
Langit malam dengan bertaburan bintang menemani suasana malam itu, Hawa dingin disertai semilir angin menusuk kulit. Suasana sunyi dan hening menemani dua orang pemuda yang sedang memandangi layar monitor, Memperhatikan CCTV yang menunjukkan penyerangan beberapa kelompok yang menyerang gedung yang sedang mereka tempati.
"Kak, Tampaknya mereka sengaja menyerang secara mendadak agar penjagaan di luar sana tidak siap," Kata sosok pria bersurai hitam dengan netra biru safirnya, Masih memandangi layar monitor.
"Kita tidak bisa berharap banyak pada para penjaga di luar sana untuk melindungi kita, Mereka pasti sudah tahu keberadaan kita disini," Jawab pria bersurai coklat disampingnya, Dia mengambil handphone miliknya dan segera mengetik sesuatu disana tampak menghubungi seseorang.
Piip!
"Ada apa?" Suara seseorang terdengar di seberang sana setelah pria itu berhasil menghubunginya.
"Xavier, Datang ke lokasi ini. Kami menemukan kelompok asing yang menyerang para penjaga di depan gedung,"
"Apa kau tahu siapa mereka, Rafael?"
"Tidak, Wajah mereka tidak dikenali sama sekali karna mereka semua memakai topeng," Rafael, Pria bersurai coklat itu melirik layar monitor.
"Ternyata memang sudah direncanakan," Suara hembusan napas sesaat terdengar diseberang telepon. "Tahan mereka semampumu, Kami akan segera datang kesana,"
"Hn...,"
Sambungan telepon terputus secara sepihak, Rafael mengirim lokasinya dan menyimpan kembali handphonenya. Tak lama suara derap langkah terdengar mendekat disusul suara bantingan pintu.
BRAK!
"Tuan Rafael, Tuan Azura. Gawat! Kelompok penyerang itu hampir membantai habis para penjaga, Sekarang penjagaan di depan gedung mulai berkurang!" Seru seorang pria disusul dua pria berpakaian hitam ala bodyguard dibelakangnya.
Azura memandangi tiga orang bawahannya itu, Lalu berdiri dari duduknya sambil mengambil sebuah map berisi dokumen di meja.
BUK!
"Ambil dokumen ini dan bawa ke dermaga, Pastikan jangan sampai mereka berhasil merebutnya," Kata Azura tersenyum ramah sambil meletakkan dokumen itu ke tangan salah satu bawahannya.
"Baik Tuan Azura," Kata pria itu membungkukkan badannya hormat.
Netra biru Azura beralih memandang dua bodyguard di belakang pria itu. "Dan kalian berdua, Kawal dia dengan selamat sampai dermaga. Jangan sampai lengah,"
"Baik Tuan!"
"Cepat pergi sebelum mereka menuju kesini," Rafael mengambil kunci mobilnya bersiap untuk pergi dari sana.
Ketiga orang suruhan itu mengangguk cepat dan mereka bergegas keluar meninggalkan Rafael dan Azura.
Tap! Tap! Tap!
"Kakak, Apa kau yakin dokumen itu bisa mengalihkan perhatian mereka agar kita tidak ketahuan?" Azura mengalihkan pandangannya pada Rafael.
"Ya, Aku sudah memikirkan ide ini matang-matang. Mereka pasti akan terkecoh dengan dokumen itu, Karna sepertinya dokumen itu lebih penting dari keberadaan kita disini,"
"Ah, Begitu. Semoga saja orang-orang suruhan kita selamat karna kita memakai mereka sebagai umpan,"
"......,"
Rafael tidak menyahut, Dia mematikan layar monitor dan mematikan sambungan listrik disana agar tidak ada yang curiga kalau mereka habis memakai ruangan itu untuk mengawasi.
"Ayo kita juga cepat pergi dari sini,"
Rafael melangkah lebih dulu, Berniat keluar ruangan namun langkahnya terhenti karna mendengar suara gaduh di lantai bawah. Cepat-cepat ia membuka pintu dan menemukan ketiga orang suruhannya sedang diserang sosok pria bersurai coklat.
