System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Salah Paham (2)


__ADS_3

Chloe diam menunduk tak berani menatap mata ayah Ezra, Sedangkan Ezra memandang balik dengan ekspresi serius.


"Jadi kenapa bunda?" Tanya ayah Ezra yang sudah duduk di sofa berhadapan dengan Ezra dan Chloe.


"Ini lho, Mereka ternyata udah nikah. Kita gak diundang ke pernikahan mereka," Bunda Ezra yang duduk disamping ayah Ezra tampak berkacak pinggang, Ia memusatkan perhatiannya pada Ezra. "Ezra juga, Seharusnya minta restu dulu sama ayah dan bunda. Biar bisa diskusi soal lamarannya. Jangan asal nikah aja!"


Ayah Ezra menggeleng pelan sambil menghembuskan napas. "Bunda mu benar Ezra, Kamu sebagai anak harusnya minta restu dulu. Mau ditaruh dimana muka ayah dan bunda nanti kalau ketemu orang tua istrimu, Kalau kamu asal nikah gini?"


Ezra memijit keningnya sesaat, Hembusan napas pelan terdengar dari pria bernetra hijau itu. Bagaimana bisa dia menjelaskan yang sebenarnya, Kalau bunda dan ayahnya tidak memberikan kesempatan untuknya bicara. Sedangkan Chloe hanya bisa menatap speecheles dengan senyum paksa tersungging di bibirnya.


"Ezra, Kamu sudah dewasa kan? Jadi tahu yang benar dan salah. Kalau begini ayah dan bunda akan turun tangan meminta restu dari orang tua istrimu. Ayo kita berangkat sekarang," Kata ayah Ezra tegas yang membuat Ezra sontak mendongak.


"Bunda, Siap-siap dulu. Sekalian bawa oleh-oleh buat besannya Ezra," Bunda Ezra berniat meranjak dari duduknya, Namun Ezra lebih dulu membuka suara dengan ekspresi seriusnya.


"Ayah, Bunda! Stop! Tolong dengar dulu penjelasan Ezra. Ezra enggak bisa menjelaskan kalau kalian tidak memberi kesempatan untuk Ezra bicara," Kata Ezra yang seketika membuat ayah dan bunda Ezra kembali memusatkan perhatiannya.


Bunda Ezra yang tadinya sudah berdiri kini kembali duduk. "Ah, Maafkan bunda. Sekarang Ezra bisa bicara,"


"Kami berdua hanya rekan kerja, Gak lebih dari itu bunda. Lagian aku menganggapnya sudah sebagai bagian dari keluargaku karna dia adalah temanku dan tuan Justin. Dia sering membantu kami di kantor jadi sering bertemu," Jelas Ezra menyembunyikan sebagian fakta bahwa Chloe satu asrama dengannya.


"Ya ampun, Ternyata begitu ya. Bunda kira tadi kalian sudah menikah, Habisnya kalian selalu menyebut kata 'keluarga' sih. Bunda jadi salah paham," Bunda Ezra tersenyum malu.


"Gak apa-apa tante, Pak Ezra dan Pak Justin juga sering membantu saya di kantor. Makanya saya juga menganggap mereka bagian keluarga saya," Chloe tersenyum tipis memaklumi sikap bunda Ezra.


"Ayah kira juga tadi beneran udah nikah, Habisnya Ezra udah usia 23 masa belum punya pasangan," Ayah Ezra terkekeh kecil disertai gurauannya. Ikut merasa malu karna salah paham.


"Kalau aku sudah menikah pasti aku memakai cincin pernikahan di jariku. Lagian aku gak ingin buru-buru menikah. Ayah bunda," Ezra menunjukkan jari-jari tangan kirinya yang tidak terdapat cincin pernikahan sama sekali. Chloe pun mengikuti gerakan Ezra, Ikut menunjukkan jari tangan kirinya membenarkan perkataan Ezra sembari tersenyum lebar.


"Walah, Padahal menurut bunda kalian cocok lho. Habisnya selama bertahun-tahun bunda gak pernah tuh ngeliat Ezra dekat dengan gadis lain. Selain selalu menempel disamping Justin," Bunda Ezra terkekeh pelan yang membuat Ezra seketika merengut kesal.


Si pria mengambil cangkirnya dan meneguk isinya beberapa kali untuk mengalihkan rasa kesalnya karna sering disebut menempel sama Justin. Meski memang benar kenyataannya.


