System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Pertemuan lagi


__ADS_3

WWUUSSHH!


Sayup-sayup hembusan semilir angin membelai pipinya, Ezra melenguh sesaat sebelummembuka mata memperlihatkan netra hijau emerlandnya yang berkilau diterpa sinar mentari. Ia menggerakkan tubuh, mengambil posisi duduk dengan tangan sebagai tumpuan. Netranya mengerjap sejenak berusaha mengenali sekitarnya.


“Ini bukan kamar ruang tamu di Mansion Michelle,” Gumam Ezra mengernyitkan alis menyadari dirinya berada di sebuah padang luas, Hamparan yang dipenuhi rumput hijau.


Ia mendongak memandang pohon yang saat ini digunakan sebagai tempatnya bernaung. Ezra menyandarkan tubuhnya di batang pohon, Menerawang jauh memandangi langit cerah di atas nya. Disana hanya terdapat hamparan rumput hijau yang luas dengan beberapa sedikit tanaman bunga yang tumbuh.


Pikirannya melayang- layang teringat dengan mimpi yang barusan ia dapatkan. Entah hanya mimpi atau sebenarnya itu kenangannya yang hilang?


“Chloe Watson, Apa aku memang pernah bertemu dia sebelumnya? Tapi kenapa aku tidak ingat apapun tentangnya waktu kecil dan baru sekarang mimpi itu muncul?” Ezra memegangi kepalanya yang berdenyut sakit dengan satu tangan.


“Maaf, Aku baru melepas segel itu sekarang. Akan sangat beresiko bagiku jika aku tetap membiarkanmu mengingatnya,”


Pendengarannya menangkap suara yang familiar baginya, Ezra sontak menoleh dan menemukan Aiden yang perlahan mendekatinya. Sejenak mulutnya terkatup rapat, Aiden berdiri disamping Ezra lalu ikut mendudukan dirinya.


Ezra teringat dengan dirinya yang ternyata pernah bertemu Aiden sewaktu kecil, Waktu itu Chloe memanggilnya paman Aiden. Itu artinya Aiden usia lebih tua darinya sekarang.


“Paman…Aiden…?” Kata Ezra ragu diakhiri tanda tanya dalam dirinya, Jujur saja rasanya ia merasa canggung jika memanggil Aiden dengan tambahan ‘Paman’. Mengingat ia sekarang sudah tahu bahwa usia Aiden jauh lebih tua darinya.


Aiden menatap datar tidak ada reaksi apa pun dari nya selama beberapa detik setelah Ezra memanggilnya dengan tambahan ‘Paman’, Tak lama tangannya terulur mengetuk kepalanya Ezra pelan.


TUK!


“Ugh..!”


Ezra refleks memegangi kepalanya usai Aiden mengetuknya, Tidak sakit sebenarnya.


“Kenapa paman mengetuk kepalaku?!” Protes Ezra tak terima.


Aiden mendengus kecil. “Panggil aku seperti biasa, Kalau kau memanggilku ‘Paman’ kedengarannya aku malah terlihat lebih tua dimatamu,”


“Heh! Jangan menipu dirimu sendiri, Kau memang terlihat awet muda. Tapi kau tidak bisa membohongi usiamu sendiri,” Jelas Ezra menyipitkan matanya menatap wajah Aiden.


“Aku lebih suka dipanggil dengan namaku, Meskipun aku jauh lebih tua. Setidaknya ikuti saja permintaanku,”


“Huh?!” Kening Ezra mengerut tak setuju.


“Bocah ini…,” Aiden menghembuskan napas lelah. “Bocah yang kutemui ketika terluka beberapa tahun yang lalu malah tumbuh seperti seorang pemberontak. Sepertinya lingkungan dan pergaulanmu tumbuh begitu bebas sehingga kau jadi pemberontak seperti sekarang,”


“Enak saja! Ini tidak ada hubungannya dengan lingkungan dan pergaulan tempatku tumbuh, Jangan sok tau!” Balas Ezra kesal.


“Rumahmu dekat dengan hutan wilayahku, Makanya aku tahu siapa saja yang sering masuk wilayahku apalagi setelah aku tahu kau berteman dengan Chloe. Hal itu semakin membuatku yakin akan bertemu denganmu kembali, Dan beberapa kali aku mengikuti perkembangan pertumbuhanmu,”


Ezra tersentak dan meringsut mundur menjauhi Aiden, Ia kembali protes. “Ah, Jadi setelah kau mengembalikan Chloe. Kau malah menguntitku ya, Melihat perkembanganku selama ini?!”


