
"Kamu!"
"Kamu!"
Suasananya tiba-tiba berubah canggung, Chloe memilih bungkam setelahnya mencoba menenangkan rasa keterkejutannya.
Dia ingat, Pria bersurai coklat itu adalah pria yang tak sengaja dia tabrak saat di kantor. Chloe pikir pria itu hanya sebatas tangan kanan atau managernya Nona Michelle tapi tak disangka Pria itu juga tinggal di Mansion ini. Mungkin kah pria itu adalah saudaranya Nona Michelle?.
Pria tersebut tidak mengatakan apapun, Dia hanya berjalan pelan mendekati sofa didepan Chloe lalu duduk disana sambil meletakkan handphonenya di meja. Keheningan melingkupi keduanya setelah Chloe ikut duduk, Kemudian Netra sang pria memandang Chloe dengan tajam.
"Apa kau Chloe Amberly yang kakak bicarakan?" Tanya pria itu dingin.
"Itu benar, Tapi apakah kakak yang kau maksud adalah Nona Michlle?" Balas Chloe bingung.
"Hm..." Sang pria hanya bersidekap memandang penampilan si gadis. Tatapannya yang dingin membuat Chloe tambah gugup.
"Apa sih? Kok tatapannya mengintimidasi banget?" Pikir Chloe dengan kening mengerut, Merasa tak nyaman ditatap tajam oleh sang pria.
"Jadi, Kau OG yang waktu itu kan, Untuk apa kesini? Bukannya kau sudah punya pekerjaan?" Tanya sang pria, Matanya sedikit menyipit menatap tajam.
"Saya disuruh Nona Michelle kesini, Sebelumnya saya memang bekerja di J.G Entertainment tapi sekarang saya sudah mengundurkan diri dari disana,"
Si pria tak menjawab, Dia hanya diam memilih sibuk dengan handphonenya. Selama beberapa menit keduanya saling diam dalam keheningan.
Tap! Tap! Tap!
Hingga tak lama suara langkah kaki kembali terdengar memenuhi penjuru ruangan, Chloe menoleh untuk memastikan apakah itu adalah suara langkah kaki dari Nona Michelle atau bukan.
Benar saja, Nona Michelle berjalan menghampiri mereka berdua namun pria dihadapannya masih sibuk dengan handphone miliknya seolah tak menghiraukan kehadiran Nona Michelle.
Nona Michelle tersenyum tipis saat bertemu pandang dengan Chloe, Begitu juga dengan Chloe yang tersenyum balik. Sesampainya di dekat Chloe, Nona Michelle duduk disamping pria bersurai coklat itu.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi Nona Amberly,"
"Saya juga,"
Nona Michelle mengangguk kecil lalu menoleh pada pria disampingnya, Menegur pria itu. "Rafael, Bisa minta waktunya sebentar?"
Pria yang dipanggil 'Rafael' itu hanya mendengus kecil, Lalu meletakkan handphonenya kembali. Menatap malas gadis dihadapan mereka. Sedangkan Nona Michelle kembali fokus dengan pembicaraan mereka.
"Sebelumnya perkenalkan aku anak tertua di keluarga ini, Elizabeth Michelle. Dan ini adik pertamaku, Rafael Michelle," Kata Elizabeth serius.
Chloe tersenyum canggung sambil mengangguk dan memandang pria disamping Elizabeth. "Chloe Amberly,"
"Jadi, Pekerjaan apa yang akan kudapatkan?" Tambah Chloe penasaran.
"Tidak berat, Kau hanya perlu menjadi pelindung bayangan adikku," Jelas Elizabeth.
"Hah?! Pelindung bayangan? Maksudnya?"
"Ya, Kau melindunginya secara diam-diam tanpa harus kontak langsung dengannya, Awasi saja orang-orang yang berniat mencelakainya,"
"Aku tidak mengerti kenapa harus melakukannya?"
