System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Introgasi


__ADS_3

"Kau....!" Ezra mendongak, Memperlihatkan netra hijaunya yang berkilat tajam menatap Azura. Wajahnya agak menggelap dengan aura suram mengelilinginya. Kemudian seringai iblis tersungging di bibirnya "...Ingin langsung ke alam akhirat ya?"


Chloe tanpa sadar meneguk selivanya kasar, Sesaat dirinya melihat sisi serigala Ezra yang akan muncul atau mungkin sisi iblis?


Sedangkan Azura yang mendapat ancaman dari Ezra, Seketika merinding. Apalagi saat netra hijau emerland itu menatap tepat ke matanya, Seolah tatapan itu bisa menembus matanya kapan saja.


"Pria ini...," Azura meneguk selivanya kasar, Tanpa sadar netra biru safirnya memandang Ezra penuh rasa takut. Merasakan hawa membunuh yang mengerikan dari pria bernetra hijau itu. Dia seakan melihat gambaran sosok ular besar berwarna putih dalam diri Ezra, Ular dengan tatapan menyalang bagai elang serta berbisa yang memenuhi mulutnya. "Seperti sosok ular licik yang siap membunuh siapa saja, Dia...Bukan anggota Black Shadow sembarangan,"


Berbeda dengan Chloe, Dimatanya Ezra sekarang malah lebih terlihat seperti iblis. Senyum iblis yang ditunjukkan Ezra, Membuat Chloe merinding.


"Hiiih, Ternyata pak Ezra bukan mirip anak anjing atau serigala. Dia titisan iblis!" Pikir Chloe dalam hati, Merinding. Dia sontak melepas tangan Azura yang melingkar di perutnya.


Gadis itu cepat-cepat membuka suara setelah pernyataan Azura terakhir kali sebelum dilanda keheningan.


"Sayangnya aku maunya sama pak Ezra, Aku gak mau sama kak Azura atau yang lain di keluarga Michelle dan Maximillian ini," Tolak Chloe tegas yang langsung ditatap oleh Ezra, Pria itu tampak tertegun dengan pernyataan Chloe.


Lamunan Azura teralihkan usai mendengar suara Chloe, Keningnya mengernyit. "Hah, Kau mau sama dia? Sikapnya saja tidak tahu sopan santun, Dan wajahnya itu menjengkelkan. Mau-mau nya kau sama dia?!"


Ezra mendelik mendengar penghinaan Azura, Dia sontak berdiri menghadap Azura dengan Chloe sebagai penengah mereka. Netra hijau itu berkilat tajam.


"Dengar ya! Yang tidak tahu sopan santun itu adalah kau! Kau itu bermuka dua!"


"H-Hei, Sudahlah. Jangan memulai pertengkaran," Kenzo ikut berdiri berusaha menenangkan Ezra dan Azura. Namun kedua pria itu tak mendengarkannya.


Azura berniat membalas namun Chloe langsung menyela, Wajah gadis itu agak merona tipis sembari menghadapkan diri dan ikut menatap Azura.


"Pak Ezra itu orang yang baik! Meski wajahnya menjengkelkan tapi dia itu imut, Apalagi saat kesal," Bela Chloe dengan wajahnya yang merona.


"......!"


Krik! Krik! Krik!


Seketika seisi ruangan menatapnya dengan dilanda keheningan, Menyadari kalimat yang keluar dari mulutnya. Sontak Chloe menutup mulutnya sendiri, Ia pun juga kaget kenapa dia malah mengatakan kalimat itu tanpa sadar.


Alhasil wajahnya semakin merah padam, Begitu pun dengan Ezra. Pria bernetra hijau itu menutup mulutnya dengan punggung tangan, Berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. Rona merah samar kini menghiasi kedua pipinya. Ia melirik ke arah lain. Entah mengapa Ezra merasakan seakan ada ribuan kupu-kupu diperutnya, Merasa malu sekaligus senang.


Ah, Mereka berdua jadi salting karna kalimat Chloe barusan. Tentu saja Xavier menyadari suasana canggung itu, Vallen saja sampai ternganga mendengarnya.