"Ada apa kak?" Azura mengintip dari celah pundak Rafael, Penasaran mengapa kakaknya berhenti melangkah.
"Itu dia! Orang itu mulai mengejar orang suruhan kita. Dia menempelkan sesuatu di pakaian para bodyguard itu,"
Azura melihat sosok pria yang dibicarakan kakaknya, Sedetik kemudian dirinya tersadar kalau benda yang ditinggalkan oleh pria itu adalah bom. Seketika Azura bergegas menutup pintu, Menggantikan Rafael yang terkejut karna tindakkan Azura.
BLAM!
DDDUUAAARRR!
Lantai yang mereka pijaki terguncang seakan ingin runtuh setelah ledakan itu terjadi, Azura menutup kupingnya dan berpegangan pada tembok. Begitu juga dengan Rafael agar mereka bisa menjaga keseimbangan.
Setelah merasa aman dan hening, Azura membuka pintu dan mengintip keluar. Memastikan apakah diluar sudah aman atau belum. Hanya bercak-bercak darah dan potongan tubuh yang sudah hancur sepanjang pandangan Azura. Pria itu menahan mual saat melihat pemandangan mengerikan didepannya.
"Ugh...Aku jadi pusing," Keluh Azura menutup hidungnya, Berusaha tidak mencium aroma anyir disekitarnya.
Rafael ikut menutup hidungnya, Menahan diri agar tidak lemas disana. Jujur saja pemandangan mengerikan itu membuat seluruh bulu kuduknya merinding, Terlebih banyak organ-organ dalam yang ikut berceceran disana.
"Ayo cepat, Sebelum giliran kita yang akan mati disini," Rafael bergegas keluar menuruni tangga, Sesekali ia melangkah hati-hati agar tidak menginjak genangan darah maupun organ-organ dalam. Azura dibelakangnya ikut menyusul.
Pria bersurai hitam itu bergidik jijik, Ekspresinya agak pucat selama perjalanan menuju lantai dasar.
Tap! Tap! Tap!
Sesampainya di lantai dasar, Keduanya berjalan mengendap-endap melewati halaman belakang gedung agar tidak ketahuan kelompok asing yang menyerang semua penjaga disana. Sejenak Azura melirik halaman depan dimana para kelompok asing dengan topeng rubah yang menutupi wajah mereka semua berada, Tampak puluhan penjaga tumbang disana. Bahkan ada beberapa yang terluka parah.
Rafael dan Azura tidak bisa membantu, Karna kalau mereka membantu ke halaman depan maka mereka akan tertangkap kelompok asing itu. Rafael bergegas membuka pintu mobilnya dan keduanya memasuki dalam mobil.
Setelah menyalakan mesin mobil, Rafael langsung tancap gas meninggalkan area gedung itu.
***************
[Dermaga kapal]
Ckiitt!
Rafael menghentikan mobilnya tak jauh dari dermaga, Dia melihat orang suruhannya tampak terkepung oleh sosok asing. Azura diam-diam memotret sosok asing itu sebagai bukti.
Pada akhirnya orang suruhan mereka kalah telak, Sosok asing itu berhasil mengambil dokumen penting tersebut bersama pria bersurai coklat yang baru saja datang. Pria itulah yang menembak orang suruhan mereka.
__ADS_1
"Dokumen itu akhirnya berhasil direbut oleh mereka," Kata Azura usai memotret beberapa gambar.
"Tidak perlu khawatir, Dokumen itu tidak penting bagi kita. Itu dokumen yang berisi biodata seseorang, Sepertinya sejak awal mereka memang mengincar dokumen itu," Rafael mengalihkan pandangannya, Menatap lurus jalan raya.
"Setidaknya mereka masih tidak menyadari kehadiran kita. Ngomong-ngomong pria bersurai coklat itu terlihat tidak asing, Rasanya aku seperti pernah melihatnya," Kata Azura mencoba mengingat rupa pria yang meledakkan dua bodyguard suruhan mereka.
