
[Note: Episode ini extra chapter khusus Ezra dan Chloe, Karna banyak dari kalian para readers yang minta episode khusus buat pasangan ini ketemu di dunia Chloe asli ye kan. Jadi author kabulin buat kalian nih.
Tapi episode ini bukan lanjutan dari episode sebelumnya, Jadi alurnya gak nyambung (Kan khusus Ezra dan Chloe, Iya iyalah kalau alurnya gak nyambung. Plak:v). Tenang aja, Khusus pasangan ini extra chapternya author tambahin 2 atau 3 episode. Kalau begitu, Makasih atas pengertiannya para readers author tersayang.
Happy reading]
...****************...
Chloe Watson, Gadis yang akhirnya bangun dari tidur panjangnya. Menganggap semua yang dialaminya selama di dunia lain itu hanya mimpi.
Sekarang Chloe menjalani aktivitas sehari-harinya seperti biasa, Setelah 1 tahun yang lalu pulang dari rumah sakit. Chloe memutuskan membantu pekerjaan rumah, Sekaligus mengejar ketinggalannya selama sekolah. Gadis itu lulus SMA dengan nilai yang memuaskan meskipun teman-teman seangkatannya sudah lulus duluan dibandingkan dirinya. Dan hari ini Chloe bertekad untuk melamar pekerjaan di salah satu perusahaan terkenal.
"Yosh! Siap. Saatnya melamar pekerjaan, Semoga hari ini keberuntunganku," Harap si gadis, Memperhatikan penampilannya sendiri di cermin.
Tok! Tok! Tok!
Cklek!
Mendengar suara ketukan di pintu kamarnya membuat Chloe menoleh dan melihat kedua adik kembarnya membuka pintu sebelum menabraknya dengan pelukan.
"Kakak, Kakak mau pergi kemana dengan pakaian seperti itu?" Reina mendongak usai menenggelamkan wajahnya ke pinggang Chloe.
"Kakak mau jalan-jalan? Aku ikut ya kak?" Pinta Alvin ikut mendongak.
Chloe tersenyum ceria, Ia sedikit menunduk mengusap surai milik kedua adik kembarnya dengan lembut.
"Kakak bukan mau jalan-jalan, Tapi kakak mau melamar pekerjaan. Kakak harus bantu mama sama ayah biar ekonomi keluarga kita semakin baik ya," Chloe mengacak gemas surai kedua adiknya. "Biar kalian beli tas baru sama perlengkapan sekolah yang baru, Gak apa-apa kan kalau kakak pergi sebentar?"
Mendengar kata perlengkapan sekolah yang baru membuat Alvin dan Reina tersenyum girang, Keduanya bersorak sesaat dan mengangguk semangat.
"Kalau tujuan kakak mau kerja bantu mama sama ayah, Alvin izinin kakak pergi deh," Sahut Alvin girang.
"Aku juga kak, Sekalian kalau mau pulang beli'in sup jamur ya kak?" Pinta Reina dengan netra berbinar.
"Aku juga mau sup jamur," Rengek Alvin.
"Iya iya, Nanti kakak beli'in kalau sudah pulang,"
"Hooreee!" Si kembar hanya bersorak girang dan Chloe yang terkekeh pelan.
Setelahnya dia mengajak kedua adik kembarnya untuk menemui mama dan ayahnya.
...****************...
[Ruang tamu]
Tap! Tap! Tap!
"Ayah, Mama. Chloe pergi dulu ya mau ngelamar kerja," Pamit Chloe sembari mendekati Ayahnya yang sedang duduk di sofa sembari membaca koran dan mama nya yang sedang membersihkan perabotan rumah.
"Oh iya, Hati-hati ya nak di jalan. Ini ayah tambahin uang jajannya buat ongkos," Ayah Chloe menyerahkan beberapa lembar uang pada Chloe yang diterima dengan baik oleh gadis bernetra merah itu.
"Iya makasih yah, Aku pamit dulu,"
"Hati-hati dijalan nak," Nasehat mamanya.
Chloe mengangguk ceria lalu mencium pipi Ayah dan Mama nya sebelum melangkah pergi keluar rumah.
...****************...
Dimulai lah perjalanan Chloe dalam melamar pekerjaan, Dia mendatangi toko-toko yang membuka lowongan pekerjaan. Berbekal map berisi nilai dan data-data saat dirinya dinyatakan lulus SMA, Chloe memasuki toko pertama yaitu toko yang menjual hewan peliharaan.
