
Sudah seminggu yang lalu sejak permintaannya, kemarin Rendi ke kamar Freya memberikan dokumen perpindahan sekolah ke SMA Wisteria. Bukan hanya sekolah tempat kedua tokoh utama belajar, SMA Wisteria juga adalah sekolah terbaik di kota X.
Untuk tempat tinggal, ia akan tinggal di apartemen L'avenue. Apartemen terbaik di kota itu.
Besok Freya akan berangkat sendiri tanpa Steven. Rendi akan mengantar putrinya sampai bandara saja. Pekerjaannya tidak dapat di tunda lagian, Freya sendiri yang meminta untuk berangkat sendiri.
Perjalanan dari kota S ke kota X membutuhkan waktu sekitar 2 jam.
Setelah pesawat sudah melakukan take-of and landing, Freya langsung memesan taksi. Tidak ada yang menjemput karena ia tak memberitahu Herry dan keluarga akan kepindahannya di kota X.
Taksi berhenti di depan gedung apartemen L'avenue. Tidak terlalu jauh dari SMA Wisteria, hanya 20 menit jika hanya berjalan kaki.
Setelah membayar, Freya segera keluar dari taksi. Jangan lupakan penampilannya yang secara alami menarik perhatian sekitar.
Dengan wajah memerah malu, mata jernih yang sedikit berair juga bulu mata yang bergetar membuat yang melihat tak dapat mengalihkan pandangan darinya.
Tangan mungil yang seakan patah jika mengangkat beban berat. Walau begitu dia masih mengangkat koper yang ukurannya besar dari bagasi secara perlahan.
Supir taksi awalnya menawarkan diri untuk membantu, tetapi Freya menolak dengan tegas.
Orang-orang yang memperhatikan Freya sedang berusaha keras secara tak sadar menyemangatinya diam-diam. Setelah Freya dengan susah payah sampai akhirnya berhasil menurunkan kopernya, hati mereka bersorak lega. Tapi tidak lama mereka kembali khawatir.
Masih ada beberapa anak tangga yang harus dilewati gadis kecil itu sebelum menuju lift.
Freya mendorong kopernya menuju anak tangga. Menatap anak tangga dengan wajah sedikit pucat akibat kelelahan.
"Baiklah, semangat!" Ucapnya dengan tangan mengepal, lalu menggulung lengan baju agar tak kesusahan saat mengangkat koper miliknya.
Baru saja ingin memegang pegangan koper, tangan lain segera mendahuluinya.
"Eh?" Freya berkedip dua kali.
Dia menatap orang yang mengangkat kopernya dengan mata jernihnya sampai bertemu tatap dengan mata orang itu. Dia seorang pemuda.
Langsung saja wajahnya memerah, dia panik. Freya dengan segera menaiki tangga dengan terburu-buru, jika saja tangan pemuda itu tidak menarik dirinya, dia akan terjatuh.
Tubuh Freya bergetar. Walau tidak terlalu tinggi jika terjatuh pasti akan menyakitkan. Membayangkannya saja sudah membuat wajahnya pucat pasi.
Pemuda itu menyadari ketakutannya. Dengan segera ia menenangkan Freya dengan mengelus bahunya lembut.
"Tidak apa, jangan takut. Apa ada yang terluka?" tanya nya dengan halus.
Freya menjauh darinya selangkah dan segera menggelengkan kepalanya.
"Mmm, terimakasih," suara lembut memasuki pendengaran pemuda itu.
Pemuda itu mengangguk sebagai balasan. Kemudian memasuki lift sambil membawa koper Freya diikuti Freya tentunya.
Suasana di dalam lift hening karena hanya mereka berdua saja. Hingga akhirnya pemuda itu membuka suara.
"Kau akan tinggal disini? Oh maafkan aku, sebelum bertanya seharusnya aku memperkenalkan diri ku terlebih dahulu. Aku Agam Savian D, aku juga tinggal di apartemen ini,"
"A-aku Freya Alleya M, aku akan tinggal disini. Salam kenal," ucapnya bergetar. Dia meremas jari-jarinya yang dingin, gugup karena tidak pernah berinteraksi dengan orang asing.
Agam tersenyum lembut memaklumi kegugupan gadis itu.
Ting!
__ADS_1
Pintu lift terbuka. Sebelumnya Freya sudah memberitahu lantai apartemennya. kebetulan satu lantai dengannya.
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu. Berhati-hatilah saat berjalan, sampai jumpa lagi," Freya mengangguk, melihat pemuda itu mulai menjauh. Sudut mulutnya terangkat, membentuk senyuman.
[Host, kenapa kau tidak bertanya no. apart nya?]
Panpan yang sejak tadi diam dibahu Freya bertanya.
"Tidak perlu terburu-buru. Aku pasti akan bertemu dengannya di apartemen milikku. Bukankah keberuntunganku tidak buruk?"
