
[Keesokan harinya]
Akhirnya setelah merawat Raizel seharian, Pemuda itu sembuh juga. Meski kemarin malam Chloe terpaksa tidur di kamar Raizel karna Raizel tidur di kamarnya alias tukeran kamar.
Sang gadis bersiap-siap untuk kuliah, Tak lupa dia merapikan kasurnya dan membuka jendela agar udara segar masuk.
Usai melakukan aktivitasnya, Dia bergegas keluar kamar menuju dapur tak lupa membawa ranselnya. Namun disaat ingin menuruni tangga Chloe berpapasan dengan Ian yang saat itu ingin turun tangga juga.
"Selamat pagi Ian," Sapa Chloe ceria tak lupa senyum cerahnya.
"Pagi," Balas Ian singkat dengan ekspresi datarnya, Melangkahkan kakinya menuruni tangga diikuti Chloe.
"Apa kau melihat Kak Felix?"
"Tidak, Dari kemarin malam sampai sekarang aku tidak melihatnya. Mungkin dia belum pulang," Sesaat Ian membenarkan tali tasnya yang kendor.
"Oh," Chloe menunduk sedih sesaat, Tentu saja ekspresi sedih sang gadis tak luput dari netra merah Ian.
"Kau ada masalah dengannya?" Tanya Ian dingin usai mereka sampai di ruang tamu.
"Sedikit, Kurasa tidak perlu diceritakan. Hanya masalah sepele," Kata Chloe tersenyum kikuk, Menutupi kegugupannya.
Ian hanya melirik datar sesaat, Membuka pintu dapur agar mereka berdua bisa masuk.
CKLEK!
TAP! TAP! TAP!
Suasana ruang dapur tampak hening saat mereka mendekati kursi masing-masing, Hari ini hanya sedikit anggota yang hadir. Yaitu Raizel, Rion, Devian, Aiden, Ian, Dan Chloe. Sedangkan sisanya pergi entah kemana.
"Kemana yang lainnya?" Tanya Chloe setelah memperhatikan 3 kursi yang kosong.
"Justin dan Ezra sedang menyelesaikan misi di tempat lain, Dan Felix dia sedang lembur di Cafe nya," Jelas Devian sambil mencomot roti bakar di piringnya.
"Pantes mereka gak keliatan dari kemarin," Sahut Raizel sambil menyesap teh panasnya, Tak lupa mengambil roti bakar.
"Akhir-akhir ini kita jarang ngambil misi," Celetuk Ian.
Rion mengetik pesan di HP nya, Menunjukkan ke semua anggota.
TING!
[Bukannya bagus ya kalau udah jarang ngambil misi? Kita bisa bersantai sejenak]
"Kali ini aku setuju dengan Rion," Chloe manggut-manggut setuju, Tangannya mencomot roti bakar dan selai blueberry lalu mengoleskan di rotinya sebelum dimakan.
Mendengar pendapat Chloe, Membuat semua pasang mata di ruangan itu menatapnya. Sang gadis hanya menatap balik dengan heran sambil mengunyah rotinya.
"Bukannya Nona Chloe masih mengerjakan misi? Sampai sekarang pun info tentang penghianat itu belum dapat," Jelas Aiden datar.
"Aku masih nyari, Tenang saja pasti dapat kok,"
"Kuharap begitu, Penghianat itu sudah tahu tentang Asrama ini dan semua anggotanya. Dia tidak bisa dibiarkan lolos begitu saja," Sahut Raizel menyesap tehnya kembali.
"Sudahlah, Cepat habiskan sarapan kalian sebelum terlambat!" Perintah Aiden dingin.
Semuanya pun memilih menghentikan obrolan mereka dan fokus dengan sarapan masing-masing.
****************
Setelah sarapan semua pergi untuk melakukan aktivitas masing-masing, Termasuk Ian dan Chloe yang saat ini tengah di perjalanan menuju kampus. Chloe numpang di mobil Ian karna sang pemuda sendiri lah yang menawarinya tumpangan.
"Ian, Di kampus kau memilih jurusan apa?" Tanya Chloe mencairkan suasana hening di sekitar mereka.
Ian yang fokus mengemudi melirik sesaat. "Sastra,"
"Saking sukanya sama light novel sampai jurusannya pun jurusan sastra, Emangnya cita-cita mu ingin jadi penulis ya?"