Sayangnya setelah menjelaskan panjang lebar maksud kedatangannya di toko itu, Dia tidak diterima. Terpaksa Chloe mencari toko lain.
Dia mendatangi satu-persatu toko yang ditemuinya, Matahari semakin terik tepat di atas puncak kepala. Menandakan hari yang menjelang siang, Dan Chloe masih belum menemukan pekerjaan sesuai kemampuannya. Semua toko menolaknya, Hal itu membuat Chloe hampir menyerah mencari pekerjaan.
Kepalanya mulai agak pusing karna sudah terlalu lama berada di bawah sinar mentari, Gadis itu memutuskan mampir di sebuah Cafe yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
Krrriinngg!
Bel kecil berbunyi ketika Chloe melangkahkan kakinya memasuki Cafe itu, Aroma kopi yang menenangkan tercium memenuhi seisi Cafe. Sang gadis menatap sekitarnya yang tampak tenang dan damai, Tempat ini cocok dijadikan tempat bersantai dan penghilang stress.
Hanya ada beberapa pelanggan disana, Semuanya tampak menikmati hidangan masing-masing bersama teman maupun orang terkasih. Chloe memilih meja dekat jendela karna menurutnya dekat jendela sangat menenangkan sekaligus bisa melihat dunia luar lebih jelas.
Sesaat ia melihat daftar menu yang sudah tersedia sebelum suara langkah kaki terdengar mendekat, Bersamaan dengan suara ramah dari seorang barista pria bersurai coklat dengan netra aqua miliknya.
"Selamat datang di Cafe kami, Nona ingin pesan apa?" Tanyanya ramah yang sudah menyiapkan sebuah buku catatan kecil dan pulpen ditangannya.
"Aku ingin pesan cheesecake dan coffee latte,"
"Baik, Mohon tunggu sebentar,"
Chloe hanya mengangguk ketika barista itu melempar senyum dan berlalu pergi menuju ruang dapur. Sang gadis melempar pandangannya menatap dunia luar dari balik jendela kaca, Memandangi beberapa pejalan kaki yang berlalu lalang. Dia menopang dagu sesaat.
"Ternyata mencari lowongan kerja itu tidak semudah yang kukira, Aku yang hanya lulusan SMA ini tentu saja sulit mendapatkannya, Andai aku juga bisa kuliah. Tapi aku tidak ingin semakin membebankan Ayah dan Mama dengan kondisi ekonomi kami yang masih serba kekurangan ini," Gumam Chloe lirih, Dia menghembuskan napas lelah.
Tak!
"Tidak akan sulit mendapatkan pekerjaan kalau nona masih ingin berusaha kok, Meski nona hanya lulusan SMA. Saya yakin nona pasti akan diterima di suatu tempat yang sesuai kemampuan nona,"
Mendengar celetukan itu membuat Chloe tersentak, Dia menoleh dan menemukan barista tadi sudah berdiri disampingnya sambil meletakkan makanan dan minuman yang dipesannya. Chloe kaget karna ternyata barista itu mendengar gumamamnya.
"Oh, Maaf. Saya mengangetkan nona ya. Saya hanya tidak sengaja mendengar keluhan nona dan spontan menjawabnya. Maaf kalau saya tidak sopan," Pria itu tersenyum ramah dan sedikit membungkukkan badan sebagai permohonan maaf. Dia memeluk erat nampan ditangan.
"Tidak apa-apa, Yah aku sejujurnya juga sudah lelah mencari lamaran pekerjaan yang cocok untukku. Makanya aku tanpa sadar bergumam sendiri," Chloe tertawa canggung dengan pelan.