"Aku juga, Tapi kita tidak perlu memikirkannya. Saat ini pasti Xavier sudah berada di gedung itu sekarang, Kita harus kembali untuk memberikan bukti itu,"
"Iya,"
Rafael menjalankan mobilnya meninggalkan area dermaga.
(Note: episode ini berhubungan dengan episode berjudul (Season 2) Beraksi).
**************
Ingatan itu berputar di benak Azura, Saat ini dia dan Rafael merenung di ruang tamu. Keduanya sama-sama mengingat kejadian saat mereka menyelidiki kelompok black shadow.
Rafael bersidekap sembari menyandarkan punggungnya di sofa. "Soal penyelidikan kita waktu itu, Sekarang aku ingat rupa pria bersurai coklat itu. Dia juga sering muncul di awak media, Tapi Beberapa bulan ini dia tidak terlihat lagi,"
"Memangnya dia siapa?" Azura mendongak, Menatap penasaran.
"Namanya Felix Edricson, Pewaris dan anak tunggal keluarga Edricson. Keluarga terkaya no.3 dalam sistem perdagangan dan yang kudengar koneksi keluarga mereka juga sangat luas sampai keluar negara," Jelas Rafael sambil menatap layar handphonenya yang menunjukkan biodata tentang keluarga Edricson.
"Ah, Jadi dia orangnya. Tidak bisa dipercaya orang seramah dan sebaik dia bisa terlibat dalam kelompok gelap seperti black shadow,"
"Terkadang rasa dendam dan masalah pribadi bisa membutakan seseorang, Yang membuat orang itu memilih jalan kegelapan. Dan bisa terjebak kedalam kegelapan itu selamanya. Menghalalkan segala cara demi mendapat apa yang diinginkan," Rafael menyimpan kembali handphonenya.
"Kakak benar. Tapi kak, Sepertinya masih ada beberapa anggota black shadow yang masih belum kita ketahui,"
"Tidak perlu memikirkan hal itu, Yang penting kita sudah mendapat beberapa informasi dari pria itu. Tinggal menunggu waktu dimana mereka menerima hukumannya. Kalau saja mereka tidak berbuat ulah dan keresahan pada masyarakat, Kita tidak perlu turun tangan untuk menangani,"
"Tapi mengapa kita harus membantu mereka?! Itukan pekerjaan mereka, Mereka juga punya rekan. Seharusnya tidak minta bantuan kita!" Protes Azura.
"Azura, Mereka adalah adik dari tunangan kak Eli. Kak Ray, Dan juga keluarga Michelle dan Maximillian sama-sama keluarga berpengaruh. Jika berita mereka menangani kasus pembunuhan dan kelompok itu tersebar di awak media, Reputasi keluarga kita juga ikut hancur karna keluarga kita saling berhubungan,"
"Hah?! Itu tidak ada hubungannya kan, Lagipula bukannya berita seperti itu sudah biasa didengar masyarakat? Tentang kasus pembunuhan dan kelompok gelap seperti mafia atau sejenisnya,"
Rafael menggeleng. "Bukan hanya kelompok black shadow yang ditangani melainkan juga kelompok lainnya. Pria itu bilang kelompok mereka saat ini sedang berselisih dengan kelompok lain," Rafael menyesap tehnya sesaat. "Sudah jelas mengapa kita harus membantu mereka. Xavier dan Vallen pasti harus menyelidiki kelompok lain selain black shadow,"
"Kenapa jadi rumit begini, Rasanya aku menyesal sudah meiyakan permintaan mereka untuk membantu," Keluh Azura menyandarkan punggungnya.
"Lagipula kak Eli ingin keluarga kita dan Maximillian terlihat akur di depan semua awak media,"
"Meski hanya didepan awak media, Rasanya aku masih tidak sudi," Azura mengernyit sambil meminum tehnya sejenak.
Rafael hanya msnggidikkan kedua pundaknya acuh tanpa membalas perkataan Azura, Dia menghabiskan minumannya yang tinggal setengah.
Tak!
"Kita akan menyelidikinya lagi besok, Sekarang kembalilah ke kamarmu," Rafael berdiri dengan tenang, Dia membawa cangkir kosongnya ke dapur.