"Dari kecil cita-cita ku emang itu, Kayak kau gak kenal aku aja," Sahut Ian mendengus kecil, Tatapannya terus tertuju pada jalan raya.
"Huh, Mana kutahu kalau cita-cita mu jadi penulis. Kau kan gak pernah bilang," Chloe mengerutkan alisnya memasang ekspresi cemberut.
"Sengaja. Dan kau sendiri. Udah punya teman di kampus?"
"Untuk teman cewek belum ada kecuali Alice dan Evelyn, Itu pun beda jurusan. Kalau teman cowok ada satu di kampus, Kak Ash namanya. Satu grup idol sama kau Ian," Jelas Chloe sambil menyandarkan kepalanya di kaca mobil, Membuat helai-helai rambutnya sedikit berkibar terkena angin.
"Si Ash ya, Untunglah kau satu kampus dengan dia. Dia tipe orang yang ramah dan baik. Beda dengan Revan dan Al,"
"Memangnya kenapa sama Kak Revan dan Al? Kalau Kak Ash aku udah tahu sikapnya dari pertama kali bertemu,"
"Revan itu tipe orang yang angkuh dan arogan, Agak sedikit sombong. Dia terlalu berwibawa makanya dia menempati posisi sebagai leader di grup HE@VEN," Jelas Ian datar masih fokus menatap jalan raya, Sesaat ketika ada perempatan dia membelokkan kemudinya ke kanan.
"Lalu si Al, Dia tipe cowok Playboy. Dia sering menggoda Fans yang minta tanda tangannya ataupun berfoto bersamanya, Kusarankan jangan dekat-dekat dengan Al. Dia bisa saja menggoda mu," Tambah Ian lagi.
"Di awal ketemu dia emang pernah menggodaku. Sikapnya memang sangat menjengkelkan," Gerutu Chloe sambil bersidekap.
"Dia emang begitu, Lalu Ash. Diantara kami ber-5 hanya dia yang paling ramah dan baik, Pernah satu kali aku memergokinya sedang berdonasi ke panti asuhan saat kami konser di kota sebelah,"
"Pasti Kak Ash sangat suka anak-anak, Jadi dia berdonasi ke panti asuhan,"
"Benar, Dia sangat menyukainya,"
Perlahan mobil Ian berhenti di depan kampus jurusan Chloe, Sang gadis segera membuka pintu dan keluar dari sana. Sebelum pergi Chloe menundukkan kepalanya menatap Ian yang masih berada dalam mobil. Sang gadis mengulurkan tangannya seolah sedang meminta sesuatu.
"Apa?" Tanya Ian heran menatap tangan Chloe yang terulur. "Kau mau minta uang?"
"Bukan, Pinjam tangan kananmu," Pinta Chloe sambil menggeleng pelan.
Dengan ekspresi datar Ian mengulurkan tangan kanannya walau bingung dalam hati, Menuruti permintaan sang gadis. Chloe meraih tangan Ian lalu mencium punggung tangan sang pemuda. Membuat Ian diam membeku, Jantungnya tanpa sadar berdetak cepat dengan rona merah yang menghiasi pipinya.
__ADS_1
(Halah, Bilang aja Chloe mau salim ke Ian😑)
Usai dengan polosnya mencium punggung tangan sang pemuda, Chloe melepaskan genggamannya. Menatap Ian sesaat.
"Hati-hati di jalan ya, Dah!"
BLAM!
Pintu mobil pun tertutup rapat, Chloe bergegas pergi menuju kampusnya meninggalkan Ian yang masih diam mematung di tempat. Rona tipis itu masih menghiasi pipi sang pemuda, Sejenak Ian menatap punggung tangannya yang barusan di cium Chloe.
DEG! DEG! DEG!
"Tindakkan Chloe tadi seperti...Pasangan yang baru saja menikah," Pikir Ian membayangkan dirinya dan Chloe nikah terus punya keluarga kecil yang bahagia.
Sontak Wajahnya semakin memerah membayangkan hal tersebut jika benar-benar terjadi padanya, Cepat-cepat Ian menggeleng menyingkirkan bayangan yang membuatnya hilang fokus itu sebelum pikirannya mulai melayang kemana-mana.
