System Prince Charming

System Prince Charming
Bersama Ian (Awas Baper )


__ADS_3

Samar-samar Chloe mencium aroma masakan yang sangat menyengat. Sang gadis perlahan membuka mata memperlihatkan Netra biru nya. Rasa pusing berlebih masih bisa di rasakan oleh Chloe.


Hal pertama tertangkap oleh Netranya adalah langit-langit kamar yang berwarna putih gading, Menyadari kalau saat ini dia berada dalam kamarnya sendiri. Chloe berusaha bangun, Menyandarkan punggungnya pada sandaran tempat tidur. Mata nya terlihat agak sayu.


Chloe menoleh memperhatikan sekitarnya, Mencari Holy yang tidak ada di tempat. Netra nya menemukan Holy tengah tertidur di atas rak piala, Hanya saja semua piala dan barang favorit salah satu karakter utama pria hilang entah kemana.


CKLEK!


Perhatian Chloe teralihkan, Menatap pintu kamar yang terbuka memperlihatkan seorang pemuda bernetra merah. Dia memegang sebuah nampan dengan mangkuk dan segelas susu di atasnya, Mendekati Chloe dengan langkah tenang.


"Ian, Kau yang membawaku pulang?"


"Iya," Ian meletakkan nampan itu di nakas.


"Bagaimana kau bisa tahu alamat rumahku?"


"Minta sama kepala sekolah,"


"Hah!?" Chloe bingung, Perasaan dia tidak pernah memberitahu alamat rumahnya pada siapa pun. Yah walau kayaknya yang dikatakan Ian ada benar nya juga.


Ian mengambil segelas susu di nampan tersebut, Menyodorkannya pada Chloe dengan ekspresi datarnya.


"Minum!"


Chloe menatap ragu, Masih belum meraih gelas itu. Namun tatapan Netra merah Ian yang tampak mengintimidasi membuat sang gadis segera meraihnya. Meminum susu tersebut hingga setengah.


Dia segera meletakkan kembali gelasnya di nakas, Membiarkan dirinya diam beberapa saat. Sedangkan Ian duduk di sisi kasur, Sambil menunggu reaksi dari susu yang diminum Chloe bekerja.


Mereka saling diam dalam keheningan, Netra biru Chloe melirik mangkuk berisi bubur di nakas. Tampaknya pemuda bernetra merah itu baru selesai memasak.


"Kau yang masak bubur itu?" Tanya Chloe memecah keheningan, Menunjuk mangkuk tersebut dengan dagu nya.


"Iya, Jangan dimakan sekarang!" Ian mengambil light novel disampingnya, Entah sejak kapan dibawa. Membaca novel tersebut dalam diam.


Sedangkan Chloe mengangguk paham, Mereka kembali larut dalam keheningan. Tak lama sang gadis merasakan rasa mual di perutnya, Dia sontak memegangi perutnya lalu menutup mulut dengan tangan kanannya, Wajahnya kembali pucat pasi.


Buru-buru Chloe bangun dari tempat tidur, Menuju kamar mandi nya dengan cepat melewati Ian.


BLAM!


CKLEK!


Dua suara itu mengalihkan perhatian sang pemuda dari novelnya, Menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Tak lama terdengar suara air mengalir dari dalam kamar mandi.


"Hm...racunnya sudah keluar ternyata," Pikir Ian datar, Kembali fokus membaca novelnya.


CKLEK!


Pintu kamar mandi terbuka menampakkan ekspresi Chloe yang terlihat pucat, Langkah sang gadis pun terlihat sempoyongan menahan beban beratnya agar tak jatuh. Dengan perlahan Chloe kembali menuju kasurnya, Ingin meringankan rasa pusing yang masih menyerang.


Ian diam-diam memperhatikan tingkah Chloe yang terlihat agak kesulitan berjalan, Dengan segera Ian menutup buku novel nya lalu meletakkan di nakas. Sang pemuda mendekati Chloe, Tanpa peringatan langsung menggendong tubuh kecil Chloe ala Bridal Style dengan ekspresi datar menuju kasur.


"Oi! Apa yang kau lakukan! Turunkan aku!" Chloe tentu saja kaget dengan pergerakkan Ian yang tiba-tiba tanpa peringatan menggendongnya. Saking gak mau jatuh, Tanpa sadar Chloe mencengkeram lengan sang pemuda erat.


Ian tak menghiraukan protesan Chloe, Dengan tenang masih berjalan menuju kasur. Meski Chloe memberontak sekali pun. Chloe kesal, Memukul sedikit kencang pundak sang pemuda. Tenaga nya agak lemah karna habis mengeluarkan semua isi perutnya.