Pria didepannya masih mempertahankan senyuman. "Kalau boleh tahu, Apa keluhan nona? Mungkin saya bisa membantu. Sekarang Cafe kami menyediakan service mendengar keluhan para pelanggan kami. Dengan begitu kami bisa memberi saran yang baik dan pelanggan kami mungkin juga akan senang dengan metode pelayanan baru kami,"
"Ah, Ternyata cafe kalian menarik juga. Memang sepertinya service baru kalian akan membuat para pelanggan merasa nyaman karna bisa mengeluarkan keluhan mereka dan mendapat saran dari kalian," Chloe balas tersenyum sopan, Tatapannya sedikit melunak. "Sebenarnya aku hampir menyerah karna tidak ada satupun toko yang mau menerimaku, Aku khawatir akan semakin membebankan kedua orang tuaku jika aku tidak mendapat pekerjaan secepat mungkin,"
Chloe sedikit menunduk mengusap sebelah lengannya untuk mengurangi rasa gugup dan sedih. "Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Mereka bilang kemampuanku tidak cocok di tempat mereka, Terlebih aku hanya anak SMA yang baru lulus seminggu yang lalu. Mereka hanya menerima anak lulusan kuliah,"
__ADS_1
Pria di depannya tampak berpikir setelah mendengar keluhan Chloe. "Hm...Agak sulit juga ya, Memangnya kemampuan nona apa?"
"Eh? Um...Aku tidak terlalu tahu sih tapi rasanya aku pernah belajar tentang materi hukum dan sejenisnya seperti pekerjaan pengacara, polisi, Dan sebagainya," Kata Chloe agak antusias.
Barista bersurai coklat itu tertawa pelan, Dia terkekeh setelah mendengar jawaban dari gadis didepannya. "Itu bukan termasuk kemampuan nona, Anda hanya senang mempelajari materi tentang hukum dan sebagainya. Saya rasa kemampuan anda masih belum terlalu terlihat, Makanya anda tidak tahu kemampuan apa yang anda senangi,"
"Kurasa kau benar, Pantas saja aku terus ditolak," Chloe menunduk sedih.
"Hm...Begini saja, Saya punya saran. Bagaimana kalau anda coba melamar di tempat ini? Kebetulan saya punya kenalan disana, Saya dengar disana membuka lowongan pekerjaan. Mungkin saja kalau anda beruntung, Anda akan diterima kerja disana,"
Barista itu merogoh sesuatu dari saku celananya, Menyerahkan sesuatu pada Chloe. Sebuah kartu perusahaan dengan alamat yang tertera disana.
Chloe menerima kartu itu, Dia membacanya sesaat.
"J.G Entertainment? Kedengarannya tidak asing," Pikir Chloe masih menatap lekat kartu nama ditangannya.
Kemudian dia mendongak, Tertegun dengan barista yang masih tersenyum ramah di depannya.
"Barista ini baik sekali, Dia bahkan memberiku kartu nama yang berisi lowongan pekerjaan. Tapi dilihat dari namanya, Perusahaan ini sepertinya perusahaan besar yang bekerja di bidang hiburan," Pikir Chloe.
Chloe tersenyum malu, Dia mengusap tengkuknya yang tidak gatal. "Terima kasih atas rekomendasinya, Tuan...?"
"Felix Edricson, Panggil saja aku Felix," Barista yang bernama Felix itu menunjukkan senyum lembutnya, Dengan nampan yang berada di tangan kanannya membuat ketampanan Felix semakin bertambah.
Deg!
Mendengar nama itu seketika jantung Chloe berdetak cepat, Nama yang begitu familiar di pendengarannya, Mendadak seakan ada rasa sedih di hatinya.
"Nona, Apa saya mengatakan sesuatu yang buruk?" Senyum Felix agak luntur, Sadar bahwa raut wajah Chloe tampak sedih. Pria itu berpikir bahwa dirinya mungkin tanpa sadar mengatakan sesuatu yang buruk hingga membuat gadis dihadapannya sedih.
"Ah, Tidak. Anda tidak mengatakan sesuatu yang buruk kok," Secepat mungkin Chloe merubah ekspresinya menjadi ceria kembali. "Terima kasih atas rekomendasi kartu dan sarannya tadi Tuan Felix, Senang berkenalan dengan anda. Namaku Chloe Watson,"
"Hahaha, Sama-sama nona Chloe. Aku senang bisa membantu dan memberi saran. Dan senang berkenalan dengan anda juga," Felix tertawa pelan, Kemudian tak sengaja pendengarannya menangkap salah satu pelanggan memanggilnya. Pria itu menoleh sejenak dan kembali memandang Chloe.
"Sepertinya saya harus melayani pelanggan lainnya, Kalau begitu saya permisi. Semoga beruntung nona Chloe," Felix tersenyum ramah sebelum melangkah pergi dari hadapan Chloe, Menghampiri pelanggan lain.