"Ugh...Sadar Ian, Realitanya kau dan Chloe sekarang hanya berstatus teman masa kecil!" Gumam Ian pada dirinya sendiri, Menepuk pelan dadanya dimana letak jantungnya berada.
Sesaat sang pemuda menghembuskan napasnya pelan, Sekedar menenangkan detak jantungnya yang terus menggila. Setelah mulai tenang, Dia mulai melajukan mobilnya keluar dari area kampus Chloe menuju kampusnya.
****************
[Sore hari, Asrama]
Usai pulang dari kampusnya, Chloe memasuki Asrama. Hari ini dia absen dari kantor karna Justin sendiri yang memintanya absen. Entah apa alasan pemuda bernetra orange itu, Chloe pun tak tau. Jadi Khusus hari ini dia pulang cepat.
Dengan letih sang gadis menghempaskan tubuhnya di kasur, Menghela napas sesaat.
"Huft...Udah beberapa hari ini Holy gak kembali, Apa selama itu dia revolusi ya?" Gumam Chloe menatap langit-langit kamarnya, memejamkan mata sesaat.
CKLEK!
Suara pintu kamar yang terbuka secara tiba-tiba membuat sang gadis refleks menoleh kaget.
"Ggyyyaa! Aiden! Kalau mau buka kamar orang ketuk dulu napa!" Protes Chloe kaget pada sang pelaku pembuka kamar yang tak lain adalah Aiden sendiri. Untung saat itu Chloe belum ganti pakaian.
Sepertinya lain kali dia harus mengunci pintu kamarnya agar kejadian seperti ini tak terulang lagi.
Aiden hanya menatap datar memperhatikan sang gadis yang terkejut di kasur, Tanpa menunjukkan ekspresi malu ataupun bersalah. Menghiraukan protesan sang gadis.
"Nona Chloe, Kau ada waktu sore ini?" Tanya Aiden datar di ambang pintu.
"Iya, Kenapa emangnya?" Chloe bangun dari rebahannya, Menatap Aiden dengan heran.
"Saya ingin menunjukkan Rahasia Asrama ini di suatu tempat. Sudah saat nya anda tahu,"
"Rahasia? Dimana tempatnya?"
"Dibelakang Asrama, Tepat di hutan. Saya yakin anda akan kagum jika melihatnya secara langsung,"
"Hm...Bukannya peraturan Asrama ini tidak memperbolehkan anggotanya pergi ke hutan apalagi saat malam hari?" Chloe agak ragu dengan ajakan Aiden.
"Iya sih, Tapi apa gak ketahuan Pak Justin?"
"Saya sudah minta izin dengan Tuan Justin dan dia memperbolehkan saya mengajak anda. Jadi Tuan Justin tidak masalah,"
"Kayaknya rahasia ini menarik, Ya udah aku ikut. Tapi kalau ada hewan buas atau terjadi apa-apa disana kau ya yang tanggung jawab Aiden. Kau lho yang mengajakku kesana," Kata Chloe yang diangguki Aiden.
"Anda meragukan kemampuan saya?" Aiden menatap dingin, Menyandarkan punggungnya di tembok.
"Gak juga sih, Aku kan gak tau kekuatanmu sebesar apa selain saat kau menyembuhkan rasa pusingku waktu itu,"
Aiden memegang gagang pintu kamar Chloe, Berniat pergi dari sana. "Cepatlah bersiap-siap sebelum keburu malam,"
BLAM!
Pintu kamar itu akhirnya menutup setelah Aiden pergi dari sana. Usai kepergian Aiden, Chloe bergegas ke kamar mandi tak lupa mengunci pintu kamar sebelumnya.
*************
[Hutan]
Dengan perlahan Aiden dan Chloe berjalan melewati banyak ilalang yang tumbuh di sekitar hutan. Sunyi, Senyap, Dan rimbunnya pepohonan membuat Chloe sesaat bergidik. Apalagi cahaya sore matahari yang terhalang rimbunnya daun membuat tempat itu semakin agak gelap.
"Aiden sebenarnya kita mau kemana? Apa masih jauh?" Tanya Chloe sambil menyingkirkan ilalang yang menghalangi pandangannya.
"Beberapa meter lagi," Kata Aiden datar, Dia memimpin jalan agar mereka tak tersesat.
TAP! TAP! TAP!
SRAK!