“Aku bukan menguntit, Aku hanya ingin tahu perkembanganmu sampai mana. Sekarang setelah banyak kejadian yang terjadi, Aku sadar kau sudah mulai bersikap dewasa, Memilih jalanmu sendiri setelah terlepas dari Justin,” Aiden mengalihkan pandangannya, Tatapannya jatuh pada langit cerah di atas mereka.


Ezra seketika merenung mendengar nama ‘Justin’. Mendadak dirinya tiba-tiba merasa bingung dan cemas setelah kehilangan Justin selama ini.


“Aiden, Apa kau tahu dimana Tuan Justin? Dia tidak terlihat lagi setelah menyerahkan jabatannya padaku, Dia seakan menghilang ditelan bumi, Bahkan pihak keluarganya seakan merelakan kehilangannya begitu saja. Kupikir aku membuat suatu kesalahan sehingga dia menjauhiku dan tidak mau bertemu denganku lagi,” Kata Ezra dengan pandangan murung, Ia menunduk sedih sampai helai-helai rambutnya menutupi pandangan.


Aiden melirik sejenak, Dia memetik setangkai mawar biru didekatnya sembari memainkan ditangannya. “Sepertinya perasaanmu masih belum bisa sepenuhnya melupakan Justin. Aku penasaran sejujurnya kau itu menganggapnya apa?”


JJDDEERR!


Bagai tersambar petir disiang bolong tubuh Ezra membeku mendengar pertanyaan Aiden, Ia diam sejenak tenggelam dalam pikirannya. Sedetik kemudian exspresi pemuda itu berubah.


“Apa maksudmu?! Tentu saja dia kuanggap sebagai saudara dan keluargaku. Makanya aku menanyakan keberadaannya padamu!” Sahut Ezra emosi. Menyembunyikan fakta yang sebenarnya, Cukup hanya Justin dan Chloe saja yang tahu perasaannya.


“Benarkah hanya saudara dan keluarga?” Aiden menatap datar penuh intimidasi, Sesaat ia mendekatkan wajahnya beberapa cm dari wajah Ezra. “Atau kau benar-benar menganggapnya sebagai orang yang berharga bagimu?”


Kedua tangan Ezra terkepal,Gigi nya bergemeletuk kesal. Segera ia mencengkeram kerah pakaian Aiden dan menariknya mendekat. “Kau sama saja seperti yang lain! Selalu bisa membuatku kesal! Katakan saja dimana Tuan Justin, Jangan terbelit-belit!”


“Kendalikan emosimu Ezra! Aku tidak akan mengatakannya jika kau mudah tersulut seperti ini,” Kata Aiden tenang, Perlahan ia melepas cengkeraman Ezra dari kerahnya. Ezra menarik napas panjang untuk menenangkan diri sebelum kembali menatap Aiden.


Setelah memastikan Ezra mulai tenang, Aiden kembali membuka suara. “Dia ada belakangmu,”


SET!


Ezra sontak menoleh, Mencari keberadaan Justin. Dia melihat ke belakang pohon untuk memastikan apakah Justin benar-benar berada di sana. Tak sampai 5 detik, Pandangannya jatuh pada Justin yang sedang menyandarkan tubuhnya di batang pohon. Pemuda bernetra orange itu memainkan setangkai bunga dendalion ditangannya.


“Tuan Justin…” Ezra menatap tak percaya, perasaannya campur aduk antara senang dan sedih. Rasanya ia tak bisa mengendalikan emosi dalam dirinya, Senang karna ia bisa melihat Justin lagi dan Sedih karna jika Justin berada disini artinya dia sudah mati di dunia.


Mendengar namanya dipanggil, Justin menoleh mendapati Ezra disampingnya. Senyum tipis terpatri di wajah tampannya, Ia menepuk-nepuk tempat kosong disampingnya.


“Duduklah disini Ezra,” Katanya tenang.


Ezra duduk bersimpuh, Raut wajahnya terlihat lebih senang sekarang meski masih tertutup raut kalem miliknya. Tapi tidak bisa Ezra tepis rasa senangnya karna bisa bertemu Justin lagi.


“Tuan…Bagaimana keadaan anda sekarang?”

__ADS_1


“Yah, Seperti yang kau lihat. Aku akhirnya menjadi diriku kembali seutuhnya,” Justin agak merentangkan kedua tangannya.


“Maksud anda apa?”