"Hehehe, Tante bisa aja. Tapi belum tentu Pak Ezra mau sama saya. Saya kan orangnya biasa aja," Chloe nyengir kecil, Mengusap tengkuknya malu.


"Uhuk...!" Seketika Ezra tersedak mendengar perkataan Chloe, Si pria sontak menutup mulutnya dengan satu tangan dan buru-buru meletakkan cangkir. Rona tipis kembali menghiasi pipinya.


"Nak, Kamu gak apa-apa?" Tanya Ayah Ezra sadar kalau Ezra tersedak.


"Iya, Gak apa-apa yah. Cuma tersedak kecil," Ezra mengangguk masih menutup mulutnya, Kemudian netra hijau itu melirik Chloe.


"Apa maksudnya? Apakah itu semacam kode? Tapi tadi nadanya terdengar biasa saja," Pikir Ezra memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Oh iya, Ngomong-ngomong nak Chloe kenal Ezra dimana?" Tanya bunda Ezra sambil tersenyum lembut.


"Di perusahaan J.G Entertainment milik pak Justin. Waktu saya ngelamar pekerjaan disana, Saya udah kenal pak Ezra," Bohong Chloe kikuk.


"Duh, Maaf paman dan tante. Chloe terpaksa bohong biar pak Ezra gak kena masalah lagi," Ringis Chloe dalam hati, Merasa bersalah karna harus berbohong namun mau bagaimana pun ia terpaksa melakukannya agar identitas dirinya dan pak Ezra tetap aman.


"Oh, Pantas saja bisa kenal. Pasti Justin duluan yang kenal kamu sebelum Ezra. Paman benar kan?" Celetuk ayah Ezra sembari menyeruput kopinya.


"Benar paman," Chloe mengangguk kecil, Melirik Ezra yang tampak diam menyimak obrolan itu.


"Lalu saat pertemuan pertama kalian, Apa Ezra bersikap kasar padamu nak?" raut wajah bunda Ezra tampak cemas, Seketika membuat Chloe diam sesaat.


Ingatan perkataan Ezra saat dirinya pertama kali partner dengan si pria tiba-tiba terlintas begitu saja di benaknya.


Flashback On

__ADS_1


"Kau!"


Perhatian Chloe terpusat pada Ezra yang menatapnya jutek dan benci.


"Jangan macam-macam denganku! Awas aja kalau kau coba-coba buat laporan jelek tentangku," Kata Ezra sinis, Menggerakkan tangan kanannya memperagakan seolah sedang memotong kepalanya sendiri. Seolah berkata 'You're Dead!' pada Chloe jika Chloe sampai membuat laporan jelek tentang Ezra.


[Note: (Season 2) Partner]


Flashback Off


"Bahkan meski kejadian itu sudah berlalu, Entah mengapa perkataan pak Ezra waktu itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Aku sadar waktu itu pak Ezra sangat membenciku, Pertama kali bertemu dengannya memang menyeramkan. Dia bahkan tak segan hampir membunuhku waktu itu," Mengingatnya saja membuat Chloe keringat dingin, Dirinya speecheles beberapa saat.


"Itu...–"


Kalimat Chloe terhenti ketika dirinya merasakan senggolan kecil di kakinya, Sejenak netra biru itu melirik kakinya lalu beralih pada Ezra yang memandangnya datar, Tapi netra hijau itu tampak berkilat tersirat penuh makna dibaliknya. Seolah memintanya untuk berbohong.


"Ten-Tentu saja tidak tante, Pak Ezra itu sangat baik malah. Bahkan di kantor dia sering membantu saya jika saya sedang kesulitan. Semua karyawan kantor sangat menghormatinya setara dengan pak Justin," Kata Chloe tersenyum paksa, Menyembunyikan mentalnya yang sedang tertekan karna tatapan maut Ezra.


"Duh pak, Udah kutolongin lho. Tatapannya jangan galak-galak napa?" Pikir Chloe meringis karna tatapan Ezra.


"Oh, Syukurlah kalau begitu. Bunda hanya cemas kalau-kalau sikap kasar Ezra kumat lagi. Tapi sepertinya Ezra tidak akan bersikap seperti itu lagi," Bunda Ezra tersenyum lega, Memandang anaknya yang ikut menatap balik dengan senyum tipis layaknya anak anjing yang kegirangan karna dipuji tuannya.


