
Di sebuah jalan lebar tampak sebuah mobil terbalik, Beberapa bagian mobil itu rusak parah hingga kepingan-kepingan kecil bagian mobil bertebaran di mana-mana.
Seorang gadis yang berada dalam mobil itu terbangun, Ia meringis pelan saat merasakan benturan di kepalanya akibat mengenai jok kursi, Sesaat dirinya memandang sekitar dan menyadari mobil itu sudah rusak parah dan untungnya tidak ada api yang muncul disana. Ia bersyukur masih hidup sekarang.
Sejenak Netra birunya memandang dua pria didepannya, Kedua pria itu tak terlihat bergerak sama sekali. Entah mereka sudah mati atau tidak, Chloe tidak peduli. Yang terpenting dirinya segera keluar dari sana.
Dengan sekuat tenaga kakinya mencoba menendang kaca mobil beberapa kali, Hingga usahanya tak sia-sia. Kaca itu pecah meski Chloe harus merasakan sakit di bagian kakinya.
Secara perlahan dirinya keluar melalui kaca mobil, Sesaat Chloe terdiam memperhatikan sekitar yang begitu asing baginya. Hanya terdapat rimbunan pohon-pohon besar dan ilalang disana, Terlebih jalan itu sunyi dan senyap seakan tak ada kehidupan sama sekali.
Netra birunya tak sengaja menangkap beberapa pecahan kaca disekitarnya, Buru-buru Chloe mengambil sebuah pecahan kaca dan mencoba memotong tali yang mengikat tangannya.
Usai terlepas ia melepas lakban yang menutupi mulutnya, Akhirnya Chloe bisa bernapas lega. Sekarang yang harus dilakukannya adalah mencari tumpangan agar bisa pergi dari tempat asing itu.
"Oh iya, Hp ku!" Tangannya refleks meraba pakaiannya, Mencari Hp miliknya yang hilang entah kemana. Sayangnya benda persegi itu tidak bersamanya.
"Ugh...Tidak! Hp ku hilang, Aku harus bagaimana?" Lirih Chloe lesu sembari berjongkok sedih, Dia tidak bisa pulang tanpa alat komunikasnya.
Jam arlojinya pun juga hilang entah kemana, Sungguh nasibnya kali ini benar-benar sedang sial. Sudah diculik, Dua benda komunikasinya pun ikut hilang. Rasanya Chloe ingin menangis sekarang.
"Mencari ini?"
Suara sosok asing yang berada dibelakangnya sontak membuat Chloe menoleh, Dirinya melihat sosok pria yang memakai motor tadi kini menunjukkan sebuah jam arjoli padanya. Refleks dirinya berdiri dengan sikap waspada.
"Iya, Itu jam milikku. Tolong kembalikan," Pinta Chloe seraya memandang pria berhelm itu lekat.
Pria itu terlihat mendengus kembali memandang jam di tangannya. "Jam ini menarik, Dari mana kau mendapatkannya? Boleh untukku saja?"
"Jangan! Tolong kembalikan jam itu, Jam itu penting bagiku,"
"Apa imbalannya jika aku mengembalikan benda ini?"
"Imbalan?"
"Ya, Jika kau ingin jam ini. Kau harus memberiku imbalan sebagai bayarannya," Pria itu mendekati Chloe sembari melepas helm yang dipakainya.
Netra biru Chloe membulat menyadari wajah familiar dari pria itu setelah helm nya terlepas.
"Kau...!"
TEP!
"Bagaimana kalau imbalannya adalah...Informasi," Bisik pria itu tepat disamping kuping sang gadis, Membuat gadis itu terdiam membeku mendengarnya.
"Pak Ethan!" Lirih Chloe pelan menatap Ethan yang berada di depannya, Sedangkan Ethan menyerigai penuh kemenangan.
Ethan mengangkat seraya menggoyangkan jam di tangannya tepat di hadapan sang gadis. "Kau menginginkan jam ini kan? Sebagai gantinya beri aku informasi tentang Asrama itu dan semua anggotanya,"
Glek!
Chloe meneguk selivanya susah payah menyadari Ethan mencoba memanfaatkan situasi mereka saat ini, Sesaat Chloe merasakan keringat dingin di keningnya.
"Maksud Pak Ethan apa? Aku tidak mengerti," Chloe tersenyum kecil, Berusaha tidak dicurigai Ethan.
"Jangan pura-pura tidak tahu!" Ethan kembali memandang jam ditangannya. "Hm, Kalau dilihat-lihat sepertinya aku mengenal ukiran jam sejenis ini. Justin kurasa juga memakai jam seperti ini, Apa jangan-jangan kau adalah salah satu anggotanya?"