Sejenak Elizabeth menghembuskan napas, Sebelum kembali membuka suara. "Adik bungsu kami, Ivy Michelle. Entah kenapa selalu menjadi sasaran bully dari teman-teman sekolahnya, Aku sudah berusaha meminta kepala sekolahnya untuk menghukum siapa saja yang mengganggu Ivy tapi tetap saja mereka tidak jera,"
"Lebih tepatnya ini masalah dia," Celetuk Rafael acuh tak acuh dan disetujui oleh Elizabeth.
"Benar, Aku khawatir dia kenapa-napa," Sesaat terdengar nada cemas tersirat dari suara Elizabeth.
__ADS_1
"Kenapa tidak sewa bodyguard saja atau pindah sekolah?" Usul Chloe.
"Dia tidak mau, Katanya kalau menyewa bodyguard akan terlalu mencolok. Itu akan membuatnya semakin dibenci. Kalau pindah sekolah dia juga tidak mau, Katanya tanggung sebentar lagi lulus," Keluh Elizabeth sambil mendesah lelah.
"Dia memang keras kepala, Kita tidak mungkin selalu berada didekatnya setiap hari," Protes Rafael sebal.
Chloe yang mendengar keluh kesah kakak beradik itu hanya diam melongo, Sepertinya mereka sudah menyerah untuk menjaga adik bungsu mereka.
"Sebenarnya aku paham kenapa mereka sepertinya membenci adik kami, Dia itu berbeda di kami para saudaranya. Dibanding kami semua yang tinggal di mansion ini, Fisiknya lebih lemah dan kulitnya sangat pucat, Dia tidak pernah bisa melawan para pembully itu makanya dia sering menjadi sasaran mereka,"
"Apa kulitnya sensitif dengan panas matahari?"
"Tidak, Hanya pucat saja seperti mayat," Tambah Rafael.
Chloe mengangguk-angguk paham, Kalau pekerjaannya hanya menjadi pelindung seseorang ia rasa akan mudah. Tapi dia juga penasaran seperti apa rupa Ivy, Kalau dari namanya Chloe tebak dia adalah perempuan.
"Jadi bagaimana menurutmu? Mau menerima pekerjaan ini?" Elizabeth kembali tersenyum.
"Hanya melindungi satu orang kan?"
"Benar, Hanya Ivy. Soalnya dia yang paling mengkhawatirkan, Aku takut kalau nanti dia diculik atau semacamnya oleh orang-orang jahat,"
"Baiklah aku terima, Aku akan melindunginya semampuku," Chloe tersenyum ceria, Meyakinkan Elizabeth dan Rafael kalau dia bisa melindunginya.
Elizabeth tersenyum senang lalu langsung merebut sebuah surat dan pulpen yang baru saja diambil Rafael. Membuat kening Rafael mengerut sebal karna ulah kakaknya.
"Kalau begitu tanda tangan disini," Elizabeth menunjuk tempat tanda tangan di surat tersebut.
"Surat kontrak ya," Pikir Chloe setelah membaca sekilas surat tersebut. Tak lama dia menanda tanganinya sebagai persetujuan atas kontrak mereka.
Sedangkan Rafael kembali sibuk dengan handphonenya. Setelah selesai, Elizabeth menyimpan surat tersebut dan meranjak dari duduknya.
"Rafael, Kami pergi dulu,"
"Hm..."
Elizabeth pun berjalan lebih dulu sebagai pemandu dengan Chloe yang mengikutinya dari belakang, Dia tidak akan pernah menyangka akan menjadi bagian dari keluarga Michelle meski hanya sebagai penjaga bayangan si adik bungsu Michelle.
**************
KKRREEIITT!
"Ini kamarmu, Semoga kau betah disini. Kami tidak mendekorasi terlalu banyak, Karna kami pikir kau tidak akan menyukainya. Jadi setelah ini kau bisa mendekorasi sesukamu," Jelas Elizabeth menunjukkan sebuah kamar dengan dekorasi gaya abad Victoria, Cukup elegan dan mewah bagi Chloe yang terbiasa tinggal di kamar sederhana.
"Terima kasih, Tapi mungkin aku tidak bisa selalu mengawasi Ivy. Soalnya aku juga masih kuliah,"
"Tidak masalah, Setidaknya kau sudah berusaha menjaganya. Tapi apa kau tidak keberatan jika menjemput Ivy setiap dia pulang sekolah?"
