegas bangun dan memandang jam dinding kamarnya yang menunjukkan pukul 7.30 pagi. Refleks si gadis berteriak kaget.
"Gggyyaa! Aku terlambat!"
BRAK!
BRUK!
GUBRAK!
Itulah suara-suara yang terdengar di kamar gadis bersurai biru itu selama melakukan aktivitas rutinnya.
**************
GREK!
Azura menarik kursinya hingga sedikit menimbulkan bunyi, Dia duduk dengan tenang disamping Al. Selagi menunggu kedua adik kembarnya selesai masak, Dia mengambil selembar roti dan berniat mengoleskan selai coklat disana.
Rafael sibuk memeriksa jadwal kantornya, Al tampak bermain-main dengan sendoknya, Ash sedang menulis ulang jadwal kampusnya, dan Ivy tengah memeriksa semua peralatan tulisnya dalam ransel, Berharap tidak ada satu pun yang tertinggal.
Semuanya sibuk dengan aktivitas masing-masing hingga suara langkah kaki terdengar mendekat mengintrupsi kegiatan mereka.
__ADS_1
Tap! Tap! Tap!
Wwuusshh!
Chloe berhenti setelah lari dengan kecepatan penuh, Dia bergegas mengambil selembar roti di meja membuat para Michelle brother tersentak. Si gadis segera merebut sendok selai yang masih berada di tangan Azura dan mengoleskan selai itu ke rotinya.
Buru-buru gadis itu kembali meletakkan sendok selai ke tangan Azura lalu dia membungkukkan sedikit badannya pada Azura.
"Maaf kak Azura,"
Tanpa menunggu jawaban Azura, Si gadis segera melahap rotinya dan kembali berlari keluar dapur dengan kecepatan penuh. Meninggalkan seisi ruangan yang melongo dengan tingkahnya.
"Selaiku...," Azura meratapi selainya yang telah raib di rebut oleh Chloe, Padahal dirinya sudah berniat mengoleskan selai itu ke rotinya.
"Ada apa dengannya, Buru-buru begitu?" Komentar Rafael yang sempat melihat Chloe berlari pergi.
"Entahlah, Sepertinya terlambat mengingat kelasnya masuk lebih pagi dibanding kelasku," Kata Ash sambil memperhatikan jam arlojinya yang menunjukkan pukul 7.50 pagi.
Tak!
Leo meletakkan sepiring takoyaki di hadapan Ash. "Dia belum memakan sarapannya,"
Leo melirik sepiring takoyaki penuh yang masih berada di tangannya.
"Jadikan bekal saja, Nanti aku yang akan mengantarkan padanya. Dia pasti akan kelaparan karna hanya memakan selembar roti," Kata Ash sembari mengunyah sarapannya.
"Baiklah,"
************
[kampus]
KREIT!
Chloe membuka pintu kelasnya agak kasar, Ia memperhatikan seisi kelasnya yang masih ribut seperti biasa setiap pagi. Si gadis menghembuskan napas lega, Ia pikir tadinya dia akan terlambat.
Si gadis bergegas buru-buru menuju kursinya, Dia langsung duduk dan meletakkan ranselnya disana.
"Huft...Untung aja dosennya belum datang," Pikir Chloe lega hingga tiba-tiba dia merasa ada yang menepuk pundaknya. Si gadis menoleh mencari si pelaku.
"Hei Chloe, Kenapa kemarin kau tidak datang lagi ke festivalnya? Kami jadi kekurangan orang buat bantu-bantu," Kata teman Chloe yang menepuk pundaknya tadi.
"Masa lupa sih, Kemarin kampus kita ngadain festival bunga. Itu lho buat ngerayakan universary kampus kita yang ke-60," Jelas teman Chloe lagi.
Kening Chloe mengerut mencoba mengingat festival yang dimaksud, Netra birunya membulat kaget setelah ingat itulah hal yang dia lupakan kemarin malam. Dia lupa kembali lagi ke kampus buat membantu teman-teman. Ah, Ini gara-gara bertarung dengan Victor disaat yang tidak tepat dia jadi melupakan festivalnya.