Tak!
"Benar juga, Aku seharusnya tidak mengeluh terlalu banyak tentang kerja sama ini. Mereka meminta bantuan sekarang, Pasti nanti mereka akan berguna juga untukku," Gumam Azura tersenyum misterius sesaat sebelum akhirnya dia meranjak dan membawa cangkir kosongnya ke dapur.
*************
Cip! Cip! Cip!
Matahari mulai menampakkan wujudnya dari ufuk timur, Menyinari bumi dengan sinarnya. Diiringi suara kicauan dari burung-burung yang melintasi Mansion itu.
Chloe, Sang gadis bersurai biru dengan netra biru laut terbangun karna merasakan sinar mentari mengenai wajahnya, Sinar yang muncul dari celah-celah gorden. Perlahan matanya terbuka menampakkan netra biru lautnya, Ia mengerjap sesaat sebelum bangun mengambil posisi duduk. Chloe mengusap wajahnya sembari menguap kecil.
Dengan wajah sedikit suntuk, Ia meranjak dan menuju jendela kamarnya yang tertutup gorden.
SRAK!
Clek!
Sinar mentari memasuki kamar sepenuhnya ketika Chloe menyibak gordennya, Kini ekspresinya tampak lebih ceria setelah melihat dunia luar dari jendela. Tak lupa Chloe juga membuka jendelanya membiarkan udara sejuk pagi masuk.
"Selamat pagi dunia~" Kata Chloe ceria, Memperhatikan pemandangan indah di bawahnya. Oh rasanya dia bisa melihat matahari yang masih menampakkan wujudnya dengan malu-malu dari sini.
Dia langsung melihat kalender di kamarnya. Yosh! Hari libur yang dia tunggu-tunggu sudah tiba sebelum hari festival di sekolahnya besok di mulai. Chloe jadi penasaran, Kelasnya akan seperti apa setelah ia dan teman-teman sekelasnya mengambil tema Maid X Butler Cafe, Yah intinya kelasnya mengambil tema Cafe sih.
"Aku penasaran tapi lebih baik kunikmati saja hari liburku dulu," Gadis itu merenggangkan otot-otot tubuhnya, Berolahraga kecil sebentar. Hari ini moodnya lebih ceria sekarang.
Usai olahraga kecil, Dia bergegas menuju kamar mandi melakukan ritual paginya seperti biasa.
**************
Dia memperhatikan penampilannya di cermin, Baju kasual lengan panjang dengan kerah berwarna biru, Dan celana panjang sampai mata kaki sedikit longgar berwarna hitam.
"Sekarang tinggal gaya rambutnya, Tapi gaya rambut apa yang cocok ya?" Gumam Chloe pada dirinya sendiri, Dia mengambil sisir dan menyisir rambutnya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan itu menarik perhatian Chloe, Sang gadis buru-buru meletakkan sisirnya. Dan bergegas menuju pintu kamar.
Cklek!
"Ya?" Chloe diam sejenak setelah melihat sosok yang mengetuk pintu kamarnya. "Pak Ezra, Silakan masuk,"
Chloe menyingkir mempersilakan Ezra masuk, Ia tersenyum senang dengan keberadaan Ezra disana. Sedangkan Ezra melangkah memasuki kamar Chloe, Sesaat netra hijaunya memandang sekitar.
Blam!
__ADS_1
"Bapak udah sembuh ya?" Tanya Chloe usai menutup pintu, Dia kembali mengambil sisir dan menyisir rambutnya. menatap pantulannya sendiri di cermin.
"Iya, Aku sudah merasa lebih baik sekarang. Aku kesini ingin pamit, Sudah waktunya aku kembali ke asrama," Pandangan Ezra tertuju pada punggung Chloe yang membelakanginya.
Seketika aktivitas Chloe terhenti mendengar perkataan Ezra. Ah, Dirinya merasa sedih Ezra akan pergi lagi. Rasanya ia tak rela, Tapi jika Ezra tetap disini siapa yang akan menjaga asrama nantinya? Sungguh membuat dilema saja.