"Tidak, Aku tidak keberatan,"
"Baguslah, Kalau begitu aku pergi dulu. Nikmati waktu istirahatmu,"
Elizabeth melambai pelan sebelum pergi dari sana menuruni tangga.
Chloe hanya memandang kepergian Elizabeth, Dia segera memasuki kamarnya dan mengepak beberapa barang miliknya yang akan dia taruh di sana termasuk lemari pakaian. Selama beberapa menit Chloe mendekorasi sekaligus membereskan kamar, Setelahnya dia terlelap dalam tidurnya.
************
[Sore harinya]
__ADS_1
Sinar matahari senja menerangi kamar milik Chloe, Sang gadis yang merasa terganggu dengan sinar itu memilih membuka kelopak matanya. Memandang langit-langit kamar, Perlahan Chloe mendudukkan diri sembari menguap kecil. Sejenak dirinya merasakan hembusan angin memasuki kamarnya.
Chloe merenggangkan tubuhnya sebentar sebelum memutuskan untuk membersihkan diri, Tak menunggu waktu lama. Dia keluar dari sana dengan wajah yang terlihat lebih segar dari sebelumnya. Dengan santai Chloe mengeringkan rambutnya yang sempat basah, Menatap pantulan bayangannya sendiri dari cermin.
Ia masih menatap pantulan bayangannya sembari menyisir rambut birunya, Sesekali netra Chloe memandang fisik kulitnya yang agak pucat. Mungkin dikarenakan dia jarang keluar asrama dulu, Jadi dia kurang terkena paparan sinar matahari.
Selesai dengan aktivitasnya, Chloe memutuskan keluar kamar berniat menjelajahi mansion keluarga Michelle. Barangkali dia bertemu anggota keluarga Michelle yang lain, Sekaligus mengunjungi tempat-tempat yang belum dia ketahui di mansion ini.
Dengan riang Chloe keluar dari kamarnya setelah memakai pakaian santai sebelumnya, Menuruni tangga menuju tempat yang belum dia ketahui.
****************
Tempat pertama yang ingin Chloe kunjungi adalah dapur, Hanya berjaga-jaga kalau sewaktu dia merasa lapar dia bisa ke dapur sendirian. Selama beberapa menit Chloe mengelilingi seisi mansion, Sayangnya dirinya tidak menemukan ruangan itu. Dia malah nyasar di sebuah tempat yang tidak dia ketahui.
Kalau Chloe lihat dari lingkungannya, Tempat itu dipenuhi berbagai macam tanaman bunga. Disana juga ada beberapa tanaman sayur dan pohon buah termasuk pohon apel, Tidak jauh beda dengan lingkungan asrama menurut Chloe. Chloe tebak mungkin salah satu anggota keluarga Michelle memiliki hobi berkebun.
Sang gadis memutuskan melihat area kebun yang bisa dibilang lebih luas dari kebun milik asrama, Dia mengitari beberapa pohon dan tanaman dengan kagum. Memuji dalam hati orang yang sudah merawat tanaman-tanaman ini hingga berbuah dengan baik dan terawat.
Hingga sampailah Chloe didekat sebuah bangku panjang, Netra birunya memandang sosok asing yang sedang duduk dibangku itu membelakanginya, Membuat Chloe tidak bisa melihat wajah sosok itu dengan jelas.
"Apa dia salah satu adik dari Nona Michelle? Dilihat dari belakang fisiknya seperti perempuan, Mungkinkah dia satu-satunya adik perempuan Nona Michelle?" Pikir Chloe penasaran, Perlahan langkah kakinya menghampiri sosok itu.
"Um...Permisi," Kata Chloe masih mendekati sosok tersebut hingga dia akhirnya berhenti karena sudah cukup dekat. Sesaat dilihatnya pundak sosok itu menegang, Mungkin terkejut karna suara Chloe.
