
"Restorannya gak jauh kan?" Chloe menoleh pada Devian, Pemuda bersurai hitam kecoklatan itu terlihat tengah fokus menyetir.
"Tidak, Sebentar lagi sampai. Aku juga sudah memesan meja untuk kita berdua sebelumnya,"
"Oke,"
Chloe kembali menatap arah jalan, Memperhatikan pemandangan yang mereka lewati. Duduk tenang dalam diam. Kini Chloe berada dalam mobil Devian, Usai pulang sekolah mereka langsung pergi menuju Restoran yang dituju Devian.
Dengan ekspresi malas, Sang gadis bertopang dagu dengan tangannya. Menatap ke luar jendela mobil, Tanpa rasa bosan sedikit pun. Keheningan menyelimuti keduanya.
Holy terbang di samping kepala Chloe kemudian menapakkan kakinya di pundak sang gadis, Duduk sambil memandang arah jalan.
"Chloe,"
"Hm...?"
"Apa kau sadar seharian ini kita tidak melihat Vivian dan antek-anteknya?"
"Oh ya? Gak sadar tuh, Aku cuma dengar dari para penggosip Tugas OSIS akan dipindahkan ke wakil OSIS sementara waktu dalam kurun 1 tahun, Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Vivian setelah kejadian dalam ruang kepala sekolah waktu itu," Balas Chloe tak tertarik, Masih memandangi luar jendela mobil.
"Aneh gak sih,Vivian sama Viola dan Chelsia tiba-tiba libur begitu saja tanpa ada kabar dari kepala sekolah!?" Tanya Holy yang bingung, Agak heran juga sih. Setelah kejadian Felix datang ke sekolah terakhir kali, Vivian dan atek-anteknya tidak terlihat lagi setelahnya.
"Hm...Mungkin mereka sibuk atau dijadikan murid pindahan atau ada urusan keluarga, Entahlah. Aku juga tidak ingin ikut campur urusan mereka," Chloe tetap positif thingking, Memilih melupakan kejadian saat dia jatuh di tangga.
"Yah, Setidaknya aku senang tidak ada pembully lagi di sekolahmu Chloe,"
"Mereka tidak akan bisa menyakiti ku selama aku punya bela diri dan Holy sebagai petunjuk ku,"
"Hehehe, Senang mendengar kalau aku dianggap berguna," Kata Holy dengan ekspresi malu yang bikin Chloe ingin muntah.
Tak lama usai obrolan singkat dalam hati itu, Mobil mulai perlahan berhenti di depan sebuah Restoran mewah. Devian mematikan mesin mobil dan melepas Seatbelt yang menahan tubuhnya. Begitu pun dengan Chloe, Tanpa menunggu Devian lagi dia langsung melepas Seatbelt dan keluar dari dalam mobil.
Netra biru nya menatap sekitar Restoran yang sangat mewah, Sesaat sang gadis menghela napas melihat Restoran yang akan mereka tempati.
"Hah~...Tidak bisakah pilih Restoran yang lebih sederhana saja tanpa ada embel-embel bintang 5. Ini terlalu mewah untukku," Pikir Chloe menatap datar Restoran di depannya yang lumayan tinggi macam hotel.
Devian mendekati Chloe, Menepuk pelan pundak sang gadis yang terlihat diam dan tercengang.
"Ayo, Jangan melamun. Kak Chloe gak mau pulang kemaleman kan," Kata Devian santai, Berjalan memasuki Restoran dengan kedua tangan masuk dalam saku blazer nya.
Chloe sejenak menatap punggung Devian, Lalu mengikuti langkah sang pemuda.
Pintu Restoran secara otomatis terbuka sendiri saat keduanya melangkah masuk, Seorang pelayan menghampiri mereka. Tersenyum ramah layaknya pelayan pada umumnya.
"Selamat datang di Restoran kami tuan dan nona, Ada yang bisa saya bantu?" Kata pelayan itu ramah.
"Meja yang dipesan atas nama Devian," Sahut Devian dingin.
"Oh, Tuan Devian ya. Mari ikuti saya,"
Pelayan itu berjalan sebagai petunjuk arah, Menunjukkan meja pesanan Devian. Devian dan Chloe hanya mengikuti saja, Sesekali Netra biru Chloe melirik beberapa interior yang terletak rapi dalam Restoran itu. Bahkan ada permainan piano, Menambah kesan elegan dan klasik disana.