"Kubilang turunkan aku!" Chloe masih memberontak kesal.

__ADS_1


BBRRUUKK!


Tiba-tiba saja Ian menghempaskan tubuh Chloe di kasur, Hingga membuat sang gadis meringis sakit. Mengusap punggungnya yang sempat terbentur sandaran tempat tidur.


"Aduh! Sakit woi!" Chloe masih meringis sambil mengusap punggungnya.


"Kau bilang ingin di turunkan," Kata Ian datar, Duduk tenang di sisi kasur tanpa merasa bersalah sekali pun.


"Iya, Tapi gak usah di hempas segala. Kau pikir aku barang apa!?" Protes sang gadis, Dia mengambil bantal lalu meletakkan di belakang punggungnya sebagai sandaran karna kini kepalanya kembali berdenyut pusing.


Ian hanya diam tidak menyahut lagi, Dia mengambil mangkuk bubur yang sudah agak dingin di nakas. Menyodorkan nya tepat di hadapan sang gadis.


"Makan!"


Dengan wajah tertekuk, Berat hati Chloe meraih mangkuk bubur itu. Memakannya perlahan dengan sendok yang sudah tersedia. Sesekali Netra birunya melirik Ian yang kembali membaca light novel di sisi kasur.


"Sejak kapan kau bisa memasak? Masakanmu tak kalah enak dengan masakan ibuku dulu," Tanya Chloe sambil menatap Ian, Sesekali mengunyah buburnya.


Sejenak Ian masih diam, Terlihat sedang memikirkan sesuatu. "Sejak ibuku sakit,"


"Ibumu sakit!? Ah, Maaf sudah menanyakan hal buruk,"


Ian kembali diam tak menggubris perkataan Chloe, Dia menutup bukunya. Meranjak dari duduk, Mendekati balkon di kamar Chloe. Memandangi langit sore yang sebentar lagi akan berganti malam.


"Ibuku sakit keras, Mencoba melawan rasa sakitnya selama bertahun-tahun. Sejak saat itu aku mulai belajar melakukan semua pekerjaan rumah sendirian agar tidak membebani ibuku," Ian mendongak menatap langit sore dengan tatapan kosong, Memegang pembatas balkon dengan tangannya.


"Sampai akhirnya ibuku dipanggil menghadap tuhan, Meninggalkan ku sendiri dalam rasa kesepian dan kehampaan. Sedangkan ayahku, Dia sudah tiada saat umurku 10 tahun," Ian mengakhiri ceritanya. Masih diam tak bergeming di balkon.


Chloe diam mendengarkan cerita Ian, Pantas saja saat Chloe mengantar sang pemuda ke alamat rumahnya. Rumah Ian begitu sepi dan sunyi seakan tidak ada penghuni nya. Rupanya karna itu Ian sekarang tinggal sendiri.


"Ian, Kemarilah,"


Merasa dipanggil Ian menoleh pelan, Mendekati Chloe dengan ekspresi yang tidak bisa di tebak. Duduk di sisi kasur sambil menatap Netra biru sang gadis.


"Apa?"


"Aku punya mantra agar kesedihanmu hilang," Chloe tersenyum lebar.


Ian hanya mengerutkan alisnya heran, Tidak mengerti apa yang ingin dilakukan Chloe tanpa menyahut. Tak lama Chloe mengulurkan tangannya, Mengusap surai hitam milik Ian dengan lembut dan mulai bernyanyi.


"Sedih~Sedih~Pergilah~ Biarkan Dia bahagia~,"


Sesaat Ian tertegun merasa tidak asing dengan nyanyian Chloe, Menatap lekat Netra biru Chloe. Memperhatikan senyum lebar sang gadis, Usapan di rambutnya pun dibiarkan sementara. Walau ekspresi sang pemuda tetap datar, Tapi dia tidak merasa keberatan Chloe mengusap rambut hitam miliknya.


Lalu Ian meraih tangan Chloe yang berada di rambutnya, Menurunkan perlahan tanpa melepaskan pegangan tersebut. Mendengus kecil.


"Mantra macam apa itu!?"


"Hehehe, Ini mantra pengusir rasa sedih. Aku sering menyanyikannya untuk sahabat masa kecilku dulu ketika dia sedang sedih atau menangis," Chloe terkekeh pelan, Yang dia maksud adalah sahabat masa kecilnya yaitu Ian di dunia asli.