Kenzo tak tahu harus beraksi seperti apa, Ekpresinya kini tak bisa ditebak antara kaget dan bingung. Sedangkan Azura tampak menahan tawa dan Rafael yang merasa merinding karna suasana itu mengingatkan dia dengan mantan pacarnya dulu.


"Oh imutnya~ Pasangan yang manis~," Goda Azura dengan senyum penuh kemenangan karna berhasil mempermainkan emosi Ezra dan Chloe.


"A-Aku pergi dulu, Kalian tanya-tanya saja pada Pak Ezra," Kata Chloe gugup, Dirinya bergegas pergi meninggalkan kamar Ezra.


Ezra hanya melihat kepergian Chloe meski masih merasa salting, Dia tak mengatakan apapun. Kemudian netra hijaunya kembali menatap tajam Azura.


"Gara-gara kau!" Desis Ezra tajam.


Sedangkan Azura yang ditatap hanya menunjukkan senyum kalem. "Aku hanya bercanda~," Katanya tanpa merasa bersalah.


Ezra berdecih kesal. "Kau sudah membuatku kesal, Aku tidak mau menjawab pertanyaanmu!"


Mendengar hal itu, Sontak Rafael menarik Azura mundur dan menghadap Ezra. Dia lantas membungkukkan sedikit tubuhnya sebagai permintaan maaf.

__ADS_1


"Maafkan tindakkan adikku ini, Dia memang masih perlu bimbingan dariku. Meski begitu kami benar-benar ingin membicarakan masalah ini denganmu," Kata Rafael tenang, Ia menegakkan tubuhnya kembali sambil melirik Maximillian brother.


Xavier mendengus setelah mendapat lirikan dari Rafael lalu melangkah pergi tanpa mengatakan apapun disusul oleh Vallen dan Kenzo.


Blam!


"Cepat katakan pertanyaan kalian sebelum aku berubah pikiran!" Kata Ezra usai kepergian Maximillian brother.


Kini ekspresi Azura berubah serius. "Ini soal Black shadow, Kami tahu identitas kalian sebenarnya. Jadi jangan mencoba mengelabui kami,"


Ezra diam sejenak, Kedua tangannya mengepal sembari memandang Azura dingin. "Bagaimana kau tahu semudah itu tentang identitas kami?"


Azura tersenyum miring, Dia mengambil sesuatu dari balik saku bajunya. Melempar sesuatu itu kehadapan Ezra. Sontak Ezra menangkapnya dan melihat benda yang dia tangkap itu. Beberapa lembar foto anggota asrama tampak terlihat jelas disana, Bahkan foto Justin juga ada.


Ezra memandangi beberapa foto ditangannya kemudian kembali menatap Azura. "Kau stalker ya...Berani sekali mematai-matai kami!" Desis nya geram.


"Oh bukan, Aku hanya penasaran mengapa orang-orang di foto itu mengejar suruhanku. Terlebih bahkan membuat para hacker sewaanku kalah telak dari orang-orang itu. Sampai membunuh orang suruhanku di dermaga dan mengambil dokumen itu. Padahal kan dokumen itu berisi hal yang penting," Jelas Azura dengan ekspresi sedih yang dibuat-buat nya. Ezra semakin geram lalu menarik kerah pakaian Azura mendekat secara tiba-tiba.


Netranya kembali berkilat tajam. "Orang suruhan?! Jadi waktu itu kau sengaja menyuruh orang lain agar membawa dokumen itu?! Agar kami semua terpancing untuk keluar dari persembunyian kami! Kau benar-benar licik!"


"Bukan aku, Tapi itu ide kak Rafael. Aku kan hanya mengikutinya," Azura masih memasang senyum tenang, Tak terpancing dengan bentakan Ezra meski kerah pakaiannya menjadi korban.


Rafael yang sejak tadi menyimak obrolan itu membuka suaranya, Dia menyandarkan punggungnya pada tembok sambil memandangi Ezra dan Azura.


"Kalianlah yang membuat masalah lebih dulu, Memaksa kami harus turun tangan menghadapi kekacauan yang kalian perbuat. Banyak korban berjatuhan, Berita tentang hilangnya beberapa masyarakat sekitar, Penemuan mayat yang kehabisan darah, Dan ditemukannya kerangka tulang di sebuah gudang terbengkalai. Apa kau mau mengelak fakta itu sekarang?" Kata Rafael dingin yang membuat Ezra diam membeku.