"Bapak benar-benar akan pergi sekarang? Sepertinya memang harus dilakukan. Ah benar, Siapa yang akan menjaga asrama nanti jika bapak tetap disini ya?" Chloe berbalik, Tersenyum simpul untuk menutupi kesedihannya. Mood cerianya tadi mendadak hilang.
Ezra tak menjawab, Ia menyadari pancaran kesedihan dari netra Chloe. Pria itu memandang sejenak penampilan sang gadis, Terlebih pada rambut Chloe yang masih sedikit berantakan karna baru menyisir setengahnya.
Ezra mendudukkan dirinya di sisi kasur Chloe lalu menepuk tempat duduk disampingnya. "Kemarilah,"
Meski agak bingung karna Ezra juga tak menjawab pertanyaan sebelumnya, Chloe memutuskan mengikuti permintaan pria itu. Dia mendudukkan diri disamping Ezra.
"Berbalik!"
"Untuk apa?" Chloe mengernyitkan alis semakin bingung.
"Berbalik saja!"
Kembali sang gadis mengikuti intruksi itu, Dia berbalik membelakangi Ezra. Kemudian sang pria mengambil alih sisir di tangan Chloe. Perlahan dia menyisir rambut panjang Chloe dengan hati-hati.
Walau agak kaget dengan tindakan Ezra yang tidak terduga, Gadis itu memilih diam dan membiarkan saja. Toh, Ezra hanya membantu menyisir rambutnya saja meski Chloe sendiri tidak memintanya.
Selama beberapa menit mereka diam dalam keheningan, Hingga Chloe membuka suara. Memecah keheningan sekitar mereka.
"Pak, Bisakah bapak mengajariku menembak? Aku juga ingin bisa menguasai pistol,"
"Mengapa tiba-tiba? Selama ini aku tidak pernah mendengar kau memintanya,"
"Aku ingin menjadi lebih kuat, Saat bertemu Vivian dan Liam nanti pasti pertarungan kami akan sengit seperti sebelumnya. Aku hanya ingin bisa mengusai beberapa senjata agar bisa melemahkan mereka,"
"Kau benar-benar ingin menguasainya ya?"
"Iya, Aku bertekad untuk menjadi lebih kuat,"
Ezra tersenyum tipis mendengar nada bersungguh-sungguh dari suara Chloe, Usai menyisir dia mengikat rambut Chloe dengan gaya side ponytail.
"Baiklah, Aku akan mengajarimu nanti," Ezra menambahkan pita berbentuk kupu-kupu sebagai pemanis di sela-sela rambut Chloe. "Sudah selesai,"
Chloe mendongak dan menatap pantulan bayangannya di cermin, Netra birunya berbinar senang melihat gaya rambutnya sekarang. Dengan tambahan pita kupu-kupu di rambutnya membuat penampilan Chloe semakin manis.
"Dapat dari mana pita ini?" Chloe menyentuh pita dirambutnya perlahan, Masih terkagum dengan penampilan sendiri.
"Aku membelinya saat kita pergi ke pasar malam dulu, Dan baru sekarang aku ingat memberikannya padamu," Balas Ezra ikut merasa senang, Melihat Chloe yang gembira.
"Hee? Berarti pak Ezra membawanya kemana-mana dong?" Chloe menoleh menatap Ezra.
"Tidak, Aku hanya tidak sengaja membawanya saat pergi ke tanjakan 'S' hari itu," Ezra memalingkan wajahnya, Merasa malu kalau memang ketahuan membawa benda itu kemana-mana karna mengingatkannya pada Chloe setelah kepergian gadis itu dari asrama.
Chloe tersenyum simpul, Ia terkekeh kecil melihat reaksi Ezra. Kemudian ia melangkahkan kakinya menuju sang pemuda, Menubruk tubuh pria itu begitu saja dengan pelukan hangat.
Chloe menempelkan kepalanya ke dada sang pria, Lalu mendongak dengan senyum ceria. "Aku rindu pak Ezra,"
Mendapat pelukan yang tiba-tiba membuat Ezra tersentak, Wajahnya lantas merah merona. Nada protes terdengar dari suaranya. "Hei! Apa-apaan?! Aku tidak rindu padamu tahu! Lagipula kita sudah bertemu begini, Masa masih rindu sih?!"