Chloe menunduk kecil saat mendengar suara daun kering yang tak sengaja diinjaknya. Dia kembali mengikuti Aiden yang berada di depannya.
Tak lama Aiden berhenti berjalan membuat Chloe ikut berhenti di belakang sang pemuda, Gadis bersurai biru itu menatap Aiden sesaat.
"Ada apa Aiden?" Tanya Chloe heran.
"Nona lihat pohon bercahaya disana," Kata Aiden datar sambil menunjuk sebuah pohon besar berdiri kokoh tak jauh dari lokasi mereka.
"Pohon yang mana? Disini banyak pohon tau!" Netra birunya berusaha mencari pohon yang Aiden maksud.
"Perhatikanlah lebih lekat lagi,"
Setelah beberapa detik akhirnya Chloe menyadari ada satu pohon rimbun yang bercahaya menjelang malam. Gadis itu memekik senang.
"Aku melihatnya, Itu dia. Pohon itu sangat bercahaya," kata Chloe sambil menunjukkan pohon yang dimaksud.
__ADS_1
"Ayo kesana," Ajak Aiden sambil melanjutkan langkahnya diikuti Chloe.
Selang beberapa menit mereka sampai di dekat pohon tersebut, Chloe memandangi dedaunan pohon yang benar-benar bercahaya.
"Keren, Bagaimana bisa pohon ini bercahaya begini?" Kata Chloe kagum.
"Saya juga tidak tahu, Sejak dulu pohon ini memang sudah ada bahkan sebelum Asrama di bangun. Dia sudah hidup ribuan tahun," Jelas Aiden sambil menyentuh batang pohon tersebut.
Chloe yang penasaran ikut menyentuh batang pohon tersebut, Suasana hutan yang gelap karna sudah malam tidak membuatnya takut. Cahaya dedaunan dari pohon itulah yang menerangi gelapnya malam. Di tambah ribuan kunang-kunang yang berterbangan di sekitar mereka membuat suasana malam itu semakin bersinar.
"Eh?"
Chloe merasakan kelopak bunga dari pohon itu berguguran mengenai kepalanya, Dengan penasaran Chloe mengambil kelopak bunga di atas kepalanya. Menatap kelopak bunga itu dalam diam.
Entah kenapa tiba-tiba sang gadis merasakan kantuk yang luar biasa saat dia menggenggam kelopak bunga itu di tangannya. Sang gadis menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada batang pohon sampai akhirnya matanya tertutup dan tubuhnya limbung hampir jatuh.
GREP!
Untungnya Aiden segera menahan tubuh sang gadis sebelum jatuh menghantam tanah, Dia segera menyandarkan tubuh Chloe di batang pohon tepat di bawahnya. Aiden berjongkok di samping tubuh sang gadis, Memperhatikan dalam diam.
"Nona Chloe sudah terpengaruh kekuatan ilusi dari pohon ini, Sekarang aku akan melakukan tugasku," Pikir Aiden sambil mengulurkan tangannya menyentuh kening sang gadis, Dia memejamkan matanya.
***************
[Dimensi lain, Alam bawah sadar]
Sayup-sayup Chloe mendengar suara gemerisik hembusan angin, Dia perlahan membuka matanya menatap langit biru di atasnya. Sesaat sang gadis memegangi kepalanya yang agak pusing sebelum bangun dari rebahannya.
"Ah, Kepalaku sakit sekali," Keluh sang gadis masih memegangi kepalanya lalu dia terdiam sejenak menyadari bahwa dirinya berada di tempat asing yang tak dia kenali.
"Eh? Tunggu dulu, Ini dimana nih? Kok tiba-tiba aku berada di padang bunga, Bukannya tadi aku di hutan sama Aiden?" Kata Chloe panik pada dirinya sendiri.
Sang gadis menatap bunga-bunga cantik di sekelilingnya, Masih merasa heran kenapa dia tiba-tiba bisa terdampar di padang bunga.
TAP! TAP! TAP!
"Ternyata memang benar ya kalau ternyata Nona Chloe bukan berasal dari dunia ini,"
DEG!
Sejenak Chloe merasa jantungnya terhenti seketika, Dia lantas menoleh mencari sang pemilik suara tersebut.
"Aiden?!"