Mereka duduk di meja pesanan Devian, Di meja tersebut terdapat lilin yang menyala dengan dekorasi meja yang dihias sebagus mungkin, Menambah kesan romantis di dalamnya. Apalagi suasana Restoran yang lumayan tenang membuat siapa saja betah berlama-lama disana.
Mereka duduk dengan tenang, Pelayan itu lalu meletakkan dua gelas jus Alpukat di depan Devian dan Chloe, Entah sejak kapan dibuatnya. Sejenak sang gadis mengerutkan alis.
"Sejak kapan jus ini dipesan? Kami bahkan belum memesan apapun, Apa Devian yang memesan duluan?" Pikir Chloe curiga, Netra biru nya melirik Devian yang terlihat tersenyum tipis.
Tak lama dua orang lagi datang dengan membawa empat hidangan, Si koki dan pelayan lainnya. Mereka meletakkan hidangan itu masing-masing di meja.
Usai selesai, Sang koki dan pelayan lainnya pergi meninggalkan pelayan yang mengantar Devian dan Chloe tadi.
"Izin kan saya menjelaskan hidangan special ini," Kata pelayan itu masih tersenyum.
"Silahkan," Devian mengangguk kecil.
Pelayan itu mulai menjelaskan dengan berseri-seri, Mulai dari bahan-bahannya sampai proses pembuatan hidangan tersebut. Chloe hanya diam menatap Seafood dan Steak di depannya, Sudah tak sabar ingin makan. Namun penjelasan dari Pelayan itu agak lama sampai Chloe harus bersabar menahan rasa lapar.
Dia mendengarkan tapi tak ada satupun penjelasan dari sang pelayan yang masuk dalam otaknya. Holy sampai-sampai ingin tidur karna suara sang pelayan terdengar seperti lagu pengantar tidur.
"Ribet amat ya ni Restoran, Sampai harus dijelaskan segala asal usul hidangannya," Bisik Holy sambil terkikik.
Chloe memasang senyum kecil mendengarnya.
"Iya, Perutku sampai laper banget nunggu penjelasannya selesai," Balas Chloe masih tersenyum kecil.
"Jadi sekarang silahkan dinikmati hidangannya, Tuan dan Nona,"
Pelayan itu pun membungkuk kecil, Pergi meninggalkan Devian dan Chloe. Chloe menghela napas lega, Dan tindakkan itu tak luput dari Netra Coklat muda Devian.
"Sudah laper banget ya Kak Chloe?"
"Hehehe, Iya. Tidak kusangka Restoran ini ribet juga sampai harus dijelasin segala hidangannya," Kekeh Chloe pelan, Memandang Steak yang sudah membuatnya lapar sedari tadi.
__ADS_1
"Mungkin aku harus memilih Restoran yang tidak ribet seperti ini lain kali," Balas Devian, Dia mengambil garpu dan pisau. Memakan Seafood nya dengan elegan khas holkay.
Sejenak Chloe memandang cara makan Devian, Cukup merasa kagum karna sang pemuda begitu elegan dan tidak terlihat berantakan saat makan. Chloe mengambil garpu dan pisau, Mencoba mengikuti cara makan sang pemuda. Namun sayangnya dia tidak se elegan Devian, Malah isi piringnya jadi tak beraturan karna sejak tadi Chloe berusaha memotong Steak nya.
"Ish...Susah amet dipotongnya! Udahlah, Aku makan kayak biasa aja. Gak usah ngikutin Devian," Pikir Chloe yang udah jengkel karna Steaknya tidak bisa di potong sama sekali.
Tanpa malu Chloe langsung menusuk Steak tersebut, Memakannya sekaligus meski tidak dipotong. Diam-diam Devian memperhatikan cara makan Chloe, Sesaat sang pemuda mengerutkan alis merasa kesal dengan cara makan Chloe yang tidak elegan.
"Ck! Sikap tidak tahu malu nya keluar lagi. Cara makannya benar-benar tidak elegan! Sungguh benar-benar bukan tipe cewek ku. Kak Chloe membuatku malu saja. Andai bukan karna rencana ini, Aku benar-benar enggak mau membawanya ke Restoran," Batin Devian masih kesal dengan sikap Chloe.
Sejenak Devian menusuk-nusuk Seafood nya dengan garpu, Melampiaskan rasa kesalnya. Membayangkan Seafood itu adalah wajah Chloe yang perlu dia hancurkan.