“Kau tahu, Sisi kepribadian gandaku yang namanya Victor itu. Dia telah pergi dan sekarang ini sedang mengambil alih ragaku. Dan akhirnya aku tidak terikat lagi dengan dia karna dia sudah mengusirku dari ragaku sendiri,” Jelas Justin menerawang menatap langit cerah di atas mereka.


“Aku sendiri pun tidak tahu, Raga itu aslinya milik siapa. Aku atau dia? Yang pastinya selama aku satu tubuh dengannya, Kami benar-benar bertolak belakang. Aku tidak bisa menghentikannya meskipun dia adalah saudara kembarku,”


Ezra diam membisu, Ia menatap muram sejenak sembari menunduk.


“Tapi anda gak menyerahkan?! Raga itu milik anda! Anda gak bisa membiarkan dia mengambil raga anda seenaknya!” Protes Ezra tak terima.


Justin menghembuskan napas lirih, Ia memainkan bunga ditangannya. “Aku...Entahlah, Perkataan Victor memang benar. Sejak awal kami memang tidak bisa berada di tubuh yang sama, Salah satu dari kami harus disingkirkan. Dan orang itu adalah aku, Jadi kurasa aku tidak berhak lagi ikut campur urusannya. Biar dia yang menanggung semua yang telah dia lakukan,”


“Tuan Justin…,” Ezra kembali muram, Ia mengusap wajahnya kasar. Merasa frustasi karna Justin seolah tak memiliki harapan lagi untuk hidup diluar sana.


Justin tersenyum tipis, Memandangi wajah Ezra yang sedih. Tak lama ia menepuk pelan pundak Ezra yang telah ia anggap saudara itu. “Tak apa Ezra, Anggota yang tersisa sekarang hanyalah kau dan Chloe. Ku serahkan sisanya pada kalian berdua,”


“Apa yang harus kami lakukan selanjutnya? Setelah Tuan Justin dan yang lainnya tidak ada, Tidak ada yang bisa kami lakukan lagi selain meneruskan perusahaan anda, Bahkan si tengil itu masih belum bisa menyelesaikan misi pribadinya sendiri,” Keluh Ezra ikut menyandarkan tubuhnya di batang pohon.


“Aku mengerti, Meski bukti dokumen itu sudah ada dia tetap tidak bisa percaya pada keluarga Maximillian, Karna dia bukan Chloe Amberly yang asli dan sebenarnya dia adalah Chloe watson kan?” Tebak justin sembari tersenyum tipis.


Ezra sontak memandangnya dengan raut agak terkejut. “Bagaimana Anda tahu soal identitasnya yang asli, Seingat saya anda tidak pernah bertemu dengan Chloe Watson?”


“Aku memang tidak pernah bertemu dia, Tapi Aiden sudah menceritakan semuanya termasuk alasan keberadaan Ian Salvatore disini,”


“Ian Salvatore?”


“Iya, Yang menggunakan raga Ian Maxwell yang selama ini kita lihat. Ternyata nama aslinya Ian Salvatore, Sahabat masa kecil Chloe Watson,”


“.....!” Ezra seketika terdiam, Tanpa melanjutkan perkataannya lagi ia memilih menunduk.


Justin melirik sejenak menyadari Ezra tak bersuara lagi setelah obrolan terakhir mereka.


“Ah, Auranya tiba-tiba berubah tidak mengenakkan begini. Apa karna tadi aku membicarakan tentang Ian Salvatore?” Pikir Justin menduga-duga.


“Sekarang…Ian dimana?”


Aiden melangkah mendekati Justin dan Ezra, Meski tadi Ezra bertanya dengan nada lirih. Ia masih bisa mendengarnya karna pendengarannya yang tajam.


“Saat ini, Dia sedang tidak berada disini. Karna rasa penyesalan dan rasa bersalahnya dia memutuskan pergi menemani Chloe di dunia sampai misi Chloe selesai,”


“Iya, Tapi meski begitu. Chloe tetap tidak akan bisa melihatnya, Karna dia hanya bisa menemani bukan bisa disentuh secara fisik,” Tambah Justin kembali menerawang jauh.


“Inilah resiko yang harus diterima jika ingin menemui seseorang tanpa raga, Hanya akan dianggap angin lalu,”


“Jadi dia melihat semua tindakkan ku ketika berada dekat dengan si tengil itu,” Pikir Ezra merenung, Pasti Ian mengetahui semua perilakunya selama ini.


TAP! TAP! TAP!