Netra nya membulat sempurna saat Chloe menemukan wujud asli dari Aiden, Pemuda itu tampak mengerikan dengan sulur-sulur tanaman bunga mawar biru yang mengelilingi tubuhnya, Lalu senjata mirip cakar itu keluar dari jari-jari tangan sang pemuda. Aura Aiden pun tampak suram dan mengerikan dengan ekspresi datarnya.
"Tidak! Itu tidak benar! Aku benar-benar Chloe Amberly Aiden," Elak Chloe berusahan meyakinkan sang pemuda.
"Lihatlah penampilan Nona di danau itu," Aiden menunjuk danau besar yang tak jauh dari padang bunga.
Chloe segera berlari mendekati danau yang dimaksud, Dan melihat penampilannya sendiri melalui bayangan di permukaan danau. Rambut hitam panjang dengan netra merah.
"In-Ini raga asliku?! Ini benar-benar raga asliku? Bagaimana bisa ditempat seperti ini, Raga asliku kembali? Mana raga Chloe Amberly itu?" Pikir Chloe tak percaya, Dia menepuk-nepuk pipinya lalu mencubit pipinya sendiri memastikan apakah ini mimpi atau bukan.
"Aaww! Sakit," Ringis Chloe sesaat setelah mencubit pipinya sendiri. Namun setelahnya ekspresinya berubah senang.
"Ini bukan mimpi! Akhirnya raga asliku kembali," Kata Chloe senang melihat rambut hitam panjangnya sesaat.
Tanpa Chloe sadari Aiden terus memperhatikan tingkah sang gadis, Dan dia tentu saja mendengar semua yang Chloe ucapkan. Aiden berjalan mendekati Chloe. Aura nya masih suram dan mengerikan, Lalu dia mengambil ancang-ancang menaikkan senjata cakarnya.
"Aiden lihat, Aku–"
WWUUHHSS!
Chloe diam mematung saat senjata Aiden hampir menusuk badannya, Untungnya Chloe sempat menghindar dan kini beberapa helai rambut hitamnya terpotong akibat terkena cakar Aiden untungnya cuma terpotong sedikit.
"Jadi selama ini anda membohongi kami Nona Chloe?!" Aiden mendongak menatap Chloe tajam, Netra ungu tuanya sesaat berkilat. "Seorang pembohong harus dihukum,"
"Ai-Aiden tunggu dulu! Dengarkan penjelasanku!" Chloe berusaha menghentikan Aiden, Namun tampaknya sang pria tak mau mendengarkannya.
Netra Chloe kembali membulat ketika sulur-sulur tanaman yang mengelilingi tubuh Aiden bergerak sendiri dan mulai menyerangnya. Sebisa mungkin Chloe menghindari serangan Aiden, Apalagi sulur-sulur itu memiliki duri yang tajam disisinya.
SRET!
Salah satu sulur tanaman berhasil menjegal kaki Chloe saat sang gadis berlari menjauh, Membuat Chloe kehilangan keseimbangannya dan terjatuh, Sulur itu juga membuat kakinya tergores.
"Ggyyaa!"
BRUK!
"Ugh...Sial, Aiden bisa mengendalikan tanaman rupanya," Gumam Chloe memegangi salah satu kakinya yang terkena goresan tajam dari sulur tanaman milik Aiden.
"Kenapa Nona hanya lari saja? Bukankah nona memiliki kekuatan untuk teleportasi? Keluarkan semua kekuatan yang nona punya. Saya menantang anda Nona Chloe," Kata Aiden datar sambil mendekati Chloe.
Chloe meringsut mundur menjauhi Aiden, dia lekas-lekas berdiri. Saat Aiden terlihat mendekatinya, Sang gadis segera memasang bela diri andalannya.
"Ck! Saat ini Holy sedang tidak ada disini. Bagaimana caranya aku menghadapi Aiden yang jelas-jelas lebih kuat dariku?" Pikir Chloe panik dalam hati, Dia berusaha terlihat tenang meski saat ini dia berkeringat dingin.
"Aku tidak akan menyerah, Kuterima tantanganmu Aiden!" Seru Chloe masih memasang kuda-kudanya dengan ekspresi serius.
Aiden hanya diam, Dia kembali menggerakkan sulur-sulur tanamannya dan mulai menyerang Chloe dengan senjata cakarnya itu.
TBC
__ADS_1