System Prince Charming

System Prince Charming
(Season 3) Revan Michelle


__ADS_3

"Will you marry me and be mine forever?"


Mata Chloe mengerjap setelah mendengar kalimat itu keluar dari mulut Ezra, Sesaat kalimat itu mampu membuat Chloe tak bisa berkata-kata, Apa dia tak salah dengar? Barusan Ezra melamarnya kan? Atau mungkin dia sedang bermimpi saat ini?


Namun dari sorot mata Ezra yang berkilat tampaknya pria itu serius dengan kata-katanya. Chloe tidak tahu entah sejak kapan Ezra menyukainya, Gadis itu pun juga tidak tahu entah sejak kapan dirinya merasa nyaman dengan sang pria, Tapi yang pastinya semua tindakkan ini membuatnya terkejut.


Setelah semua yang mereka lalui inilah yang terjadi, Dan Chloe sudah mantap dengan keputusannya sendiri. Kali ini dia tidak akan melarikan diri lagi dari yang namanya lamaran seperti waktu Aiden melamarnya. Chloe merasa sekarang dia sudah menemukan belahan jiwanya, Seseorang yang juga berharga untuknya.


Gadis itu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar, Hatinya berbunga-bunga senang dengan lamaran itu.


"Iya,"


Sejenak Ezra diam terpaku, Netra hijaunya melebar terkejut. Tidak menyangka dengan jawaban Chloe, Apa dia tidak salah dengar barusan?


"Tadi kau bilang apa?" Tanya pria itu agak terbata-bata.


"Iya, Aku menerima bapak. Malah aku yang akan menikahi pak Ezra," Ulang Chloe masih mempertahankan senyumannya.


Seperti biasa, Gadis bersurai biru itu senang sekali membalikkan kata-kata padanya. Namun Ezra tidak peduli, Dengan cepat dia menarik Chloe dalam pelukannya, Memeluk gadis itu agak erat. Dia menenggelamkan wajahnya di leher Chloe.


Chloe membalas pelukan Ezra, Rasanya dia sudah terbiasa mendapat pelukan seperti ini. Hangat namun juga nyaman, Chloe tentu saja menyukainya, Sama seperti detak jantungnya yang berpacu cepat saat Ezra memeluknya. Ya, Chloe menyadari satu hal, Sepertinya dia juga menyukai pria itu. Dan rasa suka Ezra padanya tidak akan bertepuk sebelah tangan.


"Terima kasih, Aku akan terus membahagiakan mu,"


"Aku juga akan membuat pak Ezra selalu tersenyum dan nyaman bersamaku,"


Ezra tersenyum mendengar balasan Chloe, Dia melepas pelukannya. Lalu mengambil cincin di dalam kotak beludru merah itu, Perlahan meraih tangan Chloe. Netra hijau nya melirik si gadis beberapa saat.


"Boleh?" Izinnya.


"Iya," Chloe mengangguk kecil masih tersenyum.


Ezra memasang cincin itu di jari Chloe, Setelah melakukannya dia mencium kening sang gadis beberapa saat. Chloe memejamkan matanya menikmati ciuman itu.


Ezra menjauhkan wajahnya, Mungkin saat ini wajahnya kembali memerah. Begitu juga dengan Chloe, Sang gadis menunduk menghindari tatapan Ezra.


"Akhir pekan kita akan mengunjungi orang tua ku lagi, Kuharap kau tidak gugup nanti," Ezra memalingkan wajahnya, Menyembunyikan pipinya yang merona tipis.


"Tenang saja pak, Akan kupersiapkan sebaik mungkin. Kali ini aku juga akan bawa buah tangan," Balas Chloe ceria. "Btw, Bapak gak pakai cincin juga?"


Chloe memperhatikan jari tangannya sesaat yang sekarang terselip sebuah cincin disana.


"Nanti setelah kita menikah, Aku akan punya cincin juga yang sepasang denganmu," Ezra tersenyum geli mendengar pertanyaan Chloe tadi, Dia menepuk pelan surai sang gadis.


Chloe hanya mengangguk kecil membiarkan Ezra menepuk surainya, Namun tak lama terdengar suara dering telepon di sekitar mereka. Ezra mengambil handphone nya, Melihat nama si penelpon sebentar.


"Dari siapa?"


"General Manager yang baru, Aku angkat dulu,"


"Iya,"


Ezra berdiri dan melangkah agak jauh dari posisi Chloe duduk sebelum mengangkat telepon itu.


Sedangkan Chloe mengambil satu cemilan dan memakannya sambil memperhatikan angsa-angsa yang berenang di permukaan danau. Dia berdiri dan mendekati sisi danau, Berharap angsa-angsa itu menghampiri nya.


"Kemarilah angsa-angsa," Kata Chloe pelan, Dia tersenyum kecil ketika salah satu angsa mendekatinya dan memakan remahan cemilan di tangan Chloe. Tak lama angsa-angsa lain ikut menghampirinya dan makan remahan cemilan itu.