"Iya," Chloe membalas pelan, Memandangi punggung Felix yang membelakanginya. Melihat pria bersurai coklat itu tengah melayani pelanggan lain.
Sejenak netra merah si gadis kembali tertuju pada kartu ditangannya, Diam-diam senyum kesenangan tersungging dibibirnya. Mungkin kartu ini akan menjadi harapan terakhirnya dalam mendapatkan pekerjaan.
Buru-buru Chloe menyantap makanannya agar bisa secepatnya melamar pekerjaan di perusahaan itu.
...****************...
[J.G Entertainment]
Tap! Tap!
"Woaah!" Chloe melongo, Dia berdecak kagum saat kakinya berhenti di halaman depan sebuah gedung pencakar langit. Tak menyangka dirinya akan menginjakkan kaki di gedung setinggi dan sekeren ini.
Gadis itu kembali memastikan kartu di tangannya, Memastikan apakah dirinya sudah berada di alamat yang benar. Setelah yakin, Sang gadis mendekati salah satu satpam yang berjaga di sana.
"Permisi pak, Apa benar di J.G Entertainment ini membuka lowongan pekerjaan?"
"Iya pak,"
"Baiklah, Tunggu sebentar ya,"
Chloe mengangguk kecil ketika pak satpam menjauh darinya beberapa meter, Terlihat pak Satpam tampak sedang menelpon seseorang. Tak lama setelah panggilan itu berakhir, Pak Satpam kembali mendekati Chloe.
"Mari saya antar ke ruangan Ceo,"
"Iya,"
Chloe mengikuti langkah si satpam saat satpam itu berjalan duluan, Menuntunnya menuju ruangan si Ceo.
...****************...
[Ruangan Ceo]
Tok! Tok! Tok!
"Permisi Pak,"
"Masuklah!"
Cklek!
Mendengar sahutan suara dari dalam, Si Satpam membuka pintu. Mempersilakan Chloe untuk masuk lalu menghadap si Ceo dan tangan kanannya yang tampak sibuk dengan dokumen masing-masing.
"Ada apa?" Si Ceo menyingkirkan beberapa tumpukan dokumen dari hadapannya agar melihat pak satpam dengan jelas. Netra orangenya sesaat melirik Chloe.
"Ini pak, Katanya orang ini ingin melamar pekerjaan disini," Jelas pak satpam, Sejenak netranya sedikit melirik pada sosok pria lainnya di samping Ceo. Melihat tatapan tajam yang di berikan pria bernetra hijau emerland itu seketika membuat pak satpam menunduk takut.
"Oh, Baiklah. Kalau begitu kau bisa pergi," Tatapan pria bernetra orange beralih pada Chloe yang berdiri gugup. "Dan kau nona, Kau bisa duduk sekarang,"
Chloe mengangguk patuh dan duduk di kursi yang disediakan tepat di hadapan si Ceo, Hanya meja saja yang menjadi penghalang keduanya. Sedangkan pak satpam sudah membungkuk hormat dan keluar dari ruangan itu.
"Bisa melihat data-datamu?" Si Ceo melirik map coklat di tangan si gadis.
"Iya," Dengan gugup Chloe menyerahkan map nya. Sejujurnya yang membuat Chloe gugup karna dirinya takut ditolak lagi, Ditambah tatapan tajam dari pria bernetra emerland yang berdiri di samping si Ceo membuat Chloe tambah gugup.
Si Ceo melihat berkas berisi data-data Chloe. "Nona Chloe Watson, Jadi kau baru lulus SMA. Dan disini tertulis bahwa kau pintar dalam segi non-akademik. Kalau begitu apa kemampuanmu?"
Chloe tersentak, Keringat dingin mengalir di keningnya. Dirinya gelagapan saat netra orange si Ceo menatapnya.
"Saya...," Chloe memilin ujung bajunya gugup lalu menunduk. "Saya tidak memiliki kemampuan apapun, Saya memang bisa dalam pelajaran non-akademik. Tapi kalau kemampuan saya bahkan tidak tahu,"
Helaan napas sejenak terdengar dari pria bernetra orange itu. "Kalau begitu dari mana kamu tahu kalau perusahaan ku membuka lowongan pekerjaan?"
"Dari kartu ini, Seorang barista bernama Felix Edricson memberikannya pada saya saat saya bersantai di cafe nya," Jelas Chloe menyodorkan sebuah kartu di hadapan si Ceo.