"Ada apa Devian? Seafood nya gak enak ya?" Tanya Chloe heran dengan sikap Devian yang aneh menurutnya. Dengan tenang Chloe masih mengunyah makanannya.
Devian mendongak kecil, Lalu tersenyum menutupi ekspresi kesalnya tadi. Garpu nya berhenti menusuk-nusuk Seafood.
"Enggak kok, Cuma lagi memotong lobster nya kecil-kecil,"
"Oh, Kirain gak enak tadi," Chloe mengangguk kecil.
Usai menghabiskan makanannya, Dia meraih jus Alpukatnya sebelum minum kembali memandang Devian. "Btw, Jus nya kau yang pesan duluan ya?"
"Iya, Biar gak nunggu kelamaan. Aku juga gak ingin pulang kemaleman," Devian ikut mengambil Jus nya, Meminum dalam diam. Sesekali Netra nya melirik Chloe.
Holy menghabiskan kue di tangannya, Terbang di samping kepala Chloe. Sesaat matanya menatap Jus alpukat di tangan Chloe. Dan Holy menyadari ada sesuatu yang aneh dalam jus tersebut, Sedetik kemudian mata nya terbelalak kaget usai memeriksa kandungan yang terdapat dalam Jus itu.
"Chloe berhenti! Jangan diminum!" Peringat Holy nyaring tepat di samping Chloe. Namun terlambat, Chloe sudah meminum Jus itu hingga tersisa setengah.
Chloe sontak tersedak mendengar teriakan Holy, Membuat Devian mengalihkan perhatian dari Seafoodnya.
"Kenapa kak Chloe?"
"Enggak...Uhuk...Aku cuma tersedak...Karna melamun," Kata Chloe agak terbata-bata, Berusaha menetralkan nada suara nya habis tersedak.
Devian hanya mengangkat sebelah alisnya heran, Kembali melanjutkan makan. Tidak terlalu peduli dengan urusan Chloe.
Chloe menatap nyalang pada Holy usai mengusap bibirnya pakai tisu, Kesal karna Holy berteriak tepat di samping kupingnya.
"Apaan sih!? Jangan bikin aku kaget dong Holy!"
"Ini bukan saat nya untuk marah! Nyawa mu dalam bahaya Chloe! Cepat, Muntahkan yang barusan kau minum!" Kata Holy panik.
Sesaat sang gadis mengerutkan alisnya.
"Dalam jus itu terdapat racun, Seseorang sengaja mencampurkan racun ke dalamnya. Jika tidak kau muntahkan sekarang, Maka nyawa mu menjadi taruhannya dan racun itu akan membunuhmu perlahan-lahan,"
DEG!
Sejenak gadis bersurai biru itu bisa merasakan jantungnya berhenti berdetak sesaat, Keringat dingin tanpa sadar mengalir di keningnya. Wajah Chloe memucat layak nya kertas putih.
"Aku...Akan mati!?" Pikir Chloe yang merasa syok karna nyawa nya mulai terancam dengan keberadaan racun dalam tubuhnya.
Seseorang berniat membunuhnya menggunakan racun yang sudah dicampurkan dalam Jus itu!? Dan jus tersebut sudah dipesan oleh Devian sebelum kedatangan mereka ke Restoran!? Itu artinya......
Perlahan Netra biru Chloe menatap Devian yang masih makan dengan syok, Tidak mengira Devian tega melakukan rencana buruk itu untuk mencelakai Chloe yang notabane nya adalah teman sebangku Devian sendiri walau status mereka hanyalah teman biasa.
Ingin sekali Chloe mengatakan kata 'Kenapa' Pada sang pemuda bersurai hitam kecoklatan itu, Namun lidah nya terasa kelu untuk mengucapkan satu kata pun. Mulutnya juga tidak bisa diajak kerja sama untuk mengeluarkan nada suaranya.
"Devian, Tega sekali kau ingin membunuhku seperti ini. Aku bahkan tidak punya salah apapun padamu! Mulai saat ini aku tidak akan pernah mempercayai mu lagi Devian," Batin Chloe yang merasa sesak, Tanpa sadar mengepalkan kedua tangan di pangkuannya.
Chloe tidak bisa lagi berlama-lama dalam Restoran itu, Dia sudah muak bersama Devian dalam kurun waktu 3 jam dari mulai masuk mobil sampai makan Di Restoran ini. Dengan tergesa-gesa Chloe mengambil ransel nya dan berpura-pura memeriksa HP, Seolah-olah mendapat pesan dari seseorang.