Setelah remahan di tangannya habis Chloe berdiri, Memperhatikan angsa-angsa yang kini kembali pergi. Gadis itu tak sengaja melihat salah satu angsa meletakkan bunga berbentuk cincin di hadapannya sebelum angsa itu berenang pergi, Meninggalkan cincin tersebut bersama Chloe.


"Eh, Kenapa ditinggalkan?" Gumam gadis itu bingung, Dia mengambil cincin bunga tersebut. Setelah memperhatikan sejenak dia memilih menyimpannya.


Chloe berbalik berniat kembali ke tempatnya, Namun tiba-tiba saja sebuah pisau tajam melesat ke arahnya dari balik semak-semak. Membuat Chloe refleks menghindar.


"Siapa disana?!" Kata Chloe bersiaga menatap semak-semak di depannya.


SRAK!

__ADS_1


WWUUSSHH!


Sebuah serangan mendadak muncul, Sontak Chloe memunculkan pedangnya dan langsung menangkis serangan itu.


TTRRIINNGG!


Sosok misterius melompat mundur setelah melancarkan serangan mendadak barusan, Kini dia berhadapan dengan Chloe memakai topeng menutupi seluruh wajahnya.


"Orang yang tidak kukenal, Dia sengaja memakai topeng," Pikir Chloe masih waspada.


"Ternyata memang benar kau memiliki kekuatan, Kalau begitu aku tidak akan berlama-lama lagi," Kata sosok tersebut menyiapkan senjatanya.


Dia berlari dengan gesit, Melayangkan serangan bertubi-tubi.


Trriinngg! Trriinngg! Trriinngg!


"Flame!"


Beberapa sulur mawar muncul dari bawah tanah, Menahan serangan sosok misterius itu. Chloe menebaskan pedangnya tepat mengenai kaki lawannya.


CCRRAASS!


"Akh!"


Dia mundur memegang kakinya, Disaat bersamaan sebuah tendangan melayang mengenai wajahnya. Membuat topeng itu retak.


BUAK!


KRAK!


Ezra datang tepat waktu, Dia lantas bersiaga di depan Chloe setelah melayangkan tendangan. Sesaat netra hijaunya melirik si gadis.


"Kau tidak apa-apa?"


"Iya, Bapak datang tepat waktu," Chloe kembali bersiap, Kalau-kalau sosok misterius itu menyerang.


"Tidak tahu, Dia memakai topeng,"


Ezra dan Chloe bersiap ketika sosok itu berdiri, Sosok itu menyerang menggunakan pukulannya.


DOR!


Ezra menembakkan peluru tapi berhasil ditangkis sosok tersebut, Chloe melayangkan serangan.


Trriinngg! Trriinngg!


Keduanya bertarung sangat sengit hingga Chloe berhasil melukai sosok itu, Menusukkan pedangnya tepat di pundak. Membuat darah segar mengalir dari sana.


Sosok itu jatuh dan berteriak kesakitan, Dia bertumpu pada lututnya. Chloe sama sekali tidak melepas pedangnya yang tertancap di pundak sosok tersebut, Sedangkan Ezra mendekati mereka.


"Kita lihat siapa dibalik topeng ini,"


Ezra melepas paksa topeng itu, Memperlihatkan sosok wajah rupawan dibaliknya.


"Kak Revan/ Revan Michelle?!" Kata Chloe dan Ezra bersamaan, Keduanya terkejut setelah mengetahui identitas dibalik topeng itu.


Revan hanya diam menahan sakit, Darah terus mengalir dari pundaknya. Chloe lantas menarik pedangnya kembali, Mundur beberapa langkah dari Revan. Sedangkan Ezra menatap tajam.


"Kau dibalik topeng ini?! Kenapa kau menyerang Chloe, Apa alasanmu?!" Bentak Ezra marah, Dia melempar topeng di tangannya ke sembarangan arah.


Revan menyerigai sinis. "Alasanku? Tentu saja balas dendam, Bocah itu sudah mengambil kepercayaan keluargaku dariku. Sejak dia datang, Keluarga kami selalu kena masalah. Dan penyebabnya adalah dia!"


"Apa-apaan itu! Tuduhanmu sama sekali tidak berdasar, Kau tidak punya bukti untuk menyalahkan anak itu!" Balas Ezra masih menahan amarahnya untuk tidak memukul Revan saat ini juga, Dia masih perlu alasan Revan menyerang Chloe.


"Tentu saja, Pak Ezra lebih percaya bocah itu karna bapak sudah mengenalnya sejak di J.G Entertainment. Pak Ezra tidak akan bisa menghalangi ku untuk membunuhnya!" Sekuat tenaga Revan berdiri meski pundak dan kakinya terluka, Dia mengambil pisaunya yang tergeletak.


Ezra mengernyit, Tato berbentuk beberapa sulur mawar muncul di lengan kanannya. Dia menggerakkan tangannya yang seketika memunculkan beberapa sulur mawar dari bawah tanah dan mengikat tubuh Revan.