Clek!


Perhatian Ezra, Rafael, Dan Azura beralih menatap Vallen yang kini masuk kembali bersama Xavier dan Kenzo. Ezra mendelik kesal.


"Kalian mendengar pembicaraan kami?!"


"Ck, Mau bagaimana lagi. Sejak awal aku curiga denganmu, Kau pikir aku hanya polisi biasa huh?! Selain bekerja sebagai polisi aku juga seorang detektif. Tentu saja sikapmu patut dicurigai," Jelas Vallen serius.


"Ah, Senang bisa bekerja sama dengan kalian. Tapi yang kucari itu pemimpinnya bukan masalah kekacauan yang disebabkan oleh mereka," Azura menepukkan kedua telapak tangannya sekali, Menunjukkan senyum kalemnya yang justru dilirik sinis oleh Xavier.


"Ambil bagian urusanmu saja! Aku dan Vallen mengurus masalah pembunuhan ini," Sinis Xavier sebelum mamandang Ezra.


"Katakan apa benar kau terlibat dalam kelompok ini, Kelompok yang menyebut diri mereka sebagai Black Shadow?" Xavier mengambil note kecil dalam saku celananya dan pulpen untuk mencatat introgasinya terhadap Ezra.


"Heh, Ternyata sejak awal kalian sudah curiga ya. Memang benar keluarga Michelle dan Maximillian seperti mereka benar-benar berbeda, Tampaknya mereka tidak akan membiarkanku mengelak lagi. Ya sudah, Sesuai keinginan kalian aku akan memberitahu sejujurnya," Pikir Ezra tersenyum angkuh.


"Itu benar, Tapi itu dulu sebelum kelompok kami berselisih dengan kelompok lain. Kelompok black shadow yang kalian pikir pembuat masalah, Justru sedang berusaha menghentikan kelompok lain yang saat ini sedang mengumpulkan kekuatannya," Balas Ezra masih tersenyum angkuh.


Sret!


Vallen lantas mengeluarkan pistolnya, Menodongkan tepat dihadapan wajah Ezra. Ekspresinya terlihat sangat marah dengan nada mengancam dari suaranya. "Omong kosong macam apa itu? Pembunuh tetaplah pembunuh, Meski mencoba menolong masyarakat lain tidak akan dianggap sebagai pahlawan. Kau dan semua temanmu yang terlibat di kelompok black shadow tetap akan dicap sebagai pembunuh, Camkan itu!"


"Hukumanmu akan bertambah berkali-kali lipat setelah ini, Dan kau akan disidang bersama anak itu. Kalian hanya perlu menanti saat hari itu tiba," Kata Xavier tajam yang mendapat dengusan dari Ezra.


"Aku tidak takut! Aku sudah tidak peduli lagi dengan polisi, Hukuman atau apapun itu. Tujuanku sekarang hanyalah menghancurkan orang itu dan kelompok red devil, Dan aku tidak akan menyerah sebelum membunuh mereka dengan tanganku sendiri," Aura Ezra kembali menggelap, Rasa ambisi perlahan muncul dalam dirinya. Ambisi untuk membunuh Victor, Vivian, Dan Liam.


Merasakan atmosfer mengerikan itu refleks membuat Kenzo sedikit mundur, Tubuhnya tiba-tiba mendadak merasakan takut yang luar biasa saat ia tak sengaja memandang netra hijau Ezra yang berkilat penuh amarah dan dendam.

__ADS_1


"Aura ini...Aura membunuh yang sangat kuat, Sepertinya dia bersungguh-sungguh dengan perkataannya. Apa dia pembunuh profesional karna masuk kelompok itu?" Pikir Kenzo merinding sekaligus merasa agak takut.


Ezra terlalu hanyut dalam ambisinya sampai-sampai dirinya tak sadar bahwa kini ia masih dalam keadaan sakit namun karna demamnya sudah berkurang, Ezra merasa ia sudah lebih baik meski rasa pusing masih sedikit menyerangnya.