Suara langkah kaki yang mendekat menarik perhatian Aiden, Ezra, dan Justin untuk menoleh. Menemukan Felix, Raizel, Rion, dan Devian yang berjalan menghampiri mereka.


Semilir angin sesaat menerbangkan helai-helai rambut mereka dalam pertemuan itu, Ketika semua anggota asrama akhirnya sudah berkumpul meski tanpa Chloe dan Ian. Mereka saling pandang sejenak.


Seperti biasa Felix memecah keheningan sembari tersenyum lembut. “Bagaimana keadaan di luar sana Ezra? Apa kau dan Chloe baik-baik saja?”


Ezra kembali muram sesaat mendengus kesal. “Kami tidak baik-baik saja, Apalagi setelah pertemuanku dengan Michelle dan Maximillian family. Bahkan Elizabeth Michelle itu menggunakan cara licik untuk mengancam kontrak antara Tuan Justin dan dia,”


“Hah?! Apa yang dia inginkan sampai-sampai mengancam begitu?” Tanya Raizel sambil ikut duduk. Merasa tertarik dengan pembicaraan mereka.


“Siapa lagi kalau bukan si tengil itu yang dia inginkan! Dia mengancam akan memutuskan kontrak kolega yang dibuat antara dirinya dan Tuan Justin jika aku tidak menyerahkannya?!” Ezra menghembuskan napas frustasi. Memijit keningnya sesaat merasa pusing.


“Tengil yang mana? Pak Ezra, Kalau ngasih tahu jangan setengah-setengah. Kami gak tahu siapa orang yang kau maksud,” Kata Rion mengerutkan alisnya bingung, Ia ikut mendudukkan diri.


“Hah, Tentu saja si Chloe Amberly!” Kata Ezra jengah.


“Ah, Jadi dia sudah bertemu kakak kandung Chloe Amberly yang asli, Ray Maximillian?” Felix tersenyum tipis yang diangguki Ezra.


“Iya, Kalian sudah tahu identitas Chloe Amberly yang asli?”


“Tentu saja, Nama aslinya Chloe Watson kan? Aiden yang memberi tahu kami semua,” Devian menggangguk kecil.


“Apa tidak apa-apa kita membiarkan Ian, Berkeliaran di luar disana?” Celetuk Rion yang langsung dipandangi semua anggota.


“Itu urusannya, Dia sendiri yang ingin terus menemani Chloe,” Justin menghembuskan napas.


“Rasanya aku juga ingin ikut membantu, Dia adik angkatku,” Felix menunduk kecil sembari menatap jari-jari tangannya yang terlihat agak transparan, Ekspresinya berubah muram sambil bergumam lirih. “Andai sekali saja ada kesempatan, Aku juga ingin memperbaiki hubunganku dengan ayah,”


“Jika kau meminta hal itu, Aku juga akan melakukan hal yang sama untuk memperbaiki hubungan dengan keluargaku,” Kata Devian, Menerawang menatap langit diatas mereka.


“Benar, Betapa menyedihkannya kita disini,” Raizel mendengus kecil sembari tertawa pelan menertawakan nasib mereka.

__ADS_1


Aiden menatap datar dengan pandangan kosongnya. “Mau meratapi bagaimana pun semua sudah terjadi, Biarkan Chloe dan Ezra mengurus sisanya,”


Ezra memandangi Aiden sejenak, Lalu mengalihkan pandangannya menatap rumput dibawahnya. “Aku sekarang akan fokus dengan tujuanku mencari dan membunuh Victor! Setelah semua penghianatan yang dia lakukan sampai menjadikan kalian korban. Aku tidak akan melepaskannya! Tujuan utamaku sekarang adalah itu,”


Kedua tangan Ezra terkepal erat menyalurkan emosinya yang meluap, Justin dan lainnya diam memandangi. Justin mengeti kenapa Ezra sangat marah dengan Victor, Dan Justin juga tidak membenarkan tindakkan Victor selama ini. Mengingat Victor lah yang selama ini menjadikan para anggotanya sebagai pion untuk bekerja sama dengan para Red Devil.


Namun dirinya kembali teringat dengan perilaku Victor yang juga sudah membantunya bertahun-tahun, Mungkin jika tidak ada Victor didalam raga yang sama dengannya. Ia akan hancur sejak awal, Dan tidak bisa mendirikan perusahaannya sendiri sampai sekarang.