Seketika Chloe menepuk keningnya lalu berdiri dan membungkukkan sedikit badannya pada temannya itu. "Aduh, Maaf maafkan aku. Aku lupa balik lagi kemarin karna ada urusan mendadak dari keluargaku setelah menjemput seseorang. Jadi aku tidak sempat datang buat bantu-bantu," Bohong Chloe.
"Iya iya, Gak apa-apa deh. Kamu juga udah bantu mempersiapkan dekorasi sama kostumnya kemarin. Jadi gak masalah, Tapi lain kali jangan kayak gitu lagi ya,"
"Iya, Sekali lagi maaf ya,"
"Ya sudah, Duduk lagi gih. Kayaknya bentar lagi dosennya dateng,"
Chloe hanya mengangguk dan kembali mendudukkan diri, Dia jadi merasa gak enak sama temannya itu tapi mau gimana lagi. Festivalnya udah lewat jadi Chloe hanya bisa pasrah.
**************
[Jam Istirahat]
Chloe berjalan lunglai keluar dari kelasnya, Ia mendekati mesin minuman dan memasukkan koin disana. Setelah minuman pilihannya datang, Dia mendekati kursi terdekat dan meminumnya.
Gadis itu memegangi perutnya sesaat, Seakan merasakan cacing dalam perutnya berkonser ria.
"Aku lapar, Tapi aku malas ke kantin soalnya kantin kampus jauh dari gedung jurusanku," Pikir Chloe lesu.
Tak lama dia merasakan seseorang duduk di sampingnya, Sebuah kotak bekal tiba-tiba saja sudah tersodor ke hadapannya membuat gadis itu terkejut.
"Nih, Untukmu,"
Suara familiar itu seketika membuat Chloe menoleh mencari asal suara, Menemukan Ash yang duduk disampingnya masih dengan kotak bekal yang tersodor. Si pria tampak tersenyum ramah seperti biasany.
"Bekal ini untukku?" Chloe mengerjap tak percaya, Memandangi bekal di tangan Ash.
"Iya, Kau tidak sempat sarapan kan tadi dan hanya makan selembar roti. Jadi aku meminta Leo untuk menjadikan sarapanmu bekal saja. Aku sudah menduganya kau akan kelaparan,"
"Tapi kak Ash gimana?" Chloe menatap ragu.
__ADS_1
Kruyuk!
Disaat bersamaan perut Chloe berbunyi menandakan dirinya sedang menahan lapar saat ini. Sontak wajah gadis itu memerah layaknya kepiting rebus, Meski suaranya tidak terlalu keras tetap saja Ash bisa mendengarnya apalagi dalam jarak sedekat ini.
"Pfft...!" Ash menutup mulutnya sambil tersenyum geli. Pundaknya agak bergetar menahan tawa setelah tak sengaja mendengar suara perut Chloe yang berkonser ria.
"Uwah! Kenapa bunyi nya muncul disaat yang tidak tepat?! Bikin malu tau!" Pikir Chloe yang menutup wajahnya dengan tangan, Pipi masih memerah.
"Gak apa-apa, Ambil aja. Aku juga udah beli makanan di kantin tadi. Bekal ini kan memang untukmu," Kata Ash meski tak menahan tawa lagi tapi dia masih tersenyum geli.
"Ma-Makasih," Si gadis buru-buru menerima bekal yang disodorkan padanya, Dia lantas membuka tutup bekal itu lalu memakannya dengan lahap.
"Enaknya...Jadi tambah enak saat lapar," Chloe tersenyum lega karna kini perlahan perutnya mulai terisi dengan makanan.
Ash memperhatikan Chloe makan sesaat, Sebelum mengambil roti disampingnya dan membuka bungkusnya. Memakan dalam diam sambil memandangi beberapa mahasiswa yang berlalu lalang tak jauh dihadapan mereka.
Beberapa menit kemudian sang gadis menutup bekalnya, Mengambil minuman dan meminumnya sampai habis.
"Kak Ash, Sudah mempersiapkan pakaian apa yang ingin di pakai di acara pernikahan kak Ray dan kak Eli nanti belum?" Chloe membuka obrolan sambil membuang kalengnya ke tempat sampah terdekat.
"Udah, Semuanya udah siap kok. Kalau Chloe gimana?" Ash meminum air mineralnya, Melirik Chloe sekilas.