Sang gadis semakin terdiam bungkam, keringat dingin seakan hampir membasahi pakaiannya. Dia tak bisa mengatakan sejujurnya karna ia tahu hal ini akan mengancam seluruh identitas para anggota Asrama. Namun dirinya juga memerlukan jam itu.
"Katakan apa saja yang kau ketahui di Asrama itu! Jika kau ingin jam ini kembali," Ethan menatap dingin dengan sorot mata tajam, Dia masih berusaha sabar menunggu informasi dari Chloe.
__ADS_1
Mulutnya masih bungkam tak mengatakan satu kata pun lagi, Disaat keadaan begini pikirannya tengah berdebat. Chloe mendongak ingin mengatakan sesuatu namun Ethan yang kesabarannya sudah habis lantas mengambil sebuah pistol dari balik jaketnya dan langsung menodongkan pistol tersebut tepat menempel di kening sang gadis.
Niatnya ingin mengatakan sesuatu diurungkan karna menyadari tindakkan berbahaya dari Ethan, Chloe merasakan ujung benda alumanium itu menyentuh keningnya. Seketika membuat dirinya kembali bungkam, Sedetik saja jika Ethan menarik pelatuk itu maka pelurunya akan menembus kepala Chloe.
"Aku cuma menginginkan informasi, Kenapa kau mengatakannya susah sekali padaku! Kau ingin mati ya?!"
Sesaat netra birunya melirik jam yang berada di tangan Ethan, Ekspresinya berubah muram.
"Aku tidak bisa mengatakannya, Orang asing sepertimu perlu apa dengan informasi itu? Jika hanya ingin menjatuhkan Pak Justin, Tidak ada kaitannya dengan Asrama," Balas Chloe ikut menatap dengan sorot tajam.
"Hahaha! Aku memang ingin menjatuhkan Justin. Tapi kudengar di asrama ada salah satu anggota yang paling kuat dan dia bukan manusia, Itulah yang membuatku tertarik. Makanya aku memerlukan info darimu, Karna aku ingin kekuatannya menjadi milikku,"
Ethan tertawa yang membuat Chloe tersentak, Sekarang dirinya paham kenapa Ethan bisa tahu kalau Justin memiliki Asrama dan anggota-anggota yang tak biasa.
"Apakah yang dia maksud Aiden? Ternyata selama ini Aiden juga diincar," Pikir Chloe masih menatap Ethan yang tertawa, Disaat yang bersamaan netranya kembali melirik jam tangan itu.
Tanpa peringatan Chloe menendang tubuh Ethan dan dengan gesit mengambil jam tangan itu. Dia berhasil mendapatkan nya namun Ethan juga tak tinggal diam.
Chloe langsung menghindar ketika Ethan berusaha membidik dirinya sebelum menarik pelatuk.
DOR!
Suara tembakan terus bergema mengisi kesunyian tempat itu, Chloe menghindar cepat untung dirinya tidak terkena peluru yang ditembakkan. Kakinya terus berlari tanpa arah menghindari Ethan yang terus mengejarnya.
Ethan kembali membidikkan pistol pada Chloe namun belum sempat menarik pelatuk lagi, Sebuah tendangan entah berasal dari mana mengenai kepalanya. Membuat larinya terhenti.
BUGH!
"Ukh!"
Tangannya refleks memegang kepala setelah merasakan kepalanya berdenyut nyeri akibat tendangan yang ia terima.
Entah kenapa Chloe merasa familiar dengan sosok itu, Hingga tiba-tiba saja sosok itu menoleh padanya dengan senyum tipis. Membuat netra Chloe membulat sesaat karna terkejut.
"Rion...!"
Chloe terfokus pada Rion yang masih menatapnya tanpa menyadari Ethan kembali bergerak dan bersiap menembak Rion yang menjadi targetnya kali ini. Sadar Rion dalam bahaya, Lantas Chloe berteriak memberitahu sang pemuda.
"Rion, Dibelakangmu!" Teriak Chloe panik berlari menuju arah Rion.
"Hah?" Rion menoleh cepat dan menyadari Ethan yang ingin menembaknya.
Ethan hampir menarik pelatuk pistol itu kalau saja seseorang tak menendang Pistolnya hingga terlempar jauh, Dan tak lama Rion menendang wajah Ethan dengan sepatunya hingga membuat ukuran sepatu sang pemuda tercetak jelas di wajah Ethan.
Ia menekan dada Ethan dengan kakinya membuat Ethan meringis dan berusaha melepaskan diri namun sia-sia karna tenaga Rion lebih kuat. Sesaat Rion menoleh pada seseorang yang membantunya.
"Terima kasih Devian,"
"Hm...,"
Keduanya sama-sama memandang Ethan yang sudah tak berdaya, Kemudian Chloe datang dengan napas terengah-engah tak beraturan. Menghembuskan napas sejenak.
"Syukurlah kalian baik-baik saja,"
"Ini masalah kecil bagi kami," Sahut Devian tenang sembari memasukkan kedua tangannya dalam saku celana.