Perlahan sosok itu berbalik menghadap Chloe, Surai pendek berwarna ungu muda miliknya bergerak seirama mengikuti gerak tubuhnya, Netra biru safir itu memandang Chloe dengan pandangan yang sulit diartikan, Ditangannya juga terlihat sedang memegang sebuah apel merah cerah.
Semilir angin berhembus diantara mereka, Menerbangkan helai-helai rambut Chloe dan sosok bersurai ungu muda itu. Sejenak mereka diam dalam keheningan, Terlebih Chloe sampai tercengang dengan fisik sosok didepannya, Gadis itu berpikir apakah sosok dihadapannya adalah seorang dewi yang sedang menyamar? Begitu indah mengalahkan kecantikan para bidadari, Bahkan Chloe jadi merasa insecure secara tiba-tiba setelah bertemu sosok ini.
Bagaimana tidak, Sosok itu memiliki fisik yang begitu rupawan dengan kulit seputih salju, Mungkin lebih tepatnya sangat pucat seperti mayat. Netra biru safir yang cocok dipadu dengan surai ungu muda miliknya, Bulu mata yang begitu lentik seperti gadis pada umumnya, Wajahnya juga terlihat imut dengan pakaian ala bangsawan wanita, Dan tubuh yang mungil layaknya wanita pada umumnya.
Entah kenapa Chloe merasa gemas dengan sosok di depannya, Tangannya ingin sekali mencubit pipi sosok itu. Senyum lebar terpatri di bibir Chloe, Memandang gadis dihadapannya.
"S-Siapa?" Cicit gadis bersurai ungu muda itu dengan wajah yang sedikit menunduk, Menghindari tatapan Chloe. Rona samar menghiasi pipinya, Begitu kontras dengan kulit pucatnya.
"Aku Chloe Ambely, Aku ditugaskan untuk menjaga seseorang sesuai perintah Nona Michelle. Mulai sekarang aku tinggal disini, Jadi semoga kita bisa akrab kedepannya ya," Chloe masih tersenyum riang.
"Haha, Sejujurnya tadi aku mencari ruangan dapur tapi malah nyasar ke sini. Aku tidak tahu kalau ada pemiliknya disini, Maaf sudah mengganggu ketenanganmu," Sang gadis bersurai biru hanya bisa tertawa canggung, Baru sadar dia bisa berada disini karna nyasar.
Gadis dihapannya hanya diam masih dengan wajah yang merona tipis, Tak lama dia membuka suaranya. "Ti-Tidak masalah,"
Wah, Suara gadis itu pun sangat merdu. Mungkin akan sangat cocok jika jadi penyanyi, Ditambah wajah yang imut dengan rona malu-malu kucing. Membuat Chloe semakin tak tahan ingin memeluknya.
"Imutnya, Kalau itu adikku. Aku tidak akan pernah melepaskannya, Rasanya ingin kupeluk erat," Pikir Chloe menahan gemas.
"Um, M-Maaf. Aku belum memperkenalkan diri sejak tadi. Namaku Ivy Michelle, Mungkin aku harus membicarakan hal ini dengan kakakku," Kata Ivy dengan malu-malu.
"Oh, Jadi benar kamu orang yang harus kujaga?" Chloe manggut-maggut pelan. "Baiklah, Diskusikan saja dengan kakakmu kalau kamu merasa tidak nyaman dengan kehadiranku,"
"I-Iya, Senang bisa bertemu denganmu," Ivy kembali menunduk malu, Lalu dia membungkukkan tubuhnya pelan sebelum tanpa berkata-kata lagi langsung melengos pergi dari sana.
Chloe hanya bisa terdiam mematung karna ditinggalkan begitu saja, Dan bodohnya dia lupa bertanya dimana ruang dapur berada. Alhasil Chloe menepuk keningnya sendiri pelan.
"Bodoh sekali, Aku lupa bertanya," Sang gadis meringis pelan, Si Ivy sudah terlanjur menghilang dari pandangannya.
Pada akhirnya Chloe terpaksa kembali mencari ruang dapur dengan instingnya, Berharap dia tidak nyasar lagi setelahnya.
TBC
__ADS_1