__ADS_1
"Felix Edricson?" Sejenak kening si Ceo mengernyit, Dia mengambil kartu itu lalu menunjukkan pada pria bernetra emerland disampingnya. "Ezra, Bukannya dia tidak seharusnya memberikan kartu ini sembarangan?"
"Benar Tuan, Meski untuk kerja sama sekalipun. Dia sepertinya tidak memikirkan konsekuensinya," Sahut pria yang bernama Ezra itu.
Si Ceo kembali menghembuskan napas lalu menatap Chloe kembali sembari meletakkan kartu itu.
"Meski kau kenalan Felix, Tapi maaf. Aku menolakmu bekerja di perusahaanku,"
Secercah harapan dalam hati Chloe seketika sirna saat kalimat itu keluar dari mulut si Ceo. Pandangan Chloe berubah murung, Dia menatap sedih sebelum menangkup kedua tangannya depan dada.
"Saya mohon jangan menolak saya pak, Lamaran pekerjaan ini adalah harapan saya yang terakhir. Saya sudah mencari pekerjaan ke beberapa toko sebelumnya, Tapi semuanya menolak saya. Saya hanya ingin meringankan beban Ayah dan mama saya," Chloe memejamkan matanya, Masih menangkup kedua tangannya depan dada. Raut wajahnya tergambar ekspresi kesedihan.
Ezra, Tangan kanan si Ceo mengernyit ketika mendengar permohonan Chloe. Dia mendelik sebelum menyahut perkataan si gadis. "Apa kau tidak dengar yang dikatakan Tuan Justin?! Kau sudah ditolak, Jangan berharap berlebihan!"
"Saya mohon, Kali ini saja beri kesempatan bagi saya untuk bekerja. Saya akan melakukan pekerjaan apapun di perusahaan bapak, Asal saya diterima,"
Ezra mulai tersulut emosi karna Chloe masih bersikukuh minta diterima. "Sudah kubilang kau–"
"Ezra!" Tegur si Ceo yang bernama Justin itu. Memotong kalimat Ezra. Dia melirik asistennya sesaat. Seketika Ezra menunduk dan bersikap kalem seperti sebelumnya.
"Maaf tuan Justin,"
Justin mengalihkan perhatiannya menatap Chloe yang masih menangkup kedua tangannya, Dia tampak berpikir sejenak sambil bersidekap. Menatap Chloe lekat hingga senyum misterius tersungging di bibirnya.
"Hm...Baiklah, Sepertinya kau berhasil merubah pikiranku. Kau diterima kerja disini, Tapi dengan satu syarat,"
"Syarat?" Netra Chloe berbinar senang mendengar dirinya diterima, Dia mengangguk patuh. "Apa syaratnya? Akan saya lakukan apapun semampu saya,"
"Kau harus membuatkan bekal khusus untuk kami berdua setiap hari, Dengan catatan bekalnya harus enak. Apa kau sanggup?" Justin menopang dagunya, Tersenyum tenang.
"Bekal? Tentu saja sanggup, Akan saya pastikan bekal buatan saya paling enak," Chloe tersenyum ceria, Dia mengangguk semangat.
"Bagus, Kau bisa mulai bekerja hari ini. Bagian administrasi adalah tugasmu sekarang, Ruangannya ada di samping ruanganku. Karna kau masih dalam tahap pemula, Maka Ezra akan jadi mentormu," Justin membereskan berkas data-data Chloe dan menyimpannya dalam laci.
"Baik, Saya siap bekerja sekarang," Kata Chloe penuh semangat. Justin hanya tersenyum tipis, Kembali menopang dagu.
"Anak yang penuh semangat, Tidak pantang menyerah juga dia," Pikir Justin.
"Sebelum kau mulai bekerja, Aku akan memperkenalkan diri. Namaku Justin Garfield, Dan ini Ezra Miracle. Tangan kanan sekaligus asistenku," Jelas Justin menunjuk kecil Ezra disampingnya.
"Iya, Mohon bantuannya mulai sekarang Pak Justin dan Pak Ezra," Balas Chloe mengangguk ceria.
Justin hanya mengangguk, Dan Ezra yang mengacuhkan. Dia membuka suara setelah mendengar Justin menjadikannya mentor Chloe.
"Tapi tuan Justin, Tugas saya kan membantu anda?" Ezra menggeleng, Berusaha menolak secara halus perintah Justin.