"Maaf, Aku tidak bisa berlama-lama lagi Devian. Tiba-tiba saja bos Cafe ku membutuhkan bantuan secara mendadak, Aku harus pergi," Kata Chloe usai menyimpan HP nya.
"Oh, Perlu kuantar?" Devian mengambil tisu setelah menghabiskan minumannya.
"Tidak perlu, Aku bisa naik bis. Aku tidak mau merepotkanmu,"
"Hm...Baiklah, Kalau ada apa-apa telpon aku,"
"Oke, Kau yang traktir ya. Sampai jumpa," Chloe memasang senyum palsu, Berusaha tidak menunjukkan bahwa dia sangat marah dan kecewa pada Devian.
Devian hanya mengangguk kecil, Tanpa menunggu lebih lama lagi. Chloe keluar dari Restoran itu dengan berlari, Setelah ini dia harus buru-buru beli susu kaleng atau susu bubuk. Karna Chloe pernah dengar susu kaleng bisa menetralkan racun.
******************
Napas sang gadis mulai tak beraturan karna terus-menerus belari, Sepanjang perjalanan. Chloe sama sekali tidak menemukan toko perbelanjaan satu pun di daerah itu, Bahkan Chloe gak tahu ini daerah mana. Kepala nya pun semakin berdenyut sakit, Mungkin efek racun nya sudah mulai bekerja hingga membuat Chloe cepat lelah dan mata nya agak berkunang-kunang.
Dia berhenti sebentar di sebuah gang sepi, Tangan kirinya menempel pada tembok dan tangan kanannya bertumpu pada lutut untuk menahan beban berat tubuhnya. Napas nya semakin tak beraturan, Semakin lama di biarkan maka efek racun itu semakin cepat.
"Chloe, Maafkan aku. Andai aku menyadarinya lebih cepat, Kau tidak akan begini," Kata Holy sedih plus cemas.
"Ini bukan saat nya untuk minta maaf! Apa kau punya toko system agar aku bisa membeli susu kaleng? Racun ini harus dinetralkan agar hilang," Balas Chloe kesal, Masih beristirahat di gang itu.
__ADS_1
"Maaf Chloe, Tapi Program tidak menambahkan toko system. Semua yang kau lakukan harus di kerjakan dengan usaha sendiri,"
"Ck, Sial!" Decak Chloe, Memandangi jalur gang asing yang ditempatinya saat ini. "Aku tidak tahu daerah ini, Dan lebih parahnya tidak ada satupun toko perbelanjaan sepanjang penglihatanku,"
Tangan kirinya mengepal, Memukul tembok tersebut melampiaskan rasa kesalnya.
TAP! TAP! TAP!
"Sepertinya ada yang sedang butuh bantuan,"
Suara yang tak asing serta langkah kaki itu membuat Chloe mendongak, Menatap seorang pemuda dengan netra merah yang sangat dikenalinya.
"Ian!?" Sesaat Chloe agak terkejut karna Ian mengetahui keberadaannya. "Bagaimana bisa kau tahu aku ada disini?"
Sejenak Ian diam memandangi Chloe dengan Netra merahnya, Menyadari wajah sang gadis yang dipenuhi keringat karna menahan efek racun yang tak sengaja diminumnya. Bahkan badan Chloe terlihat bergetar kecil dengan napas yang tak beraturan.
"Hanya tidak sengaja lewat, Kebetulan aku juga ada urusan di daerah sini," Bohong Ian seperti biasa memasang ekspresi datar.
Chloe semakin mengepalkan tangan kirinya yang masih menempel di tembok, Menunduk tak ingin menatap Netra merah itu.
"Pergilah! Aku sedang ingin sendiri,"
"Dan meninggalkanmu dengan kondisi begitu!? Tidak!" Ian mendekat, Ekspresi nya semakin dingin.
"Kenapa kau harus peduli padaku?" Lirih Chloe pelan, Kembali menatap setelah Ian berada dekat dengannya. "Bukannya dulu kau sangat menjauhiku dan bilang bahwa aku pengganggu?"
Sejenak terjadi keheningan di antara keduanya, Tidak ada yang Ian pikirkan saat itu. Yang dia inginkan hanyalah misi nya cepat selesai dan bersantai di rumahnya.