“Ezra, Victor itu meski berbahaya. Dia masih memiliki hati nurani, Aku ingat selama satu tubuh dengannya. Dia dulunya anak yang ceria dan periang, Tapi sejak orang tua kami pilih kasih, sifat ceria dan periang sirna tertutup oleh kegelapan. Makanya sampai sekarang dia membenciku, Mau bagaimana pun rasanya aku tidak bisa membenci saudara kembarku sendiri,” Jelas Justin dengan senyum tipis terbit di wajah tampannya.


“Tuan Justin, Kau tidak membela dia kan? Dia juga bersalah selama ini meski dia telah membantumu,” Kata Aiden datar, Alisnya sedikit mengernyit.


“Aku tahu, Aku juga tidak membenarkan semua tindakkannya kok. Makanya…,” Justin mengalihkan pandangannya menatap Ezra. “Kau ingin balas dendam padanya kan Ezra?”


“Tentu saja Tuan! Dia sudah melakukan banyak kesalahan, Dia pantas di hukum!”


“Kalau begitu, Victor pasti masih menyembunyikan diri sampai tenaganya pulih kembali. Kau harus secepat mungkin mencarinya sebelum dia kembali berbuat ulah. Jangan lupa ajak Chloe juga agar pekerjaanmu semakin cepat,”


“Hah?! Untuk apa aku mengajaknya? Misi pribadinya saja belum selesai, bagaimana bisa dia membantuku?! Terlebih Ray Maximillian itu pasti mulai waspada denganku dan tidak akan membiarkanku dekat dengan Chloe lagi,” Sungut Ezra menggeleng cepat, tak setuju jika Chloe ikut terlibat dengan tugasnya.


“Ingat Pak Ezra, Kalian berdua itu partner,” Kata Rion mengingatkan.


“Gak! Masih ada Ian yang membantunya, Jadi aku akan menyelesaikan tugasku sendiri dan dia menyelesaikan tugasnya sendiri,” Tolak Ezra mentah-mentah, Membuat beberapa anggota asrama termasuk Justin menghela napas dengan perilaku keras kepala Ezra.


“Ya sudah, Kalau itu yang kau inginkan Ezra. Tapi aku yakin kau akan membutuhkan bantuannya sewaktu-waktu,” Justin berdiri lalu ia menarik tangan Ezra untuk ikut bersamanya. Meninggalkan yang lain disana.


“Kita mau kemana tuan Justin?” Tanya Ezra heran karna Justin menariknya tiba-tiba.


“Memulangkanmu, Waktumu sudah habis disini,”


“Tapi…Aku masih ingin disini,” Lirih Ezra membuat langkah Justin terhenti sejenak.


Tanpa menoleh Justin membuka suaranya. “Jangan begitu, Kau juga harus memikirkan perasaan Chloe jika kau kau terlalu lama disini. Jangan tinggalkan dia sendiri di dunia itu, Dia masih butuh bimbinganmu,”


“Ada Ian disana, Dia bisa menggantikanku sehari kan?”


“Kalau dia bisa melihat Ian, Tentu aku akan memperbolehkanmu berada disini sehari. tapi nyatanya dia tidak bisa melihat Ian sama sekali. Kau partnernya, Jadi Ezra tolong bantu anak itu,” Justin menoleh memandangi netra hijau emerland milik Ezra dengan serius.


Ezra terdiam bungkam merenungkan setiap kalimat Justin yang ia dengar, Disisi lain dia tak mau pergi meninggalkan Justin begitu saja termasuk anggota lain. Namun disisi satunya, Ia sadar kalau keberadaannya di dunia itu masih berarti bagi keluarganya dan Chloe. Raganya juga masih bersamanya, Akan sangat tidak mungkin jika Ezra tiba-tiba memilih tinggal di tempat ini kan? Sedangkan raganya masih ada.


Menyadari kebimbangan Ezra, Justin berbalik dan menepuk pelan pundak pemuda bernetra hijau itu sembari tersenyum tipis. “Aku baru sadar, Setelah kami tidak ada. Hubungan kalian berdua tampaknya semakin erat, Jangan membohongi perasaanmu sendiri Ezra,”


Ezra mendongak, Ekspresinya kembali muram. “Tidak kok, Aku tidak memiliki perasaan apapun pada si tengil itu! Lagipula Tuan Justin…Aku masih belum bisa melupakan perasaanku padamu,” Bisik Ezra di akhir kalimatnya.