Namun Chloe masih tersenyum, Menunggu respon dari Ezra selanjutnya. Jantung Ezra berdegup kencang, Wajahnya masih merona, Ah tampaknya Chloe tidak membiarkan dirinya mengelak begitu saja. Pada akhirnya pria itu mengakuinya.
Perlahan Ezra memeluk Chloe balik, Dia menenggelamkan wajahnya diantara leher dan pundak Chloe. "Aku juga rindu padamu. Sangat rindu,"
"Terima kasih pak, Sudah membantuku dan memberikan pita ini,"
"Hn...,"
Ezra memejamkan matanya sesaat, Sedetik kemudian dia dengan cepat melepas pelukannya.
SRET!
"Oke, Sudah cukup pelukannya," Ia memberi jarak sedikit dengan Chloe, Sedangkan sang gadis kembali terkekeh.
"Entah mengapa suasananya agak panas, Apa cuaca hari ini memang panas ya?" Pikir Ezra mengibaskan tangannya sesaat di depan wajah, Berusaha menghilangkan rasa gerah di tubuhnya.
Kemudian dia berdehem kecil menghilangkan kecanggungannya. "Ngomong-ngomong hari ini penampilanmu terlihat lebih segar dari biasanya, Apa hari ini kau ada agenda?"
"Hm...Sebenarnya tidak ada sih pak, Aku hanya ingin berpenampilan begini. Soalnya hari ini libur dan moodku sedang bagus saat ini," Balas Chloe ceria.
"Oh, Sangat disayangkan kau sudah berpenampilan bagus begini tapi tidak ada agenda apapun,"
"Entah, Aku tidak kepikiran tadi. Jadi aku bingung mau kemana," Chloe menggeleng pelan.
Ezra mengusap tengkuknya dan menatap ke arah lain meski dia agak ragu mengatakannya. "Kalau tidak keberatan...um...Apa kau mau pergi denganku? Hari ini aku ingin membuat kenangan yang tidak terlupakan sebelum pulang ke asrama,"
Chloe diam sesaat sebelum kembali menunjukkan senyum lebar. "Tentu, Aku juga ingin membuat kenangan indah bersama pak Ezra,"
Ezra tertegun, Rasanya teman masa kecilnya ini sudah banyak berubah sekarang. Meski sudah lama tidak bertemu waktu kecil, Tapi sifat ceria itu masih melekat pada Chloe.
"Ah, Tunggu sebentar," Chloe bergegas mengambil tas selempangnya lalu mengambil sebuah gelang pemberian Rion di laci dan menyimpannya dalam tas. Tak lupa Chloe juga memakai jaket biru kesayangannya.
"Aku sudah siap pak, Ayo pergi sekarang," Chloe dengan semangat memegang tangan Ezra dan menarik pria itu keluar kamar.
"Hei! Pelan-pelan. Kau semangat sekali," Ezra menjajarkan langkahnya dengan Chloe.
"Bukankah ini hari yang indah untuk jalan-jalan? Kita tidak boleh melewatkannya,"
Sesaat Ezra mendengus kemudian tersenyum tipis. "Dasar si tengil ini,"
Senyum ceria terbit di bibir Chloe, Dan Ezra menyukai senyum itu. Senyum yang membuat Ezra selalu ingin berada di sisi Chloe, Pada tahap ini sepertinya dirinya sudah benar-benar melupakan perasaannya pada Justin. Dia tidak akan terpuruk lagi seperti dulu, Karna sekarang Chloe lah yang membuatnya kembali seperti pria normal pada umumnya.
__ADS_1
"Chloe Watson, Aku tidak akan melepaskanmu lagi. Tidak akan terulang lagi seperti pertemuan kita waktu kecil," Pikir Ezra mengikuti langkah Chloe menuju pintu keluar Mansion, Dia tidak akan melepaskan genggaman itu.
TBC