__ADS_1


Revan terkejut, Dia mencoba melepaskan diri dari sulur yang mengikat seluruh tubuhnya. Kini Revan sama sekali tidak bisa bergerak, Karna duri-duri tajam dari sulur mawar itu menggores kulitnya.


Chloe menghilangkan pedangnya, Berdiri disamping Ezra. Dia bingung mengapa Revan ingin balas dendam padanya, Padahal Chloe merasa tidak sama sekali merebut kepercayaan keluarga Michelle dari Revan. Atau mungkin Revan ingin balas dendam karna waktu itu Chloe pernah membantingnya?


"Kau salah pilih lawan Revan Michelle. Lain kali, Jika ingin bertarung. Pilih lawan yang bisa kau kalahkan dengan mudah. Untuk saat ini kau masih belum cukup kuat untuk mengalahkan kami," Ezra menatap datar, Memperhatikan Revan yang menggertakkan giginya kesal.


"Aku tidak peduli! Kalian nanti yang akan kalah!"


Chloe menghembuskan napas. "Sepertinya percuma pak, Kak Revan tidak akan mendengarkan,"


"Apa perlu aku lempar dia dulu ke danau baru dia akan sadar?" Tanya Ezra datar, Menatap tenang Revan yang terus mengamuk.


"Entahlah, Lakukan sesuka bapak saja,"


Ezra melirik sesaat, Dia mendekati sisi danau berniat melempar Revan.


"Hei! Apa yang akan pak Ezra lakukan padaku?! Lepaskan!"


"Membuangmu, Kau begitu berisik seperti ayam!"


"Beraninya kau!"


Ezra menggerakkan sulur mawarnya yang melilit Revan ke tengah danau, Pria bersurai silver itu berusaha melepaskan diri dari sulur Ezra. Dia tak bisa memotong sulurnya karna tangannya juga ditahan.


SRAK!


"HENTIKAN!"


Disaat bersamaan suara beberapa derap langkah kaki terdengar. Dari balik pepohonan Rafael, Azura, Xavier, Vallen, Alex, Ash, Leon, Leo dan Ivy berlari menghampiri Chloe.


Ash yang melihat Revan hampir di jatuhkan oleh Ezra di danau membuatnya panik. "Pak Ezra! Tolong tenang! Lepaskan Revan dulu dan kita akan bicara baik-baik,"


"Dia yang cari gara-gara duluan, Sudah sepantasnya dia dihukum," Sahut Ezra tenang.


"Tapi pak–"


"Bagaimana kalian bisa menemukan kami disini?" Potong Chloe memotong kalimat Ash.


"Kami melacak keberadaan kalian, Karna kami curiga kalian merencanakan sesuatu. Terlebih Revan ada disini, Sudah pasti ada yang tidak beres," Sahut Rafael dan diangguki oleh Azura.


"Selalu begitu ya," Chloe mengalihkan pandangannya, Fokusnya teralihkan ke arah Ezra dan Revan.


"Chloe! Tolong hentikan pak Ezra, Kumohon!" Pinta Ash sedih melihat Revan yang masih ditahan oleh Ezra.


Chloe menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan jari telunjuk, Menatap Ash sesaat. "Aku bisa saja bantu, Tapi Aku tidak mengerti kenapa kak Revan menyerangku. Dia bilang aku telah merebut kepercayaan keluarga Michelle darinya, Padahal aku merasa tidak merebut apapun. Kalau masalah aku yang tidak sengaja membantingnya waktu itu, Seharusnya bisa dibicarakan baik-baik,"


"Dia hanya iri denganmu Chloe, Ayo tolonglah kak Revan," Kini Azura angkat bicara, menatap memelas berharap Chloe menolong Revan.


Mulut Chloe terbuka ingin membalas namun tiba-tiba dia merasakan getaran di jam arlojinya, Gadis itu langsung memeriksa jam arlojinya yang menunjukkan sebuah pesan dengan tanda peringatan di atasnya. Memang setelah Ezra memperbaiki jam arlojinya itu, Jam nya bisa mendeteksi bahaya disekitar.


...Peringatan! ∆...


...Kekuatan besar terdeteksi disekitar!...


"Kekuatan besar? Apa maksudnya?" Pikir Chloe. Dia mendongak dan melihat gelembung besar yang muncul di permukaan danau dekat Ezra.


Menyadari Ezra dalam bahaya, Chloe lantas berlari menuju Ezra tanpa menghiraukan panggilan dari Ash dan Azura.


"Pak Ezra! Pergi dari sana!" Teriak Chloe sambil berlari yang seketika membuat Ezra menoleh.


"Apa?"


"Awas!"


Tangan Chloe terulur setelah hampir sampai didekat Ezra, Namun disaat yang bersamaan sebuah ledakan besar terjadi disana.


DUAR!

__ADS_1


TBC


__ADS_2