"Belum, Soalnya aku gak tahu harus pakai pakaian yang kayak gimana," Chloe menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan jari telunjuk, Bingung harus memilih pakaian seperti apa.
"Setahuku sih untuk acara pernikahan kayak gini cewek pakai gaun, Kalau ingin jelasnya tanya saja Alice. Dia pasti lebih berpengalaman soal gaun," Saran Ash, Membuang sampahnya ke tempat sampah terdekat.
"Ide bagus, Hari ini juga Alice akan mengajakku jalan-jalan bersama Evelyn. Aku tidak tahu kami akan kemana, Tapi yang pasti berhubungan dengan acara pernikahan kak Eli nanti," Chloe berdiri dari duduknya, Lalu menatap Ash sambil tersenyum.
"Terima kasih sarannya kak Ash, Kalau begitu aku pergi dulu. Dah!" Chloe membawa kotak bekalnya lalu melangkah pergi.
"Iya, Sama-sama," Ash sedikit meninggikan nada suaranya agar Chloe mendengar setelah gadis itu pergi.
***************
[Disisi lain]
Sesuai janji, Setelah pulang dari kampus. Alice, Chloe, dan Evelyn memutuskan mengunjungi sebuah butik, Mereka memilih gaun yang pas untuk acara pernikahan Eli.
Chloe memilih beberapa gaun disana, Dia jadi tambah bingung. Pasalnya semua gaun yang tersedia disana cantik-cantik dan bagus-bagus semua, Hanya saja harganya selangit yang bikin dompet Chloe menangis melihatnya. Bisa-bisa gaji bulanannya masih belum cukup untuk membeli satu gaun.
Chloe menyentuh satu gaun yang menarik perhatiannya sejak tadi, Namun saat melihat harga nya membuat gadis itu murung.
"Harganya sangat mahal, Uangku tak akan cukup untuk membelinya. Mungkin lebih baik aku mencari di butik lain yang harga gaunnya lebih murah," Pikir Chloe murung, Dia menjauh dari gaun itu dan beralih melihat-lihat gaun lain tanpa menyadari Alice memperhatikannya sejak tadi.
Puas melihat-lihat, Chloe menghampiri Evelyn dan Alice yang asyik memilih beberapa gaun.
"Alice, Evelyn. Kalian berdua udah selesai belum? Bentar lagi udah mau malam," Kata Chloe memperhatikan kedua temannya itu.
"Sebentar lagi," Evelyn memamerkan satu gaun yang di pakainya. "Eh, Chloe. Gimana pendapatmu, Gaun yang ini cocok gak sama aku?"
"cocok sih, Tapi belakangnya agak terlalu terbuka," Komentar Chloe memperhatikan gaun yang dikenakan Evelyn.
"Iya sih, Gimana kalau yang ini?" Evelyn mengambil gaun lainnya dan melekatkan di badannya.
"Nah ini baru cocok, Warnanya juga bagus,"
"Iya tuh, Itu udah cocok kok," Celetuk Alice.
Evelyn tersenyum girang lalu mengangguk. "Baiklah aku pilih yang ini saja,"
"Kalau aku gimana Chloe?"
Chloe mengalihkan pandangannya menatap Alice yang sudah mengenakan satu gaun, Dia memperhatikan dari ujung rambut sampai kaki lalu mengancungkan jempolnya.
"Udah cocok kok, Apalagi kalau dipadukan dengan sepatu tinggi dan dompet itu," Chloe menunjuk sepatu berhak tinggi 2 cm dan dompet di etalase yang ia maksud.
Alice mengikuti arah pandang Chloe diikuti Evelyn dan langsung disetujui Evelyn.
"Wah bener banget, Sepatu sama dompetnya cocok sama Alice," Kata Evelyn.
"Yak, Baiklah aku akan beli sepatu dan dompetnya juga," Kata Alice semangat.
"Ayo kita bayar dulu," Ajak Evelyn melangkah lebih dulu ke kasir.
Alice mengangguk dan memandangi Chloe. "Chloe kamu duluan aja keluar ya, Nanti kami nyusul,"
"Oke,"
__ADS_1
Chloe berjalan pergi keluar butik dan dia menunggu tepat di depan toko, Sambil menunggu Alice dan Evelyn ia memainkan handphonenya dengan santuy.
TBC