[Iya sih, tolong ambil kesempatan yang banyak karena waktu kita tidaklah banyak Host]
"Iya, iya. Aku lelah setelah ber-acting. Ayo cari apartemenku," Freya yang tadinya berdiri di depan pintu lift langsung berjalan mencari apartemennya. Tubuh ini tidak pernah melakukan hal berat, jadi sekarang di benar-benar lelah.
*
*
Ting! Tong!
"Go food"
Pintu terbuka sedikit.
Sebuah kepala menyembul sedkit dibelakang pintu. Mata bulat dan jernihnya berbinar, Freya sangat lapar saat ini. Karena setelah menemukan apartemennya ia langsung tertidur sampai malam. Malas memasak, jadi ia memesan Go food.
"Terimakasih, ini bayarannya,"
Freya memberikan uangnya pada pengantar makanan itu. Setelah mengecek bayarannya, Pengantar itu membungkuk sedikit kemudian berlalu pergi.
Freya tak memperhatikannya, ia hanya fokus pada bungkusan makanan yang dipegangnya dengan perasaan senang. Sungguh dia kelaparan.
Freya berkedip dua kali. Ia menoleh ke kanan dan kiri mencari asal suara itu. Dia tidak sadar kalau ada orang lain yang melihatnya.
Tapi hasilnya nihil. Kemudian ia mendongak ke depan, wajahnya memerah. Reflek ia bersembunyi di balik pintu, tak lama menyembul kembali melirik orang di depannya.
Menggemaskan. Gadis ini terlalu menggemaskan. Agam berusaha menahan tangannya agar tidak mencubit pipi chubby yang memerah itu.
[Ding! Minat cinta Agam Savian Dhananjaya + 5%]
"Hai Freya," sapa Agam dengan senyum lembut yang terpampang jelas.
"Hai," Freya menjawab dibalik pintu dengan suara kecil.
"Ternyata kau tinggal di depan apartemenku, kalau butuh bantuan kau bisa panggil aku," tawarnya dengan ramah.
Freya mengangguk. "Mm, terimakasih,"
"Sama-sama. Kalau begitu selamat malam," Freya hanya mengangguk, bukannya tak sopan tapi ia sangat lapar. Untungnya Agam adalah orang yang pengertian jadi tak masalah baginya.
Keduanya menutup pintu apartemen masing-masing. Freya segera bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan yang dipegangnya.
[Ternyata keberuntungan Host tinggi ya~. Tokoh utama tinggal didepan apartemen, kesempatan untuk bertemu dengannya bertambah]
Panpan dengan riang berujar.
Ya, sungguh keberuntungan yang baik. Masih ada sekitar seminggu lebih sebelum plot yang asli dimulai. Ia akan sekolah setelah seminggu berkeliling untuk mengenal kota X.
__ADS_1
Karena Daddy nya pengusaha yang sukses tidak ada masalah. Kekuatan uang memang luar biasa.
"Oke, mari jelajahi daerah ini besok,"
*
*
Keesokan harinya Freya mengenakan sweater abu-abu dengan rok putih yang memperlihatkan kaki mulusnya. Memakai sepatu kets putih dan topi baret abu-abu dengan tas selempang yang berwarna abu-abu.
[Host sangat cantik]
Freya tersenyum puas, bangga memasuki tubuh secantik bidadari.
"Let's go,"
Klik!
Suara pintu apartemen terbuka.
"Eh?"
"Pagi Freya," Agam yang juga membuka pintu keluar dari apartemen menyapa dirinya.
"Pagi," Freya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Entah kenapa ia selalu bertemu Agam secara kebetulan.
"Pergi jalan-jalan?"
"Umm? Ah iya, aku ingin berkeliling sebentar," wajahnya memerah. Dia sangat gugup.
Agam mengangguk setelah itu pamit untuk pergi.
[Host untuk apa ke rumah tokoh utama wanita?]
Tanya Panpan setelah melihat kepergian Agam.
"Apa kau bodoh? Tentu saja untuk membuat Jenneth membenciku. Jika dia membenciku dan menjahatiku, citra gadis lembut dan baiknya akan runtuh. Saat itulah aku akan mengambil perhatian Agam agar semuanya lebih mudah.
[Umm? Bukannya kemarin cukup Host bertingkah menggemaskan saja sudah membuat rasa suka nya meningkat?]
"Haduh, aku hanya ingin mempermudah saja," untung saja di sekitar apartemen Freya sepi jadi ia tak akan dianggap gila berbicara sendiri.
Freya langsung keluar gedung kemudian memesan taksi. Selama perjalanan ia hanya menikmati pemandangan sekitar.
"Kita sudah sampai tujuan," ucap supir taksi memecah keheningan.
"Terimakasih pak," Freya segera membayar lalu turun dari taksi.
Langsung saja Freya memasuki pekarangan rumah elit itu. Menekan bel rumah, Freya menunggu dengan tenang. Tak lama, seorang wanita paruh baya membuka pintu.
"Tante!" Freya langsung memeluknya. Wanita itu terkejut.
"Freya?!"
Keterangan :
[Ding!] : suara sistem
__ADS_1
[...] : suara Panpan