"Seseorang menyuruhku untuk menjagamu,"
Chloe terkejut, Merasa heran dan bingung dengan perkataan Ian yang kadang tidak bisa dia mengerti. Seseorang menyuruh Ian untuk menjaganya!? Apa dia salah dengar tadi?
"Apa maksud—Ugh...," Belum sempat gadis bersurai biru itu menyelesaikan kata-kata nya, Kepala mendadak semakin berdenyut sakit.
Refleks Chloe memegangi kepalanya, Pandangannya semakin berkunang-kunang tak kuat menahan efek racun yang semakin bekerja. Tak lama tubuhnya menjadi limbung, hampir jatuh menghantam tanah yang keras.
GREP!
Untungnya Ian dengan sigap menangkap tubuh kecil Chloe, Agak kaget juga karna sang gadis kini pingsan tak berdaya. Sesaat pemuda bernetra merah itu mendengus kecil menatap wajah Chloe yang pucat pasi dalam pelukannya.
"Cewek badung, Senang sekali membuatku repot," Gumam Ian masih memegangi tubuh Chloe dalam pelukannya.
Tak lama tiba-tiba HP Ian bergetar, Sang pemuda langsung mengangkat teleponnya tanpa melepaskan Chloe.
PIP!
"Bagaimana? Kau sudah bertemu dengan Kak Chloe?"
"Sudah, Tapi dia kabur. Larinya sangat cepat, Aku kehilangan jejak nya," Bohong Ian dengan nada dingin.
"Apa? Bagaimana bisa? Aku sudah memberinya racun, Seharusnya kondisi tubuhnya sudah lemah sekarang,"
"Kau kira dia bodoh!? Tentu saja dia membeli minuman untuk menetralkan racunnya!"
"Mana mungkin! Dia tidak tahu kalau minuman itu sudah kuberi racun,"
"Aku melihatnya sendiri, Dia membeli banyak sekali minuman dingin. Mungkin dia masih merasa haus,"
"Lalu kenapa kau tak menangkapnya sekalian saat dia membeli minuman?" Terdengar nada Devian sudah mulai kesal di seberang telepon.
"Sudah kubilang larinya sangat cepat, Dan jarak kami terpaut sangat jauh. Kau pikir mudah menangkap kelinci yang kabur, Hah!?" Ian masih mempertahankan nada dinginnya, Kali ini disertai nada tajam.
"Cih sial! Gagal lagi, Kalau begini kapan aku bisa menjadi yang terbaik di depan Justin!" Devian tampaknya sudah mulai frustasi.
"Bukan urusanku!" Dengan nada ketus, Ian menutup panggilan itu secara sepihak.
PIP!
"Cih, Enggak Devian. Enggak Justin, Mereka berdua sama-sama merepotkan," Gumam Ian agak kesal walau tetap dengan ekspresi datarnya.
"Termasuk anak badung ini," Batin pemuda bernetra merah itu sambil melirik Chloe yang masih dalam pelukannya.
Ian menopang tubuh Chloe yang pingsan, Sejujurnya walaupun Ian termasuk tipe cowok yang dingin dan tak banyak tingkah serta pendiam. Dia masih memiliki sisi peduli pada orang lain, Tidak semua orang hanya beberapa saja termasuk Chloe tentunya.
Sebenarnya ada dua pilihan untuk Ian saat ini, Antara memberikan Chloe pada Devian dan Justin untuk menyelesaikan misi mereka atau membawa Chloe pulang ke rumahnya. Dibanding harus mengikuti perintah Justin, Ian lebih memilih untuk membawa Chloe pulang ke rumah sang gadis.
Toh tidak akan menjadi masalah untuknya, Lagipula Ian sudah menjadi penghianat bersama Raizel dan Felix. Chloe juga pernah membantunya beberapa kali, Jadi Ian cukup punya hutang budi pada Chloe. Hanya saja agar tidak dicurigai Justin, Ian berpura-pura tetap berpihak pada Justin sama seperti Felix dan Raizel. Dengan begitu mereka bertiga tidak akan di curigai sebagai penghianat.
Dengan perlahan Ian membantu Chloe yang masih pingsan masuk dalam mobilnya, Setelahnya dia bergegas memasuki mobil lewat sisi lain.
Segera mengendarai mobil nya menuju alamat rumah Chloe yang didapat Ian dari mata-mata Justin.
TBC
__ADS_1