"Kerja bagus nak, Ayah harap kau mempertahankan sikapmu ini. Jangan sampai sikap kasar itu kambuh lagi," Nasihat ayah Ezra menepuk pelan pundak anaknya, Senyum berkrisma tak luntur dari pria paruh baya itu meski wajahnya terdapat sedikit guratan-guratan keriput.


"Terima kasih Ayah bunda. Aku akan mengingatnya," Ezra menunduk senang mendapat tepukan dari ayahnya.


"Ah, Sekarang pak Ezra malah menunjukkan ekspresi seperti anak anjing yang senang. Aku tidak tahu kalau pujian itu berarti untuknya, Tapi syukurlah kalau pak Ezra merasa senang," Chloe menghembuskan napas lega. Setidaknya ia tidak merasa tertekan lagi karna tatapan maut dari Ezra sudah hilang.


"Ayah bunda, Aku mau ke toilet dulu," Izin Ezra sambil meranjak usai tepukan itu selesai, Kedua orang tuanya hanya mengangguk. Dan Ezra melangkah pergi meninggalkan Chloe disana bersama kedua orang tuanya.


"Nak Chloe, Kalau boleh tahu mengapa nak Chloe memilih Ezra. Padahal masih banyak pria di luar sana yang mungkin lebih baik dari Ezra, Bunda bukan menjelek-jelekkan Ezra tapi bunda hanya cemas dengan masa depan Ezra karna selama ini hanya Justin yang dekat dengannya," Nada khawatir terpancar jelas dari wanita paruh baya itu, Membuat Chloe merenung sesaat.


"Sejujurnya saya tidak masalah perasaan saya berlabuh kemana, Meski tipe seperti pak Ezra saya tidak mempersalahkannya. Karna pak Ezra pun sudah berjuang keras untuk merubah sikapnya. Saya kira pak Ezra layak mendapatkan yang lebih baik," Jelas Chloe tersenyum lembut, Tatapannya tampak teduh.


"Kamu benar-benar sangat baik nak," Ayah Ezra ikut tersenyum tampak lega mendengar jawaban Chloe. "Tadinya paman juga cemas karna selama bertahun-tahun Ezra hanya dekat dengan Justin, Dan hal itu mungkin sulit membuatnya mendapatkan pasangan. Syukurlah sekarang dia bertemu gadis sepertimu nak,"


"Ezra itu sejujurnya anak yang baik, Dia selalu patuh dengan perintah kami. Tapi karna berteman lama dengan Justin juga mungkin merubah sikapnya, Bunda minta maaf kalau Ezra pernah bersikap kasar padamu nak,"


"Enggak apa-apa paman tante, Saya memaklumi sikap pak Ezra. Pak Ezra bersikap begitu juga karna ingin melindungi Pak Justin, Mau bagaimana pun pak Justin adalah atasan sekaligus sahabat bagi pak Ezra. Jadi bisa dibilang pak Ezra enggak mau kehilangan sosok seperti pak Justin," Balas Chloe dengan positif thingkingnya.


Membuat kedua orang tua Ezra tersenyum mendengarnya.


"Ah, Jadi ini ya chemistry orang-orang tertentu. Pemikirannya berbeda dibanding orang pada umumnya, chemistry yang dimiliki gadis ini ternyata bisa merubah sudut pandang Ezra padanya bahkan orang-orang terdekatnya. Sepertinya kamu tidak salah pilih nak Ezra," Pikir Ayah Ezra masih tersenyum. Dia senang kalau Ezra sudah menemukan pasangan yang cocok.


"Kami mungkin tidak bisa selalu menemani Ezra, Terlebih dia orang yang sibuk. Kalau begitu, Boleh bunda minta satu permintaan pada Chloe?"


"Boleh tante, Chloe pasti akan berusaha semampu Chloe kalau tante minta,"


Senyum lembut kembali terbit di wajah wanita itu. "Tolong jaga Ezra ya, Dia sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi selain kami,"


Sejenak Chloe tertegun mendengarnya, Entah mengapa dirinya merasa sedih seolah itu adalah sebuah wasiat. Namun sang gadis menepis pemikiran negatif itu dan mengangguk senang sembari tersenyum ceria.


"Pasti! Saya akan berusaha menjaga pak Ezra. Meski pak Ezra menolaknya, Tapi paman dan tante juga berusaha ya biar pak Ezra gak sendirian," Balas Chloe masih memepertahankan senyumnya. "Ini janji Chloe lho,"


"Iya, Kami pasti juga akan berusaha demi Ezra," Ayah Ezra menggangguk.