"Ehem!" Justin tersenyum miring, Menunjuk sebuah kertas yang berada di tangannya. "Kau tidak lupa dengan kesepakatannya kan Ezra?"
Sejenak Ezra diam membisu, Dia menunduk kecil. "Maaf tuan Justin,"
Kemudian pandangan pria bernetra emerland itu beralih pada Chloe, Ia menatap sinis. "Ikuti aku!"
Si pria berjalan lebih dulu, Sebelum mengikuti Ezra. Chloe membungkuk sesaat pada Justin lalu menyusul pria bernetra emerland itu.
...****************...
[Ruangan administrasi]
Diruangan itu hanya terdapat sebuah meja dengan komputer di atasnya, Tak lupa ruangan itu juga dilengkapi beberapa tanaman hias dan pendingin ruangan.
"Ini ruanganmu, Sekarang isi data-data perusahaan. Jangan ada yang sampai salah," Ezra meletakkan beberapa dokumen di meja Chloe.
"Eh? Bukannya tadi kata pak Justin. Pak Ezra mengajari saya dulu, Baru setelah itu saya mengerjakan sendiri?" Chloe menatap bingung tumpukan dokumen di mejanya.
Ezra hanya merotasikan matanya, Menatap malas. Tanpa berkata-kata dia menyalakan komputer tersebut, Mengutak-atik sesaat.
"Perhatikan! Aku tidak akan mengulanginya 2 kali!"
Chloe mengangguk, Gadis itu memperhatikan ajaran Ezra dengan serius. Penjelasan dari pria itu beberapa ada yang membuat Chloe bingung, Namun sebisa mungkin sang gadis memahaminya.
[Beberapa menit kemudian]
"Sekarang kerjakan apa yang kuminta tadi, Awas saja kalau sampai salah!" Ezra melirik sinis mengakhiri penjelasannya, Dia menjauh dari kursi yang di dudukinya tadi.
"Baik pak, Akan saya kerjakan sekarang," Sahut Chloe semangat, Dia duduk mencari posisi nyaman dan mulai fokus dengan komputernya.
Sedangkan Ezra menjauh dan duduk di sofa tak jauh dari tempat Chloe, Pria itu bersidekap sembari menatap tajam dengan netra emerlandnya.
"Chloe Watson, Nama yang tidak asing. Rasanya aku seperti pernah dekat dengannya tapi aku baru bertemu pertama kali dengannya. Cih! Kenapa aku tiba-tiba malah kepikiran sosok cewek aneh dengan tingkah yang sama anehnya dengan anak ini," Pikir Ezra mendadak kesal.
Sekelebat ingatan tentang seorang gadis bersurai hitam panjang namun dengan wajah yang tidak terlihat karna terhalang cahaya matahari melintas di benaknya, Yang dia ingat terakhir kali hanyalah senyum manis dari gadis itu.
"Pak Ezra,"
Lamunan Ezra buyar ketika dirinya melihat Chloe yang sudah berdiri di depannya, Tangan gadis itu tampak melambai memastikan dirinya sadar atau tidak.
"Ya?" Sahut Ezra datar.
"Kerjaanku sudah selesai pak,"
"Secepat itu?!" Ezra mengernyit merasa tak percaya, Padahal baru beberapa menit yang lalu dia memberikan tugas itu pada Chloe.
Chloe mengangguk ceria, Merasa tak percaya, Ezra meranjak dan mendekati komputer Chloe. Dia memeriksa data-data yang dimasukkan si gadis ke dalam komputer itu.
Tak lama netra hijaunya melirik si gadis. "Kau memakai cara curang agar cepat selesai kan?" Tuduhnya.
"Enggak pak! Aku benar-benar mengerjakan satu-persatu kok tadi," Bela Chloe tak terima dituduh curang.
"Baiklah, Sekarang kerjakan laporan ini. Berikan laporan keuangannya padaku kalau sudah selesai," Ezra menunjukkan dokumen keuangan, Setelahnya dia kembali duduk ketempatnya.
Sedangkan Chloe langsung bergegas mengerjakan tugasnya.
__ADS_1
Dan seharian itu kerjaan Ezra hanya mengawasi Chloe dan memeriksa kerjaan si gadis karna tugasnya sekarang adalah menjadi mentor Chloe.
TBC