"Cih, Kekanakan," Ian melepaskan pegangan tangan nya dari tangan Chloe.


"Hei! Mantra ini ampuh tau! Buktinya sikapmu jadi kembali seperti semula," Chloe berkacak pinggang dengan ekspresi merengut, Tidak terima lagu buatannya dikatain kekanakan.


Ian memalingkan wajah datar nya. Dia akui kalau lagu abal-abal buatan Chloe sempat membuat sebagian rasa sedihnya hilang. Tak lama sang pemuda kembali menatap Chloe balik.


Netra biru laut yang sempat membuat Ian sesaat terpana, Menatap dalam-dalam pantulan bayangan nya sendiri dalam Netra biru milik Chloe.

__ADS_1


Pemuda bermarga Maxwell itu perlahan memajukan wajahnya hingga keningnya bertemu kening milik Chloe. Menatap semakin dekat Netra biru itu. Mencoba memeriksa suhu tubuh sang gadis.


Chloe agak tersentak, Rasa gugup tiba-tiba muncul dalam dirinya saat wajah Ian yang begitu dekat dengan kening mereka yang saling menempel begini dan saling menatap. Jantungnya pun berdetak dua kali lipat dari sebelumnya.


"Sepertinya wajah mu sudah tidak pucat lagi, Tapi kenapa wajahmu memerah?" Kata Ian datar, Mereka masih dalam posisi yang sama tanpa ada satu pun yang bergerak.


"Bagaimana wajahku tidak memerah, Wajahmu terlalu dekat Ian bodoh!" Maki Chloe dalam hati, Tidak ingin menyahut pertanyaan Ian.


Sejenak mereka masih diam dalam posisi masing-masing, Hingga akhirnya Ian memundurkan wajah nya masih menatap wajah Chloe yang merona, Gadis bersurai biru itu menunduk tak ingin menatap Netra merah milik Ian berlama-lama.


Ian menghela napas, Tangan kanannya terangkat ke udara. Hingga.....


CTAK!


"Akh...Keningku!" Chloe histeris dengan ekspresi menahan sakit, Mengusap keningnya yang menjadi sasaran sentilan dari Ian.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh, Aku tidak tertarik padamu," Kata Ian dingin + datar. Dia meranjak dari duduk nya, Dengan membawa Light novel kesayangannya.


"Enak saja! Siapa juga yang berpikir aneh-aneh! Kau tuh yang aneh, Aku juga gak tertarik padamu!" Balas Chloe, Protes sambil masih mengusap keningnya yang sedikit memerah akibat sentilan dari Ian yang agak kencang.


Ian mengacuhkan protesan dari Chloe, Dia meraih gagang pintu kamar sang gadis. Membuka nya perlahan, Sebelum pergi dia menoleh pada Chloe.


"Jangan lupa kunci pintu rumahmu, Aku harus pulang sekarang,"


"Hm...Kau tidak makan dulu? Aku akan cepat-cepat masak," Chloe ingin meranjak dari tempat tidur, Namun suara Ian menghentikannya.


"Gak usah! Mungkin lain kali, Aku sedang buru-buru,"


"Oh, Baiklah. Hati-hati dijalan,"


"Hm,"


Ian hanya menatap datar Chloe sesaat lalu keluar dari kamar sang gadis.


BLAM!


Kini tinggal Chloe sendirian, Dengan hati-hati Chloe turun dari tempat tidur. Menuju balkon dan menutup pintunya.


Lalu segera dia bergegas keluar kamar menuju dapur.


*****************


Sebuah kertas tertempel tepat di depan pintu kulkas, Chloe meraih kertas tersebut dan membacanya.


...Aku sudah memasak makanan untukmu, Ada di dalam kulkas. Tinggal kau panaskan saja. Jaga kesehatan dan jangan sampai sakit, Kau hanya akan membuatku repot kalau sakit lagi....


^^^Ian Maxwell^^^


Tanpa sadar Chloe tersenyum, Walau dalam suratnya terdapat nada sarkasme, Tapi Chloe merasa bahwa Ian sebenarnya juga peduli padanya.


"Hehehe, Dasar cowok menyebalkan," Gumam Chloe pelan sambil terkekeh.


Dia pun membuka pintu kulkas dan menemukan masakan yang dimasak Ian, Dengan senang hati Chloe memanaskan masakkan tersebut karna dia juga sudah lapar.


"Terima kasih Ian, Kau peduli padaku juga ternyata," Pikir Chloe masih tersenyum senang.


TBC

__ADS_1


__ADS_2