Chloe kembali tersenyum, Hingga tak lama usai obrolan itu. Ezra mendekati Chloe sambil menatap orang tuanya.

__ADS_1


"Ayah bunda, Sepertinya kami harus pulang sekarang. Aku harus mengantarnya," Kata Ezra sambil memegang sebuah buku yang tampak kusam ditangannya.


"Ah, Mengapa tidak menginap saja disini sehari? Bunda masih mau ngobrol dengan nak Chloe," Bunda Ezra tampak cemberut karna Ezra dan Chloe mau pulang.


"Maaf bunda, Tapi keluarga si tengi–maksudku keluarga Chloe pasti mencarinya. Jadi kami tak bisa lama-lama," Ezra buru-buru meralat ucapannya, Hampir saja dirinya keceplosan menyebut Chloe tengil.


Chloe melirik sejenak dengan pandangan speecheles. "Panggilan itu tetap tidak berubah saja sampai sekarang,"


Bunda Ezra masih cemberut dan ditenangkan ayah Ezra. "Sudahlah bunda, Biarkan mereka pulang. Ezra juga sibuk, Kapan-kapan mereka bisa kesini lagi kok. Benar kan Ezra?"


"Iya,"


"Ya udah, Hati-hati dijalan. Jaga nak Chloe ya Ezra," Akhirnya bunda Ezra membiarkan Ezra dan Chloe pergi meski masih tak setuju.


"Iya, Kami pamit dulu," Ezra mengangguk kecil lalu melangkah lebih dulu keluar rumah.


"Kami pergi ya. Paman tante," Pamit Chloe sebelum menyusul Ezra yang pergi duluan.


**************


Ckkeeiittt!


Ezra menepikan mobilnya di sisi jalan, Dia mematikan mesin mobil dan tampak mengutak-atik jam arlojinya. Chloe yang melihat hal itu sedikit mengintip.


"Kenapa pak? Tadi juga kenapa buru-buru pulang?"


"Aku mendapat informasi dari system di jam arlojiku bahwa ada seseorang yang berusaha melacak keberadaan kita, Dia berusaha meretas systemnya," Kata Ezra serius, Masih fokus mengutak-atik jam nya. "Makanya aku buru-buru mengajakmu pulang agar orang tuaku tidak terlibat,"


"Oh begitu," Chloe mengangguk-angguk kecil, Tak lama si gadis merasakan jam arloji yang dipakainya bergetar. Netra birunya melirik sesaat menemukan kalimat 'Danger' tertulis disana dengan layar yang berubah menjadi merah gelap.


"Jamku kenapa? Pak ada tulisan 'Danger' di jamku," Chloe menunjukkan jamnya, Merasa agak panik kalau-kalau jamnya rusak.


Ezra mengalihkan perhatiannya, Mengernyit sesaat sebelum melepas jamnya sendiri usai mematikannya.


"Lepas jamnya, Berikan padaku!"


Chloe melepas jam miliknya sesuai perintah Ezra, Dia memberikannya dan diterima dengan baik oleh si pria. Beberapa saat Ezra mengutak-atik jam Chloe, Hingga akhirnya dia mematikan jam tersebut lalu menyimpan jam miliknya dan Chloe dalam dasboard mobil.


"Untuk sementara kita tidak menggunakan jam nya dulu," Ezra kembali menyalakan mesin mobil dan menjalankan mobilnya. "Pasti ini ulah para polisi itu,"


"Kalau mereka sampai sejauh ini mencari kita, Apa asrama akan ketahuan?"


"Tidak, Lokasi asrama sangat rahasia. Tempat itu tidak bisa dilacak karna ada pelindung dari pohon dimensi,"


"Oh, Pohon yang letaknya di tengah hutan tidak jauh dari asrama itu kan?"


"Iya,"


"Setelah mengantarku, Bapak benar-benar kembali ke asrama?"


"Mau bagaimana lagi, Aku harus menjaga asrama itu agar tetap aman. Dan kau baik-baiklah disana selama aku tidak ada, Ingat jika bertemu Victor atau Red Devil. Segera beritahu aku," Nasihat Ezra tanpa mengalihkan pandangannya.


"Baik pak, Aku mengerti,"


Setelahnya keheningan melingkupi Ezra dan Chloe selama perjalanan pulang, Dan Chloe memilih tidur sejenak untuk menghilangkan rasa lelahnya sehabis perjalanan jauh.


TBC

__ADS_1


__ADS_2