Netra hijaunya melirik pistol yang terancung kehadapannya, Senyum remeh ia tujukan pada Vallen. "Apa pistol itu hanya digunakan untuk menggertak saja? Payah sekali,"


"Aku bisa saja menembakkan pelurunya ke kepalamu kalau aku mau, Tapi jika aku melakukannya maka aku tidak ada bedanya denganmu. Aku tidak ingin dicap sebagai pembunuh meski orang yang menangkap pembunuh di anggap pahlawan," Vallen tersenyum kalem, Berusaha tidak termakan emosi. Kalau tidak mungkin dirinya akan benar-benar menembakkan peluru itu.


"Hn...," Ezra mendengus kecil dan Vallen menyimpan kembali pistolnya.


"Dimana kalian menyembunyikan mayat-mayat korban yang kalian bunuh?" Tanya Kenzo penasaran.


"Untuk apa kau tahu? Lagipula bagian menyembunyikan mayat itu bukan urusanku. Kami memiliki tugas dan misi yang berbeda untuk setiap anggota,"


"Ck! Tentu saja untuk penyelidikan, Kami perlu bukti untuk memperkuat dugaan bukan hanya berasal dari kata-kata," Decak Xavier sebal, Sesekali dirinya mencatat pengakuan Ezra.


"Aku tidak tahu!"


Ezra mengalihkan pandangannya pada Azura. "Dan kau, Ada urusan apa dengan Tuan Justin sampai ingin tahu siapa pemimpin kami?"


"Oh, Jadi memang Justin Garfield ya pemimpin kalian. Hebat juga dia," Azura tersenyum senang setelah mendapat informasi yang dia inginkan. "Soal itu, Ada beberapa kesepakan yang ingin kuajukan padanya,"


Ezra diam sejenak, Sebelum membuka suara. "Dia dan anggota lainnya sudah menghilang, Hanya tersisa aku dan Chloe. Kami berdua yang sekarang bertanggung jawab mengelola asrama,"


Rafael mengernyitkan alisnya. "Bagaimana bisa mereka menghilang? Apa kau tidak tahu keberadaan mereka sama sekali?"


"Tidak, Tuan Justin memang memintaku menjaga asrama bersama anak itu. Setelahnya aku tidak tahu mereka kemana," Bohong Ezra tenang, Toh dia rasa mereka tidak perlu tahu keberadaan Justin dan anggota lainnya sekarang.


"Ah, Sayang sekali," Azura menunduk kecewa.


Sedangkan Vallen berdecak kesal. "Dia mengaku kalau dia terlibat kelompok itu tapi dia tidak memberikan informasi apapun soal pembunuhan, Tempat asrama itu berada, Dan kronologi pembunuhan terjadi. Benar-benar menyusahkan! Kalau begini tidak ada cara lain selain menyelidiki secara diam-diam," Pikirnya.


"Pertanyaan kalian sudah habiskan? Jangan buang-buang waktuku lagi!" Seru Ezra dingin, Dia lantas melangkah menuju kasurnya dan langsung merebahkan diri disana.


Dia menarik selimut sampai sebatas dadanya dan perlahan mulai tertidur. Xavier menghela napas saat Ezra meninggalkan mereka untuk tidur, Padahal masih banyak pertanyaan dibenak Xavier yang ingin dia tanyakan pada Ezra.


Xavier menyimpan note dan pulpen miliknya. "Ayo pergi,"


Maximillian brother melangkah pergi dari kamar Ezra. Sedangkan Rafael kembali berdecak.


"Padahal masih banyak yang ingin kutanyakan," Kata Rafael jengkel.


"Sudahlah kak, Kita bisa menanyakannya lagi nanti," Azura melangkah lebih dulu keluar kamar kemudian disusul Rafael yang terus menggerutu.


Blam!


Merasa sekitarnya sudah sunyi, Ezra membuka matanya. Dia hanya pura-pura tidur, Tatapannya beralih memandangi daun pintu dimana Michelle dan Maximillian brother keluar tadi.


"Semakin banyak yang kalian ketahui, Cepat atau lambat Red devil dan orang itu akan mengetahuinya kalau keluarga Michelle dan Maximillian telah ikut campur dalam perselisihan kelompok ini," Gumam Ezra pelan.


Sebelum mereka semakin banyak mengetahuinya, Ezra putuskan dia akan keluar dari Mansion ini besok pagi. Dengan begitu dia akan bisa fokus dengan tujuan serta pekerjaannya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2