Rion bersidekap masih memandang Ethan dengan ekspresi datar. "Jadi ini ya si penghianat nya, Kukira kuat tapi ternyata lemah,"
__ADS_1
"Siapa yang kau bilang lemah hah! Aku bisa saja membunuhmu tadi kalau saja temanmu itu tidak mengganggu!" Kata Ethan tak terima dibilang lemah.
"Kau diam saja! Kau pikir dengan menculik Kak Chloe, Kau bisa mendapat info tentang kami hah! Tidak semudah itu. Setelah ini hukuman yang lebih besar akan menantimu," Balas Devian dingin sambil bersidekap menatap Ethan tajam.
Ethan terdiam bungkam, Ia melirik Chloe sesaat. Namun Chloe hanya mengangkat bahu acuh, Dirinya tak ingin ikut campur dengan urusan Ethan lagi.
Tak lama suara klakson mobil membuat semuanya menoleh, Dan menemukan Ezra yang baru saja datang sambil berlari pelan menuju arah mereka. Napasnya memburu tak beraturan.
"Kenapa lama sekali?" Tanya Rion menatap Ezra yang masih mengatur napasnya.
"Aku terjebak macet tadi," Merasa lebih baik pandangan Ezra beralih menatap Ethan yang masih di tahan oleh Rion.
"Ternyata kau satu kelompok dengan mereka, Aku tidak akan membiarkanmu menang lagi kali ini," Teriak Ethan marah namun dirinya hanya di tatap datar dan diacuhkan oleh Ezra.
Pandangan Ezra beralih pada Devian dan Rion sembari mengambil sesuatu di balik jas nya dan menunjukkan pada kedua pemuda itu.
"Aku punya tali, Bisakah kalian mengurusnya?" Tanya Ezra menyodorkan tali di tangannya pada Devian.
"Serahkan saja padaku," Devian mengambil tali ditangan Ezra.
"Kebetulan aku juga punya lakban, Baru saja kuambil dari mobil itu. Mungkin kalian memerlukannya," Chloe ikut menyerahkan segulung lakban yang langsung diterima Rion.
"Baiklah, Kalian bisa pulang. Biar kami mengurus sisanya," Saran Rion sambil kembali menekan dada Ethan hampir membuat Ethan kehabisan napas.
"Jangan sampai dia terbunuh, Kita masih memerlukannya,"
Usai memberi nasehat Ezra melangkah pergi meninggalkan Ethan bersama Devian dan Rion, Sedangkan Chloe menatap Ethan dengan nanar sesaat.
"Kasihan sih, Tapi yang buat masalah duluan kan Pak Ethan. Kurasa aku tidak perlu ikut campur lagi," Pikir Chloe masih menatap kasihan pada Ethan kemudian ia ikut melangkah pergi dari sana menuju mobil Ezra yang sudah menunggunya.
BLAM!
Chloe memasang seatbelt miliknya sembari menghela napas pelan.
"Dari mana bapak tahu saya dibawa kesini?" Tanya Chloe memulai obrolan selagi menunggu Ezra selesai memasang seatbelt nya.
"Dari jam yang kau pakai aku bisa memantau posisi keberadaanmu, Setiap jam anggota memiliki sensor masing-masing termasuk jam milikku," Jelas Ezra melepas handsfree miliknya dan meletakkan di laci mobil.
Sesaat Chloe memandang jam tangan yang dipakainya, Termenung beberapa saat.
"Apa bapak tahu kalau Pak Ethan punya dendam sama bapak?"
Ezra diam sesaat, Pandangannya terus tertuju pada jalan raya dihadapan mereka sembari memegang kemudi mobil erat.
"Aku tahu, Aku sudah tahu semua rencananya. Kita tinggal menunggu keputusan Justin,"
"Boleh aku ikut ke Asrama? Aku ingin tahu apa yang terjadi dengan pak Ethan setelah ini,"
Seketika Ezra melirik tajam Chloe. "Tidak bisa! Kau tidak boleh ikut!"
"Kenapa?"
"Kau tidak akan sanggup melihat apa yang akan terjadi nanti padanya,"
Netranya mengerjap bingung dengan maksud Ezra, Tidak sanggup kenapa? Apa Ethan akan disiksa? Entahlah mungkin Chloe lebih baik mengikuti saran Ezra saja, Toh dia akan tahu besok karna besok adalah hari-H nya.
"Baiklah, Aku pulang saja. Lagipula hari ini cukup berat untukku," Chloe menyandarkan punggungnya lesu, Tubuh benar-benar merasa lelah sekarang.
Tidak ada pembicaraan lagi dalam mobil itu, Ezra lantas segera menjalankan mobil nya meninggalkan area asing tersebut.
__ADS_1
TBC