Walaupun berbisik Justin masih bisa mendengarnya, Pemuda bernetra orange itu tertawa pelan. “Ezra, Aku sudah mendengar pernyataan itu berkali-kali darimu. Kau menganggapku orang yang berharga bagimu, Sedangkan aku menganggapmu sebagai saudara. Aku paham perasaanmu, Tapi kita gak akan bisa lebih dari ini Ezra,”


Ezra menghembuskan napas walau ia sudah berkali-kali mendengar tolakkan Justin, Entah kenapa hatinya masih tetap berdenyut sakit. Tapi sekarang tidak sesakit saat ia pertama kali mengutarakan perasaannya pada justin, Mungkin dirinya sudah mulai merelakan perasaan itu.


“Cobalah untuk merelakan perasaan itu Ezra, Kau bisa mencari yang lebih baik dariku. Aku paham saat ini kau sedang bimbang,”


“Aku tidak tahu,” Balas Ezra lirih. Perasaannya terhadap Justin mungkin perlahan mulai memudar namun disisi lain dia malah dihadapkan dengan perasaan yang baru. Ia tanpa sadar mencengkeram kemeja Justin dengan erat.


“Tuan Justin, Katakan padaku! Apa perasaan ini hanya lewat sesaat?! Aku tidak ingin terlalu cepat, Setelah aku mulai merelakan perasaanku padamu. Kenapa aku harus merasakannya lagi?!”


“Ezra tenanglah, Tidak apa-apa. Hal ini wajar terjadi, Artinya kau sudah menemukan orang yang bisa membuatmu nyaman dan terlebih orang itu pasti lebih baik dariku,” Jelas Justin mencoba menenangkan Ezra yang terus mencengkeram kemejanya, Perlahan ia menepuk pelan pundak Ezra sembari tersenyum tipis. “Katakan padaku, Siapa orang itu?”


Ezra diam sejenak, Membuat Justin ikut terdiam namun pikiran Justin melayang dengan satu sosok yang berada dekat dengan Ezra setelah kepergian anggota asrama. “Apa orang itu Chloe Watson?”


Ezra mengangguk lemah. “Kupikir perasaan ini hanya lewat saja karna kebersamaan kami. Kurasa karna aku juga pernah bertemu dengannya waktu kecil, Membuatku teringat dengan janji kami yang dulu,”


Senyum Justin perlahan luntur, Ekspresinya tak bisa ditebak saat ini. “Jadi kau bertemu dengannya lebih dulu ya dibanding aku sewaktu kecil. Tidak salah juga sih karna itu kau bisa teringat janji kalian lagi,”


Justin memalingkan wajahnya menatap ke arah lain. “Perasaanmu tidak salah Ezra, Hanya saja Ian teman masa kecilnya juga menyukai Chloe Watson. Aku baru menyadarinya setelah Ian bersikeras untuk menemani Chloe sampai Chloe menyelesaikan misinya. Sekarang kau harus memilih antara berjuang atau mundur?”


Ezra mendongak sembari melepas cengkeramannya dari kemeja Justin. “Ian juga suka Chloe?”


“Sepertinya begitu, Mengingat mereka teman masa kecil kurasa salah satu dari mereka menaruh perasaan lebih sekedar teman. Entah itu Ian atau Chloe,”


Ezra kembali muram kini auranya lebih gelap dari biasanya, Justin refleks sedikit menjauhkan diri dari Ezra demi keselamatannya.


“Apa aku tidak seharusnya menceritakan tentang Ian pada Ezra? Sepertinya Ezra terlihat tidak senang mendengar ini,” Pikir Justin memilih diam setelah menyadari aura tak mengenakkan milik Ezra.


“Aku akan kembali sekarang, Dan membalas perbuatan Victor. Itu janjiku padamu Tuan Justin,” Kata Ezra dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak lagi. Ia berbalik menuju sebuah portal hitam tanpa dasar yang menjadi tujuan Justin tadi.


“Ezra…Kuharap kau bisa memilih jalan yang terbaik untukmu sendiri,”


Sejenak Ezra menghentikan langkahnya, Mendengar suara Justin yang kembali menyapu pendengarannya. “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku tuan Justin, Tapi jika bisa aku harap perasaan ini tidak pernah ada untukmu ataupun untuk Chloe Watson,”


Setelahnya Ezra kembali melangkah memasuki portal di depannya. Semakin lama tubuhnya semakin hilang dari pandangan tertelan kegelapan. Justin hanya bisa memandangi dalam diam sebelum memutuskan kembali menemui Aiden dan anggota lainnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2